
Nanti aja geludnya, Kita baca ceritanya dulu.
Jangan lupa baca Author Note ya, hehe :D
...----------------...
Nampak para peserta yang lain menatap aneh pecahan mana yang mirip kaca ini. Rasanya terlihat indah, seperti sparkle-sparkle bintang namun dari kaca.
Visi mereka yang awalnya bingung menjadi tambah bingung dan terkejut melihat betapa terburu-burunya seorang Ketua dari perjalanan perkemahan ini.
Wajahnya nampak mengeras, terlihat tegas.
Dirinya, Ketua Furai, berjalan terburu-buru diikuti beberapa orang. Terlihat disana juga terdapat penyihir cahaya cilik, Yuri. Wajah mereka benar-benar tegang. Seolah mengartikan sesuatu dari pecahan mana pelindung ini.
Padahal enggak ada apa-apa. Eh? Spoiler-
'Ketua?' Bisik pangeran pirang itu pada dirinya sendiri. Dia berjalan menghampiri Furai dan ikut berjalan di sampingnya, sedikit lebih mundur.
"Ada apa, Nyonya Furai? Apa telah terjadi sesuatu?" Pangeran pirang itu a.k.a Edward membuat Furai menoleh sekilas dan melunakkan rautnya. "Ada sedikit masalah, Tuan Clover. Beberapa anak menghilang dan Kami hendak mencarinya."
"Menghilang?" Wajahnya tiba-tiba berkedut, "Rasanya Aku sedikit tahu siapa saja tidak ada," Rautnya mulai mencoba tersenyum ramah kembali, "Biar Saya bantu, Nyonya."
Furai tersenyum hangat sebagai jawaban 'iya'nya. Untuk Edward, bukan tanpa alasan juga Dia membantu wanita bersurai lembut itu. Mengingat sekelompok anak yang dicap 'menghilang' itu merupakan anak-anak dari keluarga ternama di Ibukota. Terlebih salah satunya adalah sang Saudara dan sang Tunangan.
Mereka pergi begitu saja dengan tidak aestheticnya.
Lucu sekali ya, bung.
Oh, dan jangan lupakan juga demi meningkatkan hubungan mereka.
Tidak-tidak. Bukan seperti yang Kalian pikirkan. Hubungan yang dimaksud itu sebuah hubungan antara kerjasama politik, calon mertua-menantu, dan guru-murid. Astaga pikiran Kalian ini.
Kini kelompok yang pergi ada sekitar 5 kelompok dengan masing-masing anggota 7 orang. Pencarian dilakukan hingga sekitar 10-20 kilometer ke arah Timur, mengingat hari sudah siang dan tidak memungkinkan bagi mereka kembali saat matahari mulai senja.
Mereka memilih hanya ke arah timur saja karena memang terakhir kali suara ledakan terdengar di sana.
Pencarian terjadi dengan cepat dan teliti. Setiap tanah yang tersisa dari hasil ledakan. Juga beberapa mayat kucing besar yang tergeletak begitu saja.
Apa sih dari kemarin 'kucing besar', 'kucing besar'? Gak ada nama lain apa heh?
Namun masih juga tidak ada satupun yang tertinggal barang hanya sebuah jasad sekalipun. Hanya sebuah kawah besar yang tertanggal di kilometer 21.
Apakah mereka masih hidup atau sudah menjadi mayat, masih belum ada yang tahu.
Hari juga sudah mulai sore, mereka memutuskan untuk segera kembali. Perjalanan ke perkemahan rasanya lebih cepat daripada pencarian yang dilakukan sebelumnya, sehingga mereka sampai saat matahari masih ada.
Padahal tadi katanya 'dengan cepat', tapi kenapa cuma 21 kilometer sampai sore? Giliran pulang aja cepet. Aneh.
Mereka sampai dan mulai melakukan kegiatan seperti biasa. Tidak ada tanda-tanda lebih setelah kawah besar paling ujung itu sehingga membuat Furai merasakan firasat ibu miliknya.
...****************...
Pagi hari pun tiba membuatku ingin bernyanyi.
Pagiku cerahku, matahari bersinar~
Kugendong bebanku, dipundak~
Selamat pagi semua~
Loh? Kok nyanyi? Ini kan novel bukan audisi vocal, dibaca aja dong, jangan pakek nada. Ih, Kamu sih!?
Duh garing. Iya tahu kok, mari kembali, salah latar Saya. Anggep aja buat nambah word.
...****************...
Di saat yang sama ketika semua orang sedang melakukan pencarian, terlihat para sejoli sedang mencak-mencak ke arah anak bergradasi hitam kemerah-merahan dan kedua temannya.
Eh sebentar. Penulis lupa alur.
Aduh, cek dulu.
Oke dah
"Kalian itu yah, kalau penasaran ya penasaran saja. Jangan membuatnya jadi kelihatan berbahaya." Vanessa ikut menasihati. Awalnya Dia hanya melihat dan mencoba menenangkan Gyndenki, Annie dan Kushida.
Aduh~ Daebak sekali putri kita yang satu ini
"Haha! Mamam tuh cinta!" Teriak si kucing yang kini sedang berkumpul bersama Raan dan duo ras itu.
"Ya maaf. Aku tahu Aku salah," Ucap Arthur cepat. Entah ada angin hujan badai atau bencana yang akan datang apa, seorang Arthur menjadi kicep seketika.
"Eh? Eh?! Ti-tidak apa-apa! Jangan murung begitu. Kami hanya terkejut saja, ya, itu saja!" Merasa aura negatif dari Arthur membuat Vanessa panik untuk menghibur.
Dan karena hiburan itulah Arthur segera tersenyum ala dirinya lagi. "Ya!"
Merasa aneh, Annie menjauh dengan tatapan datar. Dia dejā vu dengan adegan ini. Iya, dejā vu, yang artinya pernah terjadi.
Mungkin kalau di flashback jika tidak salah saat itu, saat dimana Arthur dan Vanessa sedang berdebat. Dengan Vanessa yang selalu menuturkan nasihat saja, sedangkan Arthur menolak halus.
Dan sebagai teman yang baik dia —Annie dan yang lain, hanya menonton saja.
Tidak disangka waktu itu mereka malah melihat Arthur terdiam —tertegun— melihat Vanessa yang menatapnya khawatir dengan sudut mata yang berair. Lalu! Setelahnya murung dan meminta maaf. Si Arthur maksudnya.
__ADS_1
Astaga, adegan manis waktu itu benar-benar membuatnya geli sendiri.
Terlebih Penulis yang entah bagaimana dapat ide romance begini. Lain kali bikin cerita genre sadis aja deh. Gak baik untuk mental Penulis nih.
"Hentikan itu. Lebih baik lihat akibat dari keisenganmu saja." Ucap Annie yang hanya tertuju pada Arthur. Dia bergidik geli sekejap.
"Lah? Kenapa cuma Aku?!" Seru Arthur tak terima namun hanya diabaikan oleh Annie. Tak apa nak, martabak kacang aja spesial, berarti Kamu itu spesial.
Annie mendorong Arthur untuk mendekat ke pedang yang terbuka akibat sistem mekanis dari tombol yang ditekannya. Arthur hanya menurut saja, toh Dia juga yang menekannya jadi Dia yang harus mengeceknya.
"Omong-omong," Semua menoleh, kecuali Arthur, "Kalian sadar tidak jika semua kaca yang menutupi benda-benda ini terbuka setelah Arthur menekannya?" Lanjut Reen.
"Juga, selain tombol yang Arthur tekan, ditempat yang lain tidak ada tombolnya." Sahut Yhansen membenarkan.
"Entahlah, yang pasti senjata ini boleh Aku yang pakai?" Tanya Arthur pada yang lainnya.
"Kau tak takut?" Tanya balik Vanessa. "Tidak. Yang pasti," Balas Arthur menjeda sambil mengambil senjata yang memiliki tombol yang baru saja ditekannya beberapa puluh menit lalu.
"Yang pasti, senjata ini rasanya seolah menarikku."
'Bagus. Tiga kali mengucapkan kata yang sama dalam tiga dialog.' Sweatdrop Annie.
Elgar mengernyit, "Kau yakin? Takutnya benda itu ada apa-apanya. Aku sih iya-iya saja." Huh?
"Untuk apa takut?" Tanya Lucifer tiba-tiba. Raan mengangguk membenarkan.
"Aku tidak ikut mengambil senjata, jadi Aku tidak peduli." Seru Rafael sambil berguling-guling di tumpukan permata.
"Toh Kami juga 'senjata'. Bagaimana mungkin 'senjata' menggunakan 'senjata' lainnya. Itu cukup lucu." Gumamnya kecil.
Karena Gumaman Rafael yang berada didekatnya, Lucifer melirik singkat dan tertawa kecil.
Beralih ke Annie, Dia nampak meneliti juga satu persatu tempat yang menjadi penyanggah 'senjata-senjata' itu.
"Annie, bagaimana menurutmu?" Tanya Gyndenki.
Annie menoleh dengan tanda tanya besar dikepalanya. Maksudnya, dari sekian tinggi pangkat dikelompok mereka, bukankah dirinyalah yang paling tinggi.
Maksudnya lagi, bukankah seharusnya Dia yang menjadi penyanggah akan si leader di kelompok mereka.
Dan maksudnya lagi, yang seharusnya menjadi pematok hal-hal yang memasuk akal 'kan teori mereka ini.
Bagus lagi. 3 kata yang sama dalam tiga kalimat.
"Kau bertanya padaku?" Kepalanya celingak celinguk mencari sosok lain.
"Lebih tepatnya 'Kami'." Celetuk Elgar. Annie hanya meng-oh-kannya saja.
"Makhluk-makhluk ini mungkin menyukai Kalian. Karena dari itu kalian seolah merasa ditarik, padahal bukan cuma di dorong kok." Ngelawak mbak?
Annie kini berhenti di salah satu podium milik senjata hidup berbentuk rubik disana. Dia menatapnya intens dengan tatapan yang sulit diartikan. Tiba-tiba—!
"Halo, umm.. Tuan(?), mau berbicara sebentar?"
—sebuah suara dengan pertanyaan membuat seluruh atensi kepada Annie. Kenawhy? Karena suaranya berasal dari Annie. Berarti Annie yang berbicara, mengatakan, ngomong, etc.
"Kau serius, Annie?" Yhansen juga menjadi tiba-tiba kali ini. Iya, tiba-tiba waras dan terkendali. Berbicara normal dan bernada seperti manusia pada umumnya.
"Oh! Aku juga!" Arthur mendekatkan dirinya ke senjata yang terasa menariknya itu, "Halo! Apa disana ada orang?!"
"Aku tidak menyangka Dia akan melakukannya? Tapi kenapa Kau juga ikutan?" Ucap Kushida kepada kedua orang tersebut.
[«Halo juga!»]
Oke, mereka tarik kalimat mereka tentang keanehan kedua insan itu. Itu berefek dan tidak bisa disangkal karena nyata terjawab.
[«Halo untukmu juga pria aneh»] Arthur berbinar kala jawaban itu tidak menyinggungnya sedikitpun.
Cara berbicara mereka terdengar seperti sedikit bergetar atau ber-Vocaloid.
"Biarkan Aku menyobanya juga!" Baik. Yhansen kembali ke mode bar-barnya. Dia berlari kearah manapun yang membuatnya tertarik.
"Oi! Bangun Kau senjata lemah! Tuanmu yang kuat sudah memanggil!"
Dengan metode yang sama, Yhansen mendapat jawaban. Meski kata-katanya sedikit berbeda— tidak! Bahkan sangat berbeda!
[«Se-senang bertemu dengan Anda juga, Tuan?»] Jawabnya dengan nada sedikit ragu.
[«Jadi...»]
Kembali ke Annie, Dia memberi sebuah kejutan lainnya. Senjata yang kini di hadapannya, umm.. mungkin rubik mekanik(?) tadi, menjelma menjadi ibu bidadari cant-
Maaf, salah narasi. Ini bukan dongeng-^
Menjelma menjadi sesosok peri cantik dengan wujud manusianya. Kulitnya seputih porselin, tinggi semapai, hidung mancung dengan bulu mata yang lentik, dan bola mata yang besar memberi sedikit kesan imut padanya.
Namun Kita harus mengkhawatirkan satu hal. Jangan sampai Annie menonjok gadis cantik yang tinggi itu hanya karena iri dengan tingginy- bugh! Ohok! Maaf, Saya tadi tertampar kenyataan sebentar. (Saya juga pend-- pendidikan maksudnya!)
Back!
[«..Kau Tuanku yang baru ya?»] Annie menelengkan kepalanya dan berkedip dua kali. [«Oh astaga! Ternyata Kau imut juga!»] Tiba-tiba dirinya berteriak gemas.
"Tunggu dulu! Apa hal yang membuatmu mendapat Tuan seperti itu! Kenapa Aku mendapatkan satu yang mines akhlak dan etika?!" Satu suara lagi mengalihkan perhatian mereka.
__ADS_1
Berbeda dengan suara tadi, kali ini suaranya agak seperti suara orang pada umumnya. Itu berasal dari depan Yhansen, pemuda(?) bertubuh atletik dengan gaya pakaian seperti jaman kerajaan di gurun pasir.
"Oi! Siapa yang Kau maksud itu senjata lemah!" Teriak Yhansen seperti mengajak baku hantam.
"Diam Kau Tuan baruku! Aku tidak sedang berbicara denganmu!" Yhansen mendadak linglung. Siapa yang majikan, siapa yang budak- maksudnya babu- Saya ulangi, bawahan. "Oi! Kau pria cantik! Jangan bertingkah seolah Kau wanita tulen!"
"Siapa yang peduli denganmu? Aku hanya mencoba menjadi apa yang diinginkan Tuanku sebelumnya." Mendadak suara gadis tadi menjadi sama dengan manusia, tapi kok.. agak sedikit berat ya?
Asap putih menyapu Gadis tadi dan Annie, menutupi mereka dari pandangan yang lain.
Sesaat asap itu segera menghilang, menampilkan pria tampan yang melewati kemanusian bahkan kemalaikatan dan keiblisan seperti milik Gyndenki dan duo ras itu.
Masih dalam bentuk yang sama. Dirinya memeluk Annie, dengan kepala yang berada di dadanya yang kebetulan Annie setinggi, ekhem ekhem‐, 'perut'‐nya saja.
Karena Dia seperti melayang‐layang begitu terlebih bentuknya yang 'peri kecil' itu sekarang seperti pria maskulin yang di daebak‐daebak 'kan kaum hawa, kakinya melingkar tepat ke kaki Annie.
Kaki Annie bahkan tidak berada pada seharusnya, sebagai mana yang Kita ketahui, cara kerja gravitasi.
Yap, Dia ikut melayang(?) Atau terbang? Dengan pipi gembul yang nampak tertekan dan memberi efek yang menggemaskan.
Seperti mochi yang padat dan tidak terlalu lumer. Tentu saja, 'kan umurnya masih kepala 1. Jadi imut‐imut seperti itu, coba kalau sudah besar.
Entah apa itu, semoga saja tidak amit‐amit.
Mari berharap. Oke?
Baik. Kita ganti sekarang kata 'Gadis' ke 'pemuda'.
"Oh astaga. Aku punya senjata hidup transgender." Lirih Annie tapi ekspresinya tidak berubah sama sekali.
"Aku hanya bisa merubah penampilan! Bukan transgender! Ahahaha~ Kamu imut! Tidak tega Aku memarahimu!"
Hilih! Nanti pas tahu sifatnya ngamuk mau tukar Tuan sama temenmu yang ngegas tadi, kayak Tuannya yang baru jadi tadi.
"Hm, iyalah. Terima kasih pujiannya." Annie dengan santai mendorong babu bar- bawahan barunya itu dengan sedikit bantuan mana.
"Aha. Tukang trap itu memang menyebalkan. Sabar ya Gadis kec-" Dengan deathglare-nya Annie membungkam senjata hidup milik Arthur.
Sebagai tuan yang baik Arthur berbisik ke senjatanya itu, "Jangan cari mati dengan kata pendek, kecil, atau apapun itu. Yah meski Dia memang lebih 'kecil' dari seumu-" Iya sih bisik, tapi kenapa harus sebesar itu bisiknya. Kan kedengaran jadinya. Tapi,
Brugh
Haha! Noh. Mamam tuh sledding-an.
Korban terbaku hantam kedua.
"Tunggu- apa itu transgender?" Tanya Pemuda tadi mengabaikan dirinya yang baru saja di dorongan hingga terbentur dinding.
Yang dimana dindingnya juga sekarang..re..tak?
Tiba-tiba tempat itu terasa bergetar hebat bak sedang gempa bumi. Namun bukan itu yang membuat mereka hanya terpatok diam dan tidak melakukan apa-apa.
Itu karena, getarannya berasal dari senjata-senjata yang tersisa, yang belum ke mode seperti senjata yang diaktifkan oleh Annie, Arthur juga Yhansen.
Seketika sinar yang terang terpaksa membuat semua orang menutup mata mereka. Beberapa saat, tak terasa lagi sebuah cahaya yang menyilaukan itu, mereka membuka mata.
Oh astaga, keajaiban apa yang Kau berikan pada Kami, Tuhan?
Senjata-senjata itu berubah menjadi seperti manusia dan berdiri di hadapan setiap orang.
Oh! Ada kecualinya! Haha, meski hanya beberapa orang.
...----------------...
[A/N]
Siapa kemarin yang bilang bakal update InSyaaAllah seminggu sekali paling lama?
Ya, Saya. Itu Saya🗿
Mungkin bagi Kalian 4 bulan itu lama :<
Tapi bagiku itu sangat singkat!!
Serius, bulan pertama persiapan ujian sama ujian. Terus bulan ke2 kesibukan pengenalan SMA, bantuin Mama buat lebaran. Ke3 pendaftaran SMA. Ke4 MPLS dan ngurusin masalah-masalah SMA.
Siapa yang bilang mau revisiin novel?! Saya! Tapi sibuk gini terus sebanyak ini kapan selesainya!
Dah lah biarin aja supaya jadi petunjuk bahwa Saya semakin berkembang :>
Terus apa tadi. Saya lupa mau ngetik apa aja.🗿
Mana daring dan Saya masih ada urusan lainnya, mungkin semuanya slow update ya.
Sekian terima gaji.
Bukan Gojou, karena Saya lebih respect kalau dijadiin murid Pak Hajime🗿
Ada apa dengan emot batu? Meresahkan.
Btw:
__ADS_1
Ide numpuk. Kesibukan malah berkumpul:>