
Buummm!
Braaakkh!
Wuuussh!
Kira-kira begitulah efek sound dari hal-hal yang terjadi. Tidak tahu benar atau salah, soalnya Author gak ngerti lagi gimana efek sound yang benar, gak pandai buatnya.
"Dia kuat sekali! Memangnya berapa levelnya?!" Tanya Gilda sambil berteriak.
"200-an!" Balas si kucing yang berteriak juga.
"Gila! Gila! Gila! Kita ini cuma anak-anak dengan level yang sedikit lebih tinggi dari seumurannya!" Komen si Kushida.
'Jika kukatakan levelnya sebenarnya lebih dari 300, anak-anak ini pasti akan langsung.. haha..' Ucap Rafael dalam hati ketika mendengar kebohongan dari si kucing.
"Mungkin akan lebih baik Kita mencoba sesuatu!" Lucifer sedikit menjeda. "Aku level 47!"
"Sebutkan level Kalian?!" Titah Gyndenki. "Aku 52!"
"47!" Teriak Vanessa.
"48!" Si kembar —Raan, Reen— berteriak bersamaan.
"50! Ahahaha! Terima ini! Bam!" Kali ini Arthur yang sambil mencoba menyerang si 'phyton'.
"Juga!" Ucap Yhansen yang menyamai Arthur.
"44~" Gilda.
"Enam puluh—" Ucap Annie atau lebih tepatnya hanya sekedar sebuah gumaman kecil melihat seberapa berisiknya tempat itu. Bod*h banget gak tuh?
Dia melakukannya —mengatakan— sambil berpikir untuk mencoba menebas si 'phyton' menggunakan sihir kegelapannya yang di sebut [Hole] namun dalam bentuk pipih dan mengelimuti pedangnya.
Sehingga sihir kegelapan itu seolah keluar dari pedang itu.
"49!" Resh.
"46!" Teriak Kushida dan Elgartara bersamaan. Kedua orang itu langsung saling menatap.
Ada tatapan saling memusuhi di sana.
Wajar sih.
Karena kedua orang ini semenjak memasuki akademi Kainigose bersama dan sekelas pula, mereka menjadi saling memusuhi.
Awalnya kedua orang itu biasa saja sebelum akhirnya ujian semester mereka memiliki nilai dan peringkat yang sulit untuk di pisahkan.
Nilai yang sama itu adalah hal yang mungkin.
Namun peringkat yang sama itu tidak mungkin.
Sehingga para guru sedikit bingung bagaimana cara memisahkan mereka yang semakin lama malah jadi berlomba-lomba.
"Enam!!!" Siing!
"?!" Yang lain segera menatap tak percaya.
"Waw! Kenapa Aku tidak kepikiran dari tadi?! Gunakan saja [Hole] modifikasi sendiri!" Girang(?) Annie yang melihat ular itu menggeliat kesakitan tatkala Annie membuatnya hanya tersisa beberapa meter dari kepala hingga kebawah.
"Sssaaaaahhhhhh!!!" Ular itu mulai menggeliat namun karena tubuhnya sudah tidak utuh, getaran yang terjadi tidak begitu berbobot. Hanya sebagian kecil dari tubuhnya, tentu tidak memiliki sebuah arti besar akan amukan kesakitannya itu.
Kasihan sekali ya. Padahal Teman-teman Annie niatnya mau buat ulti, tapi gak jadi.
Annie mundur beberapa langkah untuk mendekat ke tempat, teman-temannya.
__ADS_1
"??" Annie merasa sangat kebingungan tatkala Dia mulai melihat teman-temannya yang nampak terdiam dan ada sedikit ekspresi sulit di mata mereka.
"Waw! Kau baru saja memotongnya! Apa tadi yang Kau gunakan? Aku juga mau mencobanya!" Gilda mendekat.
"Hebat juga. Padahal tadi kulitnya sangat keras saat kucoba tebas."
"Adikku memang hebat seperti kakaknya." Reen mengaku sambil menepuk kepala Annie.
"Tidak ada yang mirip denganmu. Level Kakak saja lebih rendah dariku, apa bisa di sebut mirip?" Annie mencemooh.
"Memangnya berapa levelmu?"
"Tadi Kau seperti bergumam sesuatu, lalu meneriaki angka enam. Apakah satuannya enam?" Tanya Raan.
Annie mengangguk.
"Oi! Bukan waktunya family time! Ular itu harus dilakukan sesuatu!" Teriak si kucing.
"Benar juga. Aku harus mendapatkan racunnya, tapi akan di taruh di mana racun yang kuperas itu?" Annie bergaya ala-ala orang yang sedang berpikir.
"Ah! Aku tahu, hehe."
"Aku baru saja memikirkan sesuatu. Katanya, sihir kegelapan berhubungan dengan 'ruang'. Aku mau mencobanya."
Annie berjalan maju dan mencoba berkonsentrasi.
Sebuah sihir yang terasa agar mengkelap-kelip terlihat di tubuh Annie. Itu berwarna agak ke oranye-an.
"Itu.. sihir petir, kan?" Bata Arthur yang mulai menjadi lebih pendiam, atau lebih tepatnya terdiam.
"Umm, itu sihir petir." Angguk Yhansen. Mereka berdua menjadi terdiam.
"Aku tidak tahu apa nama sihir dari sihir petir, yang pasti, terbakar lah." Sihir petir itu mulai mendekati si ular.
Ular itu tidak bisa melakukan apa pun selain hanya menggeliat. Petir Annie dengan cepat menumbur tubuh si ular hingga membuat geliat dari si ular menjadi kekakuan.
"Kalau Aku, telingaku!" Ujar Resh. Sama seperti Elgar, berteriak.
"Kalian ini berlebihan sekali. Kami biasa saja." Decih Gyndenki.
"Oh. Benar juga."
"..."
Di sisi Annie, Dia masih menggunakan sihir petirnya untuk membuat si ular tidak sadarkan diri. Namun, itu sudah lebih dari satu menit yang lalu.
"Jadi.. berapa lama lagi Kau akan tetap memberi sihir petirmu? Ini sudah semenit."
"Bukannya Aku tidak mau. Tapi di situlah masalahnya."
"Masalah?"
"Aku.. tidak bisa berhenti. Hehe..."
"Ahahaha, kalau begitu menderitalah hingga mana-mu habis. Lagian juga itu tidak akan bertahan lama." Ucap Elgartara tertawa ala bangsawan.
"Itu juga masalah tahu. Kapan mana-ku akan habis?" Gumam Annie.
Benar.
Kapan mana milik gadis satu ini akan habis? Tentu jawabannya adalah lama. Akan lamaaa~ sekali.
Para pembaca pasti tahu kan, kalau Annie sudah menyerap mana sedari bayi karena, yah.. gabut.
Sehingga memungkinkan satu hal. Mereka semua harus melakukan sesuatu.
__ADS_1
"Kalian bod*h ya?" Tanya Rafael.
"Apa?!"
"Bod*h!" Buuugghh! Si kucing melayangkan sebuah tendangan dari kaki mungilnya yang fuwa-fuwa.
"Aww! Sakit kucing gendut!" Keluh Gyndenki.
"Kalian tidak tahu seberapa besar isi mana di dalam tubuhnya hah?!" Dia mulai berteriak. "Besar! Sangat banyak! Bisa mati kebosanan Kita sambil menunggu Dia!"
"Lakukan sesuatu Kalian manusia-manusia bod*h!"
"Hei! Ularnya mulai gosong! Padahal Aku sudah berusaha untuk mengecilkan kadar mana-nya tapi itu bisa juga menjadi hangus!"
"Aaahh! Kenapa juga Kau malah coba-coba?! Memangnya apa yang membuatmu tidak bisa?!" Gyndenki mendekati Annie.
"Aku merasa kaku karena bingung. Tidak terbiasa, mungkin." Annie beralasan secara asal.
"Itu tidak bisa di sebut alasan." Datar Raan.
"Baik Annie. Cobalah untuk tenang. Te-nang~" Bujuk Reen. Tapi Dia sendiri malah mondar-mandir kesana kemari seperti mencari sesuatu. Membuat semua orang ber-sweatdrop.
Annie mengangguk. Namun sihirnya malah berbanding terbalik. Itu semakin membesar dan bersinar terang.
"Baiklah. Kau benar-benar akan menghanguskan bisa ular itu jika sihirnya tetap berada di bagian ular itu." Ucap Resh yang tanpa sadar malah memprovokasi.
"Jangan membuatnya tambah kaku bod*h! Bantu Dia! Bisa-bisa Kita juga yang terkena imbasnya!" Raan menjitak Resh.
"Annie."
"Ya?" Tanya Annie. Namun bukan sebuah suara yang menjawab. Sebuah gerakanlah yang menjawab.
"Ini menyakitkan, jadi cobalah arahkan sihirmu ke arah ekor ular itu." Gyndenki memegang lengan kiri Annie dengan kedua tangannya.
Dari belakang, Dia mulai membantu Annie untuk mengarah ke arah ekor si ular. Mereka terlihat seperti berpelukan saat ini.
Semua berjalan lancar sebelum akhirnya Sihir Annie perlahan tertarik dan mengenai pengguna itu sendiri.
"Mustahil! Mustahil! Mustahil! Mustahil! Mustahil!" Annie mulai teriak karena merasakan sakit dari sihir petir itu.
"Aaahh! Tenanglah! Ini menyakitkan tahu!" Gyndenki masih tetap berada pada tempatnya.
"Oi! Tarik mana-mu! Atau pusatkan ke satu titik! Sebenarnya pernah latihan dengan sihir ini tidak sih?!" Teriak si kucing memberitahu.
"Sudah kubilang itu susah dan terasa mustahil!"
"Aaaaahhhh!!! Astaga!" Gyndenki mulai mengeluarkan keluhannya.
"Tenanglah pend—" Buurrrggh! Lucifer yang belum sempat mengakhiri kalimatnya di serbu oleh sebuah hantaman dari seseorang.
"Gyaaaaahhh! Sudah kubilang tenanglah Putri manis!"
"Tadi apa? Pen- apa?"
Kini Annie berbicara.
Dia lah 'seseorang' yang dimaksud.
Annie mulai bangkit dengan sinar listrik dari sihir petirnya. Dia mulai bisa mengendalikan sihir petirnya itu.
Meski.. karena dalam mode marah..
Astaga, sepertinya ucapan 'Sayonara' dan bunga yang sudah Kita siapkan akan berakhir untuk si Lucifer.
Sabar ya Lucifer.
__ADS_1
Terus.
Sayonara~