
Memeriksa sekeliling dengan tergesa-gesa namun teliti adalah hal yang di lakukan oleh orang-orang yang berada di sana.
Setiap sudut dan inci dari bangunan yang ada, mereka mencari bahkan sampai tempat terpencil dan rahasia di sana. Mereka mencari di seluruh penjuru mansion tersebut tanpa ada yang tertinggal, bahkan mencari berkali-kali meski tempat tersebut sudah di periksa.
Padahal seharusnya mereka tidak perlu melakukan ini, karena pasti akan terpikirkan anak kecil itu hanya bermain-main.
Tapi..
Mereka melakukannya bukan tanpa alasan. Namun karena secara tiba-tiba terlintas di pikiran mereka akan satu hal, yakni sebuah organisasi yang ilegal atau tidak sah menculik Nona muda mereka itu untuk hal yang sering terdengar dari rumor.
Rumor yang tersebar luas adalah mereka menculik anak-anak hingga para orang dewasa untuk di jadikan sebagai objek uji coba senjata bahkan mereka sendiri yang menjadi senjatanya. Rumor juga mengatakan mereka menculik orang-orang tertentu yang sesuai dengan kebutuhan mereka atau karena hal menonjol orang tersebut.
Menggunakan segala cara untuk mendapatkan yang menurut mereka itu adalah produk bagus yang bisa di gunakan.
Mengingat tuan mereka yang satu ini pasti tidak akan bermain-main akan hal seperti ini, apalagi di saat-saat seperti ini meski di umur seperti itu.
Berbagai bunyi terdengar, seperti bunyi barang berat yang di geser, suara sepatu yang berlalu-lalang, dan berbagai macam suara terdengar membuat tempat tersebut menjadi ramai.
"Nyonya, kami tidak menemukannya di mana pun." Ucap Abel tidak kuat namun juga tidak kecil, yang terlihat terengah-engah dengan raut wajah khawatir.
Padahal saat perkumpulan kecil tadi mereka sudah membahasnya, tapi kenyataan dan keinginan tidak seimbang.
Membuat rasa sakit dan pahit yang sulit di hilangkan, tatapan kosong terlihat di wajah seorang Ibu di sana.
"Tidak.. tidak mungkin..." Ucapnya sembari menggelengkan kepala dengan air mata yang sudah tak tertahankan.
"Bagaimana bisa? Biar ku coba.. Aku akan mencoba mencarinya dengan merasakan mana." Ucap pria dengan ular yang tiba-tiba menggelantung di leher pria dengan wajah baru tersebut.
Dia mulai memfokuskan mana-nya dan meletakkan tangannya di lantai untuk menyebarkan mana-nya.
Namun hasil yang di inginkan tidak terdapat, yang seharusnya frekuensi dari mana yang ia keluarkan cukup untuk merasakan mana orang yang menculik anak kecil tersebut.
Seharusnya mereka belum jauh. Benar. Seharusnya seperti itu. Namun yang mereka lakukan bukan lah mengirim orang. Tetapi yang terasa hanya lah sebuah pengendalian mana jarak jauh dari orang yang tidak di kenalnya.
"Aku tidak menemukan apa pun, Aku hanya menemukan ruangan ini di kelilingi oleh mana dari jarak jauh." Ucapnya dengan nada merasa bersalah.
"Aku akan mencoba meluaskan jaraknya." Lanjutnya dengan menyebar luaskan mana miliknya sekali lagi.
Matanya tidak fokus pada satu titik. Dengan mata yang seolah sedang menggerayangi tempat baru. Padahal tidak ada apa pun di lantai yang Ia pandangi. Tiba-tiba sesuatu membuatnya berteriak tak kuat karena terkejut.
"Ketemu! Oi, aksesoris, ikut Aku." Ucapnya sebelum menghilang.
"Tunggu! Kau bilang apa tadi?!" Ucap pria yang penuh dengan pernak-pernik tersebut dengan rasa kesal yang mendalam terbukti dari wajahnya dan perempatan di kepalanya sebelum menghilang untuk mengejar temannya itu.
__ADS_1
...****************...
Di saat yang bersamaan
"Eh?" Ucapnya dengan nada kebingungan.
"Di mana ini? Bukankah tadi aku berada di depan kamar?" Pikir gadis kecil yang sebagai mana kita kenal sebagai Annie.
Tempat yang terlihat di sana seperti hanya lah ruangan hitam dan gelap yang tiada ujung. Ruangan yang sulit di definisi ini terlihat sama seperti saat dirinya bertemu dengan kucing besar sebelumnya.
Namun tempat tersebut tidak terasa familiar sedikit pun bagi gadis kecil tersebut, karena tahu ada hal yang aneh. Gadis kecil tersebut memilih untuk berdiam diri di tempat sembari mengamati sekitar, dan menunggu sesuatu yang mungkin akan terjadi.
"Annie." Sebuah suara terdengar memanggil gadis kecil tersebut dengan menggema di seluruh tempat tersebut .
"Siapa?!" Pikir gadis kecil tersebut karena merasa terkejut sambil melihat sekeliling namun tidak menemukan siapa pun.
"""Annie""" Terdengar kembali suara yang memanggil gadis kecil tersebut, kali ini suaranya lebih terdengar serempak.
Yang dapat di buat sebuah kesimpulan bahwa yang memanggil gadis kecil tersebut lebih dari satu orang. Namun suara yang terdengar membuat gadis kecil tersebut terdiam membeku, seolah suara tersebut membuatnya kesulitan berpikir jernih.
"Annie, kenapa?" Ucap salah satu dari mereka.
"Benar, kenapa?"
"Annie, kenapa hanya kau yang masih hidup?"
Mendengar setiap perkataan mereka membuat gadis kecil tersebut menoleh secara perlahan ke belakangnya.
"Ah..tidak..mungkin..mereka.." Pikiran yang menyangkal terlintas di kepalanya, dengan wajah ketakutan dan ketidak percayaan terpancar di wajah gadis kecil tersebut. Namun, apa yang di lihatnya itu harus bisa di percaya.
...****************...
"Hah hah hah" Nafasnya tersengal-sengal terdengar, matanya melihat sekeliling setelah bisa mengatur nafasnya.
Tempat yang penuh dengan cairan yang berada dalam wadah terlihat di setiap tumpukan meja yang ada.
Tempat tersebut terlihat seperti laboratorium penelitian, namun terdapat begitu banyak juga alat-alat yang tidak di ketahui apa kegunaannya.
"Eh? Bukankah tadi..eeh..mimpi?" Pikir gadis kecil tersebut yang sekali lagi kita kenal sebagai Annie.
"Sudah bangun?"
"Siapa? Kali ini siapa?" Pikirnya dengan suara lirih dan bergetar karena sedikit nostalgia dengan keadaannya saat ini.
__ADS_1
Dengan posisi duduk di atas sebuah kursi yang dimana pergelangan tangannya terikat di kursi tersebut bahkan kakinya juga.
Bahkan sekarang ia baru sadar bahwa di sampingnya terdapat berbagai alat yang di gunakan para medis.
Tidak, lebih tepatnya setiap kursi yang ada di sana. Setiap kursi berisi anak-anak yang seumuran dengannya atau bahkan lebih tua darinya.
Mereka terlihat masih bersih yang artinya mereka masih baru di sini, dan mereka semua sudah bangun.
Annie tidak bisa menghitung dengan jelas berapa orang mereka karena rasa nostalgia-nya terhadap keadaannya saat ini, namun raut wajahnya berusaha tenang.
Wajah yang terpancar dari setiap wajah adalah rasa kebingungan dan ketakutan yang teraut, ada juga salah satu dari mereka yang memiliki wajah tenang untuk melihat situasi.
"Baiklah karena pemeran utama kita sudah bangun mari kita mulai acaranya." Semua orang nampak mengernyit, kecuali Annie.
"Siapa yang kau maksud?" Ucap anak yang tenang tadi, terdengar dari suaranya ia pria.
"Tentu saja, Nona kecil di hadapanku ini, dia sangat istimewa." Jawab pria dewasa yang berada di depan Annie saat ini.
"Istimewa?"
"Benar, mana di dalam tubuhnya sangat besar meski kalian juga memiliki mana yang besar di dalam tubuh kalian, tapi gadis kecil ini lebih besar dari kalian."
"Bahkan sampai sekarang dia pun masih menyerap mana saat ini." Ucap pria dewasa lainnya yang tiba-tiba berada di belakang pria dewasa yang sebelumnya.
"Aku tidak tahu itu reaksi dari tubuhnya sendiri atau..." Pria dewasa tersebut mendekat ke arah Annie, terlihat di tangannya memegang sebuah alat seperti sebuah kayu tapi juga seperti bambu.
Tidak terlalu jelas karena ia berada di tempat gelap. Alat yang di pegangnya ia gunakan untuk menaikkan dagu gadis kecil tersebut.
"...atas kesadaran sendiri. Tapi, itu tidak mungkin, jadi pasti itu adalah spekulasi yang pertama. Dan meski masih berumur dua tahun kau punya raut wajah yang menarik." Ucap pria tersebut sambil tersenyum palsu.
Mendengar dan melihat hal tersebut Annie tidak bisa untuk tidak membuat raut wajah yang menyatakan ketidak sukaan dan meremehkan di wajahnya.
Pria yang tersenyum palsu tadi langsung membuat ekspresi datar setelah melihat ekspresi Annie.
"Aku tidak suka...raut wajahmu ITU!!" Ucap pria tersebut sambil mengangkat tangan yang memegang sebuah kayu tersebut dan...
BUUGGGHHH
Annie membuat raut wajah tidak percaya apa yang baru saja terjadi, dia tidak berteriak atau apa pun itu.
...----------------...
Terimakasih sudah membaca novel ini.
__ADS_1
Maaf jika ada kesalahan karena ini novel pertamaku.