My Antagonist Life Reancarnation

My Antagonist Life Reancarnation
Bab 1 : 14


__ADS_3

Selama tujuh hari berturut-turut kemarin. Saat si kucing hitam terkutuk pembawa bencana itu memanggil ku. Aku terus bermimpi buruk.


Setiap bangun akan selalu kehilangan mood dan merasa lesu, jika kami bertemu kembali Aku akan memberinya pelajaran.


Mimpi-mimpi buruk itu selalu berisi mimpi yang tidak di inginkan, untung itu hanya tujuh hari, jika berhari-hari sudah dipastikan Aku sakit psychology.


Sekarang, lupakan saja dulu hal itu.


Beberapa hari lagi Aku akan genap berumur 2 tahun, Aku juga sebentar lagi akan memiliki seorang adik. Kandungan ibu sudah berumur mungkin sekarang sudah sembilan bulan, entah lah Aku lupa karena tidak menghitungnya.


Saat ini Aku sedang membuat kerajinan dari bunga, seperti mahkota bunga, kalung dan semacamnya. Karena bosan, Aku berguling di bawah pohon yang ada di sana, tentu saja Aku bermain di sini bukan tanpa alasan.


Karena di sini terasa begitu banyak mana yang bisa di serap oleh ku. Selama ini walau Aku hanya berjalan-jalan Aku juga masih menyerap mana.


Meski begitu aku masih merasa yang ku serap itu hanya sedikit, karena Aku tidak tahu seberapa besar Mana yang tersimpan di dalam tubuh ku.


Ah?! Aku lupa sebenarnya juga level bisa meningkat hanya dengan menyerap mana, dan selama hampir dua tahun ini Aku selalu menyerap mana.


Tapi sekarang kita mempunyai masalah yaitu Aku tidak tahu berapa level ku sekarang. Ngomong-ngomong dunia sihir ini sedikit berbeda dari yang lain.


"Annie, apa Kamu tidur?" Tanya seseorang yang terasa tepat di depan wajah ku yang sedang berguling ini.


Merasa tidak berniat menerima tamu, Aku pun bergulir ke samping kiri karena tahu siapa yang mengganggu ku tadi.


"Eh! Annie, jangan mengabaikan ku." Ucap Kak Reen yang merasa terabaikan.


Dan yang memanggil ku tadi adalah Kak Reen, mungkin dia saat ini sedang merasa bosan jadi dia mengganggu ku.


Meski dia bilang begitu Aku tetap tidak akan memperdulikannya. Karena bagi ku dia itu hanya hama pengganggu.


Dia terus-terusan mengganggu ku. Aku yang mulai lelah dengannya berusaha untuk menghilangkan pengganggu itu dengan mengajak Hanna dan Abel yang menemani ku untuk kembali ke kamar.


Meski tahu Aku akan ke kamar dia masih tetap mengikuti ku. Tolong sadar diri lah sedikit tuan. Kau tidak di inginkan di sini.


Setelah sampai di kamar aku pun tidur.


...****************...


Beberapa hari kemudian.


Hari ini umur ku sudah genap 2 tahun, dan sekali lagi Ibu membuat sebuah pesta kecil-kecilan. Seperti tahun sebelumnya , Ibu mengundang orang yang sama, namun kali ini bertambah dua wajah baru.


"Ya ampun, dia benar-benar anak yang imut." Ucap seorang wanita berdada besar tersebut sambil menggoyang-goyangkan seorang pria di sebelahnya.

__ADS_1


Wanita itu adalah wajah baru dari yang pernah ku lihat sebelumnya, dan pria di sampingnya juga adalah wajah baru.


"Sayang~ Kapan kita menikah?" Ucapnya pada pria yang di guncangnya tadi.


"Nanti. Saat umur kita sudah cukup. Jika kau ingin sekarang, tidak akan ada yang setuju." Ucap pria itu menjelaskan kepada wanita yang bertanya tadi.


"Ah! Kau benar. Maaf, Aku lupa." Onee-san yang cantik, kau sepertinya sedikit pelupa atau memang selalu pikun. Hingga melamar pria yang ada di samping mu itu.


Aku baru mendengar ada wanita yang melamar pria dengan cara seperti ini. Kemudian, mereka semua berbincang-bincang sampai satu jam ke depan, hingga seseorang mengangkat ku dari belakang lalu memeluk ku.


"Gadis imut kita bertemu kembali?!" Ucap seorang wanita yang pernah menjadi pemeriksa Ibu.


Tidak sampai di situ dia kembali berbicara dengan kencangnya untuk memberi alasan kenapa baru datang.


"Maaf aku baru datang! Tadi Aku bertemu penghalang yang sangat mengganggu! Jadi harus ku selesaikan dulu!" Ucapnya sambil menekankan pipinya dengan pipi ku, itu sungguh membuat ku risih.


Ayolah hentikan lah itu. Itu sangat mengganggu, kau tahu? Ya ampun, kekuatannya begitu besar, sulit sekali mendorongnya.


"Bisa kah kau hetikan itu? Kau membuatnya kesulitan." Ucap pria berbadan besar yang waktu itu, oh iya hanya memberitahu saja badannya besar bukan gemuk ya.


Dia mengucapkannya dengan nada membujuk karena dari wajahnya yang tersenyum itu. Karena itu lah sekarang Aku sudah di turunkan olehnya.


Tiba-tiba kami semua mendengar suara lenguhan kesakitan dari Ibu, saat kami semua menoleh Ibu memegangi perutnya.


Pertanyaan dan pernyataan sejenis itu, terus menerus terngiang di kepala ku. Karena hal itu membuat ku tidak fokus dengan apa yang sedang mereka bicarakan. Fokus itu membuat sekitar ku terdengar seperti berbicara dari dalam air.


Merasa khawatir, keringat dingin mengucur dari tubuh ku, hingga Aku tersadar saat Hanna menggendong ku. Karena pikiran tidak karuan itu akhirnya Aku baru mengerti bahwa Ibu ingin melahirkan.


Haa~ Mengejutkan sekali.


Kami semua mengikuti Ayah yang sedang menggendong Ibu ke dalam kamar, yang di ikuti wanita pemeriksa itu.


Kami semua di suruh keluar, bahkan ayah juga di usir oleh sang wanita pemeriksa itu. Semua orang menunggu di luar. Pemeriksa itu ada sekali keluar sambil meminta sesuatu dari Hanna.


Ayah dan yang lainnya awalnya biasa saja, tapi entah kenapa, mereka menjadi saling menanyakan waktu.


"Ini sudah satu jam lebih." Gumam Ayah kecil namun masih bisa terdengar oleh ku karena aku memintanya menggendong ku.


Tentu saja jadinya kedengaran. Dan juga Aku hanya ingin memperbaiki hitungan mu, bahwa bukan satu jam lebih, tapi 1 jam 27 menit 43 detik dan sekarang bertambah 3 detik.


Ya ampun, kenapa ruangan mereka kedap suara sih. Jadinya kan Aku gak bisa tahu sudah lahir atau belum.


Karena rasa khawatir yang Ayah keluar kan Aku memintanya menurunkan ku, sungguh aura yang tidak enak untuk ku rasakan.

__ADS_1


Selang beberapa menit kami menunggu akhirnya sang pemeriksa itu keluar dan meminta kami masuk.


Secara bergantian kami masuk dan Aku yang paling terakhir karena ingin membiarkan mereka semua yang berbadan besar masuk, jika Aku ikutan Aku akan menjadi rata. Hanna yang ku pegang tangannya nampak tertawa kecil.


Ah!


Jalan masuknya terbuka walau sedikit, sebelum Aku masuk Aku sudah dapat melihat bayi-bayi imut di sana. Mereka sedang di gendong oleh ayah dan Ibu.


Tunggu.. bukannya hanya seorang bayi kenapa jadi dua orang bayi? Yang berarti kedua adik dari sang penjahat wanita itu kembar?!


Lupakan saja dulu hal itu, yang penting sekarang Aku punya adik kandung.


Hanna merasa sudah waktunya bagi Kami masuk menarik tangan ku pelan. Beberapa langkah lagi Aku sudah berada bisa melihat mereka secara dekat namun tiba-tiba semuanya menggelap.


"Eh?"


...****************...


[Author POV]


"Sungguh mengejutkan, mereka lahir pada tanggal yang sama seperti Annie." Ucap seorang anak laki-laki yang di kenal sebagai Raanse.


"Haha, sekarang Annie bukan lah lagi yang paling kecil." Ucap seseorang lagi yang di kenal sebagai Reshannzi.


"Dan yang lebih mengejutkan lagi mereka kembar." Ucap seorang wanita yang tak lain adalah Enma.


"Apakah kamu senang, Annie?" Ucap Reense yang berbicara sambil melihat ke arah seorang pelayan yang bernama Hanna.


"Eh? Annie di mana?" Tanya Reense kepada pelayan itu.


"Nona? Bukannya dia ad-"


"Tadi saya memegang tangannya ke-kenap- eh- di mana?" Ucap Hanna gugup dengan nada terkejut dan bingungnya.


Semua yang berada di sana melihat sekeliling mereka. Namun tidak menemukan orang yang di cari, apa lagi mereka berdiri secara sejajar dan tidak bertumpuk sehingga tidak mungkin Dia terselip, jika pun ia terselip pasti akan ada tanda-tanda kan.


Melihat akan hal itu Abel keluar dari ruangan itu untuk melihat sekeliling teras ruangan itu, tidak terlalu sulit untuk menemukan anak kecil pada siang hari jika dia hanya di sekitar sini, apa lagi jika itu anak yang berumur 2 tahun.


Abel terus berkeliling sambil memerintahkan semua pelayan yang Ia temukan di setiap jalan untuk mencari dimana Nona muda mereka berada.


...----------------...


Terimakasih sudah membaca novel ini.

__ADS_1


Maaf jika ada kesalahan karena ini novel pertamaku.


__ADS_2