
Bosaan~
Sangat, sangat, sa~ngat bosan. Menjadi bayi juga menyebalkan. Bisa melihat, mendengar, tapi tak bisa berkomentar. Bagaimana rasanya melakukan apa yang hanya orang lain inginkan, benar-benar menyebalkan.
Ku pikir mereka berdua bisa membantu membuang rasa bosan ku. Ternyata mereka hanya bisa membuat kekesalan yang amat mendalam di pikiran ku.
Ingin sekali rasanya memaki duo stupid itu. Kelihatannya memang si anak pertama itu paling waras. Namun kenyataannya.. aish, malas sekali mengatakannya.
Mereka benar-benar kembar identik. Semua hal yang terjadi di sekeliling mereka memang akan menyenangkan jika tersiksa. Tapi, kadang Aku yang tersiksa oleh ocehan aneh dan tak jelas-penting mereka.
.
.
.
Hachiuu~~
"Kenapa kau juga bersin?" Tanya Reen.
"Entah lah." Jawab Raan sambil mengangkat kedua tangan dan juga bahunya.
"Siapa yang membicarakan kita?" Pertanyaan terlontar, namun tidak ada yang bisa menjawabnya.
.
.
.
Aku berharap bisa cepat besar, secepat-cepatnya. Akhir-akhir ini Aku lebih banyak berbicara dalam hati dari pada mengamati, tidak seperti dulu.
Umm.. wait a minute. Apakah dulu Aku lebih sering berbicara dari pada berpikir? Perasaan ku, Aku lebih sering berpikir dari pada berbicara.
Apakah ini efek dari bereankarnasi?
Tidak. Pasti ini efek dari hidup menjadi bayi. Ya, pasti begitu. Buktinya, Aku sulit untuk menyampaikan apa yang ingin ku sampaikan.
Cklek
"Nona, Anda memiliki tamu." Terlihat pintu yang saat ini tak bisa ku gapai barang seinci pun, terbuka oleh seorang pelayan yang tak lain adalah Hanna.
Ia berjalan ke arah ku. Tangannya mulai terulur pada beberapa bagian tubuh ku. Dengan santai, Ia menggendong ku dengan lembut. Seolah Aku adalah sebuah kaca yang mudah pecah dan rapuh.
Yang kemudian berjalan keluar kamar ini. Di susuri jalan yang ku kenal tapi belum terhapal ini. Tapi, sebentar. Ku telaah sekali lagi kata-kata Hanna. Dia bilang apa tadi?
__ADS_1
Tamu? Kau tidak sedang bercandakan Hanna? Siapa yang ingin menjadi tamu dari seorang bayi, yang bahkan baru berumur beberapa minggu ini.
Hah~ Barusan Aku memikirkan tentang berpendapat dan ini lah kenyataan dari pendapatnya. Aku bertanya saja kesulitan. Menghadapi kenyataan yang sesungguhnya, adalah dengan terus bersabar. Harap ingat baik-baik kata-kata ku yang satu ini.
Tidak kusadari selama memikirkan hal-hal ini. Aku telah di bawa oleh Hanna ke sebuah ruangan, yang ku pikir awalnya akan ke ruang yang berbeda yang khusus untuk tamu ketika datang. Malah ternyata ke ruangan Ibu.
"Nona, kita sudah sampai." Pernyataan Hanna yang membuyarkan lamunan ku. Meski Aku sudah tahu itu.
Tok tok tok
"Permisi ,Nyonya. Saya membawa Nona muda." Hanna dengan santainya langsung masuk setelah mengetuk pintu. Setelah di pikir-pikir lagi, kenapa tamunya ke ruangan Ibu? Bukan ke ruang tamu?
Tidak lama setelah berpikir seperti itu, Aku dapat melihat tamunya adalah Bibi dan seorang anak laki-laki. Sepertinya Dia seumuran dengan Kak Raan dan Kak Reen.
"Annie, kamu memiliki orang yang ingin melihat mu." Ibu membuka suara untuk memberi tahu bahwa tamu tersebut ingin bertemu dengan ku. Biar ku tebak, pasti anak laki-laki yang terlihat tsun-tsun itu yang ingin bertemu dengan ku.
Ibu mulai menggendong ku menggantikan Hanna. Setelah itu Hanna berdiri di dekat pintu. Ku pikir akan terjadi hal yang bagus setelah ini. Sepertinya, Aku tidak akan bosan untuk hari ini.
"Annie, Bibi Enma dan Kakak Resh ingin melihatmu, apakah kamu menyukainya?" Ibu bertanya dengan nada lembutnya.
Benar juga namanya adalah Enma. Aku penasaran hubungan mereka ini seperti apa? Di dalam novelnya hanya menjelaskan bahwa Ayahnya Annabella dan Paman Gergio adalah sedarah tetapi berbeda marga.
Setelah di amati ternyata Ibu adalah orang yang hangat dan lembut, tentu saja dan juga kuat.
"Benar juga, Resh apa kamu ingin menggendongnya?" Ibu menanyakan pertanyaan yang tak ingin ku dengar.
Ah! Sudah cukup!? Sudah cukup hanya dengan gendongan Kak Reen saja yang menggetarkan hati, sehingga bisa melakukan yang namanya olahraga jantung.
Yah.. walaupun Aku penasaran dengan Kak Raan.
"Apakah tidak apa-apa? Bagaimana kalau terjadi sesuatu?" Kak Resh benar, bagaimana kalau Aku tak sengaja di lepasnya. Kan bisa-bisa Aku mati lagi.
"Tidak apa-apa, Bibi percaya pada mu." Ibu jangan memberinya hati. Aku yang tidak percaya padanya, jika Ibu percaya padanya, maka Ibu saja yang di gendong olehnya. Kalau seperti itu Aku percaya dan setuju padanya.
"Tapi Aku tidak bisa menggendong seorang bayi." Hmm... Aku tarik kata-kata ku. Kau boleh menggendong ku, karena Aku tidak suka sikap tsun-tsun mu itu dengan gaya sok jual mahal sebagai tambahan.
"Tak apa, Bibi bisa mengajari mu." Huh, awas saja jika dia tak bisa. Maka Aku akan membalas dendam saat dewasa, itu pun bila Aku masih hidup. Jika Aku sudah mati maka akan ku hantui diri mu sampai kau gila mental. Dasar tsun-tsun menjengkelkan.
"Baik..lah" Jawabnya dengan sedikit sok ragu.
"Baiklah. Kemari lah." Setelah mengatakan itu Ibu berdiri sambil memberikan diri ku kepada si tsun-tsun itu. Pikiran ku mengajak tenang tapi badan ku lebih memilih menggeliat-geliat tidak suka.
"W-wah! Kenapa dia menggeliat seperti itu!" Hoho, lihat wajah terkejut mu itu tsun-tsun menjengkelkan.
"Haha, kau salah, bukan seperti itu cara menggendongnya. Seperti ini..." Ibu mulai menggerakkan tangannya untuk membantu tangan si tsun-tsun itu supaya berada ditempat yang seharusnya.
__ADS_1
(Kok kayak kedengaran(?) mesum ya?)
"...tangan kanan mu memegang pahanya, seperti ini, lalu tangan kiri mu letakkan disini, ya, seperti ini." Ucap Ibu dengan senyum lembut yang di ulaskan di wajahnya.
"Se-seperti ini? Woah dia berhenti menggeliat." Dia mengucapkannya dengan sedikit antusias. Yah.. tapi setidaknya wajah sok mu itu menghilang.
Jujur saja gendongannya sedikit cukup nyaman juga.
"Ah! Kenapa Resh bisa menggendongnya dengan mudah! Sedangkan dengan ku dia terus menggeliat tidak suka!" Kak Reen berteriak sambil menunjuk ke arah Kak Resh. Nadanya terdengar tidak suka dan sedikit marah mungkin.
Bukannya Aku pilih kasih atau semacamnya. Tapi itu karena Aku memang tidak suka dengan mu. Dan gendongan mu itu bagaikan membuat malaikat maut untuk kedua kalinya, berada di sekitar ku dalam keadaan bersiaga. Yang kemungkinan besar baginya Aku bisa membantu pekerjaannya.. lagi.
Tunggu.. kenapa kau masuk lewat jendela. Lalu, untuk apa adanya pintu bagi mu. Jika jendela selalu jadi jalan masuk untuk mu.
Sebentar.. Aku bilang selalu, tapi kenapa aku terkejut. Ah, sudah lah itu tidak penting.
"Ah! Reen apa yang kau lakukan, pintu itu berguna sebagai jalan masuk. Tapi Kau malah menggunakan jendela. Di mana sopan santun mu di depan tamu." Ibu mengulas wajah marahnya sambil menunjuk ke arah pintu yang berada di dekat Hanna saat ini.
Ah! Pintunya terbuka. Terlihat Kak Raan masuk sambil terengah-engah. Sepertinya dia kali ini kesal akan sesuatu. Dan oh ya, pakaiannya juga terlihat basah.
"Raan, kenapa Kau terengah-engah seperti itu? Dan baju mu juga, kenapa basah?" Bibi Emma bertanya setelah sekian lama dia hanya memperhatikan setiap adegan yang kami tampilkan. Dan kini, akhirnya membuka suara setelah di beri kesempatan itu.
"Hmph! Mana mungkin Aku bisa masuk lewat pintu. Jika Reen terus mengejar ku. Dan juga, Aku tak mau menganggap bocah itu sebagai tamu." Kak Reen kau bercanda, ya? Kau bertindak seolah kau korban. Biar ku tebak kau menjahili Kak Raan, dan sikap mu sungguh tidak sopan terhadap seorang tamu. Juga, memangnya Kau sendiri bukan bocah, hah?
Ah! Ibu sepertinya ingin koar-koar lagi tuh gara-gara Kak Reen. UntukKak Reen, Aku harap kau bisa tenang di alam sana.
"Hah! Itu semua karena kau tahu! Jika saja kau tidak jahil Aku tidak akan mencoba bilang pada Ibu!" Kak Raan berbicara dengan sedikit berteriak karena marah.
Dan lihat lah Ibu, Dia sudah bersiap dengan tinjunya. Tentu saja sambil memberi sedikit pemanasan pada tulang-tulang jarinya itu, dengan membuat bunyi-bunyi seperti tulang retak.
Oh~ Kak Raan juga melakukan hal yang sama.
Semangat ya Ibu, Kakak. Aku mendukung kalian untuk menghajar orang gesrek no have akhlak itu~ Ganbatte nee~
Aku berada di pihak kalian~ Tentu saja sambil menonton di gendongan Kak Resh.
"Saa~ Kemarilah Reen~" Ucap Ibu dan Kak Raan secara bersamaan dengan amarah yang hampir meluap mungkin.
Eh. Sebentar lagi bakal terluap kan amarahnya. Tetap semangat dan jangan menyerah ya Ibu, Kakak~
...----------------...
Terimakasih sudah membaca novel ini.
Maaf jika ada kesalahan karena ini novel pertamaku.
__ADS_1