
Seperti kata ku di-chapter sebelumnya. Aku sudah tahu elemen apa saja yang ku miliki. Dan hasilnya, semua elemen ku punya.
Aneh? Tidak. Karena Aku pemeran utama di novel ini, wajar jika memiliki persentase besar untuk
menjadi OP.
Sekian.
Kita kembali ke narasi ceritanya.
Mama dan yang melihat latihan ku pun terkejut akan hal itu. Bagaimana bisa? Seluruh elemen utama, yang bahkan, paling besar orang-orang akan memiliki setidaknya tiga elemen.
Itu pun jarang bisa di temukan di setiap jalanan yang ada. Namun bukan berarti langka bak harimau Sumatra, gajah, dan lain-lain. Banyak juga, tapi tidak bisa di temukan di setiap desa, seperti itu.
Aku hanya bingung, kenapa Aku sesial ini? Sudah mati karena hal konyol. Malah di buat menderita dengan perburuan besar ini.
Kenapa Aku menyebut 'Mama' secara langsung? Karena Dia lah yang menjadi gurunya.
Awalnya mereka membicarakan tentang guru dengan ku. Lalu, terjadi lah tawar menawar bak lagi di pasar abang. Mereka menawarkan guru dari sebuah asosiasi terkenal kualitas dan kuantitasnya.
Namun, Aku menolak tawaran itu. Mama kan bisa, dia juga salah satu ketua divisi pilar di klan itu. Pasti kuat, hanya tinggal menunggu waktu terkenal saja.
Bahkan, ehem ehem, gratis pula. Tanpa perlu mengeluarkan uang sepeser pun. Mama bahkan tidak perlu kuantitas untuk menentukan kualitasnya.
Ibarat, untuk apa repot-repot membayar sesuatu dengan harga mahal tapi harus menunggu lama, sedangkan kita membutuhkannya segera, padahal ada sesuatu yang bisa kau gunakan dengan mudah tanpa perlu membayar sepeser pun, atau bahkan menunggu di sekitar mu.
Mama masih mengajari ku cara menggunakan mana membentuk sesuatu. Seperti Kau membuat lukisan tapi versi tiga dimensi-nya.
Kami masih fokus akan hal ini selama setahun terakhir. Bukan hanya membuat penampilan dari mana itu nampak seperti sebuah lukisan 3D.
Tapi juga penggunaan mana itu pada elemen yang ku punya. Pembelajaran dari Mama memang sulit pada pertama kali mencoba. Karena Aku orang yang cepat belajar, percobaan ke dua susah-susah gampang.
Untuk seterusnya menjadi mudah. Ternyata tidak sampai di situ. Aku fokus pada satu hal seperti ini, menjadi sesuatu yang sulit setelah di alihkan ke yang lain, lalu mencobanya lagi.
Juga ku lakukan penggunaan mana yang di gabungkan ke elemen di sebuah benda, seperti pedang kayu terkadang juga ke benda tajam.
Setidaknya, hal seperti ini memang sulit di awal, tapi bermanfaat di akhir. Juga, karena Kami tidak bisa melakukan latihan setiap hari.
__ADS_1
Latihan ini membutuhkan modal tenaga fisik dan psikis yang besar, jika di lakukan setiap hari. Ya, karena ini berbeda dengan sesuatu seperti latihan berotot, yang memang butuh rutinisasi.
Aku yang jiwanya memang lebih dari seperempat abad ini, juga, raga yang hanya berumur enam tahun, pasti mustahil. Menjadi seperti kerja rodi saja.
Aku bahkan tidak tahu seberapa banyak jumlah mana yang ada di dalam tubuh ku.
Mama juga tidak mungkin memperbolehkannya. Sepertinya, perasaan Mama dua tahun lalu masih ada.
Lalu, jujur saja. Aku.. mulai membenci perlakuan ini. Maksud ku, ayo lah. Cuma dua tahun saja.
Apa perlu perlakuan seperti Aku ini anak penuh dengan ke kurangan ?
Sekarang, Aku tahu kenapa anak yang seharusnya berada dalam posisi ku ini, menjadi begitu egois. Selalu mencoba segala cara untuk mendapatkan apa yang di inginkan, tanpa bertoleran lagi.
Hah~
Kenapa Aku menjadi terbawa perasaan seperti ini? Mungkin Aku terlalu lelah, setelah mencoba melakukan semua agar bisa sesuai dengan ceritanya.
Sudah lah. Lebih baik kembali pada kenyataan sekarang. Kita sudah berjalan jauh dari topik utama yang sebelumnya.
Ku coba setiap elemen menjadi seperti apa seharusnya. Berhasil semua. Apakah ini karena daya imajinasi yang kuat saja?
Entah lah. Toh, setidaknya, ini bisa berguna. Nanti Aku akan minta Mama ajarkan bagaimana caranya memasak menggunakan elemen api ku.
Jika di samakan dengan cerita-cerita dari komik manhua yang ku baca. Mereka memasak pil KB dengan api tanpa kompor, apinya melayang ke mana-mana gitu, atau ada juga yang menggunakan petir untuk memasak makanan.
Atau mencuci menggunakan elemen air ku. Atau mungkin juga, mengeringkan pakaian atau semacamnya dengan elemen angin ku.
Jika bumi, cahaya, dan kegelapan? Aku tidak tahu bagaimana mereka bisa di gunakan.
Mungkin tidak berguna untuk masa-masa tua ku yang mungkin penuh dengan ketenangan, meski sudah di asing atau apa lah itu. Jadi tidak di latih pun tidak apa-apa.. kan?
Hentikan.
Saat ini, Aku sedang melakukan latihan(?) etiket atau apa lah itu. Guru ku saat ini bingung. Apa yang bisa ia ajarkan lagi?
Satu tahun ini, semua etika bangsawan sudah bisa ku lakukan dengan lihai. Tidak kaku, melenceng atau semacamnya.
__ADS_1
Bagaimana bisa semua hal semudah itu, sulit untuk di lakukan? Tidak tidak tidak. Itu karena mereka semua tidak mau berusaha.
Coba saja jika mereka berusaha, pasti hal seperti ini mudah di lakukan. Walau sebenarnya, Aku tidak berusaha-usaha amat. Aku cuma ingin memberikan pikiran ambisius, tidak lebih, karena Aku pun bisa di katakan tidak pernah berusaha keras. Ku lakukan ketika ingin saja.
Tapi syukur lah, semua hasil dari usaha ku selalu sesuai harapan. Mungkin, Aku harus bersyukur lebih lagi untuk ini.
Tapi, lupakan. Utama yang di topik-an sudah sangat-sangat melenceng.
"Lady Annabella. Saya sudah tidak bisa mengajarkan Anda apa-apa lagi. Mungkin beberapa pertemuan lagi, akan menjadi akhirnya."
Hmm.. mungkin masih ada lagi.
"Membordir?" Saran ku, atau tepatnya tanya ku.
"Benar! Karena saya tidak menyiapkan lebih dahulu peralatannya, mungkin bisa Kita mulai dengan teori ringan! Seperti apa yang ingin kamu buat!" Gembiranya.
Akhirnya pelajaran kembali di mulai.
***
Waktu makan malam pun tiba. Seperti biasa, Aku menjadi seperti seorang pendengar yang baik, walau aslinya fokus ku pada makanan.
Namun, secara tidak sengaja Aku ingat. Bahwasannya, Aku ingin membentuk kembali isi dari rumah kaca Mama. Di sana tidak ada yang bisa ku lihat.
Cuma beberapa jenis bunga, lainnya seperti lahan kosong. Mama sepertinya tidak terlalu berniat dalam mebuat rumah kaca tersebut.
Aku mungkin bisa memilikinya.
Sayang kan kalau hanya jadi pajangan. Setelahnya lama-kelamaan menjadi berlumut.
Modal membuat seperti itu sangat besar. Sangat sayang jika karena berlumut terus di hancurkan.
Kebetulan sekali jika bisa jadi punya ku pribadi. Aku berniat menjadi Assassin beracun.
Tanaman racun tak pernah di larang kan, jika sudah izin.
Karena itu, mari kita bicara!
__ADS_1