
"Ujian dimulai."
Dalam tahap kedua kali ini Kami diberi sebuah tes. Seperti ungkap Mama sebelumnya. Mereka mengatakan judul tahap kali ini adalah 'Tahap kedua : Lisan"
Benar-benar sesuai judulnya. Kami diberi pertanyaan berpilihan, tapi memiliki makna lisan.
Mereka memberi soal tidak hanya tentang pelajaran yang biasa diberikan oleh guru-guru privat. Tapi juga sebuah pertanyaan dan pernyataan yang bisa dibilang pribadi.
Andai saja kami diberi kisi-kisi dan waktu untuk membaca sementara. Benar-benar seperti judulnya, kan? Lisan tapi ditulis.
Ditulis?
Sebenarnya bukan ditulis sih. Mereka memberi kami masing-masing sebuah alat yang mirip headset dan sebuah meja yang bisa disebut seperti sebuah alat elektronik. Mirip-mirip hologram tipis, tapi dalam bentuk seperti aplikasi dalam pad.
Tahukan apa itu aplikasi yang untuk jawab-jawab pertanyaan? Yang untuk SD atau SMP, soal-soalnya sesuai mata pelajaran dan cuma diacak-acak pas mau ngulang.
Lupakan!
Kenapa bahas aplikasi seperti itu!
Kami diberi sebuah pen untuk memilih atau menulis jawaban dari soal-soal ulangan— ujian ini.
Sebenarnya itu memang nama sesungguhnya dari benda-benda ini, kegunaannya juga sama seperti didunia modernisasi. Meski itu didunia serba mana ini, benda-benda seperti itu tidak mungkin tidak bisa ada, kan?
Awalnya para anak-anak yang lainnya kebingungan dan takjub akan semua benda ini. Tapi setelah diberitahu kegunaannya, hanya takjub.
Hehehe~ Tak sia-sia jurusanku yang apa itu namanya, Aku lupa. Yang pasti tentang TIK dan IPTek seperti itu.
Tapi, alat-alat seperti ini masih ada yang kurang. Karena sumber daya yang sulit disama-bedakan, jadi benda ini masih membutuhkan yang namanya pengaliran mana.
Tapi tenang saja, karena Aku sudah membuatnya menggunakan hanya sedikit saja. Sebenarnya masih uji coba, tapi karena Aku sudah mengetahui pucuk dari masalah pembuatan alat-alat ini, maka sekarang jadilah.
Aku membuat peralatan-peralatan ini disana. Banyak bahan yang bisa digunakan disana. Begitu lengkaplah istilahnya.
Cukup disini saja penjelasannya.
Setiap pergantian soal. Akan ada suara dari headset yang kami gunakan. Sistem ini kubuat sedemikian rupa seperti yang ada didunia penuh modernisasi itu.
Apakah mereka sedang mengetes psikolog dan IQ kami? Entah mengapa rasanya soal-soal yang kujawab seperti itu.
Terasa ada banyak ketegangan disini. Apakah mereka merasa ini benar-benar harus diseriuskan? Anak-anak ini sangat serius sepertinya.
“Annabella Lizabethen. Nomor 629, tempat 3. Selesai.” Suara sistem berujar, membuatku sadar bahwa Aku telah selesai.
Terdapat sebuah tulisan loading atau processing pada layar monitor dari meja elektronik yang lupa, apa ya kemarin kunamakan?
Entahlah, yang pasti dapat terlihat sekarang sesuatu yang berisi biodataku dan nilai dari ujiannya.
Nilai?
Huh! Mana mungkin ada. Ini sedang ujian yang bisa dibilang tanpa memberitu nilai asli. Nilainya rekayasa semua!
Meski kami tidak akan diberitahukan hasil dari jawaban kami pada akhirnya.
__ADS_1
Dikarenakan Aku yang sudah selesai, Aku diminta untuk segera ke ruangan tahan terakhir.
Kupikir itu akan dilakukan besok. Ternyata salah, hari ini juga pelaksanaannya. Hmm.. sepertinya mereka dikejar oleh waktu untuk banyaknya peserta.
Memang sih, kemarin kupikir akan hanya sekitar seratus atau dua ratus. Karenakan, hanya kurang lebih seratus anak yang kuajak mengikuti ujian ini. Anak-anak yang lain (para A-0) termasuk hitungannya juga.
Aku dituntun ke sebuah portal. Sepertinya Kami akan berkumpul di tempat baru. Apakah mereka sudah selesai? Kuharap belum dan tidak akan pernah.
(Itu doa neng?)
Saat memasuki portal itu ada sebuah rasa geli, seperti berputar-putar.
Rasa menggelitik itu hilang, digantikan dengan pemandangan yang, wah!
Tapi jika Kau baru pertama kali kesini, karena ini bukan pertama kalinya. Bahkan Kami pernah tinggal sementara disini. Apa ya namanya, Aku lupa, kantor pusatkah? Entahlah Aku lupa.
Pandangan mata orang lain yang sudah selesai tertuju padaku yang baru sampai ini, begitu terasa sorot mengintimidasinya.
Oh, ayolah~
Aku ini hanya anak kecil, tidak bisakah kalian semua berhenti memandangku dengan tatapan seperti itu. Memang untuk jiwaku saat ini tidak menakutkan, tapi kulitku rasanya jadi aneh.
Seperti merinding ketika melihat wajah yang tembus dari dinding. Begitu mengejutkan dan panas dingin, apalagi Aku akhir-akhir ini sering melamun.
Jadi meski wajah mereka tak menakutkan tapi itu mengejutkan. Sepertinya pernah ada saat ketika Aku sedang berjalan ke ruang makan.
Aku sedang memikirkan event kecil-kecilan untuk latihan kami, tapi tiba-tiba monster itu melintas. Reflek bertahan hidupku membuatku mengeluarkan sihir ledakan.
Dan, Bam!
Saat dia bertatap denganku hanya berkata 'Ah!'
Si*lannya monster itu malah kabur. Mama mengerti akan perilaku monster itu. Terlebih monster itu sudah disucikan kata Mama, jadi dibiarkan.
Jujur Aku masih kesal mengingatnya.
Jauh sekali ya melencengnya..?
Orang-orang yang sudah selesai begitu sedikit. Bisa dibilang gugur seribu tumbuh satu. Waw! Kiasan baru~ Haruskah Saya nyanyikan lagu 'Gugur Bunga'? Karena begitu impresif bagi saya.
Sebuah suara berdehem dikeluarkan, terdengar begitu sengaja. Tentu saja suara itu menarik perhatian yang lain, termasuk Aku tentunya.
Itu adalah suara dari hewani yang menyebalkan. Ya. Itu si kucing gendut. Dia sepertinya merasa Aku tidak menyadari dirinya. Terasa dikacangi kah? Haha
Hmm..
Panggilan 'kucing gendut' sebenarnya cukup merepotkanku. Tapi sayangnya Ia tak pernah memberitahu namanya yang asli padaku. Yah.. salahku juga, karena tidak bertanya.
Waktu ingin bertanya pemikiran logis terlintas di kepalaku begitu saja. Jika tahu namanya pun percuma, pada akhirnya Kami akan memanggilnya dengan panggilan kucing gendut.
Tapi sekarang Aku merasa kucing ini ada sesuatu yang sedikit merepotkan juga ya.
Aku tidak berniat mendekatinya, jadi Aku hanya berjalan lurus ke tempat kosong. Berdiri seperti yang lainnya. Meski ada beberapa yang bergaya seperti preman, jongkok sambil berwajah sinis. Ingin sekali menggeplok wajahnya.
__ADS_1
Kucing gendut itu merasa terabaikan sepertinya, karena dia mengoceh-ngoceh tak jelas sambil ke arahku.
Suka sekali Aku wajahnya. Penghibur hati.
Terkadang juga Aku kesal dengan wajah tak bersahabatnya itu, meski Kami tahu jika sifat dan penampilan sombongnya berbanding jauh.
"Oh! Ada kucing gendut toh. Kupikir tadi boneka berjalan." Tak ada niat mengejek, sebenarnya sedikit memuji. Tapi sepertinya sifat angkuhnya itu malah salah menafsirkannya.
Haduuhh! Pekak deh kupingku!
Sekalian saja dia ngoceh hingga congekku keluar. Bodoh sekali rasanya. Tapi, apa ini juga salahku? Aku kurang dalam memuji makhluk bersifat sepertinya.
Jika itu sifat yang bisa kuanggap baik maka bisa kulancarkan pujian memalukan hati memerahkan wajah.
Seisi ruangan yang sepi sunyi ini membuat suara si kucing benar-benar terasa menggunakan pengeras suara.
Hah~
Wajah yang lain benar-benar sangat bersahabat sekarang. Karena kelakuan dan kata-kata si kucing gendut ini. Ada beberapa yang tertawa kecil pada salah satu kata-katanya.
Beberapa berbicara seolah merasa itu sesuatu yang lucu. Kucing ini banyak sekali sih kosakata kehidupannya.
Lebih-lebih Lucifer dan Rafael.
Tunggu— mungkinkah ini juga salahku karena melatih kosakata untuknya? Maksudku, kan sering sekali Aku membuatnya mengoceh-ngoceh kesal, jadinya seperti inilah.
"Jika ingin jadi pembawa acara jangan sekarang kucing gendut. Nanti saja, saat pembukaan ujian tahap ketiga." Aku membalas ocehannya karena mulai kesal. "Sekalian juga tidak usah pakai toak, sudah keras itu suaramu."
"Huh! Gadis gila! Kau mengejek muka bangsawan kelas tinggi dan suara manisku ini hah!"
"Ya."
"Awal bertemu saja Aku bisa memaklumi sikapmu! Tapi sekarang tidak ya!"
"Apa peduliku?"
"Sumpah ya! Bagaimana mungkin sifatmu itu bukan lembut atau pun tsundere seperti orang tuamu! Mengesalkan sekali! Jadilah sesuai gen orang tuamu kenapa!"
"Aduh manis! Sifat itu bukan turun dari gen, tapi dari lingkungan. Kemanakah semua keagungan dari sebuah keajaiban?"
Benar. Di dunia ini kucing sepertinya itu aneh jika di anggap sebagai peliharaan, mereka akan menganggapnya sebagai salah satu jenis monster.
Jadi, keajaiban itu terjadi ketika dirinya ada disini, dengan bentuk kucing manis, sifat menjengkelkan, dan bisa berbicara.
Biasanya sebuah keajaiban pasti memiliki sesuatu yang identik dengan agung, tapi kenapa dirinya itu melenceng sangat jauh hingga ke ujung kulon?
Apakah keajaiban yang dimaksud adalah sifat Mama yang begitu lembut sehingga bisa membuat si kucing diam ketika disuruh?
Entahlah, yang pasti—
"Hei! Kau itu bisa tidak dengarkan suaraku yang manis dan kata-kata agungku ini! Sebagai rakyat yang patuh dengarkan kata-kata agung rajamu ini!"
—jauhkan kucing liar ini!!
__ADS_1
Sumpah!
Bunuh boleh, kan?!