
Yang di mana, novel itu menceritakan dunia ini. Aku sebagai sang antagonisnya di sini. Menyedihkan? Tidak. Ini sangat mengerikan. Kalian tahu? Aku akan mati di tangan sang protagonis secara tak langsung. Aku di asingkan karena dirinya, setelahnya bunuh diri karena tidak tahan akan kegilaan ini.
Bercanda.
Tidak mungkin benar-benar ku jawab seperti itu. Bisa-bisa rumah sakit jiwa muncul di dalam novel dan gambar 2**D yang menjadi 3D ini.
Kata-kata aneh dan tidak masuk akal, bagaimana mungkin bisa di percaya. Hanya ada tatapan aneh dan gila saja, dari orang-orang ketika memandang mu.
"Karena tahap pertama, bertahan hidup dari para monster. Mama tidak menjelaskan tingkatan dari monsternya yang membuktikan bahwa ini sangat berbahaya, monster tiap tingkatan pasti muncul, itu yang tersyirat. Jika itu adalah tahap tiga, pasti tidak mungkin, hanya mengecek aura bukan membelah tubuh orang, dengan harapan semoga orangnya tidak mati. Lalu, jika pun lagi itu tahap dua, lebih sangat mustahil. Hanya teori ringan pastinya, bukan hukum dunia akhirat atau semacamnya."
"Jika Mama khawatir kita tidak berhasil, lebih sangat-sangat mustahil lagi. Mama bukan orang seperti itu." Jelas ku panjang kali lebar, meski tak terlalu lebar, hanya panjang saja.
Orang seperti Mama, ingin di sandingkan dengan para orang-prang sosialita, yang selalu ingin menyombongkan diri dengan apa yang di tinggikannya. Hmph! Mati saja sana, jika itu yang berada di pikiran mu.
Mereka terus melakukan pembicaraan dengan topik seperti sebelumnya. Kedua Kakak ku ini merasa sangat penasaran, terbukti dengan beribu-ribu pertanyaan di tembakkan.
Mereka memilah-milah setiap jawaban Mama. Mereka terlihat sedang berpikir, sangat keras nampaknya.
Aku yang merasa lama dengan pikiran mereka, yang saling bertubrukkan pun menyarankan untuk memikirkannya dulu. Toh, masih lama, tidak perlu terlalu cepat juga. Sebulan loh ini, waktu yang kasih, juga hari ujian masuknya.
Aku sama seperti mereka, berpikir. Tidak keras, karena hal ini Aku tahu, pasti saat di akademi akan ada juga. Tapi, ada juga di sini yang membuat ku sedikit bingung.
Memilih antara ikut, dengan potongan nyawa lebih dekat ke akhirat yang sesungguhnya. Atau, nanti saja, nikmati dulu kehidupan baru di sini senikmat-nikmatnya, baru ikut lagi nanti.
Dilema yang sungguh menakutkan. Yah, walau pun pada akhirnya Aku- tidak. Semua orang, akan mati pada akhirnya, tidak peduli sepanjang dan se-abadi apa pun manusia akhirnya akan mati juga. Meski yang namanya abadi itu ada, tapi itu juga palsu dan tak akan menetap lebih lama lagi.
Aku memang bingung dan mencoba mencari seseorang untuk di ajak berdiskusi.
Menolak!
Sebagian diri ku berpikir seperti itu, dengan usulan untuk mendiskusikan hal ini dengan orang lain. Bagi pikiran ku yang lain itu adalah hal yang tidak di perlukan. Hanya seperti ini saja kok.
Bagaimana mungkin Aku bisa menjadi sebodoh itu karena kebingungan? Coba kita pikirkan lagi saja, tentang kejadian dua tahun lalu.
__ADS_1
Melihat perilaku Mama dan Kak Raan yang di depan. Lalu, perilaku Papa dan Kak Reen yang terlihat di belakang ku. Pasti mereka akan memutuskan pilihan dengan sangat membebani ku.
Mari juga kita lihat dengan pandangan luas namun tidak terlalu luas.
Jika ku diskusikan dengan Papa atau Mama, dengan pilihan ku setelah berdiskusi yakni 'ikut'. Pasti kedua Kakak ku itu akan di beritahu, mereka pun ikut dengan alasan memang dari diri sendiri. Padahal, kenyataannya mereka ikut karena sifat over protective mereka pada ku.
Jika berdiskusi langsung dengan mereka berdua hasilnya akan sama, alasan mereka sangat berbeda dengan kenyataan.
Bersama kucing gendut itu? Lebih baik ku buang saja dia. Pendapat tidak akan berguna, meski itu hanya dalam hatinya Ia katakan.
Duo ras gila? Bodoh. Satu kata untuk memberitahukan otak mereka. Juga mereka akan ikut jika Aku ikut, dan begitu sebaliknya.
Hanna? Abel? Orang-orang yang ada di rumah ini? Memiliki hasil akhir yang sama, seperti berdiskusi dengan Mama dan Papa.
Namun itu jika Aku ikut, jika tidak mereka akan memilih kata sesuai pemikiran keras mereka.
Ahahahahaha
Kesempatan satu kali seumur hidup? Mana mungkin ku lepaskan. Aku ikut. Bulan depan juga kan ujiannya. Ada waktu untuk meningkatkan level.
Meski begitu Mama bilang, latihan pengendalian mana yang di lakukan kami, tidak bergantung pada level. Ini tergantung pada konsentrasi dan mana yang cukup, juga kekuatan dari tubuh sendiri atau tenaga.
Baiklah. Pilihan telah tervonis.
Kita akan buat jadwal latihan berburu di hutan bersama dengan orang-orang yang bisa ku ajak. Jika sendiri nanti tidak seru.
"Nona. Ada surat dari teman-teman Anda." Ujar Hanna sambil memberikan beberapa amplop dengan lambang masing-masing keluarga sang pengirim.
Kalian ingin tahu dari siapa? Ohohoho, tenang akan ku beritahu.
Mereka para A-0. Mereka semua adalah anggota bangsawan, 'kami' jika memasukkan diri ku juga. Jika di lihat dari tingkatan keluarga kami berdelapan, pria si-X itu berani juga ya.
Mulai dari Si A-01 sang mantan pangeran mahkota. A-02, A-04 dan A-06 anak dari keluarga Duke . Lalu sisanya anak dari keluarga Marquess.
__ADS_1
Mereka dan Aku sering bertukar surat. (walau jawaban ku singkat sesingkat-singkatnya, bahkan pernah tak ku balas sama sekali. Haha)
Selalu saja isinya hanya menanyakan kabar dan memberitahukan hal-hal yang baru saja mereka lewati, jika itu memang cocok di bicarakan.
Bahkan ada saat yakni, sebulan sekali jika jadwal sesungguhnya mereka mengajak ku berkumpul. Lebih parahnya lagi selalu di rumah ku. Kami berkumpul jika sesuai jadwal selama satu setengah tahun lebih ini, terlihat seperti sekte terlarang saja. Sebulan sekali yang rutin. Bukan sebuah perkumpulan teh, minum-minum teh satu cangkir tidak habis-habis dan bergosip ria. Hmm.. sangat mengerikan, bukan?
Oh! Saat Kami berkumpul juga sebenarnya minum teh dan bergosip, kecuali Aku. Berdiam diri ketika tidak di tanya pendapatnya.
Kami pernah berlatih sihir dan pedang bersama. Hasilnya, Aku yang di ajari oleh orang kuat di klan Kainigose. Menjadi seorang Winner.
Mama memang hebat~
Tidak akan ku salahkan takdir, jika Aku hidup sebagai antagonis. Lihat, kebahagiaan ku saat ini, menjadi lebih peka, mendapat keluarga yang harmonis (sejujurnya Aku merasa diri ku tak termasuk), Mama yang lembut dan penyayang, begitu juga Papa, walau sifat tsun-tsunnya itu sangat menjengkelkan. Juga. Dia bahkan mengatai ku kecil saat bertemu kembali setelah terpisah begitu lama.
Berarti secara tidak langsung dia sudah mengatakan Aku pendek. Huh!
Kesal? Tentu. Bahkan sekarang masih kesal, ingin sekali rasanya ku cabik-cabik dirinya itu. Huh! Untung saja masih berguna dan Aku cukup menyayangi mu. Jika tidak.. hmph!
Akhir tragis untuk mu, seperti seorang antagonis di sebuah cerita berbagai genre.
Tapi lupakan semua itu.
Semua anak-anak itu. Apakah benar-benar masih anak keci berumur di bawah sepuluh tahun? Lihat, cerita mereka yang nyata ini.
Seperti saluran 'kisah nyata' di channel tv mu. Juga, bak penulis novel profesional se dunia. Besok akan ku cari seorang penulis nomor satu di negara ini. Lalu ku rekomendasikan kalian kepadanya.
Benar juga. Apakah sekalian saja ku ajak mereka tentang satu bulan yang akan datang? Kan sedikit bagus jika ujian ini di buat setiap tahun.
Jadi, setiap tahun juga, kelompok Kami menjadi seperti sekte terlarang sungguhan. Setiap tahuan berkurang satu atau beberapa orang. Mungkin seperti Aku sedang melakukan pesugihan. Ups!
Bercanda. Aku masih menyayangi mereka. Tidak mungkin Aku menjadi manusia sekejam itu. Keluarga ini memang kaya meski tak sekaya raja. Tapi cukup, jika tidak ada makhluk pemboros di rumah ini. Jadi tidak perlu Aku membuat pesugihan tak langsung ini.
Tapi.. jika rencana yang hanya ku lelucon kan jadi nyata, apakah seperti itu saja ya? Beberapa hari ini juga kan, mereka bakal datang. Bisa lah kan Aku bicara dengan Mama lalu ke mereka. Ehe.. ehehehehe
__ADS_1