
"Hoaamm~"
Aku menguap sambil menutup mulut. Rasanya mengantuk sekali. Semalam Aku memang tidur, tapi oksigenku kurang, jadi menguap terus selama beberapa saat dari tadi. Aku tak sengaja bangun terlalu pagi, jadinya seperti ini.
Lah?
Lho?
Kok?
Kan karena kurang tidur, tapi kok tadi malah ngomong kekurangan oksigen. Lah? Malah gini nyambungnya.
Lupakan.
Aku bangun lebih pagi tadi dari biasanya karena tidak bisa tidur lagi. Jika di bandingkan dengan kenyataan di dunia nyata bukan dunia novel ini. Biasa bangun jam 10 pagi(?) tapi malah tak sengaja terbangun jam 4 malam(?).
Yah, seperti itulah kiasannya(?).
Jadi, Aku saat ini sedang berjalan menuju ke ruangan yang katanya menjadi tempat wawancara tunggal ku. Karena setelah istirahat dua hari Aku sudah vit.
Cuma kehilangan darah kok, bukan cinta. Sampai-sampai mata sembab dan berdoa 'cobaan apa ini Tuhan'. Aku juga masih punya keluarga yang masih memberikan cinta padaku.
Masih? Tentu saja, kan Aku si penjahat wanita yang akan kehilangan cinta dari keluarganya.
"Nona, Kita sudah sampai. Ayo masuk." Ah! Lamunanku buyar.
Dia menuntunku ke sebuah ruangan yang sederhana dan sedikit formal, terlebih ada sekitar selusin foto yang mirip pria menenangkan waktu itu.
Semua foto itu berjajar rapi, dibawahnya juga terdapat tulisan. Mungkin itu keterangan tentang setiap foto ini.
Sebuah bantal yang biasa orang-orang Jepang gunakan untuk alas saat duduk. Lalu di depannya lagi seperti itu tapi lebih banyak dan ada meja.
Dia mengarahkanku pada yang tunggal di sana. Artinya itulah tempatku untuk berjawab dari lemparan tanya-jawab wawancara masuk kerja.
Wanita yang memanduku sudah keluar. Ia memintaku menunggu mungkin untuk menunggunya yang sedang memberitahukan keberadaanku.
Sepuluh menit Aku di sini hanya menghitung waktu. Lamanya~ Aku ingin cepat-cepat pulang lalu tidur. Setelah di suruh menunggu bertahun-tahun, sekarang masih di suruh menunggu pula.
Cukup lama Aku menunggu hingga akhirnya suara pintu geser mengeluarkan bunyi khasnya.
Terlihat beberapa orang memasuki ruangan. Mereka semua yang dimana di sana termasuk Mama sepertinya akan mewawancaraiku.
Aku sedikit bingung, apa gunanya tanya-jawab ini? Kenapa tak biarkan pin-nya yang memilih sendiri? Mungkinkah...
Entahlah, tidak ada yang tahu apa yang di pikirkan orang lain, kecuali Kamu mengerti jalan pikirnya, maka ada kemudahan dalam mengetahuinya.
Mereka mengeluarkan aura wibawa. Yah.. kenapa seorang pemimpin sering mengeluarkan aura wibawanya? Aku bertanya karena Aku salah satu dari orang-orang seperti itu.
Ingat. Aku salah satu CEO dulunya di sebuah perusahan besar dan terkenal.
Aku lupa, dulu kenapa Aku melakukan hal seperti itu ya?
Mereka duduk tepat di depanku. Sebenarnya yang tepat di depanku itu adalah pria menenangkan waktu itu. Siapa ya namanya? Aku tak tahu. Tidak pernah ada yang memberitahukannya padaku.
"Nona Lizabethen selamat pagi, semoga hari And menyenangkan. Langsung pada intinya, Saya mendapat laporan dari salah satu gagak. Dia mengatakan sebuah kekuatan Anda yang cukup menggelegarkan Kami semua. Sehingga Kami melakukan hal ini."
__ADS_1
"Awalnya kami ingin menilai Anda dari pin saja. Akan tetapi, pin yang Anda gunakan hancur. Bukan karena tidak meloloskan Anda, namun karena kekuatan yang cukup untuk di katakan sangat besar seusia Anda. Itu membuat Kami melakukan diskusi antara elemen dan kekuatan. Mungkin pertanyaan yang Kami berikan sedikit merujuk pada kepribadian Anda. Jadi mari Kita mulai."
Wah! Semuanya langsung ke inti! Seperti apa yang ingin kutanyakan sebelumnya! Basa-basinya di buang tanpa menghilangkan kesan utama!
Mereka benar-benar memberiku pertanyaan yang berhubungan dengan psikolog seseorang. Yang lebih mengejutkanku, mereka seperti melakukan kerja sama tim yang hebat.
Tanpa melihat kertas yang ada di meja mereka. Semua itu terasa langsung keluar dari mulut dan pikiran mereka sendiri. Walau Aku ragu, kertas di hadapan mereka itu berisi pertanyaan-pertanyaan untukku.
"Berapa level Anda sekarang?"
Oh
Ini sangat sulit di jawab. Sangat tidak mungkin secara lantang Aku mengatakan asal-asalan. Aku tidak pernah mengukurnya, dan lagi bagaimana cara mengukurnya?
"Tidak tahu." Singkatku.
"Eh? Annie, tidak pernahkah Kamu mengukurnya?" Mama bertanya, Dia cukup terkejut juga seperti yang lain.
"Tidak pernah. Bahkan tidak tahu bagaimana caranya." Jelasku.
"Ah! Benar juga." Mama cukup terkejut akan hal ini.
Bagaimanakah caranya? Apakah harus mengucapkan status atau apa? Novelnya tidak menjelaskan sih, jadinya Aku tidak tahu.
"Lanjutkan pertanyaan lain saja. Annie, apa elemenmu?" Mbak Mitsuka bertanya, nadanya berbinar.
Ini dia. Tidak mungkin Aku langsung menyebutkan semuanya. Bisa mati gara-gara di kejar-kejar Aku.
Hmm...
Terlebih semua jurus yang kugunakan menggunakan elemen kegelapan. Yah, sebenarnya iseng-iseng saja Aku buat dengan tambahan elemen kegelapan semua.
Lalu setiap bertempur dan mendapatkan luka yang seharusnya di sembuhkan membuatku menggunakan elemen cahaya.
Apa jangan-jangan si gagak itu —yang kemarin terus mengikutiku— mengatakan elemen kegelapanku sehingga mereka mengatakan hal seperti itu.
Karena kan ya, sihir cahaya itu bisa di ganti dengan alat sihir jika terluka. Jadi tidak memungkinkan pemilik elemen cahaya sepertiku ini di percayai dengan mudah.
"Kegelapan.." Aku mengatakannya dengan nada kalimat yang belum selesai. Tapi sepertinya mereka masih belum sadar.
Mereka tersentak melihatku asal bicara saja tanpa mengungkapkan kebohongan. Tapi itu menggantung kok, belum lengkap kalimat panjang yang kumiliki.
Ah! Mama juga terkejut toh.
"Dan-"
Malah melotot. Tenang saja sih, Aku tak bakal mengatakan sesuatu yang mengerikan kok. Semuanya sudah ku pikirkan dengan matang barusan.
Mama sepertinya lebih santai dari pada yang lain. Mungkin Dia berpikir, ini hak-ku untuk mengatakan apa saja. Kan Aku yang punya.
"-cahaya."
Bruuuuuuufffff-
"Uhuk uhuk" Kak Naguro yang sedang minum barusan menyemburkan minumannya ke arah kanan.
__ADS_1
Mungkin Dia minum untuk menghilangkan ketegangan akan ucapan ku yang blak-blakkan.
Oh iya
Yang di mana di situ Pak Zui yang duduk.
"Ah! Naguro! Apa yang Kau lakukan?! Itu dari mulutmu pula!" Kesalnya.
"Naguro-san, pelan-pelan." Ucap Mitsuka-nee sambil mengelus-elus punggung om Naguro.
"Nona Annie, candaanmu tidak lucu." Ucap salah satu tetua yang kemarin dengan nada tidak ramah.
Aku malas menjawab pertanyaan tetua yang satu ini, karena sangat tidak estetik sekali jadinya hidupku. Lebih baik Dia tidak ada. Karena makhluk yang satu ini orangnya sangat tidak bersahabat dengan frekuensi ku.
Aku menoleh ke arah Mama. Dia sepertinya mengerti maksudku menoleh ke arah Mama. Lalu menoleh juga ke arah Mama.
Mereka lupa kah? Aku ini anak Mama —dalam artian darah bukan sifat—, jadi pasti Mama bisa menjelaskan dengan estetik seperti frekuensi ku.
"Furai, apa maksud anak ini?" Hei! Kata-katamu itu seolah minta di bunuh!
"Menurut Saya, itu adalah hak-nya. Saya tidak bisa ikut campur akan apa yang ingin di katakannya." Mama mengucapkannya dengan lembut dan anggun.
"Seperti itu kah?" Tanya salah satu tetua lain, yang di mana Dia itu tidak seburuk yang satu tadi. Ia bertanya padaku. Aku mengangguk.
Lalu tidak ada lagi yang bersuara. Keheningan yang ku suka. Mereka seperti sedang bergelut menggunakan otak masing-masing.
Tidak. Kecuali pria menenangkan itu. Dia hanya sekedar meminum teh di mejanya atau melihatku dengan senyuman menenangkan.
"Nona Annie. Ini adalah cincin dari klan Kainigose. Cincin ini bisa di gunakan sebagai cincin ruang juga. Namun cincin ini melambangkan Anda adalah salah satu klan Kainigose." Ucapnya setelah benar-benar menghabiskan tehnya.
"Saya mengharapkan konstribusi Anda dengan sangat baik. Untuk hal lebih lanjut tentang peringkat dan lainnya akan di jelaskan oleh cincin ini sendiri."
"Jika Anda mengatakan status sambil mengalirkan sedikit mana ke cincinnya akan keluar sebuah hologram tentang status Anda." Ucapnya sambil mengeluarkan sebuah cincin dari kantong baju di tangannya, lalu di letakkan di atas mejanya sambil mendorong ke arahku.
"Tunggu! Yuno! Jangan asal saja!" Ah orang tua yang satu ini sungguh tidak se-frekuensi sekali denganku.
Wah!
Cincinnya bagus!
Polos dan tidak berlebihan. Namun ada sebuah kesan yang menampilkan kekosongannya. Ukiran-ukiran yang indah di bagian luarnya.
Muatkah di jariku? Kucoba memasukkan cincin yang terlihat kebesaran di jariku. Namun setelah masuk, cincin itu seolah menyesuaikan dirinya denganku.
Pas!
"Tunggu! Sejak kapan Kau di situ!" Ah berisik sekali dia. Baru saja. Bukan apa-apa, hanya mencoba cincin baru pemberian pria tampan
Dia tidak salah sih.
Aku juga yang setelah melihat cincin itu langsung tiba-tiba sudah berada di depan pria menenangkan itu. Jadi terkesan teleport ke tempat diskon besar-besaran di Alfapril dan Indiapril.
Benar-benar hari yang cukup membahagiakan~
Tidak akan luntang-lantung di jalan jika Aku bekerja keras untuk job besar ini.
__ADS_1
Alur cerita, Aku menantimu!