
Siang ini Emeli pulang setelah dari mini market membeli suatu barang.
Dia menghentikan langkah menatap dua mobil yang terparkir di depan rumah.
Mobil yang cukup familiar baginya
di teras terlihat Jhoni sedang duduk sembari menyeruput teh di tangannya
melihat Jhoni Emeli menundukkan tubuhnya sembari tersenyum lalu masuk.
melihat pak Wijaya dan papa Ardi sedang asyik mengobrol bersama Devan yang hanya diam.
Wijaya yang menyadari Emeli datang langsung memanggil nya.
"Kamu sudah pulang nak?
"lihatlah siapa yanga datang"
Duduklah di sini, ada yang ingin ayah bicarakan"
menepuk kursi kosong di sebelahnya.
Emeli tersenyum sembari mendekat, lalu menyalami Wijaya dan mertuanya.
Sedangkan Devan hanya melirik sekilas gadis itu.
"Bagaimana keadaan mu nak, ucap papa Ardi sembari mengelus kepala Emeli.
"Baik pa..." Emeli mendogakkan wajah menatap papa Ardi dengan senyum lembut lalu duduk di samping Wijaya.
"Ada yang ingin ayah bicarakan mengenai kedatangan ayah mertuamu dan Devan,
mereka ingin," ucapan Wijaya terhenti seolah ragu. Emeli yang melihat ayahnya tampak ragu menggenggam tangannya.
"Ada apa ayah bicaralah?"
"Aku akan membawamu ke rumahku." Sanggah Devan.
"Devan diam.., biar kita yang menjelaskan"
Ardiansyah menimpalinya.
"Bukankah kita ke sini untuk mengatakan itu, kenapa harus berbelit-belit"
"Apa itu benar ayah?"tanya Emeli.
"Begini nak, ayah pernah bilang ke Ardi setelah ayah membaik kamu akan tinggal bersama Devan"
"Apa ini tidak terlalu cepat." Ucap Emeli terlihat kecewa.
"Terlalu cepat bagaimana, kita sudah beberapa bulan menikah tapi kmu masih tinggal bersama orang tuamu"
Emeli menatap Devan dengan tatapan sinis.
"Devan diam... biar papa yang bicara." Tatapan penuh amarah menatap putranya.
"Begini sayang, kalian sudah menikah tidak baik sepasang suami istri pisah rumah"
"Tapi yah, aku belum mengingat semuanya, situasi ini belum bisa aku terima.
Apalagi menganggap Devan sebagai suamiku."
"Ayah tahu nak tapi berilah kesempatan untuk hubungan mu dengan Devan, setidak belajarlah untuk menerima" ucap Wijaya dengan sorot mata memohon.
"Devan sebenarnya orang yang baik cuma sedikit keras kepala" Ardi menimpali.
"Apa-apaan ini kenapa semua menyudutkan ku." Menatap sinis interaksi mertua dan istrinya,
Emeli diam sejenak mengigit bibirnya seolah ragu untuk menjawab.
"Aku tau nak kamu ragu, tapi ini permintaan ayah, untuk tinggal bersama selama setahun jika, selama itu kmu masih tidak mau menerima Devan sebagai suami mu, kamu boleh minta cerai.Aku berharap keputusanmu tidak mengecewakan ayah"
"Selamat siang tuan"
suara Saga membuyarkan suasana yang tegang.Mereka beralih menatap Saga yang berjalan mendekat dengan membawa berkas.
"Apa ada berkas yang harus aku tanda tangani," ucap Wijaya,
"Iya tuan... maaf seperti nya waktu saya datang tidak tepat"
"Tidak apa, Wijaya mengambil berkas dan menandatanganinya,"
__ADS_1
"Terima kasih tuan saya permisi dulu"
"Tunggu aku mau tinggal bersama Devan jika Saga ikut bersamaku." Ujar Emeli penuh penegasan.
"Devan langsung berdiri apa-apaan ini, itu sama saja kmu tidak menghargai ku. Lagian berani sekali kamu akan membawa pria asing ini, ke rumah ku."
"Itu syarat ku... jika kmu tidak setuju tidak apa-apa, aku jga tidak akan mau tinggal bersama mu," dengan intonasi meninggi.
"Kau ini" menunjuk emeli dengan sorot mata mengancam.
"Tenanglah, Devan duduklah kita bicara baik baik" Ardiansyah menarik lengan Devan kembali agar duduk.
"Ayahkan tau kondisiku, aku belum bisa mengingat semuanya apalagi sifat Devan yang pemarah seperti ini"
"Benar apa yang di ucapkan putriku,,, dia belum sepenuhnya pulih sebenarnya aku cukup khawatir, jika Saga ikut bersamanya, aku akan lebih tenang"
"Ardi menghela nafas panjang, "baiklah,jika itu keputusan Laura"
brakkk,,,,mengebrak meja di depannya.
"Apa-apaan ini kenapa tidak ada yang meminta pendapatku. Aku jelas suaminya, tidak setuju istriku membawa pria asing ini, ke rumah ku"
"Saga bukan pria asing, sejak kecil saga dan Laura tumbuh bersama mereka layaknya saudara"
"Maaf pak Wijaya, bagiku tidak ada hubungan saudara antara pria dan wanita yang tidak memiliki hubungan darah"
"Diam Devan,,,, mana sopan santun mu,"
Ardi menatap Devan dengan geram lalu kembali menatap Wijaya,
"Maafkan aku Wijaya aku telah gagal mendidiknya"
"Kalau Laura tetap membawa saga ke rumah ku Jagan salahkan aku, jika aku akan membawa Diandra ke rumah itu juga"
"Apa yang kamu bicarakan Devan?"
"Kenapa pa, dia juga istriku, sedangkan Laura saja bebas membawa pria asing ini ke rumahku"
"Devan cukup hentikan omong kosong ini"
"Baiklah aku setuju , aku tidak akan melarang kamu membawa Diandra asal Saga ikut bersamaku" Ucap Emeli dengan lantang.
"Baiklah kita sepakat,"
Di mobil Devan melajukan mobilnya dengan begitu cepat.
"Tuan pelan kan mobilnya,aku tidak ingin mati muda," ucap Jhoni setengah berteriak karena ketakutan.
"Persetan dengan nyawamu"
"Tuan kasihan nona Diandra, dia akan menjadi janda jika anda celaka"
"Apa perduli mu"
Devan tetap melajukan mobil dengan kecepatan tinggi Tampa pedulikan rancauan Jhoni yang sudah gemetaran.
"Tuan kalau anda mati muda, apa anda rela jika nona Laura bersama dengan saga toh tidak ada lagi yang menghalangi"
Mendengar hal itu Devan langsung ngerem mendadak,wajah Jhoni pun terbentur ke depan hingga hidungnya mengeluarkan darah.
"Benar,,, aku tidak akan membiarkan mereka bersama"Devan membanting setirnya berulang ulang hingga tangannya memerah.
"Tuan percuma anda menyakiti diri anda,
sebaiknya gunakan kesempatan, untuk membuat nona Laura kembali mencintai anda"
"Maksudmu..." Tampa menatap Jhoni
"Bukankah Anda akan tinggal bersama,, tunjukkan pada nona laura bahwa anda peduli dan akan membuatnya bahagia"
"Kamu benar, aku akan membuat Laura kembali mengejar ku, Jagan panggil aku Devan jika tidak bisa membuat dia bertekuk lutut di hadapan ku"
"Tuan..." lirihnya.
"Lebih baik sekarang anda antar saya kerumah sakit,, kepala saya sudah pusing tuan"
Mata Devan terbelalak menatap Jhoni yang hidungnya berlumuran darah hingga menetes ke bajunya.
"Kamu kenapa ?" tanyanya terkejut.
"Anda tidak sadar tuan, anda yang membuat saya seperti ini."
__ADS_1
"A....pa." lalu Devan melajukan mobil ke rumah sakit.
Setelah seminggu berlalu emeli memutuskan pindah ke rumah Devan karena desakan dari papa Ardi dan pak Wijaya,,,
Sebuah mobil berhenti di sebuah rumah mewah.
"Saga membuka sedikit kaca mobil, kita sampai ke rumah Devan"
"Apa kamu masih yakin, ingin melanjutkannya?"
"Tentu saja, apa yang aku takutkan, lagipula kamu bersamaku." Menatap Saga sembari tersenyum"
"Ini semua tidak semudah yang kamu pikirkan,"
dengan intonasi lebih tinggi,
" Kita tidak tahu siapa yang kita hadapi sekarang,,, apalagi Devan seorang lelaki normal
coba kamu pikirkan lagi,"
Emeli meremas ujung bajunya,
mencoba menetralisir kegugupan di depan Saga.
"Aku yakin dengan keputusanku, lagipula aku bersama mu, masalah Devan bukankah di rumah ini jga ada istrinya Diandra, dia tidak akan berani macam-macam dengan ku"
"Tapi emeli" ucapnya tampak ragu.
"Tenanglah,Jagan khawatir." Memegang tangan Saga dengan sorot mata menyakinkan
"Ayo kita turun,"
Merekapun turun di sambut oleh pembantu yang sedari tadi berdiri menunggu di depan pintu.
"Perkenalkan nama saya, Imah neng pembantu di rumah ini"
"Ini nona Laura ya, istri tuan Devan, dan ini tuan Saga saudaranya nona Laura?"
"Iya bik" jawab emeli sembari tersenyum
"Ayo,,,, saya antar nona Laura ke kamar,
tuan saga biar di antar Ujang,
"Jang tolong hantarkan tuan saga ke kamar tamu ya,"lelaki berperawakan kurus mendekat dan membawa koper Saga.
"Laura aku ke kamar dulu ya," Laura hanya mengangguk sembari tersenyum
"Mari den saya antar,ucapnya lalu berjalan di ikuti saga dari belakang"
Sesampainya di kamar Laura mengedarkan pandangannya, lalu melangkah membuka gorden yang menghadap langsung pada kolam renang nampak indah,dengan cahaya lampu yang menyinari"
"Cantik bik saya suka.
"Syukurlah neng,aku kira neng bakal marah karena di beri kamar di bawah, karna,kamar utama yang berada di atas sudah di tempati nona Diandra"
"Itu bukan Masalah,, di sini bagus aku suka"
"Mari neng saya bantu, membereskan pakaiannya"
"Tidak usah bik saya sendiri saja"
"Oiya neng tuan Devan, dan nona Diandra lagi keluar mungkin agak larut pulangnya.
Apa saya persiapkan makan malam?"
"Tidak usah bik sebelum ke sini aku sudah makan bersama Saga" ucap Emeli lembut.
"Saya keluar dulu neng, kalau ada apa-apa panggil saya saja,"
"Iya bik"bibi Ima bergegas pergi lalu menutup pintu.
Setelah beberes emeli berjalan berdiri dipinggir jendela menatap kolam renang yang nampak begitu indah, dengan gemerlap lampu menyinarinya.
Seseorang masuk dan menutup pintu,
terdengar suara langkah kaki kian mendekat
"Ada apa saga?" ucap Emeli Tampa menoleh.
"Apa lelaki itu sering ke kamar mu hah ?"
__ADS_1
Suara bariton lelaki terdengar jelas di balik punggung Emeli,
Emeli terperanjat lalu memutar tubuhnya melihat sumber suara, "Kamu?"