My Antagonist Life Reancarnation

My Antagonist Life Reancarnation
Bab 3 : 2


__ADS_3

Aku menyusuri setiap pepohonan yang sama tempatnya. Tidak ada yang terasa seperti membahayakan nyawa. Apakah Aku saja yang berada di sini?


Semua monster yang ada hanya monster kecil biasa. Pun tidak bisa terlalu membuat nyawa melayang. Kenapa Aku seperti sedang mengejar kematian dan malaikat maut ya?


Entahlah


Juga..


Sesuatu terus terasa mengikutiku. Apa itu? Tidak jelas, agak samar. Bukan manusia, apakah hewan? Mungkin pengawas ujian, kah?


Hmm..


Entahlah, yang pasti sedari tadi Aku terus diikutinya. Saat melihat ke belakang tidak ada apa pun. Sempat Aku berpikir itu halusinasi. Tapi, jika halusinasi tak mungkin secara terus-terusan.


Sekali lagi kuhentikan kakiku yang terus melakukan peringanan tubuh ini —terbang— lalu menoleh kembali ke belakang. Dan yap! Tidak terdapat apa pu-


Oh~


Benar juga. Ada satu yang terus mengikutiku, dan Aku terus hanya melihatnya. Seekor hewan unggas berwarna hitam, matanya juga memiliki manik sama seperti warna tubuhnya. Ia sedang hinggap di sisi dahan pohon secara terang-terangan.


Gagak


Itulah makhluk yang kumaksud sedari tadi. Gelagatnya jika di lihat oleh orang yang terlalu waspada, pasti akan berpikir burung itu suruhan dan melakukan gelagat palsu.


Menurut pengamatanku itu memang seperti kebiasaannya. Setiap gerakan yang dilakukan unggas satu ini tidaklah sebuah kebohongan belaka. Tapi, tunggu— untuk apa kita membicarakan ini.


Kuarahkan tanganku membentuk seperti sesuatu, yang pasti ku kulakukan untuk mengajak burung itu untuk ke tanganku.


Srak srak


Semak-semak mengeluarkan suara bersamaan dengan gagak itu yang mendekatiku, kutenggirkan ia pada pundak ku.


Jarak antara diriku dan semak-semak sangat dekat, sehingga memungkinkan Aku untuk memundurkan langkah. Suaranya semakin membesar bersamaan lagi dengan geraman yang tak lebih dari satu.


Grrrrrr


Grrrrrr


Grrrrrr


Sebuah ras kelompok nampak sedang menggeram dengan suara yang terdengar lapar, air liur yang ringan menetes dari mulut mereka. Warna mata menyala mereka, menatapku yang sedang terdiam berdiri saja.


Jujur, Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Langsung menyerang atau menunggu mereka dulu?


Walau dalam latihan meningkatkan level sebelumnya, Aku selalu menunggu aba-aba. Walau terkadang Aku yang melakukan aba-aba untuk mereka, karena menjadi penentu strateginya.


Makhluk berbulu abu-abu itu sejenis serigala, atau apalah itu. Aku lupa namanya. Ada sekitar belasan dari mereka. Ini..


"First butterfly: Scratch"


..Dia!!

__ADS_1


Yang paling ku tunggu-tunggu!


Aku tak pandai membuat sebuah nama untuk beladiri pedang yang kubuat baru-baru ini. Yang pasti kunamakan seperti itu saja, karena hanya menggores permukaan kulit mereka. Senjata bermata satu ini ku buat menjadi hanya beberapa senti, selurusan yang lainnya hanya persegi panjang biasa. Meski begitu itu hanya tampilan luarnya.


Tak sia-sia niat ku menjadi Assassin beracun. Meski pada akhirnya Aku menjadi pengguna pedang seperti Mama.


Jurus ini perpaduan antara [Wind Step] dan [Wind Slash]. Terlihat cukup sulit ya tentang menggabungkannya. Tapi itu hanya di awal. Saat Aku melatihnya terus ku menjadi mudah.


Meski penggabungan jurus ini biasa karena pasti telah banyak orang yang tahu. Namun ada hal lain lagi yang membuat ku menjadikannya sebuah jurus buatan sendiri. Racun asal campur— maksudku racun campur.


Oh! Dan yah. Ada beberapa mekanis buatan dengan tombol. Untuk pedang yang satu ini. Seperti penggantian mata pisau. Mata pisau yang berganti berbeda jenis. Mulai dari yang hanya melumpuhkan hingga membunuh.


Kejam? Ya. Aku bukanlah sang pahlawan wanita kita. Aku tak selembut dan sehangat Mama. Aku bukan orang yang cukup menyayangi orang lain seperti beberapa orang yang ku kenal. Aku.. makhluk yang suka menantang kematian!


Back to story.


Lupakan narasi di atas. Karena sedikit membosankan. Hanya penjelasan saja.


Jenis racun yang kubuat cukup mematikan jika diberi sesuai dosisnya. Aku hanya memberi racun yang dapat melumpuhkan lawan. Jadi mereka secara perlahan akan kesulitan bergerak. Baik. Berhenti menarasinya. Lanjut ke pertempuran dulu.


Aku gunakan terlebih dahulu [Wind Step]. Saat beberapa senti mendekati mereka baru kugunakan [Wind Slash]. Dengan kecepatan yang terbatas kubuat beberapa dari mereka terkena mata pedangku.


Lalu Aku mundur beberapa langkah lagi ke belakang. Mereka yang terkena mata pisauku, menggeram marah tak suka.


Ck ck ck


Hanya di gores saja marah. Apa lagi di bunuh.


Tapi Aku suka reaksi mereka. Kuputari pedang intan itu di antara sela-sela jari ku. Bermaksud untuk semakin membuat mereka marah. Tentu saja dengan amiri kemenangan.


Mereka menggeram dengan semakin kuat. Artinya kekesalan mereka mungkin sudah berada di puncak. Dilangkahikan kaki ke arahku. Mereka merasa Aku seorang anak kecil yang bisa di intimidasi kah?


Baiklah kalau begitu. Kita kembalikan.


Dengan lincah tangan kanan kecilku memasukkan kembali pedang ukuran sesuai tubuhku kedalam sarungnya. Seperti mereka, kuambil langkah dengan juga aura untuk mengintimidasi kembali.


Sengaja, tanganku terletak seolah ahli. Tangan kanan yang menggelantung malas dan tangan kiri kuletakkan di ujung gagang pedangku sambil melangkah.


Aku tahu potensi besarku yang satu ini dari pria itu. Intimidasi sesuatu yang sangat jarang kulakukan. Karena sulit mengendalikan luas auranya. Terkadang jika kebablasan kucoba di rumah, malah satu kelurahan kelelahan bahkan ada yang pingsan.


Hanya "Ah?!" Yang bisa kukeluarkan dari mulutku.


Walau begitu sudah terbilang cukup terlatih meski ada sesekali jika tidak fokus benar jadi kebablasan.


Mereka nampak memberhentikan langkah songong mereka tadi. Malahan ada beberapa yang mencoba mundur namun tak bisa. Aduh. Aku kebablasan kah?


Baiklah, hati nurani siapa yang tidak punya? Kukurangi dosisnya membuat mereka bisa sedikit lega.


(Heh! Emangnya racun! Pakai dosis segala!)


Kasihanilah mereka wahai hati nurani. Tanganku sudah bergerak lincah ingin melumpuhkan mereka.

__ADS_1


Sriiiing


Mereka menoleh mencariku. Dapat kurasakan itu. Di belakang mereka ada Aku. Beberapa dari mereka yang terluka karenaku tadi, tiba-tiba saja terjatuh.


Semua narasi panjang kali lebar sama dengan persegi panjang itu hanya terjadi selama satu menit dipenglihatan.


Mereka nampak mengeram marah mengetahui senyum mengejekku. Langkah mereka semakin berani. Di serang diriku dengan cakar tajam nan membahayakan milik mereka.


Salah satu dari mereka menyerangnya dengan sebuah sihir.


Bruussh


Gawat!


Ukh-


Cukup sakit. Untung segera kuhindari kesamping tadi. Baru beberapa jam pertama, sudah terluka saja, eh salah salah, baru beberapa menit bertemu wolf-chan sudah terluka saja. Namun hanya perlu satu menit saja untuk racunku bekerja.


Selama satu menit tidak terjadi sebuah luka yang fatal untukku, hanya beberapa goresan tadi saja.


Akhirnya mereka tepat juga. Kuambil beberapa belas bilah pedang kecil di cincin ruang hasil judiku- maksudnya tantanganku dengan A-01.


"Maaf ya, Wolf-chan." Gumamku kecil sambil menusukkannya pas di perut pada bagian inti mana core mereka.


Kehidupan kalian batas hanya di sini saja. Jangan dendam ya padaku. Karena dunia itu memang kejam.


Kali ini benar-benar kuambil bagian dari tubuh mereka lalu kumasukkan ke dalam cincin ruangku.


Hah~


Bulan sudah berada di mana sepertiga jalan lagi menuju, mungkin tengah malam.


Mari jalan lagi.


Aku lagi-lagi tidak menemukan sebuah hal menarik malaikat untuk terus berjaga. Hanya beberapa kelompok goblok yang tergorok oleh ku. Sisanya, yang memang menantang maut malah sembunyi-sembunyi.


Haduh~


Ekspetasi tak sesuai realiti. Hidup selalu begini. Meski begitu harus bersyukur juga.


Selama perjalanan ini, ada beberapa saat Aku tidur.


Aku juga bertemu orang lain, terkadang mereka berkelompok, terkadang juga individu, sepertiku.


Namun bukan hal itu yang ingin kukatakan saja. Karena.. mereka semua, tidak ada yang bisa kulindungi. Mereka semua hanya bisa kupandangi, jika kiasannya.


Selama hidudku, bukan siksaan yang menjadi traumaku, bukan kehilangan orang yang disayang yang menjadi traumaku.


Bukan, bukan itu.


Tapi.. kematian depan matalah, yang menjadi traumaku.

__ADS_1


__ADS_2