
Seperti biasa, cerita ini diawali dengan omong kosong murni. Makanya, sering terjadi emergency yang tertanda cringe dicerita ini. Bahkan sampai kegaringan kriuk kriuk kress yang ibaratkan sebuah iklan.
Sedikit info, Saya tidak meng-endorse.
Seperti yang dilakukan Annie saat ini. Padahal dia tidak berniat melakukan apapun, seolah mimpinya adalah sebagai pemalas. Ha! Bercanda, ya?
“Laporan harianmu...”
Annie menahan napas sejenak.
“...bisa jelaskan?”
Ha! Kena dia!
“I-itu...” semua orang nampak menunggu, “...seperti yang terlihat...” Annie sedikit bersusah payah mengeluarkan apapun yang bisa dijawabnya. “Ya... seperti itulah.”
Haha...
Untung anak orang.
“Oh, yah?” Sang pemimpin ini mencoba meningkatkan kontak mata. “Laporan tentangmu yang terus mengambil misi selama berhari-hari tanpa jeda, bisa jelaskan?”
Huh? Apa?
Annie tidak bisa tidak bertanya secara internal. Dia pikir karena selama ini laporan yang ditulisnya singkat, padat, dan (mungkin) jelas itu yang dipertanyakan.
Tapi ternyata malah karena dirinya bekerja terus bagaikan kuda?
Sungguh membuat no habis thinking.
“Kenaikan pangkatmu karena kerja rodi secara sukarela dengan hati gembira ini membuat kami merasa sangat ingin menaikkan pangkatmu.”
Entah kenapa Annie merasa bangga. Tetua satu ini menyenangkan.
Brak “Tapi itu masalahnya!”
Kini hidung panjang Annie mengempis. Menandakan ketidaksukaan dari Tetua yang menggebrak meja dan berteriak barusan.
“Anak satu ini malah melampaui perkiraan! Tanpa istirahat! Bagaimana jika dia menipu?!”
Annie merasa, berekspresi tersenyum adalah hal yang paling tepat saat ini. Walau hatinya sedang kesal.
“Hei, lihat. Gadis ini semakin ekspresif.”
Annie yakin, para tetua disini pasti tidak akan mengerti dengan ekspresi-ekspresinya, dia paham itu.
Dia tidak suka berekspresi setiap hari. Kenapa mereka membesar-besarkannya? Hei! Dia memiliki saat dimana tidak suka jadi anak kesayangan orang ya?!
“Ouh, kamu benar. Teruslah lebih ekspresif, Nak.”
Apaan?!
Annie mengendurkan ekspresinya. Ini sudah lewat dari topik utama. Haa...sialan...
“Eh? Ekspresinya kembali.”
Lihat?! Haa~ Terserah.
“Tetua Hua, Tetua Yoo~ Kita sudah lewat dari topik.”
Annie menatap sang Ibunda. Mama memang yang terbaik!
__ADS_1
“Yah, tapi memang benar bukan perkataan mereka? Hei gadis sialan, dengarkan perkataan orang-orang tua barusan ini huh,”
Annie ingin sekali mengatakannya, dia benci tetua yang barusan. Tetua itu selalu mengambil langkah yang bertentangan dengannya. Sialnya, disetiap hal!
“Tetua Morial, biasanya Anda menentang Annie?”
Beruntung sekali Mama menyampaikan isi hatik-
Tidak. Ada yang salah. Kalimat Mama dan mata Mama berbinar dan itu memberi perasaan penasaran, bukan perasaan seorang ibu yang melihat anaknya disayangi semua orang!
Hei, Developer! Ada apa dengan takdir sialanku hari ini!
Annie menggeram kesal secara internal.
“Tuan Yuno, apakah kita bisa langsung ke hukumannya?” Annie sudah kesal, lebih baik dia langsung ke intinya.
“Hukuman? Hahaha,” Yuno tertawa ringan. Dia memberi tekanan hangat, seolah saat ini mereka sedang dalam kumpul keluarga, bukan sidang.
Memang Tuan Yuno yang tebaik, hiks...
“Maaf, Annie, Aku hanya tidak menyangka kamu akan menanggapi seperti itu.”
Gakpapa, Om. Sumpah. Lagian, seharusnya Aku yang minta maaf karena mikirin kamu dengan yang enggak-enggak... ketawamu itu- Ugh...
Heh-! Akhlak! Gak sopan ya?!
“Kami hanya ingin memberi promosi kepadamu. Kinerjamu sangat besar, sampai-sampai mengalahkan anggota pilar saat ini.”
Annie memiringkan kepalanya. Apa?
Tidak- Hei! Bagian mananya yang mengalahkan! Levelnya sekarang saja baru 90an! Berbeda sekali dengan mereka yang sudah mulai memasuki 200an!
Dunia sudah tidak waras...
“Kamu mengerti maksudku, bukan, Annie?”
— Halo, halo~
Annie tersentak, sebuah suara menggema di kepalanya. Dan dia tidak memberi kepastian, untuk menjawab siapa lebih dahulu.
Seseorang mengajaknya telepati. Dan dari suaranya, Annie tahu siapa itu, Lucifer.
“Annie? Kenapa? Ada masalah?” Furai sedikit khawatir.
Ada apa dengan anaknya? Dia terkesiap sebentar lalu terdiam. Gak lucu ya kalau kesurupan...
Heh-! Akhlak! Sama aja!
“Huh? Tidak. Apa tadi?”
Sopannya...
“Jadi-”
“Mau.”
“...”
KURANG AJA YA?!
“Anak siapa sih?” Mamamu aja gak ngaku.
__ADS_1
— Annie...kamu tidak menjawabku...huu
Annie kini mendengar rengekan dari Lucifer.
“Dan Annie, kami ingin kamu melakukan sesuatu. Bisa?”
“Apakah itu?” Annie memiringkan kepalanya, mengabaikan seluruh suara yang memenuhi kepalanya.
“Jadilah kepala pengawas akademi Kainigose.”
— Anniee~ Ayoo~
“Apa?” Secara internal maupun eksternal, Annie bertanya.
— Tidak ada~ Hanya ingin saja, hehe~
‘Bukan Kamu!'’
— Apaaa?!!
“Jadilah pengawas Akademi, mulai bulan depan.”
Tiba-tiba Annie merasa pikirannya kosong, dan disaat itu juga dia secara tidak sadar berteleport. Hanya satu dipikirannya,
‘Lucifeerrrrr!!’
— Aaaa-
“-aaaahhhhh!!!”
“Berhenti berteriak, Setan kecil.” Annie menatap Lucifer yang sedang berteriak.
“Apa masalahmu?! Aku hanya sedang praktek lapangan!”
“Berteriak dalam pikiranmu?” Retoris, “ya maaf. Aku juga sedang kaget.”
“Tapi Annie...kamu salah waktu...Kami sedang praktek sihir di sini...”
“...”
“...maafkan Aku...”
Dan Annie pun berpindah ruang. Menuju ke ruang guru.
Sial, Annie rasanya seperti baru saja melakukan kesalahan. Tapi seketika kemudian dia berada dalam sebuah kebenaran.
Dan masalahnya, KEBENARAN ITU BAGIAN YANG MANANYA?!
Hei! Dia baru saja mendengar sesuatu yang seharusnya tidak terselamatkan.
Seketika itu pula, Annie mendapat telepati karena menghilang tiba-tiba dari sidang singkatnya.
...----------------...
[A/N]
Mayday! Mayday
Maaf karena super sedikit isinya. Saya sedang dalam klise kehidupan writerblock dan Saya rasa, cerita kali ini memiliki bumbu cringe-cringe gimana gitu.
Sekian terima kasih. Saya undur diri
__ADS_1