My Antagonist Life Reancarnation

My Antagonist Life Reancarnation
Bab 3 : 13


__ADS_3

Selurusan yang kulewati hampir semuanya hutan. Berangkat dengan jalan kaki, sendiri dan hening tengah hutan sangat tidak bagus untuk seorang tante-tante di tubuh anak kecilku ini.


(kamu itu lagi terbang hei!)


Saat ingin berangkat tadi sempat ada tarik-menarik seperti magnet (+) dan (+) yang sedang di dekatkan.


Beruntung Akunya bisa kabur sebelum bencana terjadi. Bencana alam tingkat tujuh. Mama berusaha sekali untuk menarikku kembali dengan cara halus.


“Kau yakin di sini jalannya, meow?” Tanya si kucing gendut itu.


Aku hanya melirik sepintas. “Jalan saja, jangan banyak omong.” Ucapku malas. Gerutukan kecil terdengar dari mulutnya.


Perjalanan menuju pelaminan —semoga saja— - Maksudku, perjalanan menuju ke tempat tugas kali ini benar-benar membuat raut malas untukku.


Andai keinstanan dari sihir [Teleport] memang ada.


Mungkinkah Aku harus membuat sebuah motor atau mobil? Tidak tidak tidak, kacau nanti dunia kelam ini. Biarkan saja beberapa hal yang tidak pakai mana. Yang lainnya harus tetap bermana.


Masa' harus keliling dunia dulu baru bisa seenak jidat ke tempat yang di maksud. Tidak seru ah, cih.


Kami berjalan (sekali lagi, terbang) dengan cukup lama. Pemandangan yang tak ada kesan indah suramnya sama sekali, membuatku merasa sedikit muak melihatnya.


Perjalan berlangsung cukup lama, hingga rasa ingin mengeluh akan lelah terdengar, dari mulut si kucing gendut itu.


Akhirnya Aku pun mengalah dengan berhenti sejenak di salah satu pohon yang cukup rindang dan besar dari yang ada di sekelilingnya.


Peristirahatan Kami berlangsung cukup lama (bagiku). Sekitar beberapa belas menit Kami(?) duduk dan makan wiskas edisi terbatas bersama-sama(?).


Perjalanan Kami terjadi sangat mulus, meski beberapa kali tadi Aku mampir ke beberapa monster kawai, contohnya kelinci.


Rasa aneh menyerang tatkala melihat desa kecil yang cukup memiliki kondisi memprihatinkan. Beberapa di antara secara terang-terangan tidur beralaskan tanah.


Jujur, ini menyayat hatiku yang selalu bisa berfoya-foya dengan ceklis pada Papa dan Mama. Lagian, siapa yang tidak memiliki hati terhadap keadaan mereka?


Memprihatinkan!


Secara sengaja Aku mengganti pakaianku menggunakan pakaian biasa. Aku berjalan dengan anggun dan santai mendekati pagar kecil yang menjadi pembatas desa mereka.


Mata mereka nampak berbinar tatkala melihatku. Berkerumun dengan beberapa jarak, mereka menawar-nawar akan makanan dan sedikit uang mereka.

__ADS_1


Aku bukan manusia kejam yang bisa secara brutal menghancurkan kepala mereka karena mendekatiku seperti ini. Aku meringis melihat kondisi ini.


Kota Zamrud. Kota termiskin sekerajaan Clover.


Apa yang mereka pikirkan tentang kota ini? Padahal jelas-jelas ini desa, dan tak bisa di sebut kota. Pemerintahan tidak, kah, Kalian mendengar desa ini?


Semua koin emas dan platinum untuk ibu kota yang sangat indah. Sedangkan di sini.. hais~ Ingin sekali rasanya mengumpat secara terang-terang terhadap pemerintah.


Karena merasa ini sesuatu yang perlu di ketahui kepala desa, Aku menanyakan keberadaan kepala desa di sini. Salah satu dari mereka segera menjawab dan menunjukkan jalan padaku.


Aku terus-menerus meringis dalam hati akan pemandangan ini. Bahkan si kucing yang sedari tadi mengikutiku hanya diam tak banyak bicara.


Sepertinya Ia tidak bisa membuat sebuah kata-kata yang tepat dalam satu kalimat hanya dalam sekali hitungan. Jadinya dia memproses sebuah kata di otaknya.


Sesampainya ke kepala desa, Aku segera mengatakan maksud kedatanganku —yang secara tak sengaja— ke sini.


Kebetulan sekali, Aku selalu membawa rempah-rempah berkualitas dari kebun sendiri. Terlebih karena Aku merasa memburu beberapa(?) monster kecil yang bisa di makan akan di butuhkan.


Lalu sekarang, kebutuhan itu memang ada.


Sekalian bermalam, Aku menginap di desa ini. Beberapa waktu yang lalu, Aku mencoba membuat deviant dari penggabungan elemen tanah dan api-ku, seperti elemen khusus ras Dwarf.


Bagiku, sihir lebih berguna untuk mempersiapkan keperluan sehari-hari. Ketimbang bertempur kecil dengan para monster di hutan sana.


“Kenapa Kau mau membantu mereka? Padahal Kau sendiri memiliki tugas. Seharian ini Kita hanya menyusuri hutan saja. Lalu kapan tugasmu?” Kucing gendut itu nampak menggerutu dengan rengekannya.


Aku yang sedang memasukkan potongan daging kelinci itu, memberhentikan aktivitas. Menoleh dengan tatapan yang sedikit bingung.


“Bukankah Aku sudah bilang, jika perjalanannya ini membutuhkan waktu sekitar dua hari jika menggunakan kereta kuda yang berjalannya cuma tak tik tuk saja?”


Ia mengangguk.


“Artinya?”


Ia mengernyit.


“Aaahhh! Sudahlah jika memang tidak mau memberi tahu!”


Salahku apa? Kan tinggal memikirkan maksudku yang tak rumit ini. Artinya Kita sudah semakin dekat. Sebenarnya sih sudah sampai. Soalnya, Kita pergi dengan kecepatan sesuka hati. Jadi sebenarnya, sekarang ini Kami sudah sampai. Ke tempat tujuan.

__ADS_1


Kota Zamrud, kota yang berdekatan dengan hutan Emir. Hutan yang saat ini sedang menjadi misiku karena memiliki beberapa lusin ekor siang pemangsa.


Tapi lupakan dulu hal itu. Masakanku tidak akan berjalan dengan sendirinya menuju panci, jika Aku hanya berdiam diri tanpa melihat dan melakukan sesuatu.


...****************...


Semua orang sudah cukup terlelap. Aku yang masih mengidap penyakit insomnia hanya bisa melihat semua orang terlelap.


Mereka awalnya menawarkan sebuah kamar, tapi langsungku tolak dengan penjujuran akan penyakitku ini.


Seperti biasa Aku menyerap mana sebagai pengganti tidur. Lama-kelamaan Aku merasa bosan dan ingin berjalan-jalan. Walau tadi hanya beberapa belas menit.


Kucing itu rasanya tidak mungkin di tinggalkan sendiri. Jadi kuajak Dia.


Kami menyusuri sekitar kota Zamrud dengan melompat dari pohon ke pohon, gak gelantungan ya. Pikir monyet apa.


Tak jauh dari desa —kota— itu, Aku berkeliling-keliling. Hingga sebuah cahaya tertangkap mataku, ada sedikit asap yang mengepul di antara beberapa gemerisik orang-orang yang sedang mengobrol sepertinya.


Aku melihat ada sebuah pohon yang terbilang cukup besar dan tinggi. Dengan cepat, Aku melompat ke arah sana. Mataku menangkap sebuah perkemahan yang rapi dan bendera yang terjejer di setiap bagian.


Rasanya seperti mengenali merek benderanya. Apa ya?


Kayak pernah lihat. Tapi sayup-sayup lupa ingat lupa ingat gitu.


Kucing gendut itu juga mengikutiku naik ke atas pohon cemara(?) ini. Dia melihat ke arah apa yang kulihat.


"Bendera apa itu?" Tanyaku. Aku melihat matanya membelalak.


"Masa' Negara sendiri lupa lambang benderanya!" Wow! Slow dong. Jangan ngegas. Tak ada kompor di dunia ini, jadi gak butuh gas.


Tiba-tiba sebuah suara menyerangku, baik itu dengan suara mau pun hantaman merisihkan.


"Annie!!"


Adudududuh


Hampir jatuh.


"Gyaaahh! Ini tinggi! Bisa mati Saya!" Teriak si kucing yang hampir saja terjatuh.

__ADS_1


__ADS_2