
"Laura..." panggil Devan yang menyadari Emeli sedari tadi termenung.Tidak ada sautan Emeli masih terdiam dengan lamunannya.
Tepukan halus di pipinya membuat Emeli tersadar,lalu mendogakkan wajahnya menatap devan yang terlihat kebingungan.
"Sayang kamu kenapa,apa yang kamu pikirkan, sepanjang jalan hanya diam.?" tanya Devan degan tangan yang telah berpindah memainkan rambut Emeli. Emeli hanya tersenyum simpul sembari menurunkan tangan Devan.
"Aku tidak apa-apa, hanya sedikit pusing." Lalu mencoba melepaskan safety belt namun lagi-lagi tangan Devan menahan tangan Emeli untuk membukanya.
Devan tersenyum dengan pelan, dia mendekatkan wajahnya ke wajah Emeli dan terus mendekat, Emeli memundurkan tubuhnya namun terhalang pintu mobil.
membuatnya tak berkutik.
"Kamu mau apa?" tanya Emeli, gugup dengan mata membola melihat wajah Devan begitu dekat hingga deru nafas terasa hangat menerpa kulitnya.
Devan terdiam menatap tajam wajah Emeli dengan penuh gelora, sejenak hening terasa dikala dua bola mata saling bertautan dengan pikiran masing-masing.
"Tenang Emeli kamu harus sabar menghadapi Devan ingat misi mu , ingat semua orang yang telah jadi korban,kamu melihat sendiri mobil itu berhenti saat Devan menolong mu, besar kemungkinan ini ada sangkut pautnya dengannya."
Tiba-tiba Emeli memejamkan matanya dengan takut bukan karena cinta tapi dia mengesampingkan perasaannya untuk sebuah misi yang telah dia rencanakan.
Melihat ekspresi Emeli, Devan menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman. Dengan lembut Devan mengecup kening Emeli.
Emeli membelalakan mata setelah menerima kecupan itu, dia yakin betul bukan ini yang di ingin kan Devan, mengingat tadi, mata Devan penuh gelora seakan mau menerkam.
Devan tersenyum lalu mengusap rambut Emeli dengan mesra.
"Sayang I love you ,aku tidak akan memaksamu lagi sampai kmu benar-benar siap menerima ku," ujarnya dengan nada lembut, membuat Emeli tersenyum manis tapi di paksakan.
Emeli harus menekan perasaannya meski egan,dia begitu risih bersentuhan dengan lelaki yang bukan dia harapkan, namun semua harus di lakukan agar misinya berhasil.
"Ayo kita turun... Diandra sudah bekerja keras, untuk menyambut kedatangan mu." Ujarnya membuat Emeli mengerutkan kening merasa heran atas perubahan madunya.
Mereka berdua keluar dari mobil dan bergegas masuk rumah, terlihat Diandra yang tengah sibuk merapikan makanan di atas meja.Ketika menyadari kedatangan Emeli dan devan , Diandra mendogakkan wajahnya sembari tersenyum.
"Laura aku bersyukur Kamu sudah sembuh," ucapnya lembut. Lalu melangkah mendekati Emeli dan merangkul lengannya dengan lembut.
Membuat Emeli mengerutkan kening,dia terkejut melihat madunya itu, menyambutnya dengan senyum manis dan perlakuan hangat. Sedangkan sikapnya jauh berbeda dari sebelumnya, yang selalu dia tunjukan.
Mendengar ucapan Diandra Emeli hanya menjawabnya dengan senyuman kecil.
__ADS_1
"Aku senang sekali jika kedua istriku akur seperti ini." ucap Devan
Devan mendekat lalu memposisikan diri di tengah mereka, Devan menjulurkan kedua tangannya ,tangan kiri memegang lengan Diandra sedangkan tangan kanan memegang lengan Emeli sembari tersenyum bahagia.
Diandra tersenyum manis menerima perlakuan hangat Devan, tapi tidak dengan Emeli dia memutar matanya malas dengan wajah masam tapi lagi-lagi dia harus menekan perasaan jengkelnya dan menampilkan ekspresi menerima.
Devan berjalan merangkul mereka berdua mendekati meja makan, matanya berbinar menatap makanan yang begitu banyak tersaji di meja makan. Devan melepaskan rangkulannya dan menatap Diandra senang.
"Sayang siapa yang menyiapkan ini semua?" tanya Devan
"Tentu saja aku, bibi kan lagi pulang kampung, aku sudah capek-capek menyiapkan ini semua untuk kedatangan laura." Lalu berjalan mendekati Emeli dan menarik kursi di depannya.
"Duduk lah... ini khusus aku buat untuk mu." ujar Diandra
Emeli menatap Devan meminta persetujuan, Devan menjawabnya dengan anggukan sembari tersenyum.Lalu Emeli duduk di samping Devan.
Dengan cepat Diandra mengambil mangkok menaruh sup ayam itu dan menyajikannya pada Emeli.
"Makanlah, ini khusus aku buatkan untuk mu." ujar Diandra lalu melangkah duduk di samping Devan.
Sejenak Emeli terdiam menatap sup ayam itu sudah berada di depannya, dia hanya mengaduknya malas, sembari berfikir keras.
"Sayang kenapa diam..." tanya Devan sembari memegangi tangan Emeli.
"Iya makan lah, hargai aku yang sudah mempersiapkan ini semua."
"Iya dia Diandra terima kasih ,aku bersyukur selam ini kmu mau menerimaku, dan kamu adalah contoh istri yang baik.dan mulai sekarang aku akan belajar sepeti Diandra ,aku akan mencoba menerima Devan sebagai suami ku." Ujar Emeli
"Benarkah, yang kamu katakan Laura." ucap Devan yang begitu bahagia mendengar penuturan Emeli.
Sedangkan mata Diandra memerah, menatap Emeli yang dengan sengaja menantangnya,dia begitu kesal namun harus berakting agar Devan tidak meninggalkannya.
"Tentu Laura aku dengan senang hati mengajarimu menjadi istri yang baik." Ucap Diandra datar namun dengan tatapan tajam.
"Hari ini benar-benar beruntung istriku yang sama-sama aku cintai ini akur, sebagai gantinya besok aku akan mempersiapkan hadiah yang begitu spesial untuk kalian berdua."Ujar Devan menatap kedua istrinya bergantian dengan senyum yang tak lepas darinya.
"Devan...." ujar Emeli lembut membuat Devan berbalik menatapnya manja.
"Ada apa sayang?"
__ADS_1
"Aku sedang ingin belajar menjadi istri yang baik untuk mu, boleh kah sekarang aku menyuapi mu.?" Emeli sudah memegang mangkuk itu dan tangan satunya menjulurkan sendok ke mulut Devan.
Diandra terperangah lalu membelalakkan mata begitu terkejut dengan sikap Emeli dia menatap tajam Emeli yang sedang ingin menyuapi Devan.
"Tentu saja sayang... apa yang tidak untuk mu."
Devan memegang tangan Emeli Yang memegang sendok lalu ingin memasuk sup itu, Devan membuka mulutnya bersiap menyantap makanan itu.
Tiba-tiba Diandra bangkit dan menghempaskan sendok Emeli dan melempar mangkok di tangannya membuat Emeli dan Devan terperanjat lalu berdiri bersamaan menatap Diandra heran.
Sedangkan Diandra berdiri dengan nafas tersengal menatap Emeli dengan tatapan tajam
"Apa dia mencurigai ku, tidak mungkin, gadis ini tidak punya bukti untuk menuduh ku.Aku harus berhati-hati dengannya. Ternyata dia pintar mengubah keadaan, hingga membuatku terpojok."
"Diandra.... "tanya Devan
Namun Diandra tidak menjawab dan terus menatap Emeli dengan tajam sedangkan Emeli yang di tatap masih bersikap tenang.
Devan mulai kesal melihat Diandra bungkam.Berjalan menghampirinya lalu mengguncang lengan Diandra dengan pelan.
"Diandra.... Diandra?" bentak Devan lagi
membuatnya Diandra tersadar
"Ada apa sayang?" jawabnya
"Apa yang kamu lakukan ,kenapa kamu membuang makanan ini." Tanya Devan dengan intonasi tinggi.
"Aku.... aku," jawabnya gelagapan
"Jagan bertele-tele Diandra kenapa kamu lakukan ini," tanya Devan yang mulai emosi
"Iya Diandra... kenapa kamu melempar makanan ini, bukankah kamu sudah susah payah membuatnya." ujar Emeli memanaskan situasi, dengan menyunggingkan sedikit senyuman, melihat Diandra yang sangat kekhawatiran .
"Aku tadi.... aku" Diandra menundukkan wajahnya, bingung harus jawab apa, dia mengepalkan tangan dengan kening yang mulai berkeringat.
"Jawab yang jelas Diandra, Jagan bertele-tele." ujar Devan yang tidak bisa menahan diri.
Diandra mendogakkan wajah menatap Devan dengan tajam.
__ADS_1
"Karena aku.....