My Antagonist Life Reancarnation

My Antagonist Life Reancarnation
Bab 1 : 8


__ADS_3

Setelah pesta kecil-kecilan yang di buat Ibu ku, hari-hari yang ku jalani kembali seperti semula. Dan tentu saja kehidupan dengan duo pengganggu, yang terkadang menjadi trio pengganggu itu tidak hilang.


Sudah beberapa bulan sejak umur ku satu tahun. Dan sekarang Aku masih merasa bingung akan satu hal. Yakni, akhir-akhir ini Ibu sering pergi keluar, tidak sering tapi juga tidak jarang.


Dan Ibu juga memakai pakaian hitam seperti pakaian orang berjas di kehidupan ku sebelumnya. Namun hanya di bedakan dengan roknya dengan bentuk berlipat-lipat dan tidak ketat. Yang sepertinya itu juga adalah baju seragam.


Karena paman yang penuh dengan pernak-pernik dan paman yang berbadan besar kemarin juga memakai seperti pakaian Ibu. Untuk membedakan seragamnya adalah di bagian celana dan roknya saja. Dan juga roknya sebatas bawah lutut.


Ibu terlihat sangat cantik saat itu~


Tapi yah, sekarang lupakan saja. Karena Ibu sedang bersama ku saat ini. Aku juga sudah bisa berjalan dengan benar. Walau terkadang karena rasa tidak nyaman dengan kaki kecil atau lebih tepatnya Aku tidak terbiasa dengan tubuh ku sendiri, Aku menjadi sering jatuh dan untung tidak pernah terluka.


Lalu Aku sekarang sering sekali kabur diam-diam, apa lagi saat malam. Terkadang Ibu sendiri yang memergoki ku dan untungnya Aku selalu bisa memberinya alasan, namun itu khusus ke Ibu.


Ibu yang senggang terkadang mengajak ku ke taman bunga miliknya. Ibu sungguh beda dari yang lain. Dia sendiri yang merawatnya, seperti menyiram atau semacamnya.


Yang pasti pelayan sangat jarang merawatnya. Atau lebih tepatnya mungkin, tidak pernah karena Ibu yang selalu merawatnya. Di sana terdapat berbagai jenis bunga.


Ada juga beberapa pohon. Tapi, pohonnya bukan di pinggir taman, namun kebanyakan di tengah-tengah sekumpulan bunga. Bahkan banyak kupu-kupu di sini.


Benar-benar ide cermelang dari Ibu ku~


Dan terkadang Aku ke sini sendirian, sehingga membuat Hanna dan Abel kewalahan mencari ku. Aku suka di sini karena mengingatkan ku akan kebun bunga ku yang pasti sudah mati, karena tidak ada yang bisa merawatnya.


Pasti mereka sering lupa untuk menyiramnya, padahal itu kebun bunga akan sangat indah jika terawat. Mereka juga yang sering bermain-main di taman itu, tapi tidak tahu walau hanya sekedar waktu menyiramnya.


Haa~ Lupakan saja.


"Bu" Ucap ku sambil memberikan mahkota bunga yang ku buat.


Dari tadi Aku sedang membuat mahkota bunga dan totalnya ada tiga. Yang pertama kali ku beri tentu saja Ibu. Ibu yang melihatnya sedikit terkejut namun menerimanya, tentu saja ia terkejut aku yang baru setahun ini membuat sesuatu seperti ini.


"Terima kasih Annie. Indahnya~" Ucap Ibu dengan nada lembutnya itu.


"Hehe" Tawa kecil keluar dari bibir ku.


Karena entah kenapa rasanya sangat menyenangkan saat Ibu ku di dunia ini berterima kasih pada ku. Dan sekarang ke dua pengganggu itu datang, mereka sepertinya habis mencari-cari diri ku ini di seluruh penjuru rumah. Benar-benar membuat mood orang lain hilang saja.


"Wah~ Annie membuat mahkota bunga, sangat indah." Puji Kak Reen yang sangat antusias.

__ADS_1


Lalu Aku membawa kedua mahkota bunga yang ku buat tadi ke arah Hanna dan Abel. Mengacuhkan si pengganggu itu.


"Hanna, Bel." Ucap ku sambil memberikan mahkota bunga yang ku bawa.


"Nona.. ini.." Abel terlihat terkejut.


""Terima kasih, Nona!"" Ucap ke duanya yang terlihat senang. Juga, Aku berharap perasaan atau mungkin spekulasi, yang mengatakan bahwa mahkota bunga itu akan berada dalam brankas mereka berdua tidak benar.


Aku pun hanya tersenyum membalas perkataan mereka, karena ingin berbicara banyak akan sulit di mengerti mereka. Sudah sepantasnya begitu, dengan umur yang masih kecil, juga memang kodrat bayi untuk masih belum bisa bicara di umur segini, dan hanya bisa berbicara ujung dari kata saja.


"Annie~ Mau buatkan untuk ku, kan?" Tanya Kak Reen dengan mata sok puppy eye-nya.


Namun Aku hanya berjalan pergi menjauhinya. Aku hanya ingin melihat bagaimana reaksinya, tentu saja Aku akan membuatkan juga untuknya.


Dan ekspresi yang menyenangkan untuk di lihat teraut di wajahnya. Kecewa, sedih dan sakit menjadi satu di wajahnya.


Kalian tahu kan bagaimana rasanya di kacangin?


Aku mulai menyusuri setiap jalan setapak yang di buat secara sengaja oleh Ibu.


Aku mengambil setiap bunga yang menurut ku indah kemudian membuatnya di tempat. Karena melihat Kak Raan yang tertawa terbahak-bahak membuat ku berpikir 'lebih baik jangan diganggu'.


Aku mulai merangkainya menjadi satu, yang sekarang akhirnya selesai. Aku datang ke arah Kak Raan dan Kak Reen yang sepertinya sedang bertengkar kecil. Sedangkan, Ibu dan yang lainnya hanya tertawa. Aku menghampiri ke duanya yang sedang duduk dan memasangkan sendiri mahkota bunganya.


"Ah! Terima kasih, Annie." Ucap Kak Raan sambil menggosok kepala ku.


"Annie~ Haha~" Ucapnya dengan manja sambil memeluk ku yang membuat ku jengkel.


Aku yang risih hanya mendorong kepalanya dengan kuat agar menjauh segera mungkin. Namun karena dia masih tetap tidak ingin melepaskannya, ku beri dia tatapan seolah mengatakan


'Menjauhlah kau, dasar hama'


"Gyaah! Maafkan aku!" Teriak Kak Reen sambil menjauh, karena merasa takut.


(note: jangan lupa, jiwa ku ini sudah berada di seperempat abad.)


"Pfft-" Terdengar suara tertawa yang hampir lepas dari arah Kak Raan.


"Tunggu, Aku mendengarnya tahu!" Ucap Kak Reen yang merasa kesal karena di tertawakan.

__ADS_1


Pertengkaran kecil terbuat membuat suara sedikit gaduh di sana. Waktu pun terus berjalan hingga Aku menemukan satu bunga yang sedikit aneh, namun rasanya pernah melihatnya.


Hmm.. apa ya nama bunga ini?


Aku berpikir dengan keras dan terus berpikir, rasanya pernah melihatnya namun kenapa rasanya sulit sekali untuk sekedar mengingat.


Hari yang sudah semakin siang, membuat kami akhirnya masuk ke dalam. Karena bosan Aku pun tidur dan tanpa sengaja Aku tertidur sampai gelap.


Ah gawat, kenapa tidak ada yang membangunkanku.


Haah~ Sudahlah, saatnya berkeliling.


Aku berjalan menyusuri setiap koridor yang ada, dan entah kenapa Aku sampai di taman yang di buat oleh Ibu.


'Mungkin kah Aku di sini saja?'


Tapi bagaimana jika mereka tidak melihat ku di kamar dan mencari ku? Tidak apa lah, hanya sebentar saja, tidak sampai jadi tengkorak juga.


Wangi bunga melati membuat ku mendekat ke tanaman melati itu dan menghirup baunya. Sungguh wangi, Aku pun berguling di sebelah tanaman-tanaman itu dan melihat birunya langit malam, begitu indah.


Langit malam yang di tambah dinginnya malam membuat ku sedikit mengantuk. Aku ingin tidur tapi tidak mungkin di sini. Jadi, Aku kembali ke kamar dan beranjak ke arah jendela karena rasa kantuk ku hilang.


Entah kenapa setiap berada di kamar akan lebih sulit tidur ketimbang di luar kamar, rasanya kamar ini sedikit terkutuk.


Aah~


Andai Aku terlahir kembali saat sudah sedikit besar di tubuh ini, bukan reankarnasi. Benar juga, kenapa Aku tidak menyusun rencana hidup saja. Jika tidak salah, sang penjahat wanita bukan lah di bunuh, melainkan hanya di asingkan. Dan Aku lupa ke mana dirinya di asingkan.


Tapi jika Aku mengubah alurnya apakah tak apa?


Baiklah lupakan saja, lebih baik Aku melakukan saja apa yang seharusnya terjadi sesuai takdir ku. Jika itu sial, tinggal kabur saja dari takdir sial itu. Memikirkan semua itu membuat ku lelah lebih baik Aku tidur saja.


Aku pun beranjak ke arah kasur dan mulai menutup mata berpikir untuk tidur.


Kemudian Aku tertidur dengan nyenyak hingga matahari menyapa kembali, di pagi harinya.


...----------------...


Terimakasih sudah membaca novel ini.

__ADS_1


Maaf jika ada kesalahan karena ini novel pertamaku.


Dan "Selamat Hari Sumpah Pemuda" semuanya 🇮🇩


__ADS_2