
"Oi! Aksesoris! Cepat lah! Sebelum dia melarikan diri!" Teriak pria tersebut guna menyuruh temannya itu untuk lebih cepat.
"Berisik Kau pawang ular sialan!" Jawabnya dengan sedikit(?) emosi.
"Karena itu cepat lah!"
"Tidak perlu teriak-teriak juga!"
"Kau sendiri yang teriak-teriak!"
"Itu karena kau teriak-teriak duluan!"
"Terserah kau saja! Dan diam tidak usah menjawab lagi!" Teriak pria dengan ular yang melilit di lehernya.
Setelah kata-kata tersebut terucap mereka akhirnya mengakhiri aksi teriak-teriak mereka. Selama beberapa saat mereka menyusuri jalan yang ada untuk ke tempat tujuan, akhirnya sang pria dengan ular di lehernya menyuruh temannya untuk berhenti.
"Apa.. itu?" Ucap pria yang penuh pernak-pernik atau aksesoris itu dengan nada bingung, karena sulit di jelaskan sesosok di depan mereka.
"Siapa kau? Tidak. Makhluk apa kau ini?" Tanya pria dengan ular di lehernya itu dengan nada tegas, yang di padu dengan perawakan tenang.
"Khekhekhe, kalian tidak perlu tahu aku ini apa atau siapa. Karena kami hanya meminjam sebentar, setelah selesai akan kami kembalikan. Dan ah~ Kami tidak tahu dalam keadaan apa pun itu, entah hidup atau mati."
Makhluk di depan mereka tidak lah terlihat seperti monster atau pun iblis, dengan bentuk yang sangat aneh. Ia berpostur seperti layaknya manusia pada umumnya, namun dengan bentuk yang tidak karuan.
"KAU?!" Teriak pria dengan ular di lehernya sambil melangkah maju namun terhenti oleh satu temannya itu yang menghalanginya dengan tangannya.
"Tenang lah, jangan terpancing." Mendengar ucapan temannya itu dia hanya mengangguk dan berdecih tidak suka.
"Apa mau kalian?" Tanya pria yang penuh dengan aksesoris tersebut sambil mengangkat dagunya dengan gaya sombongnya.
"Entah lah~ Mungkin mengajukan pernyataan perang." Jawab makhluk tersebut dengan nada yang memprovokasi.
Ada wajah datar dingin yang menusuk di wajah ke dua pria itu. Tak selang beberapa lama, seringaian lebar yang cukup menakutkan muncul di wajah mereka berdua, menggantikan posisi yang seharusnya memberikan reaksi pada umumnya di berikan orang-orang.
"Ah~ Benar. Tapi.. sepertinya, kami yang akan bersenang-senang?!" Ucap pria dengan ular di lehernya itu yang sambil menyerang makhluk aneh tersebut.
Cincin di jarinya pada bagian permata kecil bersinar. Mengeluarkan sebuah pedang dengan ciri khas ular pada bagian sarungnya. Pedang tersebut dengan gesit langsung ia tangkap dengan tangan kiri. Dia melompat sambil memberi kuda-kuda untuk mengeluarkan pedangnya.
Di keluarkannya pedang itu dari sarang menuju ke arah tubuh makhluk aneh tersebut. Serangan dahsyat itu di tangkis olehnya. Pedang- tidak. Itu terlihat seperti katana. Katana itu memotong sedikit bagian tangan makhluk aneh itu, hingga mengeluarkan darah yang cukup banyak di karena luka tersebut juga cukup dalam.
Ia berdecih karena serangannya di tangkis. Dia melompat mundur kembali beberapa langkah ke belakang.
__ADS_1
"Apa pun caranya tangkap dia! Melakukan penyegelan pun tidak apa!" Teriak pria yang penuh dengan aksesoris tersebut sambil terus menyerang makhluk aneh tersebut.
Di tebasnya lengan kanan makhluk aneh tersebut. Seolah sengaja, di lakukannya goresan-goresan kecil namun cukup pedih di beberapa bagian tubuh makhluk aneh tersebut.
"Apa-apaan ini?! Tidak ada informasi tentang Mereka?!" Pikir makhluk tersebut dengan penuh kebingungan karena sudah terpojok oleh mereka berdua.
"Ahahaha! Kau sepertinya kekurangan informasi, ya?!" Teriak pria yang penuh dengan aksesoris tersebut yang masih menyerang makhluk aneh tersebut.
"Apa-apaan ini!? Reaksi dan kekuatan mereka tidak seperti nama tempat mereka berabdi! Kabur! Aku harus segera kabur dan memberi tahu X-sama!?" Pikirnya lagi.
Saat hendak melakukannya, tiba-tiba terasa sebuah mana asing dan gemerisik dari arah semak-semak di belakangnya, agak jauh memang. Namun cukup untuk dapat merasakannya.
"Semuanya Aku datang untuk membantu kalian!" Ucap wanita cantik berdada besar sebelumnya.
Berdiri tepat beberapa meter dari makhluk aneh. Yang di mana makhluk itu nampak belum siap karena tiba-tiba. Tidak ingin kehilangan kesempatan yang cuma datang sekali. Gadis itu langsung memfokuskan mana-nya membentuk sesuatu yang sesuai dengan mantra yang ingin di gunakannya.
Setelah beberapa saat kemudian, di sekeliling makhluk aneh tersebut, terdapat sesuatu seperti rantai namun nampak memiliki serat seperti tali tambang, lalu benda itu mengikat makhluk aneh tersebut.
"Ah~ Sepertinya Aku tidak bisa bermain-main lagi." Ucap pria yang penuh dengan aksesoris itu sambil menaruh kedua tangannya di belakang kepalanya.
"Hah~ Sudah ku duga kalian hanya ingin bermain-main." Ucap wanita tersebut.
"Hah~ Bagaimana jika tuan tahu akan hal ini? Bukan kah kalian harus memikirkan konsekuensinya." Lanjut wanita itu dengan mata yang tertutup sebelah, mata sebelahnya lagi nampak melirik. Yang seakan memberikan sebuah kode.
"Yatta~ Zui-san akan mentraktir ku~" Ucap wanita itu dengan nada bahagianya, dan yang ternyata pria yang penuh dengan aksesoris itu bernama Zui.
"Oi, pawang ular." Ucap Zui.
"Aku punya nama, bodoh." Ucap pria dengan ular di lehernya.
"Baik, baik, bo~doh." Ejek Zui dengan nada bercandanya.
"Mau ku beri tahukan ke Tuan?"
"Haha, maaf hanya bercanda, tidak perlu di masukkan ke hati, Naguro. Dan jangan lupa kau bantu bayar setengahnya." Ucapnya, yang ternyata pria dengan ular di lehernya itu bernama Naguro.
"Ugh- Aku mengerti." Jawabnya dengan pasrah.
"Baiklah ayo semua kita kembali ke tempat Ketua, dan pakai teleport saja." Ajak Wanita tersebut yang di jawab dengan anggukkan oleh ke duanya.
Mereka kembali dengan menggunakan teleportasi sambil membawa makhluk aneh tadi. Ruangan yang di dominasi warna terang, Terdapat orang-orang yang sedang berkumpul di sana. Ekspresi mereka menampilkan seolah memang sedang menunggu orang-orang yang datang ini.
__ADS_1
"Ketua, kami kembali, tapi.. itu.." Bata Zui.
"Ada apa? Katakan saja."
"..itu.. Nona Annie, tidak di ketahui keberadaannya sekarang. Mereka sepertinya telah membawanya." Ucap Zui.
Orang yang bertanya tersebut nampak sedikit tersentak, namun dengan cepat ia menampilkan ekspresi lembut dan hangat.
"Ya, tidak apa. Dan apa yang kalian bawa itu?" Jawab orang yang mereka sebut 'Ketua'.
"Ini...umm.. makhluk menjijikkan yang hidup(?)." Jawabnya dengan nada bingung, karena tidak tahu apa nama dari makhluk yang mereka bawa.
"Eeh.. baiklah. Aku mengerti." Jawab Ketua yang mereka panggil sebelumnya dengan nada bingung.
"Oi, sialan, Aku mendengarnya!" Ucap makhluk aneh tersebut, namun tiba-tiba sesuatu seperti tali muncul dan menutup mulutnya.
"Maaf tapi kami tidak butuh pendapatmu, makhluk menjijikkan yang hidup." Ucap wanita yang sebelumnya dengan senyum manis di wajahnya, yang di mana kata-katanya itu membuat makhluk menjijikan tersebut protes. Geraman tertahan terdengar darinya di karenakan mulut yang tertutup.
"Kalau begitu laporkan masalah ini kepada Tuan." Ucap ketua yang mereka sebut sebelumnya.
"Baik!" Ucap ketiganya kemudian menghilang menggunakan teleportasi bersama dengan 'makhluk menjijikkan yang hidup' tersebut.
"Kalian juga, kembali lah."
"Baik!" Jawab orang-orang yang memakai baju seragam yang sama dengan orang-orang sebelumnya dan melesat pergi.
"'Ketua'? Kenapa Ibu di panggil 'Ketua'?" Tanya seorang anak kecil berusia sekitar 6 tahuanan.
"Itu karena Ibu adalah Ketua dari Divisi Pilar di klan Kainigose." Jawabnya.
"Kainigose?" Tanya anak itu lagi.
"Benar, klan Kainigose adalah klan yang berasal dari bagian timur. Klan ini adalah klan kecil yang meluas hingga ke kerajaan lain. Mereka klan kecil yang di inginkan semua orang di kerajaan-kerajaan yang ada di dunia. Sebuah keberuntungan besar bisa menjadi salah satu anggota klan ini."
"Lalu.. Raan, Reen. Ibu harap kalian termasuk dalam klan ini." Ucapnya dengan penuh kelembutan, mendengar ucapan sang Ibunya itu kedua kakak beradik tersebut mengangguk.
"Ibu harap Annie dapat segera di temukan." Lanjutnya.
...----------------...
Terimakasih sudah membaca novel ini.
__ADS_1
Maaf jika ada kesalahan karena ini novel pertamaku.
Maaf juga kalo chapter kali ini kurang menarik karena saya lagi gak dapet ide (TvT)