
Emeli membuka pintu mobil, lalu bergegas keluar. Tiba-tiba Saga menarik pergelangannya.
Emeli terlonjak kaget dan menutup kembali pintu mobil. "Ada apa saga?"tanyanya.
"Kamu yakin mau tinggal di sini... di rumah Devan.?"
Emeli menghela nafas kesal
"Tidak ada pilihan lain Saga... kalau aku tinggal di rumah ayah... pasti dia khawatir melihat keadaanku sekarang. Lagi pula ini jga permintaan papa ardi kan."
"Tapi Emeli..." kata-kata Saga terpotong saat tangan Emeli memegang tangannya dengan tatapan memohon.
"Percayalah Saga aku akan baik-baik." menatap Saga dengan sorot mata menyakinkan.
Devan keluar dari kamar menuju balkon atas menatap senja yang mulai surut...
mencoba menenangkan hati yang sedang kacau. dia menyusuri setiap sudut hasil karya Tuhan yang mempesona...
Tiba-tiba mata tertuju pada gadis yang keluar dari sebuah mobil,gadis yang selama ini di tunggu, gadis yang selalu membuatnya rindu... memporak porandakan hati dengan untaian rasa yang ia sadari itulah namannya cinta.
Matanya berbinar Devan menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman dia bergegas untuk menyambut namun langkahnya terhenti melihat saga keluar dari mobil mendekati Emeli.
"Emeli... teriak Saga
membuat langkah emeli terhenti dan berbalik menatap Saga yang berjalan mendekat sembari mengalungkan jaket di lengannya.
"Ada apa lagi Saga?"menatap pria itu dengan heran."Tidak... aku hanya minta kamu Jagan terlalu banyak pikiran.Yang berlalu biarlah berlalu dan Jagan pernah menyalahkan diri sendiri."
Emeli tertunduk dengan mata mulai mengembun jauh dalam hati dia merasa bersalah atas kecerobohannya, apalagi mengingat janjinya pada Caca.
Melihat ekspresi Emeli Saga menjulurkan tangan.mendongak kan wajah Emeli untuk menatapnya.
"Aku tahu kamu sedih... tapi kamu jga harus sadar ada tanggung jawab yang harus kamu selesaikan." gadis itu mengangguk dengan senyum yang di paksakan.
"Begitu...... kan lebih cantik lagipula kamu tidak usah khawatir.... pria tampan di hadapanmu ini memilik sejuta cara untuk menangkapnya.
kamu percayakan padaku.?"tanyanya.
"Iya saga..."ucap Emeli seraya menganggukkan kepala.Tiba-tiba Saga mengalungkan jaketnya ke tubuh Emeli. Emeli membola mendapati perlakuan manis Saga membuat hatinya menghangat.
"Selama aku tidak di rumah ini biarlah jaketku... bersama mu." ucapnya sembari menunjukan giginya yang berbaris rapi.
Emeli hanya tersenyum simpul. Melihatnya Saga mengacak-acak rambut Emeli karena gemas. Lalu melangkah pergi masuk mobil dengan senyum yang tak lepas dari wajah tampannya.
Gadis itu melambaikan tangan menatap mobil berjalan sampai menghilang di kejauhan.
Sedang di atas balkon seseorang yang mengintai mereka sejak tadi, begitu panas dari matanya terlihat jelas kilatan kemarahan yang membuncah.
"Jadi begini kelakuan mu di belakang ku" ucapnya seraya mengepalkan tangan.
Saat memasuki kamar gadis itu melangkah mendekati jendela menyingkap gorden biru yang menjulang indah menutupi jendela. Mata mengerjab menatap air kolam yang tenang dihiasi lampu malam membuatnya terlihat menawan.
Pikirannya melayang mengingat permintaan gadis kecil yang berharap padanya.
Emeli memejamkan mata Tampa permisi bulir bening keluar dari pelupuk matanya.
__ADS_1
"Maafkan bibi Caca sepertinya bibi tidak bisa memenuhi janji bibi.." lirihnya lalu menyeka air mata yang telah jatuh.
Brakkk... pintu terbuka dengan keras.
membuat Emeli terlonjak dan berbalik menatapnya.
Di ambang pintu terlihat lelaki tampan berdiri lalu melangkah mendekati Emeli dengan sorot mata penuh amarah.
"Masih ingat pulang kamu?" ucapnya dengan nada membentak.Sembari melipat tangganya di dada.Emeli memutar matanya malas lalu kembali menatap kolam.
"Keluarlah aku tidak ingin berdebat sekarang."
lirihnya dengan sorot mata datar.
"Berani kamu..?" tampa aba-aba Devan mencengkram dagu emeli dengan nafas tersengal dan mata penuh amarah. Jarak mereka begitu dekat hingga deru nafas Devan terasa hangat di wajah Emeli.
"Lepaskan Devan sakit" ucapnya Emeli meronta-ronta untuk melepaskan cengkraman Devan.Namun naas kekuatan gadis itu kalah jauh. tidak sedetik pun Devan bergeming.
"Kenapa Laura...kenapa tidak sedikitpun kamu menghargai ku sebagai suamimu.
Kamu sadar apa yang kamu lakukan hah."
bentaknya....mendorong tubuh Emeli hingga tersungkur ke lantai.
gadis itu meringis kesakitan menahan lengannya yang terluka.
Devan berjongkok di hadapan Emeli mensejajarkan wajahnya mencari sebuah jawaban dari mata hazel gadis di depannya.
"Apa kesalahanku begitu besar Laura... hingga perasaanmu yang mendalam hilang tak tersisa...Aku harus apa agar perasaan mu kembali...tanyanya sedikit menekan.
"Maaf devan aku bukan istrimu Laura. Aku emeli aku tidak akan bisa membalas perasaan mu." gumamnya dalam hati.
"Itu dulu laura... sekarang aku sadar aku mencintai mu, aku tidak bisa kehilangan mu. aku mohon beri aku kesempatan." memegang tangan Emeli penuh harap dengan sorot mata berkaca-kaca.
Emeli menghempas tangan Devan.
"Tidak Devan keputusanku sudah bulat aku tidak bisa menerima mu sebagai suamiku. Lagipula kamu sudah bahagia dengan Diandra
maka biarkan aku pergi mencari kebahagiaanku sendiri...."
"Tidak.... sampai kapanpun aku tidak akan melepas mu."bentaknya lalu menjauh mendekati jendela mencengkram kuat terasi besi di depannya. mencoba menahan emosinya yang mulai membara.
"Kenapa tidak... aku juga ingin hidup bahagia dengan pilihanku, cobalah untuk tidak egois dan mementingkan dirimu sendiri." Emeli bangkit dengan emosi yang bergemuruh menatap lelaki di depannya.
"Kamu sadar apa yang kamu ucapkan...
Kamu lupa semua ini terjadi karena salahmu.
kamu sendirilah, yang memaksa masuk dalam hidupku... setelah aku jatuh hati padamu. Tiba-tiba kamu ingin pergi...
Tidak bisa Laura... aku tidak akan biarkan itu terjadi."Membalikkan wajahnya menatap Emeli tajam.
"Jagan egois Devan... cobalah mengerti aku tidak mau terjebak dalam hubungan yang tidak aku inginkan."dengan intonasi meninggi.
"Hah Devan tergelak.
__ADS_1
Jadi kamu ingin berpisah dariku agar bisa bersama lelaki sialan itu, iya.... bentaknya dengan sorot mata penuh amarah.
Devan mendekat mencengkram kuat lengan Emeli membuat Emeli meringis menahan sakit .
"Dengarkanlah... aku Devan Ardiansyah sampai matipun tidak akan melepas mu...
Aku tau...laura aku salah, tapi berilah aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya."lirihnya dengan nada mulai melembut.
"Tidak Devan aku..."
Tampa kata Devan menarik tubuh emeli dalam dekapannya. membuat kata-kata emeli terhenti.
"Aku begitu mencintaimu... maafkan aku baru menyadarinya.... aku harus berbuat apa, agar cintamu kembali padaku." lirihnya tidak terasa bulir-bulir kristal jatuh dari pelupuk mata devan membasahi punggung Emeli.
Sejenak Hati emeli menghangat menatap pria di pelukannya yang memohon iba.
"maafkan aku Devan aku tidak bisa mencintaimu aku Emeli bukan Laura yang pernah mencintaimu".gumamnya
"Baiklah kalau begitu lepaskan Diandra" ucapnya datar.karena Emeli yakin Devan tidak akan pernah melepaskan Diandra.
Devan melepaskan pelukannya mendengar ucapan Emeli yang membuatnya terkejut.
"Kamu sadar apa yang barusan kamu ucapkan?"menatap istrinya dengan sorot mata penuh tanya.
"Hanya itu sarat ku, jika kamu ingin bersamaku
lalu melangkah menjauh.
"kamu gila Laura... kalian berdua sama-sama penting dalam hidupku aku tidak bisa memilih.
ucapnya dengan frustasi.
"Kamu egois Devan... kamu terlalu sibuk memikirkan perasaan mu Tampa memikirkan perasaan orang lain, kamu sadar sikapmu yang mendua. Secara tidak langsung melukai perasan kita semua.
Bagai tamparan keras ucapan Emeli membuat Devan terdiam mematung Tampa jawaban."
"Kalau kamu melepas ku... kamu bisa hidup bahagia dengan diandra.
Lagipula aku tidak Sudi menjadi menjalin hubungan denganmu.Kita juga tidak terikat apapun... ini semua hanya sebuah perjanjian.Biarkan aku pergi dan mencari kebahagiaanku sendiri.
Emeli melangkah keluar,
namun tangan Devan meraih pergelangan tangan Emeli membuat langkahnya terhenti.
Lepaskan apa lagi mau mu...?"ucapnya setengah berteriak.
"Kamu bilang... kamu tidak Sudi menjalin hubungan dengan ku, itu hanya alasan agar kamu bisa bersama saga kan... malam ini aku akan mengikat mu."
Mata emeli terbelalak mendengar ucapan Devan. Tampa aba-aba Devan membopong tubuh Emeli dan menghempaskan ke ranjang.
"Apa mau mu..." teriak emeli
Emeli memundurkan tubuhnya menatap Devan yang telah membuka baju dan membuangnya ke segala arah lalu merangkak naik mendekat.
"Malam ini... aku akan mengajarimu menjadi istri yang sebenarnya."
__ADS_1
.
.