
Sreet sreet sreet
Suara pena berjalan di atas kertas, menjadi backsound dari keheningan yang terjadi di ruangan ini.
Saat ini, Mama, sedang membuat laporan tentang misi yang baru di selesaikannya. Aku hanya melihat apa yang di lakukannya.
Toh, untuk apa banyak berbicara. Itu cuma akan mengganggu konsentrasinya, juga, apa yang harus di katakan.
Jadi melihat saja merupakan pilihan yang tepat.
Sudah tiga hari sejak para A-0 pergi kembali ke rumahnya masing-masing. Juga anak-anak yang lain. Serta orang-orang dewasa yang tersisa.
Sebenarnya, jika di jujurkan. Mengembalikan orang-orang dewasa itu bukanlah ide yang tepat.
Jika di lihat dari mental mereka sendiri, yang saat ini masih memiliki rasa takut atau sedikit terkikis, meski tahu sudah di selamatkan.
Alasannya?
Mudah.
Itu dikarenakan mereka akan takut terhadap orang lain. Mereka juga kelihatannya sudah menjadi orang yang selalu ingin menyendiri dan individualisme terhadap orang lain.
Akibat dari perilaku kasar itulah yang menyakiti mental mereka. Dan membuat orang-orang di mata mereka, adalah makhluk mengerikan.
Meski begitu, ada juga baiknya. Jika di lihat dari sosialisasi yang bisa mereka lakukan. Itu akan menutupinya.
Orang-orang yang melihat mereka pasti akan berempati, dengan bersikap ramah terhadapnya.
Sehingga terdapat rasa sosial dan ingin bercengkramanya kembali lagi.
Tetapi, itu bisa di lakukan jika mereka memiliki kesadaran sendiri. Jika mereka tidak ingin sadar dan terus-menerus menganggap orang lain adalah musuh. Tidak akan ada yang namanya perubahan.
Perubahan akan terjadi jika Kau sendiri yang menginginkannya dan berusaha untuk mencapai perubahan itu.
Sesuatu akan terasa sulit jika itu di lakukan tanpa keinginan dan usaha dari diri sendiri. Meski itu hanya bergerak barang satu cm pun.
"Selesai." Sebuah suara terdengar.
"Annie. Apakah Kamu mau langsung pulang atau menunggu waktu makan siang terlebih dahulu?" Mama mulai memberi pertanyaan.
"Jika Kamu mau langsung, Kita akan sampai saat sore. Namun, jika Kamu ingin menunggu, maka Kita akan sampai saat beberapa puluh menit lagi matahari akan terbenam. Jika ada kendala mungkin saat malam." Jelas Mama panjang lebar.
Terdiam sejenak. Yang kemudian mengangkat pilihan ku.
"Menunggu saja dulu." Jawab ku.
"Baiklah."
Mama pun segera beranjak untuk memberikan laporan mengenai misinya. Aku pun begitu, tapi untuk pergi mandi.
Aku merasa kepanasan. Apakah di sini sudah musim panas? Sepertinya begitu, beberapa hari ini Aku merasa kepanasan terus.
...****************...
'Ah~ Nyamannya.'
Aku baru saja selesai mandi dan berpakaian kembali.
__ADS_1
Jika di pikir-pikir. Kenapa Mama membuat laporan untuk misi yang baru saja di selesaikannya? Seingat ku.
Setiap misi yang di terima telah di atur oleh Administrasi-nya sesuai tingkatan yang mereka punya.
Tidak di perlukan yang namanya membuat laporan. Apakah Dia baru saja menyelesaikan misi penting yang membutuhkan sebuah laporan?
Sudah lah.
Lupakan saja.
Lebih baik Aku segera menuju tempat makan siang. Yang sebelum itu mencari Mama dahulu. Aku pun berjalan menyusuri jalan yang ada hingga menemukan Mama.
Aku bertemu dengan Mama saat sedang ingin ke tempat makan siang. Setelahnya? Kami berjalan bersama, dengan Mama yang menggendong ku menyamping.
Makan siang Kami terjadi begitu lambat tapi juga cepat karena Aku hanya fokus pada makanan yang sesekali menoleh ke arah Mama bersama dengan temannya bercengkrama.
Semakin hari nafsu makan ku semakin berkurang, yang biasanya kurang lebih empat piring. Kini menjadi dua piring.
Aku bukanlah tipe orang yang mudah gemuk, jadi sebanyak apa pun lemak yang di terima besar badan ku hanya seperti itu-itu saja.
Lalu, sebanyak apa pun kalsium dan protein yang ku konsumsi. Ugh.. sejujurnya Aku tidak ingin mengatakan ini jika ku mau. Tapi, ya sudah lah~
Jadi, sebanyak apa pun itu Aku...itu...um...akan memiliki tinggi yang sama. Bukan berarti Aku tidak akan pernah tinggi.
Hanya saja pertumbuhan tinggi ku lama.
Itu saja.
Jangan mengejek ku dengan kata 'pen*ek'. Jika tidak, pita suaramu hilang di kerongkongan.
(ku sensor karena masih ingin berbicara T^T)
...****************...
(Asjdnhdwj! Itu suara mbak pohon beringin ato suara kuda woe!)
Suara melengking yang cukup ramai dan kereta yang berhenti mendadak. Seperti suara kuda yang terkejut.
Membangunkan ku dari mata yang terpejam. Hanya terpejam. Tidak benar-benar tidur.
"Ada apa ini?!" Kejut Mama sambil menahan tubuh ku agar tak terjatuh.
"Maaf, Nyonya. Tiba-tiba saja ada sesuatu yang melintas dan mengejutkan kudanya." Jelas kusir tersebut dengan nada gemetar.
Mama tidak menjawab tapi ia hanya turun. Mereka nampak berbincang-bincang tegang. Mama berbicara santai namun sang kusir nampak tegang.
Ada apa dengannya? Menahan kentut kah?
"Miawww~"
Sebuah erangan kesakitan namun memiliki suara yang imut tertangkap oleh gendang suara ku. Aku yang merasa agak kenal dengannya pun turun dengan sigap.
Agak berlari, namun tidak terlihat berlari. Kaki kecil ini sedikit membuatku kesulitan berjalan. Jadi jalan antara kereta dan Mama sangat jauh rasanya.
Dan, waw~
Are you joke to me?
__ADS_1
Bulu-bulu yang lebat dan mekar berwarna hitam pekat, yang di mana terlihat halus dan lembut saat di elus.
Mata bulat yang namun juga agaknya bisa menajam, di balur warna mata merah, dengan mata bagian hitamnya mekar sehingga nampak imut.
Membuat ku dengan sigap mengangkatnya dan menyebut kata-kata yang biasa ku panggil untuknya.
"Kucing gendut!" Mata ku agak berbinar sepertinya.
"Miaww~" Merdunya. Akting yang bagus. Namun—
'Siapa yang Kau panggil gendut, gadis gila!'
—itu lah yang tersirat sekilas dari matanya.
"Annie. Ada apa?" Tanya Mama lembut.
"Apa Kau ingin membawanya pulang saja lalu merawatnya? Kau kelihatan menyukainya." Aku pun Mengangguk. Mama pun hanya membalas ku iya.
Tentu Aku mengangguk. Karena kesempatan untuk balas dendam masa lalu ku bisa di lakukan. Mimpi buruk tiada akhir, akhirnya terbalaskan.
Kami pun akhirnya melanjutkan perjalanan. Dengan Aku yang terus mengajak kucing gendut ini berkomunikasi.
Apakah Aku harus menggunakan bahasa astral untuk membuatnya berbicara?
Dia dengan penuh kebohongan terus-menerus bertingkah seolah korban kecelakaan tabrak lari. Padahal tidak benar-benar terkena tendangan dari kuda itu.
Dia malah mengalami sakit di pergelangan tangannya. Atau mungkin memang tidak mengenainya?
Aku terus mengulangi kata yang sama tiada henti.
"Blackie, Redie, Cat, gendut. Blackie, Redie, Cat, gendut. Blackie, Redie, Cat, gendut. Blackie, Redie, Cat, gendut. Blackie, Redie, Cat, gendut. Blackie, Redie, Cat, gendut. Blackie, Redie, Cat, gendut. Blackie, Redie, Cat, gendut. Blackie, Redie, Cat, gendut. Blackie, Redie, Cat, gendut. Blackie, Redie, Cat, gen-"
"Hentikan, gadis gila! Kau membuat ku pusing!" Teriaknya pada ku. Dapat terlihat perempat merat di kepalanya.
Aku mengangkat dagu bangga atas usaha ku. Namun, Mama nampaknya terkesiap dengan tingkah dari kucing gendut ini.
"Akhirnya merespon juga." Ucap ku ringan.
"Apanya yang 'akhirnya'?!" Dia benar-benar geram ya.
"Bersahabat lah dikit, kucing gendut."
"Untukmu tidak akan pernah! Hmph!" Lagi. Aku hanya ber-'hmm' ria. Namun agaknya dia semakin kesal. Apakah ada yang mengganggunya?
"Kucing itu-" Mama memasang wajah bingung.
"Tidak akan ku jelaskan!" Ketusnya.
Aku pun menbalas setiap ucapan yang dia keluarkan. Dengan akhiran sumpah serapah darinya untuk ku.
Apa Aku membuatnya kesal? Sepertinya tidak. Dia saja yang terlalu sensi.
"Hmm~" Gumam ku.
"Aaaggh! Berhenti membalas ucapan ku dengan dua huruf itu!" Geramnya lagi.
Sepertinya Aku tahu apa yang membuatnya kesal.
__ADS_1
Hehe~