
Diandra mengerjap beberapa kali, tangannya meraba-raba kasur yang berada di sampingnya, dia mengerutkan kening mendapati tubuh suaminya tidak ada.
Diandra bangkit, membuka matanya lebar-lebar benar saja, Devan sudah tidak ada di sampingnya. Kamar mewah itu hanya di huni dirinya sendiri.
Diandra menurunkan kakinya ke lantai setelah memakai sandal, dia berjalan keluar sambil mengedarkan pandangannya menuruni anak tangga. Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. Terlihat pria gagah, basah kuyup yang tertunduk lemah.
Devan berjalan dengan gontai matanya kosong, seperti orang yang tak punya arah, sejenak Diandra tertegun lalu mempercepat langkahnya, menghampiri suaminya yang terlihat kacau.
"Sayang kamu kenapa,kanapa jadi seperti ini, sayang.?" desak Diandra, sambil mengoncang lengan suaminya.Desakan Diandra membuat Devan berbalik menatap istrinya dengan tatapan nanar.
"Apa selama ini, aku bukan suami yang baik Diandra, apa aku tidak pantas jadi suami kalian berdua?"lirih Devan menatap seksama wajah Diandra yang heran.
"Sayang apa maksudmu?"
tanya Diandra lagi, tidak mengerti dengan apa yang Devan ucapkan.
"Laura akan mengajukan gugatan cerai, apa aku tidak pantas jadi suami kalian berdua, apa aku harus kehilangan salah satu dari kalian. Percayalah Diandra, aku sudah mencoba yang terbaik.Aku..."ucapan Devan terhenti saat jari lentik Diandra tanpa pewarna kuku itu, menyentuh bibir Devan yang memucat.
"Tidak sayang, kamu suami yang terbaik yang aku temui, aku bahkan bisa melakukan apa saja demi kamu." Diandra menjawab dengan tulus, ada rasa iba melihat keadaan suaminya yang terlihat memucat karena kedinginan
"Diandra...,?" lirih Devan, lalu memeluk wanita di depannya, beban yang di rasa berat tumpah di hangatnya pelukan Diandra, tidak terasa bulir-bulir bening lolos dari pelupuk mata Devan, saat mengingat keputusan Emeli untuk bercerai darinya.
"Sayang badan kamu panas sekali, kamu demam,?"ujar Diandra, dia melepaskan pelukannya lalu menyentuh kening Devan yang terasa panas.
"Kamu demam sayang ganti bajumu, nanti kamu tambah sakit,?" Devan hanya terdiam,bergeming dalam lamunannya. Tanpa menunggu persetujuannya, Diandra menarik lengan Devan menuju kamar.
Setelah cukup lama berbaring, Diandra menarik selimut menutupi tubuh Devan, wajahnya memucat, kesedihan terlihat jelas dari garis tampannya yang di penuhi sesal.
Diandra mengusap lembut pipi lelaki itu, yang sedang berbaring dengan mata terpejam, Diandra masih menatap suaminya dengan seksama dengan netra penuh cinta.
__ADS_1
Lelaki gagah itu, kini telah tertidur pulas bersama dengkuran halus yang kini mulai terdengar, setelah tadi Diandra memberikan obat demam untuk Devan.
"Devan aku tidak tahu, apa yang akan terjadi padaku esok, tapi aku hanya ingin kamu tau aku melakukan semua ini. Karena aku mencintaimu. Aku melenyapkan mereka semua, karena aku tidak mau kamu pergi meninggalkan ku. Tapi aku tidak akan menyerah sebelum aku tertangkap, aku akan buat perhitungan pada Emeli.
Diandra mengecup kening suaminya pelan. "Aku mencintai mu, aku harap setelah kamu mengetahui segalanya kamu tidak membenciku, "ujar Diandra dengan manik mata menganak sungai.
Diandra sadar apa yang di lakukan sangat keterlaluan. tapi cinta membuatnya jalan, sebagai orang yang hidup sebatang kara. Tiba-tiba ada lelaki menawarkan cinta membuatnya berpikir lelaki itu segalanya. Membuat Diandra terjebak dalam cinta buta hingga apa saja di lakukan untuk mempertahankan suaminya.
Dia bangkit lalu membawa tas jinjing yang sedari tadi di siapkan di atas laci. Lalu melangkah pelan, wanita itu membuka pintu, tapi sebelum pergi Diandra berbalik menatap wajah suaminya yang tertidur, lalu menghela nafas panjang.
"Devan aku mencintaimu," lirih Diandra,lalu menghapus air matanya yang terjatuh,cukup lama Diandra terdiam, lalu meneruskan langkahnya.
Matahari belum juga terbit, bahkan sang fajar yang mengusir langit gelap belum juga menyapa. Diandra memejamkan mata bersama datangnya sepoi-sepoi Angin subuh yang masih terasa dingin, hatinya makin terasa menusuk dikala alunan merdu suara adzan berkumandang.
Mungkin aku harus menebus kesalahanku, tapi Tuhan, aku melakukan semua ini Karna aku mencintai Devan, aku tidak bersalah karena aku melakukannya karena cinta." Diandra Berusaha menyangkal.
Diandra,mengambil handphone yang berlogo apel sedikit tergigit itu di tas jinjing yang di bawanya.Lalu menghubungi seseorang.
Setelah memerintah di telpon. Diandra menutup telponnya memasukkan lagi ke tas jinjing, lalu masuk mobil.
"Bila hari ini aku harus mati, maka kamu juga harus mati Emeli , kita harus mati bersama." Diandra berucap dengan manik mata emosi hingga mengeratkan. pegangannya di kemudi mobil.
*
Dirumah Wijaya Emeli terbangun karna bunyi jam weker yang mengusik tidurnya. Gadis berparas cantik itu mulai bangkit, dia mematikan jam, lalu meregangkan otot-ototnya yang di rasa kaku.
"Akhirnya hari ini tiba juga, aku sudah tidak sabar mengungkapkan kesalahan Diandra, dengan begitu aku akan terbebas dari drama ini selamanya." ucap Emeli, gadis itu bangkit menuju kamar mandi, dia sudah merencanakan semuanya dengan Saga tinggal hari ini untuk mengeksekusi.
Setelah cukup lama,Emeli keluar kamar menuju ruang makan dia mengerutkan kening menatap ruang makan sepi tak berpenghuni. Hanya ada nasi goreng dan roti yang tertata rapi di atas meja. Emeli masih berjalan mendekat menatap seksama makanan di meja itu, setelah sampai dia menghempaskan bokongnya di kursi.
__ADS_1
"Kemana yang lain kenapa sepi sekali?" gumam Emeli sambil menyuapi nasi goreng ke mulutnya.
Dert dert dert suara handphonenya berbunyi yang tersimpan di saku celananya, Emeli mengambil ponsel itu, ternyata sebuah pesan masuk dari Saga.
"Aku harus kekantor ada urusan penting, nanti jam sembilan kita ketemuan di kantor polisi Deket kantor. Aku menunggu mu di sana."
Setelah membaca pesan, Emeli menaruh ponselnya,dia menatap jam masih menunjukkan jam 07.00.
"Ini masih terlalu pagi, sebaiknya aku jalan-jalan dulu."Emeli bergegas pergi dia keluar dari gerbang.Tampa sengaja bertemu bik minah yang datang dari pasar.
"Nona mau kemana tanya bik minah?" sambil membawa tas belanjaan yang berisi sayur mayur dan bahan pokok lainnya.
"Aku mau jalan sekitar komplek sebentar bik, baru nanti ke kantor Papa."
"Kenapa tidak minta, di antar supir aja Non?" tanya bik Imah.
"Lagi pengen jalan aja bik, aku berangkat dulu ya!" Emeli menepuk pelan pundak pembantunya, sambil menampilkan senyum kecil lalu melangkah pergi.
Dia melangkah dengan perasaan bersalah mengingat perlakuannya semalam pada Devan, dia terus bejalan menyusuri jalanan dengan pikiran melayang entah kemana.
"Bagaimana keadaan Devan apa dia baik-baik saja, tidak Emeli dia harus kuat kamu bukan Laura, bukan istrinya, cepat atau lambat Devan harus tau baik tentang Laura maupun Diandra.
Tiba-tiba mobil hitam berhenti di samping Emeli, keluarlah dua orang berbaju hitam memakai masker. Emeli mengerutkan kening di rasa ada yang tidak beres saat dia mau berlari. Naas pria itu sudah menangkapnya dan memberi obat bius di sapu tangan yang di bekapkan di mulut Emeli.
Gadis itu mencoba berontak namun perlawanannya semakin lemah bersama kesadaran nya yang mulai hilang, hingga akhirnya mata dengan bulu lentik itu, terpejam tidak sadarkan.
Bik Imah yang tampa segaja berbalik ingin memanggil Emeli, terkejut melihat penculikan di depan matanya. Membuat tangan bik minah bergetar dengan mulut menganga tak percaya. Melihat tubuh majikannya di masukan ke mobil hitam.
"To... tolong." ucap bik Imah berlari mengejar mobil tapi mobil itu sudah terlanjur jauh.
__ADS_1
"Nona Laura bagaimana ini, Non Laura. teriak bik Imah histeris dengan tubuh bergetar karna shock melihat kejadian yang baru saja di lihatnya.