My Antagonist Life Reancarnation

My Antagonist Life Reancarnation
Bab 2 : 22


__ADS_3

"Mama?"


"Ya."


"Rumah kaca yang ada di taman Mama kan tidak terpakai. Boleh kah untuk ku saja?"


Wajah ku memang tak berekspresi tapi Aku yakin, mata ku sudah seperti memelas. Ku usahakan menjadi berbinar bila di lihat. Dan—


"Tentu saja. Tapi, untuk apa?" Mama bertanya balik.


—luluh!


"Menanam."


"Gadis gila. Ya apa yang ingin kau tanam itu, bodoh?" Timpal kucing gendut itu, dengan nada angkuh.


Tapi, habiskan dulu yang ada di mulut mu itu. Sebelum ku sumpahkan Kau tersedak. Baru tahu rasa Kau.


Tidak ku ucapkan. Hanya membentuk narasi satu paragraf, dalam sudut pandang utama sebagai diri ku.


"Banyak."


"Bisa diabetes Saya, jika Kau terus-menerus membuat ku makan asam." Ucapnya dengan perumpamaan yang sulit ku artikan.


Entah lah. Yang pasti, saat ini seharusnya Mama yang tanya-jawab. Kenapa malah Dia yang sewot dengan pertanyaan-jawaban aneh-anehnya itu?


"Apa yang ingin kamu tanam? Biar Mama bantu carikan benihnya, berikan saja daftarnya pada Mama nanti." Aku mengangguk.


Kemudian mereka terus bercengkrama dengan topik random. Apakah tak apa jika berbicara sambil makan? Entah lah, mungkin mereka memang selalu harmonis.


Walau begitu, dalam tata krama kan tidak ada yang seperti ini. Mungkin mereka memang mencoba menjadi keluarga yang harmonis, dan tata krama yang sesungguhnya bagi mereka adalah tentang sopan santun. Mungkin saja


Aku baru beberapa tahun di sini dan di keluarga ini. Jadi jangan salahkan Aku jika tidak tahu apa pun.

__ADS_1


......................


Cuit cuit cuit


Suara burung yang sedang berduaan benar-benar aneh. Karena, mereka saut-menyaut, tapi kata-kata yang mereka keluarkan sama semua. Jadi, sebenarnya apa yang sedang mereka lakukan?


Tidak hanya ada satu di sini. Ada banyak. Mungkin karena saat ini musim semi ya, karena itu mereka banyak yang berduaan ketimbang yang bertiga atau sendiri.


Mama sudah memesankan setiap benih yang ku minta. Awalnya banyak sekali pertanyaan dan interogasi dari Mama. Padahal Aku hanya memberikan daftar tanamannya, lalu ia baca. Tapi, setelahnya dia nampak seperti itu.


Tanaman yang ku minta adalah benih dan bibit dari, Aconitum Napellus, Atropa Belladonna, Acokanthera, Ricinus communis, Oleander, Wisteria, dan sebagainya. Serta, beberapa tanaman obat.


Aku tidak bisa menyebutkan semuanya, karena itu bisa membuat narasi ceritanya menjadi semakin pendek, dan alurnya tak sampai-sampai.


Memang nikmat minum teh sambil duduk di taman melihat alam. Terlebih cuaca yang mendukung. Awan menutupi matahari, namun masih dapat terasa hangatnya.


Coba saja jika matahari muncul dengan hangat yang sangat, tanpa awan. Jangan di tanya lagi Aku akan berada di mana jika itu terjadi.


Tunggu. Untuk apa narasi tentang cuaca tadi? Jika langsung ku tulis waktu, pasti sudah tidak perlu mendeskripsikan seperti itu. Sudah lah, lupakan.


Jika mengingat tentang sihir kembali. Aku baru mempelajari sihir tingkat rendah. Baru beberapa, tapi untuk setiap elemen beberapa-nya.


Setiap tentang mantra, Aku selalu mencoba untuk tidak menyuarakannya, itu sangat mengganggu menurut ku. Kebetulan sekali, Mama bilang melakukannya akan sulit. Jadi ku coba latih terus.


Lalu..


..Aku merutuk dalam hati.


Maksud ku.. hentikan efek menjadi OP ini! Aku baru mencoba beberapa kali karena kurang konsentrasi malah langsung bisa. Gila gak tuh?!


Jika terus seperti ini, Aku akan terlihat seperti belum pernah berusaha! Jika Aku terlalu OP tanpa usaha para pembaca akan kabur dan meninggalkan kita! Sudah lah! Kita keluar jalur lagi!


Atau karena Aku lebih sering membaca sesuatu yang bersifat magic makanya jadi cepat mengerti? Uugh.. yang pasti dapat tersimpulkan sementara, bahwasanya ini karena Aku dari dunia modern dan cepat tanggap, makanya jadi seperti ini.

__ADS_1


"Nona, waktunya mandi."


Lamunan ku buyar ketika Abel datang untuk memberi tahu ku sudah waktunya untuk mandi. Aku mengangguk sebagai tanggapan.


Kami menyusuri jalan menuju kamar ku. Saat sampai langsung saja ku masuki kamar mandinya. Tercium harum bunga melati.


Untung di dunia ini ada bunga itu, jika tidak entah bunga apa yang ku pakai sebagai wewangian. Aku menyukai bunga itu karena dia bisa menjadi minuman atau pun wewangian, juga karena tanaman itu adalah kesukaan keluarga ku di dunia sebelumnya.


Selesainya ku pakai pakaian atau lebih tepatnya gaun jaman abad pertengahan yang rumit dan berat. Untuk indah dan bagus. Jika tidak, akan ku desain dan ku buat sendiri pakaian ringan modern, tapi cocok bak di pakaian jaman ini.


Aku masih tahu jika pakaian dunia modern, apa lagi yang pendek, di pakai di dunia ini akan menjadi iming-iming tentang sesuatu yang vulgar.


Kami pun telah sampai pada meja masing-masing. Karena si kucing gendut yang paling akhir telah datang, Kami memulai makan malam dengan penuh ke harmonisasi-an.


"Benar juga. Raan, Reen, terutama Annie. Kalian di undang untuk mengikuti ujian masuk secara langsung oleh klan Kainigose. Apakah Kalian ingin ikut?"


Itu lah yang di katakannya. Tapi, auranya menyiratkan rasa seperti, rasa khawatir. Mungkin kah ada yang salah?


"Mama, khawatir?" Tersentak. Apakah ada sesuatu yang mengejutkannya?


"Konsep apa yang di gunakan dalam ujian masuknya?" Aku mulai bertanya, sesaat setelahnya.


"Tidak pernah berubah tiap tahun. Tahap pertama, bertahan selama tiga malam dua hari dari para monster. Tahap kedua, ujian dengan materi teori, entah apa pun materi yang di gunakan, dia harus sesuatu tentang teori. Tahap ketiga, Kami menyebutnya sebagai pemeriksaan aura. Untuk tahap ketiga Ibu kurang tahu bagaimana itu, hanya tuan yang mengerti dan tahu."


Begitu. Sepertinya, ujian masuknya memang tidak pernah di rubah. Sama dengan di novel dan komiknya. Padahal ku pikir, akan lebih sulit.


"Annie bilang Ibu khawatir. Apa yang Ibu khawatirkan?" Tanya Kak Raan. Dia terlihat begitu penasaran akan hal itu.


"Mama khawatir tentang kita jika kita menyetujuinya. Saat tahap pertama, yang paling menegangkan dan menyita nyawa."


"Annie, bagaimana Kau tahu?" Mama terkejut.


Tentu saja. Kan Aku yang bicara, sang reankarnator dari dunia modern dan nyata, ke dalam novel.

__ADS_1


__ADS_2