My Antagonist Life Reancarnation

My Antagonist Life Reancarnation
Bab 3 : 35


__ADS_3

Annie menatap kosong ke depannya. Barusan setelah telepati, dia diminta melakukan panggilan video menggunakan monitor kecil. Dan dia merasa sangat gugup hingga tegang.


Apaan?! Woi! Apaan?!


Dia takut ini! Apa katanya tadi? Pengawas?


Bercanda ya? Gak luc-


– [“Kami tidak bercanda.”]


Heh-! Asa awak-awak iue maneh!


Rasanya mau ngomong bahasa Sunda, malah jadi bahasa asing. Gila memang.


Annie menglelah, menghayati, memikiri, memungkiri, mengjungkiri, etc.


Kapan ya, Annie memenuhi persyaratan tentang menjadi pengawas? Perasaan tidak pernah ya.


Haduuhh~


Pikiranmu sempit sih.


Sini, sini. Penulis kasih tahu.


Mari kita mengingat hal-hal yang berhubungan. Berikut daftarnya,



Penyusun rencana dari pelarian,


Salah satu pengusul proyek akademi Kainigose,


Membantu membunuh para penyusup saat perkemahan,



Itu cuma salah tiga dari daftarnya.


Coba saja sidestory yang tidak pernah direalisasikan, pasti pembaca tertawa terbahak-bahak dengan sikap hakikimu sekarang itu.


Annie menatap kosong ke depan sekali lagi. Kasuki sedikit bingung, Annie yang biasanya meminum teh sambil berseru ‘Teh?’ dan dibalas ‘Teh!’ olehnya, kini malah menatap aneh ke arahnya.


Annie si penyuka teh —sebenarnya kopi, tidak biasanya diam saat minum seperti ini.


Ingin berkata, ‘Biasanya gila, kok tiba-tiba waras?’


Eh? Tapi, tadi dia juga dengan tidak warasnya menyambut Annie yang tiba-tiba mendobrak pintu kantor guru. Ternyata dirinya sama saja.


‘Padahal Aku lebih tua, tapi malah Aku yang tertular sikap buruknya.’


Sialan, malah menyalahkan orang lain.


“Ka-kak Kasuki...”


Annie memanggil dan dibalas deheman olehnya.


“Aku...bagaimana...? Apa...melakukan...kesalahan...?” Annie memang berbicara bak orang yang habis saja kena PHK. Tapi mesti ya ngomongnya dipotong-potong?


Sial. Kasuki menjitaknya, “berbicara dengan jelas!”


“...”

__ADS_1


“Apanya yang bagaimana?”


"...”


“Banyak. Jangan ditanya lagi.”


“...”


“Eh? Apa?!”


“...”


“Bagian mananya yang terjadi karena kesalahan?!”


“...”


“Itu karena kau melakukan hal baik, sialan!”


“Sial! Itu promosi! Promosi!”


“...?”


“Apa? Kenapa malah bertanya padaku?”


“Ingat sendiri, kamu pernah tidak melakukan hal baik?”


“...”


“Mengutil makanan Tetua Morial bukan hal baik, Nak.”


“Bertobatlah.”


“...?”


“Kasuki...apa yang kalian bicarakan...?”


“Huh? Apa?” Sial, Kouji seharusnya tidak bertanya. Karena tampang bodoh yang berkedok polos milik Kasuki malah membuatnya ingin mencekik sesuatu.


“Tidak. Tidak ada.” Bersedekah senyum paling manis mungkin yang terbaik.


Kouji sabar, dan dia ingin menenangkan diri sebentar diluar. Bersama rekan yang lain, mereka mencoba menahan emosi terhadap Kasuki yang selalu saja membuat kesal.


Yah... emang untung sih. Lumayan, ada badut.


“...?”


“Ya benar, kalian mau kemana? Inikan belum jam mengajar.”


Heh-! Tak pikir itu telepati! Kok bisa telepati malah yang denger orang lain? Lucu banget kalau kesalahan teknis.


Jangan-jangan ini keghaiban.


Hm... impresif.


“Pergi dari dunia orang-orang tidak waras.” Manis sekali suaramu, Mbak.


“Begitu ya? Kalau begitu Aku ikut.” Kasuki segera beranjak, tapi Kouji malah menatapnya malas.


“Apa-apaan tatapanmu itu.”


Sabar Kouji, sabar.

__ADS_1


Sebentar, Saya lupa. Kouji itu cewek atau cowok?


Sial, gini banget nasib karakter sampingan kayak mereka.


“Kasukiii....” Rengek Annie yang tiba-tiba memeluk Kouji.


Kouji menggelap. HEI! NAMANYA ITU KOUJI!


“Siapa Kasuki?” Kouji tersenyum manis. Semanis apel merah yang dijadiin anggur.


Bruh


Annie yang merasa ketenangan di kantor guru sudah tidak ada, beranjak dari berdirinya dan melewati dua insan yang ceritanya mau Author bikin jadi berjodoh itu.


Genrenya romance gak romance, yang namanya shipper itu pasti ada.


Baru hendak melewati para guru yang berada di depan pintu, Annie langsung putar balik.


Sialan emang.


Itu apa maksud muka si Edward?


Serius, selama Annie masuk ke dunia barunya ini ada sebuah rasa khusus yang Annie rasakan untuk Edward —yang merupakan tunangannya itu.


Jauh. Menjauh sejauh-jauhnya.


Kalau dikata, ya, jauh dari sejauh-jauhnya yang jauh sekali.


Mana Edward kelihatan seperti ingin ke kantor guru.


Tidur aja kali ya?


Iya tidur ajalah.


“Annabella?”


Mau tidur susah amat perasaan?


Ini baru mau guling loh!?


“Annabella sedang tidak aktif beberapa saat, mohon untuk meninggalkan pesan beberapa saat lagi.”


“Apa?”


Enggak kok Kak, gakpapa.


Kouji menatap Edward seolah berkata tidak perlu memperdulikan gadis berhelai hitam gradasi ungu itu.


“Oh- Baik,”


Dan chapter ini berakhir gaje dan pengumuman.


...----------------...


[A/n]


*Saya memohon maaf dengan segala kesalahan yang Saya lakukan, kekhilafan yang Saya lakukan, dan segala rasa maaf Saya untuk Kalian. Mungkin ini mendadak tapi, Saya sedang menyadarkan diri disini.


Karena keomong kosongan dari cerita ini, Saya memutuskan mendrop cerita ini menjadi draft.


Saya berencana melanjutkan cerita yang cringe dan agak kaku ini secara repost. Di applikasi ini namun berbeda jalan cerita dan sama konsep.

__ADS_1


Sekali lagi Saya ucapkan terima kasih dan maaf untuk semuanya*.


__ADS_2