My Antagonist Life Reancarnation

My Antagonist Life Reancarnation
Bab 1 : 12


__ADS_3

...****************...


...****************...


...****************...


...****************...


...****************...


...****************...


...****************...


...****************...


...****************...


...****************...


...****************...


...****************...


...****************...


...****************...


...****************...


...****************...


...****************...


...****************...


...****************...


...****************...


...****************...


...****************...


...****************...


"Annie." Sebuah suara terdengar dari arah depan ku, membuat ku membuka mata dan menoleh pada sang empu. Namun tidak secara spontan, tetapi secara sadar dan perlahan.


"Sedang apa Kau di sini? Dan kenapa Kau bisa ada di sini?" Seseorang itu bertanya setelah memanggil ku dengan nada yang rumit.


Seseorang yang memanggil ku itu sekarang terlihat jelas di depan mata, wajahnya kecil dan polos.


Dengan rambut berwarna hitam di bagian pucuk dan kebiru-biruan tua di ujung rambutnya itu.


Jujur Aku terkejut. Namun Aku berpura-pura seperti baru terbangun. Aku tidak tahu kapan dia melihat ku tapi Aku harus melakukan sesuatu dengan tenang.


"..."


Astaga astaga astaga astaga astagaaaaa!!


Meski Aku bisa mengatur raut wajah ku. Tapi tidak dengan jantung ku yang terus berdisco ria. Kau itu sungguh mengejutkan tahu.


Dan yap, itu adalah Kak Raan.


Karena melihat Kak Raan, Aku langsung memberikan dirinya senyum terbaik ku yang manis, imut dan polos.


"Aku melihat mu berjalan ke arah sini tadi, jadi Aku mengikuti mu." Ucapnya guna memberi tahu bagaimana ia melihat ku.


Dan, AAAAARRRGGH!!


Ketika Aku memberi Ibu sebuah alasan. Alasan itu adalah dengan tersenyum atau tertawa manis dan itu bisa! Kenapa dengannya tidak berhasil!


Namun Aku berusaha untuk tetap tenang. Baiklah, lupakan saja. Untuk apa di pikirkan. Biarkan dia saja yang berpikir kenapa Aku bisa di sini.

__ADS_1


Dan dia berjalan ke arah ku dia membuka luaran bajunya atau blazer-nya dan memakainya pada ku. Sungguh Kakak baik yang pernah menjadi idaman ku dulu.


"Di sini dingin, pakai lah ini." Ucapnya sembari memakaikannya kepada ku, kemudian dia memangku ku sambil bersandar di pohon.


Padahal ku pikir dia tadi ingin membawa ku kembali ke kamar. Mungkin dia berpikir Aku ingin di sini. Jika itu benar, berarti Dia sungguh Kakak yang baik.


"Apa Kau tidak bisa tidur?" Tanyanya yang di jawab oleh ku dengan anggukkan pelan. Kemudian Aku memejamkan mata sambil bersandar padanya dan tertidur.


Dengan senyuman yang bisa membuat Ibu luluh dan tak tegaan ini, tidak bisa membuat si Ice Prince getar. Berarti sang pahlawan wanita kita, benar-benar wanita yang tidak bisa di remehkan. Jika kami bertemu nanti, akan ku mintai tanda tandanya.


...****************...


Beberapa bulan kembali terlewati. Jika ku hitung-hitung masa kehamilan Ibu sedikit lagi mencapai delapan bulan.


Aku mulai bisa berbicara sedikit lebih lancar dari sebelumnya, namun yang lancar adalah bagian ujung dari kata-katanya saja.


Tentu saja tidak bisa mengatakan itu adalah sebuah pencapaian yang bagus apa lagi sangat bagus.


Dan, lupakan saja hal itu.


Saat ini perasaan yang ku rasakan adalah kesenangan karena sudah tidak lama lagi Aku akan memiliki seorang adik.


Jika waktu kembali tiba, akan ada satu lagi adik yang ku miliki. Benar-benar menyenangkan walau hanya memikirkannya.


Dari dulu Aku sangat ingin memiliki adik, namun apa lah daya, malah Aku yang menjadi adik.


Dan karena hal itu, Aku pun berpikir untuk membuat sebuah panti asuhan. Dulu saat di kehidupan sebelumnya, dan meminta mereka memanggil ku 'Kakak' atau jika bisa 'Onee-san'.


Aku jadi memikirkan bagaimana perasaan anak-anak yang manis itu. Apakah sedih atau mereka tidak peduli? Atau mungkin malahan tidak memikirkannya sama sekali?


Ah, sudahlah lebih baik Aku tidur saja karena semakin malam saja, kemudian Aku melelapkan diri ku untuk pergi ke alam mimpi.


...****************...


Tempat yang begitu gelap membuat ku sedikit kebingungan karena tidak mengenal tempat ini namun terasa sedikit familiar.


'Apakah Aku mati lagi?'


Adalah pikiran yang tiba-tiba saja terlintas entah dari mana asalnya, tapi kan aku hanya tidur tadi.


Lalu apa untungnya jika ada orang atau pembunuh bayaran yang membunuh ku? Aku juga tidak akan memerintah daerah kediaman ini.


Secara tiba-tiba, tempat yang ku pijak berubah menjadi danau jernih yang terlihat sangat luas dan juga dalam karena tidak terlihat sedikit pun akhirnya.


Dan langit gelap yang berwarna biru tua di beri pernak-pernik bintang kecil yang terang. Membuat tempat itu menjadi indah. Seperti malam yang sunyi dan menyenangkan bagi ku.


Dan tempat ini adalah tempat diri ku dan Blackie bertemu, yang di mana dia membuat ku berada di dunia yang penuh dengan sihir itu.


Terlihat seekor kucing yang berjalan di udara. Ia yang terlihat seperti sedang turun dari tangga. Tak lama ia seperti itu saat telah berada di sepantaran wajah ku, dia berhenti. Ada cukup jarak antara Kami.


"Meow~ Lama tidak bertemu." Sapa kucing itu yang terlihat seperti sedang berguling.


"Blackie." Ucap ku sambil menunjuk padanya.


Dan yang cukup mengejutkan lagi, karena Aku bisa berbicara. Padahal seharusnya itu masih sulit karena terlihat dari tubuh ku masih sama seperti di dunia lain itu.


"Apa yang tadi Kau bilang, manusia sialan?!" Ucap sang kucing sambil mendirikan bulu-bulunya seperti sedang marah, atau memang marah(?).


"Aku tidak salahkan? Karena Kau berwarna hitam." Ucap ku untuk membetulkan diri.


"Nama ku itu bukan 'Blackie' tahu?!"


"Jangan mengelak, kau kan memang berwarna hitam."


"Terserah! Hmph?!" Rajuk si 'Blackie'.


"Kalau bukan Blackie terus apa? Karena warna mata mu merah, Redie gitu?" Tanya ku.


"..." Waw, datar sekali wajahnya.


"Bahagia kan dirimu saja lah." Ucapnya dengan rasa kesal yang amat mendalam.


"Baiklah Cat." Jawab ku sambil mengacungkan ibu jari ku. Sepertinya akan lebih bagus dia memiliki nama seperti itu.

__ADS_1


".. terserah." Datarnya di nada dan wajah.


"Lupakan saja dulu hal itu, meow~ Karena Aku ingin membahas sesuatu dengan mu." Ucapnya mengubah topik, yang di mana pemilihan kata-katanya membuat ku bertanya-tanya.


"Nak, kau pasti sudah membaca novelnya dari setiap versi-versi yang ada?" Tanyanya yang ku jawab dengan anggukkan.


"Tapi apa Kau tahu kenapa orang tua sang antagonis begitu memanjakannya? Padahal mereka masih memiliki satu anak perempuan lagi?" Pertanyaan yang dia lontarkan sungguh membuat ku bingung. Namun tetap ku jawab, kali ini dengan menggelengkan kepala.


"Apakah Kau ingat dengan salah satu pemberantasan tentang suatu organisasi di novelnya?" Pertanyaan yang satu ini ku jawab dengan anggukkan, setelah itu dia berhenti bertanya.


Beberapa saat kesunyian melanda, membuat ku semakin bingung, namun walau begitu Aku terus berpikir keras.


"Apa maksud mu kucing besar?" Karena lelah dengan pemikiran keras itu Aku pun bertanya.


"Kalau itu Kau akan tahu sebentar lagi." Jawabnya sambil membuat sebuah portal.


Aku yang mengerti akan hal itu berjalan ke arah portal tersebut namun terhenti karena si kucing itu kembali bertanya.


"Kenapa kau berpikir untuk reankarnasi? Tidak memilih surga?"


"Kalau itu.. karena kau membuatnya menjadi pilihan pertama dan Aku suka semua hal yang berhubungan dengan 'pertama'." Jawaban ku membuatnya terdiam sejenak.


"Dasar gadis gila." Ucapnya sambil memasang wajah tidak percaya dan malu dengan kelakuan ku, dia seperti merenungkan kata-kata yang tepat untuk mengatai ku dan singkat.


"Kau pikir hanya karena itu?" Ia mengernyit bingung.


"Jika Aku memilih opsi akhirat, memang Kau mengatakan surga. Tapi akhirat itu pada akhirnya ada dua pilihan lagi untuk ku. Tidak, semua makhluk hidup.


"Surga dan neraka."


"Jika dosa ku banyak, opsi akhirat ku menjadi neraka. Melihat kehidupan ku sebelumnya, Aku dapat merasakan banyaknya kesalahan ku. Lagi pula jika ku pilih akhirat Aku tidak akan bisa menikmati lagi masa-masa pasang-surut kehidupan dan memperbaiki diri."


"Di dunia ini tidak ada yang seinstan pilihan yang Kau buat. Meski mengatakan akhirat setelahnya surga. Itu tidak akan tetap menjadi sebuah surga."


"Hal itu sulit dicapai meski hanya dengan Kau tak sengaja salah menjadi sasaran dari malaikat maut. Akhirat tetap akhirat. Masih dalam keadaan antara surga dan neraka."


"Terlebih Aku sama sekali tidak pernah merasakan yang namanya kesenangan dunia."


"Kesenangan dunia ku itu.. entah lah, Aku tak tahu. Apakah ini salah yang di atas atau salah ku sendiri? Namun jika ku pikirkan dengan akal dewasa ku. Itu salah ku, dan ini-itu ujian ku."


"Keluarga? Aku memilikinya di sini dan di sana. Tapi perbedaan antaranya sangat besar. Aku menyalahkan dan terus menyalahkan baik pada Tuhan atau diri sendiri di sana, padahal meski tidak lengkap Aku masih memilikinya."


"Bahkan mereka yang di lapisan sebrang menertawakan ku. Terlebih Mereka mengatakan sesuatu yang benar, Aku tidak bersyukur. Aku masih merasa malu jika mengingatnya."


"Namun di sini.. Aku mencoba sesuatu yang baru. Lebih terbuka dan mencoba menutup semua yang telah membuat ku sebelah mata.."


"Waktu itu, Aku tidak pernah menjadi dewasa, meski sudah membuat perusahaan terbesar menjadi tak tertandingi. Umur matang. Menilik catcall Ice Princess dari para pria mau pun wanita."


"Sempurna? Aku selalu mengumpat mereka dengan berbagai rasa menyalahkan ku. Jika ku luaskan lagi Aku mewatakkan diri sebagai anak-anak dan pemikiran manusia tersial. Takdir ku salahkan, artinya juga menyalahkan Tuhan, kan?"


"Jadi, opsi ku hanya tersisa bereankarnasi. Entah bagaimana saat itu, Aku berpikir di dunia yang baru ini Aku bisa menjadi lebih baik. Berhenti menyalahkan Tuhan, menyayangi sekitar, mengikhlaskan sesuatu dan menjadi lebih kuat."


"Dewasa sudah ku buat saat ini, dengan tubuh anak kecil yang bahkan masih jauh menuju masa matang. Tapi, Aku tetap membuat itu berkembang. Aku sudah kembali bisa membuka hati sepertinya. Juga.. Aku.."


Tiba-tiba portalnya bergerak sendiri ke arah ku, sehingga membuat ku masuk ke dalamnya tanpa perlu diri ku berjalan ke arahnya.


"Kau banyak bicara juga ya, gadis gila? Jika terus di lanjutkan tidak akan ada habisnya." Ucap kucing besar itu dengan nada lelah.


...****************...


Saat aku membuka mata. Aku menemukan diri ku sudah berada di kamar ku kembali, Aku pun bangkit dari tidur ku dan sekarang Aku dalam posisi duduk.


'Kucing aneh'


Pikir ku karena dia hanya bertanya dan menjawab tentang hal-hal aneh yang membuat ku bingung. Kemudian mengusir ku dengan santainya tanpa bicara apa pun.


Aku tadi tidak sempat mengatakan kalimat terakhir. Karena waktu yang tidak memihak. Jika ku jelaskan bagaimana pemikiran ku itu, akan lebih dari itu.


Gak ada ngomong makasih-nya lagi.


Cih, menyebalkan.


...----------------...

__ADS_1


Terimakasih sudah membaca novel ini.


Maaf jika ada kesalahan karena ini novel pertamaku.


__ADS_2