
Banyak hal yang telah ku lakukan selama dua minggu lebih. Seperti berburu untuk meningkatkan level bersama.
Banyak yang ikut. Seperti para A-0, trio pengganggu, dan duo ras gila. Kami berlomba-lomba dalam berburu kali itu. Kami juga banyak terluka karena berburu kali itu.
Sekalian saja sambil meningkatkan efek dari elemen cahaya ku, ku sembuhkan mereka. Awalnya latihan ini ingin di selenggarakan selama menuju hari ujian masuknya, saran dari A-02. Tapi dengan segera kucing gendut itu menyanggahnya.
Benar, jangan gila. Maksud ku, kita sedang latihan bukan kerja rodi atau mengumpulkan makanan untuk musim dingin. Benar-benar bar-bar sekali bocah satu itu.
Mereka malah membuat semua hal itu rumit. Peraduan argumen yang malah mereka inginkan. Mereka berusaha memojokkan kami yang waras ini.
Bahkan mereka, membuat sebuah tantangan. Jika Aku kalah Aku akan lakukan ini. Jika Aku menang Kau-Kau lakukan ini. Atau, jika Aku menang lakukan itu. Seperti akhir tantangan win-lose pada umumnya.
Lalu, ku setujui dalam satu ronde pertama Kami. Dengan tantangan dari ku, jika Aku menang Kalian turuti cara ku berlatih.
Setelahnya? Tentu saja Aku yang menang. Mereka nampak menunjukkan wajah kesal. Tapi, jika di pikir-pikir, waktu Kami berlatih memang sangat lah minim. Jika di lakukan beberapa hari sekali akan membuat perkembangan Kami tidak naik-naik.
Hah~ Melelahkan sekali rasanya. Untungnya ide itu cukup berguna. Dan Aku hanya menunggu, jadi hanya bokong ku saja yang lelah karena duduk. Mengawasi mereka agar tetap melakukan rencana ku agak menjengkelkan juga.
Haha, tapi ada yang menyenangkannya juga. Kucing gendut itu menggerutu pada dirinya sendiri, sebagai pencetus sumber masalah terciptanya tantangan itu.
Jadwal latihan kami ku buat menjadi dua kali sehari. Sebenarnya ini masih ku ragukan, tapi ya sudah lah. Dari pada kami kelabakan dan mereka merengek, Aku repot dan terjadi lah hal yang menjengkelkan. Baru dua hari ku buat secara bergantian. Sistem latihannya sudah Kami ubah lagi.
Ku buat bersama-sama secara langsung, seperti sebelumnya. Latihan kami dua hari sekali. Cukup pesat memang. Tapi tidak membuat ku puas entah mengapa.
Akhir cerita. Kami berlatih bersama selama beberapa minggu. Dalam latihan kami tidak ada hal yang istimewa untuk di ceritakan. Hanya peningkatan level dan monster tingkat menengah saja.
Oh! Dan yah. Kami pernah melihat sekumpulan goblin yang hanya sekisaran 10 atau berapa lah, tidak hanya melihat sih. Malahan kami buru, untung saja mereka hanya kawanan biasa yang (mungkin) menjauh dari kelompoknya (tanpa sengaja). Tidak bisa di makan, tidak mungkin di simpan, tidak mungkin di pelihara, kami memutuskan untuk menjual mereka.
Sebelum menjual apa yang bisa kami dapat dari mereka tentu kami pisahkan beberapa bagian. Meminta pada Mama untuk menjual mereka.
Kami bingung saat uang yang di dapat oleh kami ingin di apakan. Jujur, Kami bukan anak manis—manja—yang suka dengan pemberian orang lain atau semacamnya. Mereka nampak menyarankan untuk terus di bagi.
Aku yang memegang uang itu menyarankan untuk di berikan ke sebuah gereja yang ada di sebuah tempat. Aku tahu itu dari novel dan komiknya. Sebuah gereja yang tanpa sengaja terlihat oleh sang pahlawan wanita. Nampak begitu rapuh dan tak terurus, baik itu anak-anak yatimnya atau bangunannya.
Dan yah. Kalian tahu akhirnya bagaimana.
Lalu..
Tiba lah—
"Mulai!" Suara sorak menggema. Lalu menghening.
—saatnya!
__ADS_1
...----------------...
[Flashback on]
'Jadi.. di sini lah kami melakukan ujiannya. Tempat tanah kosong ini?' Pikir ku ketika Kami telah sampai di tempat ujian itu.
"Banyak sekali orang yang ikut. Apakah ada peraturan bersaing PvP di sini?" Tanya ku pelan.
"Tentu tidak gadis gila. Jangan bercanda." Kucing gendut itu menjawab pertanyaan yang tak ku niatkan untuk seseorang agar di jawab.
"Oh." Singkat ku. "Kucing gendut, kenapa kau ikut? Ini ujian untuk manusia, bukan satwa binatang." Ujar ku.
"Aku tahu itu! Karena merasa nanti bosan saja makanya Aku ikut!" Teriaknya.
Yang niatnya tak menarik perhatian, malah menjadi pusat perhatian. Ini semua gara-gara kucing gendut ini. Teriak saja terus. Biar ku doa-kan supaya gak bisa bicara lagi. Huh!
Bagaimana tidak? Seekor kucing berbicara! Mana melayang-layang lagi! Semua orang jadi menatap kami. Aku tidak menyukainya!
Berbisik-bisik akan hal aneh, mengejutkan dan ajaib selalu di lakukan oleh manusia. Saat ini lah contohnya.
Mana kucing gendut itu tidak henti-hentinya mengoceh tentang pikirannya lagi. Mereka yang sudah tahu dari awal malah biasa saja dengan kucing berbicara ini. Tertawa dan bercanda ria.
Sadarkah mereka menjadi pusat perhatian? Juga, apakah kalian merasa ini hal biasa saja? Tunggu. Jangan mengobrol dengan kucing itu. Oh sialan. Terserah kalian saja.
Tapi Kami masih berada di sini bercengkrama ria. Kapan sebenarnya ujian di mulai.
"Selamat datang para peserta."
Dua gadis berambut putih muncul dan mengucapkan kata-kata sama bersamaan secara tiba-tiba. Namun Aku kenal dan pernah bertemu mereka saat masih berada di pusat klan kainigose.
Tunggu apa-apaan kucing gendut itu!
"Kami adalah pengawas ujian ini." Ucap anak sebelah kanan.
Tidak sopan sekali!
"Peserta yang datang cukup banyak, sehingga Kami akan membagi kalian menjadi beberapa tempat." Kali ini kiri.
Dia saat ini berada di dekat kedua kembar itu!
Tanah yang kami pijak nampak bergetar dengan sebuah suara gemuruh besar. Bersamaan dengan sebuah dinding tanah yang sedang menaikkan diri.
Kami terkurung di antara bebatuan ini.
__ADS_1
Tubuh Kami nampak bersinar putih sejenak. Lalu secara tiba-tiba sebuah aliran listrik singkat menjalar ke tubuh ku tiba-tiba. Tidak ada yang berubah-
Lho? Kenapa tiba-tiba kedua gadis itu menyampingi pandangan ku? Eh! Tidak. Aku lah yang berubah tempat bersama beberapa orang lainnya.
Sepertinya Aku di pisahkan dengan yang lainnya. Di sini tidak ada seorang pun yang ku kenal. Juga, sepertinya hanya beberapa orang yang sadar tentang perpindahan ini.
Mereka sibuk berbisik-bisik tentang kucing gendut itu. Secara serampangan sekali ia dengan santainya berjalan ke podium yang di tempati dua gadis itu.
Semua mata tidak menjadi fokus akan sekitar lagi. Ya memang benar sekali apa yang di lakukannya. Dia pasti nanti akan di bawa oleh kedua gadis itu karena ini ujian bukan satwa liar-.
"Setiap sesi akan di beri sebuah kesempatan. Ini ujian hidup dan mati. Semua masalah tertanggung sendiri."
"Ujian untuk tahap pertama adalah berburu."
Seperti kata Mama
"Kalian hanya perlu bertahan selama tiga malam dua hari. Tidak di sarankan individu, juga tidak di sarankan berkelompok. Semua itu terserah kalian."
Begitu
"Kalian bisa mengumpulkan sebanyak-banyaknya monster. Meski bukan itu tujuan utamanya."
Hmm~
"Dalam hal bersaing antar peserta di larang. Jika kalian ketahuan, maka kalian akan di nyatakan kalah pada saat itu juga."
Sepertinya Aku tahu apa yang di siratkan
"Baiklah, kalau begitu. 3, 2, 1.."
Tiba lah-
"Mulai!" Sorakkan terdengar dari para peserta. Namun, tiba-tiba suara mereka menghilang, menyisakan hal aneh pada mataku. Sebuah hutan antah-berantah di hadapan ku. Hanya ada suara burung dan hewan malam. Ah~ Begitu ya~
-saatnya!
Untuk bersenang-senang!
Antara mati dan hidup!
Aku menanti mu!
Haha!
__ADS_1