My Antagonist Life Reancarnation

My Antagonist Life Reancarnation
Bab 2 : 2


__ADS_3

Sebuah sinar terasa menusuk mataku, yang artinya kini Aku telah sadar. Aku membuka mata dan mendapati sekelilingku berwarna putih dengan lantai seperti sebuah air sungai yang amat dalam namun biru jernih.


Meskipun dapat mengetahui di bawahku adalah sesuatu yang dapat menjadi lantai, tapi saat ini Aku sedang melayang. Merasa bukan pertama kalinya, Aku hanya berusaha menyesuaikan diri dengan menginjakkan kaki ke lantai tersebut.


Rasanya masih menyakitkan walau sudah berpuluh-puluh atau bahkan beratus-ratusan kali aki memimpikan mimpi buruk seperti hal itu.


Seharusnya Aku sudah terbiasa karena lebih dari beberapa ratus kali. Dan, tentu saja, mimpi-mimpi buruk itu menjadi sesuatu seperti sebuah latihan bagiku.


Saat ini di depan ku terdapat sebuah titik asap kecil yang terus berputar dan membentuk sesosok pria tampan(?) yang sedang duduk bersila dengan di hadapannya sebuah meja kecil dan sebuah set teko teh.


"Selamat pagi, semoga mimpi mu indah." Ucapnya sambil meminum teh dengan elegannya.


"Sayang sekali mimpi ku sangat buruk seperti sebelum-sebelumnya." Ucapku sambil duduk bersebrangan dengan pria tersebut.


"Annie, bukankah sudahku bilang lebih baik menjauh dari pria aneh ini." Ucap seorang pria dengan tanduk di kepalanya dengan nada tidak senang terhadap pria di depannya itu, terbukti dari panggilannya untuk pria tersebut.


Entah kapan yang pasti pria tersebut tiba-tiba berada di atasku, yang artinya saat ini dia sedang melayang(?), tidak, kata-kata itu sedikit kasar, lebih tepatnya terbang dan dengan posisi terlentang dan tangan bersandar di belakang kepalanya.


"Lucifer, tidak sopan. Turun dan duduk di samping ku." Ucapku sambil meminum teh yang di seduh oleh pria sebelumnya.


Tidak ada suara yang terdengar, karena pria yang ku sebut sebagai 'Lucifer' tersebut menjawab dengan gerakan.


Dia bergerak untuk duduk tepat di sampingku. Dia terus memandangi pria yang tidak di sukainya itu dengan tatapan penuh permusuhan.


"Kau tidak akan pernah berusaha berbuat baik padaku, tapi sekarang kau melakukan perbuatan baik." Ucap pria sebelumnya dengan nada menginterogasi namun bersikap tenang.


Tidak ada seorang pun yang berbicara. Kesunyian terus ada selama beberapa saat, hingga akhirnya Aku mengangkat suara guna menjawab pernyataan pria itu.


"Berbuat baik apa yang Kau maksud?" Tanyaku.


"Mengacuhkanku." Jawabnya.


"Biasanya Kau tidak pernah memperdulikan." Lanjutnya.


"Hmm~" Acuhku terhadap penjelasan singkatnya.


Setelah itu keheningan kembali melanda karena Aku masih ingin menghabiskan teh tersebut, sangat mubazir karena jarang Aku bisa minum seperti ini. Atau lebih tepatnya lagi Aku mau seperti ini, meski minuman ini tidaklah nyata. Seperti virtual jika di sandingkan dengan dunia modern.


Biasanya Aku tak acuh pada setiap ajakannya atau perkataannya karena semua itu kebanyakan hanyalah omong kosong.


Mulutnya itu benar-benar besar sekali, tidak tahu apakah itu gara-gara minyak pelumas yang di minumnya atau tidak ada rem saja?

__ADS_1


"Baiklah, Aku ingin ke topik utama." Ucapku setelah selesai menghabiskan teh itu.


"Bukankah Kau ingin menyerap mana? Seperti biasanya." Ucap pria itu dengan wajah kebingungan.


Menyerap mana memang keinginanku tapi saat ini itu bukanlah sebuah prioritas untukku. Ada hal yang lebih penting dan tidak bisa di tunda, menyerap mana itu bisa di lakukan lain kali, jika Aku menjadikannya prioritas.


Kalau di pikir-pikir, jika membunuh monster atau semacamnya bisa meningkatkan level. Maka kenapa rasanya Aku pernah berpikir menyerap mana juga bisa meningkatkan level?


Mungkinkah ini efek dari membacanya satu tahun lalu sebelum Aku berisekai? Di tambah berbagai macam novel atau komik Sci-fi dan semua yang berhubungan dengan non-reallife sudahku baca.


Lho? Kok kesini topiknya?


Lupakan saja dulu narasi itu.


"Tentu saja bukan, Aku ingin kau menjadi satu denganku." Ucapku dengan ringkas.


"?!" Pria itu menampilkan wajah terkejut. Ada apa ya? "A-astaga, Annie. Aku bukanlah seorang pedofil." Ucap pria itu dengan terkejut.


"??" Hah? Pedofil? "Apa hubungannya akan hal itu? Aku hanya ingin kau menjadi seperti.. umm.. apa ya? Mungkin.. ikatan?" Ucapku karena bingung dengan kata-kata tepatnya.


"Karena kau itu seperti roh maka tidak cocok jika disebut ikatan. Sebenarnya apa yang kau pikirkan hingga sampai ke pedofil?" Nyataku dan tanyaku lagi karena masih bingung dengan apa yang dia maksud.


"Ti-tidak Aku hanya asal bicara saja." Ucapnya dengan wajah yang seolah mengatakan


"Pfft-" Kami berdua menoleh ke arah sumber suara. Menatap bertanya.


"Maaf, maaf. Aku hanya berpikir kemana jalannya otak mu itu." Ucap Lucifer sambil menahan tawa akan sesuatu namun Aku tidak apa itu.


Pria putih ini malah meladeni hal itu, padahal Aku tadi bertanya. Benar-benar buang-buang waktu saja.


"Karena Aku tidak mempunyai banyak waktu, jadi apakah jawabanmu 'Iya' atau 'Tidak'?" Tanyaku langsung pada intinya.


Terlihat sebuah aura dan mimik wajah yang melihat seperti curiga. Aku dapat melihat yang ia pikirkan bukanlah tentang jawaban tetapi sesuatu seperti mencurigai.


"Jika Kau tidak mau tidak apa-apa, Aku tidak akan memaksa. Karena sudah ada Lucifer." Kataku karena dia berpikir begitu lama, sehingga waktu ku terbuang sia-sia. Tapi kenyataan tentang dia tidak terlalu di butuhkan itu adalah kenyataan.


"Jadi untuk apa kau mengatakan itu?" Tanyanya dengan raut wajah kesal namun sepertinya dia sedang menahan rasa kesalnya itu.


"Sebentar lagi tempat ini akan hilang." Ucap ku sambil tersenyum kepadanya senyum ini bukan senyum bermakna atau apapun itu, hanya senyum.. kelicikan yang akan terjadi.


"Yang artinya Kau sudah tidak akan lagi bisa menikmati semua yang sudah atau akan tercapai olehmu." Senyumku masih belum pudar, namun sepertinya kesan dari senyum dan ucapanku sangat mengerikan untuknya, jadiku hilangkan saja senyum itu.

__ADS_1


"Ba-bagaimana bisa?" Tanyanya dengan raut wajah tak percaya, namun hanyaku jawab dengan senyum hangat. Menurutku itu.


Sebuah isyarat tangan yang mengartikan sesuatu yang 'kecil', nampak membuat raut wajah bingung darinya. Tapi setelahnya ia nampak mengerti.


"?! Jangan-jangan.." Kejutnya. "Klan kecil itu masih berdiri rupanya." Lirihnya dengan nada tidak percaya.


"Ya atau Tidak?" Tanyaku dengan nada sedikit kesal karena pertanyaanku belum dijawabnya.


"Tentu saja iya. Aku ingin melihat keluar sekali lagi." Jawabnya dengan nada kesal juga.


"Tapi dari mana Kau tahu akan hal itu?" Tanyanya dengan hati-hati.


"Kalau itu.." Jawab ku dengan sedikit jeda.


"???" Terlihat pria itu sedang menunggu jawaban, tidak, ternyata Lucifer juga.


"Entahlah, Aku juga tidak tahu bagaimana bisa." Jawabku serampangan. Dapatku lihat dia sedikit mematutkan wajahnya. Lucifer juga.


"Kalau begitu Aku ingin mengganti jawa-" Ucap pria itu namun tersela olehku.


"Kau tidak boleh menarik kata-kata." Ucapku tegas, membuat dia tidak bisa berkata-kata. Sungguh malas Aku melihatnya begitu plin-plan.


Percakapan berakhir dan kami melakukan sebuah perjanjian ikatan. Dimana Aku yang membuat perjanjian itu. Karena malas berbicara dengan orang luar Aku pun menetap di dunia alam bawah sadar itu selama beberapa hari di dunia nyata.


...****************...


[Author tercantik POV]


Di sebuah tempat terlihat sekelompok pasukan sedang berjalan menuju sebuah tempat di balik gunung. Mereka terlihat memakai pakaian hitam seragam dengan sebuah pedang di pinggang mereka. Namun ada juga yang tidak menggunakan pedang.


Mereka terlihat sedang mendirikan tenda-tenda, ada beberapa kelompok juga yang memasak. Dapat di lihat dari kegiatan yang mereka kerjakan bahwa mereka sedang berkemah di sana.


Berbagai macam bunyi terdengar karena setiap orang sibuk melakukan sebuah pekerjaan. Sementara ada beberapa orang yang berkumpul di sebuah tanah lapang. Tidak terlalu jauh dari orang-orang yang sedang mendirikan tenda.


"Tujuan kita sudah tidak lama lagi, setelah itu semua orang sudah bisa tenang. Namun sepertinya akan ada sedikit kesulitan yang menghambat kita." Ucap seorang wanita yang sebelumnya di panggil sebagai ketua.


Wanita tersebut sedang melihat langit, juga matahari yang sedang menurunkan diri. Dengan pedang yang berdiri di depannya dan kedua tangannya bertumpu di ujung gagangnya. Tampak sangat berwibawa. Baju yang di gunakannya sama seperti orang-orang yang sebelumnya.


Namun ia memakai haori putih dengan corak garis-garis berwarna hitam dan perpaduan antara warna merah muda menjadi ungu di bagian pinggirnya, warna yang sangat mendominasi dengan wajahnya yang terlihat lembut.


"Apa itu?" Ucap seorang wanita berdada besar dengan seragam yang sama namun ia memakai haori putih tanpa corak. Sangat cocok dengan warna rambutnya dan pakaian yang sedikit di modifikasi olehnya, atau Aku salah lihat? Entah lah, yang pasti seorang Author tidak pernah salah.

__ADS_1


"Mitsuka, Kau akan tahu nanti." Jawab wanita yang di panggil sebagai Ketua terhadap pertanyaan dari gadis tersebut yang ternyata namanya adalah Mitsuka.


"Tidak tahu 'nanti' itu, akan berapa lama yang di butuh untuk dapat tahu dan melihatnya." Lanjutnya.


__ADS_2