My Antagonist Life Reancarnation

My Antagonist Life Reancarnation
Bab 1 : 1


__ADS_3

Memang sedikit membingungkan. Tapi sedari tadi, Aku merasa pernah melihat mereka. Rasanya sangat familiar sekali. Hmm~ Mungkin hanya perasaan ku saja.


"Dia benar-benar menggemaskan, boleh kah Aku menggendongnya?" Puji dan tanya seorang anak laki-laki berambut hitam kebiruan, atau biru kehitaman? Susah sekali jika ingin mendeskripsikan yang satu ini.


Ia terlihat sekitar kurang lebih berumur 4 atau 5 tahunan, dengan wajah yang seolah tersakiti yang saat ini berada tepat di samping kiri, umm.. mungkin Ibu ku?


"Hah? Apa? Aku tidak salah dengar. Orang ceroboh seperti mu bagaimana mungkin di perbolehkan, dasar bodoh." Ucap seorang anak laki-laki berwajah sama seperti anak di sampingnya


Kemungkinan besar mereka kembar, yang membedakan hanyalah rambutnya sedikit kebiru-biruan tua di ujungnya.


Dengan tangan kanannya yang memegang pinggang, membuatnya terlihat seolah-olah lelah dengan tingkah saudara kembarnya itu. Mungkin itu lah yang di sebut berkacak pinggang.


"Hah? Apa kau bercanda? Siapa kau? Hanya karena lebih tua beberapa menit dari ku saja, sangat sombong. Apa lagi 4 tahun. Hmph!" Balas anak itu karena merasa tidak senang jawabannya itu malah di balas oleh orang lain. Yang apa lagi kemungkinan besar Dia adalah sebagai kakaknya itu.


Yang di maksud pun, hanya bersiul ria sambil mengorek kuping. Sungguh memperlihatkan secara jelas bahwa Ia benar-benar tak peduli dengan omongan dari kembarannya, dan hanya menganggapnya sebagai angin lewat saja.


"Kali ini benar-benar akan ku bunuh kau jika sudah waktunya, dan keadaan memungkinkan." Ucapan kembali terdengar dari anak yang terabaikan itu, karena kekesalan yang amat mendalam. Terbukti dengan perempatan merahnya urat, di kepala. Namun, wajahnya masih tersenyum ria seolah sedang menenangkan diri.. mungkin.


Dan apa-apaan dengan sumpah mu itu kakak kedua ku? Kau bersumpah ingin membunuhnya tepat di depan keluarga mu saat ini. Benar-benar nyali yang kuat.


"Hahaha, kalian ini memang selalu akur, ya?" Kali ini A...yah ikut berbicara sambil menekankan kata 'ya'-nya itu, di tambah wajah yang menampakkan sebuah kebahagiaan karena kedua anaknya itu.


"Y-ya tentu saja, Ayah." Oh? Apa ini? Mental mereka menciut? Hmm.. wajar saja sih sepertinya kata-katanya agak menyeramkan. Bagi mereka.


Apa lagi kata-kata menyeramkan yang di padu dengan wajah tersenyum adalah hal yang bagus untuk menakuti orang-orang agar diam.


"Jadi, apakah kalian sudah memikirkan nama untuknya?" Tanya wanita yang mungkin Ia itu adalah/atau harus ku sebut 'Bibi'-ku saat ini.


"Ah, benar juga, apakah kalian sudah memikirkannya?" Pertanyaan yang di ulang cukup bagus dari 'Paman'-ku ini.


"Umm... Aku sudah memikirkannya, namanya adalah Annabella, Annabella Lizabethen."


"Oh." Antagonis ya.. sudah ku duga akan seperti ini. (Apanya hei! Kau tak usah sok tau!)


Ku pikir akan sesuatu yang lebih bagus. Ternyata cuma jadi antagonis saja. Tidak kah sesuatu menjadi menarik? Ini sudah menjadi dugaan ku.

__ADS_1


(Serius Aku kesal hei!)


"Hohoho, nama yang bagus." Puji sang bibi ku ini.


"Hehe, jadi masih bisakah aku menggendong Bella, Ibu?" Pertanyaan itu terucap lagi dari kakak kedua ku itu.


"Oh! Bagaimana kalau panggilannya menjadi 'Annie'?" Tanya sang kakak pertama ku itu.


Sepertinya Dia memang sengaja memotong pembicaraan kakak kedua ku itu. Dan ku pikir itu cukup bagus. Entah kenapa panggilan itu seperti nama ku di kehidupan sebelumnya.


"Jangan memotong pembicaraan orang lain, bodoh." Kakak kedua ku terlihat kesal sekali karena pertanyaannya di ganti dengan pertanyaan orang lain, yaitu sang kakak.


"Itu ide yang bagus, Raan." Jawab Ibu ku tanpa peduli dengan bagaimana perasaan kakak kedua ku itu yang terabaikan untuk kesekian kalinya.


Benar juga nama kakak pertamaku itu Raan atau bisa juga Raanse. Bagaimana nama sesingkat itu aku bisa lupa. Salahku, karena aku juga lupa nama kakak kedua ku saat ini.


"Jadi, apakah Aku boleh menggendongnya, Ibu?" Pertanyaan yang kesekian kalinya di tanyakan oleh kakak kedua ku itu.


"Kau masih menanyai tentang itu?"


"Apakah kamu mengantuk, Annie? Apakah kau ingin tidur? Tidurlah sayang~"


"Tidak"


Terima kasih atas kepedulian mu Ibu. Tapi Aku belum mengantuk, karena pembicaraan kalian saat ini begitu penting. Masih banyak yang belum ku ketahui, meski sudah pernah membaca novel dan komiknya, tapi itu sekitar kurang lebih 1 tahun yang lalu karena novel dan komiknya sudah tamat.


Masih banyak ilmu yang ku.butuhkan untuk dunia ini. Seperti apakah mana bisa di serap dari bayi? Jika tidak salah ingat, Annabella adalah antagonis lemah yang hanya tahu bagaimana menggunakan nama keluarganya, nama tunangannya dan kekuasaannya.


Dari yang ku ingat, dunia novel ini hanya membicarakan bagaimana diri sang pahlawan wanita kita, menjalani kehidupan sehari-hari saja. Dan rintangan yang di hadapinya untuk bersatu dengan pangeran tersayangnya itu.


Sangat jarang menceritakan tentang kejadian yang ada di dunia ini saat itu. Jika pun ada, itu tidak secara menyeluruh. Jadi pengetahuan yang di dapat hanya konflik dan resolusi untuk sang pahlawan wanita kita.


"Sepertinya ia masih belum ingin tidur, baiklah." Pernyataan itu membuat ku merasa bersalah saja.


"Ibu, kau sudah mengabaikan ku untuk ke empat kalinya. Bagaimana mungkin Kau mengabaikan anak mu sendiri ini." ucap kakak kedua ku itu dengan nada lemas yang dingin. Seolah lelah dengan sikap sang Ibunya tersebut.

__ADS_1


"Reen, kau mengatakan sesuatu? Maaf Ibu tidak mendengarkannya karena terus memperhatikan Annie."


Dan ya, benar sekali namanya Reense, hanya berbeda 'Raan' dan 'Reen'-nya saja ternyata.


"Aku ragu dengan hubungan kita sekarang." Waw~ Penggunaan kalimat yang tepat dengan sifat kalian, kau hebat kak Reense.


"Apa yang kau ragukan? Hubungan yang mana? Aku tak pernah ingat tentang hubungan kita?" Pertanyaan yang bagus, Ibu. Aku juga ragu bagaimana kalian bisa menjadi keluarga meski wajah kalian hampir mirip.


Mungkin kah kalian hanya berusaha memanipulasi diri dan otak kalian sendiri, dengan terus berpikir bahwa kalian adalah keluarga. Sehingga bisa memiliki sebutan-sebutan dalam suatu hubungan keluarga tersebut.


"Terserah lah." Suara malas yang berat begitu terdengar dari suara sang kakak ku itu, kasihan sekali diri mu itu Kak.


"Pfft- maaf." Kau benar, ini memang lucu Kak. Melihat orang terabaikan sampai kesal adalah tontonan yang menarik danterbaik, selama Aku di dunia ini.


Mungkin kah ke depannya akan lebih baik lagi? Kebahagiaan ku semakin banyak.


"Oi, Aku mendengarnya." Tegurnya dengan suara khas orang kesal, terlihat dari raut wajahnya itu.


"Oh, apa ini?" Sedikit aneh. Aku melihat seekor kupu-kupu di sini. Juga, dia sedang ke sini.


Selama beberapa saat melihat hal itu. Tanpa Aku sadari ternyata dari tadi Aku mencoba meraihnya. Suara apa yang ku buat ini, alien? atau sesuatu yang lain? Aku sama sekali tak tahu bahasa apa yang ku ucapkan.


Kupu-kupunya sangat indah, warna ungu yang sedikit di dominasi dengan warna hitam kemerah-merahan. Benar juga, Aku jadi kepikiran bagaimana dengan kebun bunga ku yang di penuhi kupu-kupu ya? Apakah mereka akan merawatnya untuk ku saat tahu hidup ku sudah berubah dimensi?


Rasanya aku sedikit rindu dengan mereka. Karena saat berkumpulnya kami sering sekali tertawa, bertengkar kecil, memakan kue yang ku masak dan semacamnya. Walau sebenarnya Aku hanya nimbrung saja.


Apakah mereka sedih sekarang ya? Dari semua yang ku ingat aku lah yang saat berkumpul dengan mereka paling jarang, padahal kami punya kesibukan yang sama.


"Ada apa Annie? Eh? Kupu-kupu?" Ibu ku sepertinya memperhatikan tangan ku dan melihat ke arah mana tangan ku berusaha menggapai.


...----------------...


Terimakasih karena sudah membaca novel ini.


Karena ini novel pertamaku jadi maaf bila banyak kesalahan.

__ADS_1


__ADS_2