
Sebelum bereankarnasi Aku adalah seorang yatim piatu sejak umur 10 tahun, dan tinggal bersama 1 kakak perempuan dan 3 kakak laki-laki ku. Meski yatim piatu, Aku berada di sebuah keluarga yang bisa di katakan berkelebihan. Karena keluarga ku adalah salah satu dari pemilik perusahaan swasta yang terkenal dan besar di negara itu.
Saat orang tua kami meninggal. Kakak perempuan ku dan salah satu kakak laki-laki ku, yang saat itu mereka berumur 20 tahun. Mewarisi seluruh perusahaan orang tua kami. Mereka memiliki umur sama karena mereka kembar tak identik. Mereka berkuliah sambil menyambil mengurusi perusahaan.
Keseharian yang ku alami benar-benar dapat di katakan biasa dan tak bermasalah, meski orang tua ku telah meninggal. Jika di lihat oleh orang-orang dari jauh.
Setelah Aku lulus SMA lebih cepat setahun dari yang lain, Aku masuk ke Universitas terbaik di negara ku. Aku hanya mahasiswa biasa di sana, namun juga salah satu siswa termuda, karena lulus lebih cepat sekitar umur 17 tahunan. Saat di Universitas itu juga, Aku mengambil jalur percepatan kelas, sehingga lulus ketika di umur ke dua puluh tahun, dengan nilai terbaik.
Aku lulus cepat demi mengurangi sedikit beban perusahaan ke empat Kakak ku itu. Mereka mengurusi perusahaan yang saling sangkut-menyangkut. Lima perusahaan yang saling sangkut-menyangkut itu sulit, jika harus di bagi empat.
Saat masih hidup, Ayah ku sengaja membangun 5 perusahaan, tapi setiap perusahaan saling sangkut-menyangkut. Jadi, Aku mengambil alih perusahaan ke lima itu dan menjadi CEO-nya.
Perusahaan swasta itu ku urus dengan baik selama lima tahun. Hingga.. tiba lah akhir dari hidup ku. Aku yang membuat sebuah jarak ini, meninggal akibat kecelakaan yang terjadi.
Lalu tiba-tiba Aku di dunia ini, dunia yang disebut-sebut sebagai dunia lain.
'Tapi kenapa Aku menjadi seorang gadis jahat, dari sebuah novel yang pernah ku baca. Lalu, dari yang ku baca aku akan mati terpenggal, karena berusaha membunuh sang pemeran utama menggunakan pembunuh bayaran.
Sepertinya.. Aku benar-benar harus hidup dengan di penuhi kehati-hatian. Jika tidak, kepala ku akan melayang dari tubuhku!?
Pertama-tama aku harus menjadi gadis baik agar tidak membuat diri ku mati konyol, hanya karena kecemburuan yang luar biasa hebatnya. Dan agar keluarga yang tidak bersalah ini juga bisa hidup aman, tentram dan damai.'
Seharusnya begitukan pemikiran orang-orang yang berpindah ke dunia lain. Tapi, lihat lah pemikiran itu! Sungguh benar-benar membuat ku kesal. Bagaimana tidak! Ketidak acuhannya itu, benar-benar membuat orang yang membuat dirinya masuk kedalam dunia lain ini, menyesal!?
Pemikirannya memang selalu logis dan tenang. Tapi ketidak peduliannya itu benar-benar membuat setiap orang kesal. Bahkan dewa yang ku buat di novel ini mendapatkan ketidak acuhannya itu!?
Ehem ehem.. kembali lagi ke cerita aslinya.
...****************...
"Dimana ini?" Tanya seorang gadis sambil melihat sekeliling. Namun yang di temuinya hanya lah kegelapan tiada akhir.
Tiba-tiba saja, tempat yang Ia pijak, nampak berubah menjadi seperti danau biru yang sangat jernih. Dengan jangkauan pandang yang terlihat tidak terhingga. Dan kedalaman danau tersebut juga tak di ketahui. Namun Ia, sang gadis, memijakkan kaki di atas air tersebut.
Terlihat birunya malam di bagian atas, dengan sedikit pernak-pernik seperti bintang (sebenarnya gak bakal panjang kalo langsung tulis langit malam wkwkwk).
Di hadapan gadis itu, terdapat seekor kucing dengan mata safir berwarna merah berlian, dan tubuh berwarna hitam lebat, atau itu karena Ia sedikit gemuk? Mungkin. Dengan santainya, kucing kawai itu melayang di ruang hampa ini.
__ADS_1
Eh? Tapi kelihatannya bukan di ruang hampa deh. Soalnya itu dua makhluk bernapas bisa ada di sana. Umm.. entah lah.
"Meow~ Senang bertemu denganmu~" Ucap sang kucing, namun tidak ada jawaban dari sang gadis.
"Kau pasti bingung kenapa Kau bisa berada di sini, kan, meow~?" Tanya sang kucing dan.. hanya kesunyian yang terlihat. Namun mata sang gadis juga terlihat bertanya.
"Baiklah akan ku jelaskan, meow~"
"Awalnya, seharusnya Aku berterima kasih dulu pada mu. Karena membantu sang malaikat maut kembali ke dunia akhirat tanpa tangan kosong, entah bagaimana, jiwa mu salah cabut. Jadi, atas konstribusi mu itu, Kau akan di beri kesempatan dengan 2 pilihan."
"Yaitu, yang pertama. Kau di perbolehkan bereankarnasi ke kehidupan baru, dengan ingatan yang utuh dari ke hidupanmu yang sebelumnya. Lalu yang terakhir atau yang kedua. Kau hidup di akhirat yaitu surga, dengan melewati beberapa aturan dahulu."
"Kau bisa bebas memilih, meow~"
"..."
"Halo? Bisa kah kau mengatakannya secara langsung? Bukan dengan tatapan tak peduli saja?"
"Hmm.."
"Satu."
"Hei, aku seriu- tunggu.. yang pertama ya? Baiklah, meow~"
Terlihat tempat tersebut menjadi gelap kembali. Terdapat setitik cahaya putih seperti blackhole di sana. Tapi karena warnanya putih Aku menyebutnya whitehole.
Terpampang di hadapan sang gadis yang semakin lama semakin besar. Dan membuat siapa pun yang melihatnya merasa silau. Namun sepertinya tidak dengan mata gadis itu.
...****************...
Terlihat tempat asing yang agak kuno, dengan ukiran-ukiran disetiap sisi dindingnya. Di padu dengan hiasan-hiasan yang di letakkan di ruangan tersebut, sehingga membuatnya terlihat indah.
'Dimana ini? Terlihat asing namun seperti pernah melihatnya. Dan kenapa rasanya sulit sekali untuk bergerak? Eh? Apakah Aku sedang menangis? Tapi.. kenapa suara ku seperti bayi?' Pemikirannya penuh dengan tanda tanya, setelah beberapa saat mengagumi sekelilingnya sambil bertanya-tanya meski tau tak akan ada yang menjawab.
'Terakhir kali jika tidak salah, Aku sedang ingin pergi ke supermarket yang berada di dekat rumah ku. Saat ingin menyebrang, tiba-tiba ada seorang pria yang terlihat hampir tertabrak. Aku bingung harus apa. Jadi langsung saja Aku menariknya ke belakang ku.'
'Dan secara tidak sengaja, Aku terpeleset ke belakang. Saat itu Aku menghadap ke tepi jalan, tempat sebelum Aku menarik pria itu. Yang akhirnya, kecelakaan kecil itu membuat malaikat maut tidak membawa tangan kosong. Benar-benar heroin sekali diri ku saat itu.'
__ADS_1
'Setelah itu, aku bertemu Blackie yang melayang sampai tenggelam di dalam whitehole. The End.' Pikir ku saat tahu tak bisa berbicara dengan pita suara yang masih bayi.
Tanpa di sadari ruangan tersebut telah di masuki oleh beberapa orang, yang terlihat cukup tak asing di mata.
Mereka terlihat seperti orang-orang bangsawan dari salah satu komik yang ku baca. Benar-benar terlihat berwibawa, namun rasanya Aku seperti di lihat oleh mereka.
"Selamat atas kelahirannya, Adik ku." Ucap seseorang yang terlihat sangat berwibawa dengan kumisnya. Ia menepuk bahu seorang pria di sampingnya, dengan senyum yang menawan. Meski terlihat hampir atau sudah mencapai kepala tiga karena keriput samarnya itu.
"Terima kasih, atas sanjungannya." Jawab orang yang di beri pernyataan tersebut, sambil tersenyum lembut ke arah wanita yang menggendong ku. Ia juga memegang bahu wanita yang sedang menggendong ku.
"Hahaha, anak ketiga mu kali ini sepertinya mengikuti genmu, benar-benar cantik seperti ibunya." Sanjungan baru dari wanita yang berada di samping pria berkumis. Ia tersenyum lembut mengarah pada orang yang menggendong ku dan diri ku.
"Terima kasih, atas pujiannya Duchess." Jawab seorang wanita yang menggendongku seolah ialah yang di sanjung.
"Hohoho, tak perlu memanggil ku seperti itu. Karena saat ini kita tidak berada di publik, sehingga tidak perlu formal pada ku. Apa lagi di saat-saat seperti ini." Ucap wanita tadi dengan tawa ringannya.
Wanita yang menggendong ku menjawab dengan senyuman lembut nan hangat.
Tunggu.. mereka dari tadi berbicara tentang bayi, dan saat ini Aku sepertinya seorang bayi. yang artinya mereka membicarakan ku. Juga yang berarti wanita yang menggendong ku dan pria di sampingnya itu orang tua ku saat ini.
...--------------------------------...
Terimakasih sudah membaca novel ini.
Maaf jika ada kesalahan karena ini novel pertamaku.
.
.
.
"Hei. Semua, tahu tidak? Jika sebenarnya POV yang di gunakan dari sudut pandang ku?"
"Authornya sengaja bikin seolah sudut pandang itu darinya. Padahal sebenarnya itu sudut pandang ku."
"Bagus tidak? Aku membuat narasinya seolah itu Author yang buat. Padahal itu adalah narasi dari dalam hati ku. POV-nya dari ku begitu. Ahahahahaha"
__ADS_1