My Antagonist Life Reancarnation

My Antagonist Life Reancarnation
Bab 3 : 18


__ADS_3

"Kau tidak bisa terus meremehkanku seperti itu." Annie berjalan maju pelan. "Terlalu sering meremehkan, semakin banyak kelemahanmu. Kecuali itu memang hal yang nyata.”


Annie mulai mengeluarkan sebilah masing-masing pisau kecil di balik punggungnya. Kedua tangannya memutar pisau itu dengan lincah. Matanya menatap lurus dengan tajam.


'A-apa-apaan anak ini?! Aku bahkan sulit untuk bergerak!' Pikir orang yang memprovokasi tadi.


"Kami lengah tadi! Jadi sekarang persiapkan dirimu!"


"Tunggu!" Salah satu dari mereka menghentikan langkah temannya.


"Berapa peringkatmu?" Tanyanya pada Annie.


Sedari awal, pria yang satu ini selalu diam. Tak ikut meremehkan atau pun menertawakan.


Pandangannya sedari tadi selalu datar, yang terkadang mengernyit singkat. Lalu menutupinya dengan tampang tak peduli.


Annie hanya menatap bingung. Dia tak mengerti maksud pria yang lain dari yang lainnya satu ini.


"Kuganti pertanyaanku. Kau seolah memiliki level lebih besar dari Kami. Padahal, seharusnya Kau masih sekitar level 15-an?" Dia bertanya dengan menginterupsi


"Tahu atau tidak, semua ini bergantung pada keberuntungan, bukan?" Annie mulai melompat tinggi ke arah atas orang-orang itu.


Tangannya bersiap di depan, seolah ingin menyerang dengan merobek ke samping. Entah mengapa, pria yang tadi mencoba mundur.


Namun langkah dan keinginannya tidak sesuai. Seolah di ikat sesuatu pada kakinya, Dia sulit mundur. Kakinya tak dapat tergerak.


Dengan tanggap, langsung saja Dia menahan serangan dari Annie. Menangkis menggunakan sebuah belati. Sehingga menimbulkan dentingan.


Annie sudah dapat di pastikan tak akan mampu membuat hal yang di inginkannya tersampir begitu saja. Perbedaan antara kekuatan mereka begitu besar.


Sehingga Annie memundurkan diri dengan jarak kurang lebih 10 meter. Dia tak turun ke bawah, Dia sedang berdiri juga pada sebuah benang tipis juga.


"Aku bisa saja membanting Kalian menggunakan benang yang Kalian pijak. Meski Kalian lebih dariku berpuluh-puluh level. Jika takdir dan keberuntungan berpihak padaku, Kalian yang kalah." Dia menatap datar dan dingin. Lebih dari ekspresi yang biasa di gunakannya.


"Benarkah? Tapi, Kami bisa saja melepaskan benang tajammu ini karena takdir dan keberuntungan itu." Orang yang tadi berbicara, tak meremehkan, hanya sebuah kelogisan.


"Benar." Jawab Annie. "Seperti ini." Tangannya mulai terangkat dalam sekejap mata.


Bersamaan dengan terlemparnya orang-orang yang seperti Assassin itu. Mereka juga nampak terkejut.


"Hah?!"


Semakin perlahan. Diri mereka yang berada di perkiraan setinggi seribu kaki. Mereka merasakan juga, semakin lama semakin kecil mana mereka.


Tentu saja, itu karena Annie menyerap mana mereka. Secara cepat, dan sebagian masuk ke dalam tubuhnya.


Untuk selebihnya, Dia memasukkan ke dalam sebuah dimensi atau alat khusus yang di belinya.


"Oi! Manaku terserap!" Orang yang memprovokasi tadi nampak berteriak.

__ADS_1


"Ugh-" Dia, atau lebih tepatnya mereka memejamkan mata ketika beberapa meter lagi tanah yang di gundukkan secara sengaja mengenainya.


Annie menakuti mereka dengan menjulangkan tanah membentuk tiang tepat di pandangan mata para Assassin itu.


"Bercanda." Annie bersuara.


"Eh?"


Para Assisten itu tidak jadi sebuah bubur yang di hempaskan. Kini, mereka nampak tergantung dengan setiap bagian tubuh yang seperti di ikat, dan di tarik agar dapat tergantung dengan sempurna.


Saat ini Annie tepat di hadapan orang yang memprovokasi tadi. Dia berdiri di tanah yang dijulangkannya tadi.


"Kalian di butuhkan. Jadi, selamat malam." Annie bersuara datar.


"Apa? Ugh-" Sebuah luka terbuat dari benang yang Annie putarkan pada mereka. Luka kecil tersebut, perlahan membuat rasa kantuk menyerang mereka.


"Selesai." Annie menjeda singkat. "Sekarang..."


Annie turun tepat di mana Dia tempati sebelumnya. Dia nampak menurunkan tatapannya sebelum menutup mata. Mana-nya Dia edarkan secara lebar dan luas.


Selama beberapa detik kemudian Dia membuka matanya. Lalu menatap lurus ke arah hutan yang ada di hadapannya.


"Oi! Tunggu!" Si kucing lantas berteriak ketika melihat annie pergi begitu saja ke arah hutan yang ada di hadapannya sebelumnya.


"Oi oi! Jangan cepat-cepat sekali!" Si kucing kembali berteriak tatkala Annie semakin lebih jauh.


'Cih' Annie memundurkan langkah dengan cepat ke arah belakang si kucing.


"Jangan merepotkanku, Kalian semua." Annie bergema saat di belakangnya ada yang mengikuti.


"Eeeh, Jahat sekali~" A-03, Vanessa Durhan, terkesiap mendengar pengujaran Annie.


"Tapi, bukankah seharusnya Kami yang berucap seperti itu. Kau, menjadi merepotkan ketika peduli." A-08, Terazono Gilda.


"Jangan banyak bicara yang aneh Annie. Kami semua di sini, hanya ingin bersenang-senang. Hehe." A-05, Takata Kushida.


Para A-0, tiba-tiba mengikuti Annie. Entah sejak kapan, mereka semua, berada di sini, perkemahan para siswa dan anggota dari akademi Kainigose.


...****************...


"Ja-jangan!" Teriak gadis pirang gelombang kecil. Dia nampak sedikit babak belur.


Tangannya terentang ke samping, seolah menghalangi. Atau memang sedang menghalangi, karena di belakangnya terdapat beberapa anak kecil yang lebih muda darinya meringkuk ketakutan.


"K-kak Yuri, sudah cukup. Ka-kami tak apa." Salah satu dari anak kecil itu berusaha berucap.


"Tidak akan! Anda benar-benar tidak manusiawi!" Gadis itu, Yuri, dengan berani memaki pria yang berada di depannya.


"Benarkah? Aku tak pernah merasa salah satu dari sekian banyaknya manusia." Ucapnya, pria bertopeng itu, dengan nada lawak.

__ADS_1


"Oh ya? Sepertinya ada yang akan menjadi seorang heroin untuk Kalian." Ucapnya lagi sambil melirik ke arah hutan di belakangnya.


"Oi!" Tiing


Setelah suara teriakkan, terdengar sebuah dentingan antara logam yang bertumburan.


"Astaga, cepat sekali. Padahal Aku merasa Kalian akan datang beberapa menit lagi." Ucap pria bertopeng itu.


"Terserah Kami berapa hari lagi akan diam." Ucapnya.


Gadis muda, itulah yang terlampir dari perawakannya. Rambut yang tersanggul, dengan poni undercut-nya yang menutupi kuping.


Dia berdiri di atas benang kembali. Dengan cahaya bulan yang di belakanginya. Dia mulai melompat dengan pedang yang di tarik olehnya.


'Mirip?' Sweatdrop Yuri saat melihat Annie yang melompat.


Ya, itu Annie.


"Wah wah, apakah pedang itu tak terlalu berat untukmu?" Ejek si pria bertopeng itu.


"Tidak akan berat jika itu untuk membunuhmu." Datar Annie.


"Sayangnya, Aku tidak ingin melukaimu." Dia tiba-tiba menghilang. "Sampai jumpa, Annie." Bisiknya dari belakang Annie.


Annie lantas menoleh ke belakang sambil menebaskan pedangnya secara horizontal.


"Ck."


Bruk


"Hm? Oh, Nona Kim. Apakah Anda baik-baik saja?" Tanya Annie sambil memasukkan pedangnya kembali dan berjalan pelan ke arah Yuri.


Annie mengulurkan tangannya saat sudah berada di depan Yuri yang baru saja terduduk lelah.


"Eh? A-ah, Saya baik-baik saja." Jawabnya gugup. 'Jangan sampai tahu.' Bisiknya dalam hati.


"Benar juga. No-nona Lizabethen, tolong anak-anak itu." Yuri lantas menggenggam tangan Annie saat sudah berdiri.


"Y-ya. Kalau begitu Kita tunggu yang lain dulu." Jawab Annie yang terkejut ketika tangannya di genggam secara tiba-tiba oleh orang lain.


"Maaf!"


"Ya, tak apa."


'Anak-anak itu, kemana? Lambat sekali.' Kesal Annie dalam hati.


"Ah! Itu mereka." Yuri berteriak gembira saat melihat sekelompok orang dengan seragam mendekat.


"Oi! Pada akhirnya Aku di tinggal! Si*lan Kau!" Si kucing berteriak saat sudah melihat Annie.

__ADS_1


"Kalau begitu Aku serahkan pada Kalian." Annie berucap sambil melangkah pergi kembali ke perkemahan.


'Melelahkan sekali. Aku ingin cepat-cepat tidur.'


__ADS_2