My Antagonist Life Reancarnation

My Antagonist Life Reancarnation
Bab 2 : 11


__ADS_3

"Naguro-san, apakah berkasnya sudah selesai Kau rangkum? Aku membutuhkan yang berhubungan dengan ini." Tanya Annie dalam posisi membaca setumpuk berkas yang tidak banyak, hanya sedikit.


"Kenapa Kau bersikap sibuk juga? Apa yang sebenarnya sedari tadi Kau baca dan Kau tulis?" Tanyanya dengan mata bingung.


Bagaimana tidak? Seorang bocah umur berkisar 4 tahun membaca sebuah berkas? Apa itu? Bahkan ia bersikap serius?


"Membantu. Sekalian juga karena Aku penasaran." Jawabnya ringkas.


Tunggu, apakah itu tidak terbalik? Seharusnya kata yang tepat adalah 'Penasaran. Sekalian juga ikut membantu.', -kan?


Lupakan saja.


"Membantu? Bagaimana caranya?"


"Mudah, merangkum saja. Ambil dan buat kata-kata ringkas yang mudah di mengerti, satukan setiap katanya, tulis dalam sebuah laporan, finish." Jelasnya dengan kata-kata seperti itu adalah hal yang mudah.


"Dan jangan meremehkan ku. Pria itu sering kali meminta bantuan ku untuk merangkum berbagai pekerjaannya yang bertingkat hingga satu meter." Lanjutnya sambil memfokuskan mata dengan tumpukan kertas di depannya kembali.


"Mudah? Finish? Membantu? Ah! Benar juga, Kau kan pemegang nomor satu dalam soal ujian dalam latihan peningkatan otak di tempat itu." Ucap Naguro dengan nada benar juga.


"Aku sudah melihat tumpukan kertas konsep dan yang sudah jadinya dari soal-soal yang Kalian jawab setiap harinya."


"Mereka hebat juga bisa membuat ribuan soal yang berbeda setiap harinya seperti ini." Ucap Zui dengan pakaian penuh pernak-perniknya.


Mereka terus menyelesaikan laporan untuk rangkuman dari setiap materi yang di buat oleh organisasi ilegal yang Mereka berantas.


Tidak setumpuk atau pun dua tumpuk. Begitu banyak tumpukan kertas yang harus mereka rangkum.


Entah perlu berapa lama waktu yang di butuhkan oleh Mereka untuk merangkum semua tumpukan yang di anggap Mereka sebagai materi dari laporan Mereka.


Bagi Annie ini bukan lah hal yang menyulitkan karena di kehidupannya yang kini mau pun sebelumnya, ia tak jarang di suguhkan pemandangan tumpukan kertas.


Hingga saat ini siang sudah menjelang, tapi laporan mereka belum juga selesai.


Waktu makan siang sudah tepat pada waktunya, namun tidak ada satu pun dari mereka yang enggan untuk beranjak.


Dalam posisi yang sama, dengan lincah, tangan dan mulut mereka menyuarakan apa yang harus di lakukan.


'Apakah Mereka masih tetap ingin melanjutkannya? Aku sudah selesai dengan yang Mereka minta. Hmm..' Pikir Annie sambil memikirkan sesuatu.


Mereka terus membuat laporan, bahkan enggan untuk beranjak se-cm sekali pun.


Jika pun bergerak hanya untuk mengambil kertas, melapor, atau kegiatan pekerjaan kantor lainnya jika di dunia bumi.


Brak


Seketika ruangan yang di penuhi dengan suara kertas yang sedang di coret dan suara sedikit berbisik yang ramai itu terdiam di tempat.


Mata Mereka tertuju pada gadis kecil yang berdiri dengan tangan di atas meja di situ.

__ADS_1


Dan, Yap. Annie yang membuat suara meja di gebrak. Pun wajahnya tidak menunjukkan sedikit pun emosi manusia pada umumnya.


"Aku lapar. Mari makan, kantin saat ini sepi. Apa Kalian ingin sakit?" Ucapnya random sambil berjalan mendekati pintu geser di sana.


Terdiam.


Saat ini Mereka hanya berdiam saja.


"Ada apa? Ayo, laporan itu tak akan ke mana-mana jika Kalian tinggal selama satu jam hanya untuk makan." Semua orang seketika terkesiap.


Mereka yang terkejut dan bingung apa yang terjadi dan apa yang harus mereka lakukan pun beranjak untuk mengikuti gadis kecil tersebut.


Mereka yang bingung kembali sadar, dan mulai berisik kembali sembari menuju tempat untuk makan.


Sungguh cara yang sangat bar-bar untuk mengajak orang lain makan.


...****************...


Tanpa di rasa waktu bekerja kembali telah tiba. Semua orang kembali pada tugas masing-masing.


Rasa lelah yang terasa seketika hilang saat beristirahat, kini kembali lagi dengan rasa malas melihat tumpukan kertas.


Pekerjaan yang tinggal(?) beberapa tumpuk kertas dengan tinggi menjulang selangit. Bisa di bayangkan bagaimana mood yang akan di rasakan, meski beramai-ramai. Begitu booster.


"Sudah berjam-jam Kita menulis! Tapi kenapa tidak di temukan apa pun! Biodata Kalian itu sangat penting! Bagaimana Kalian kembali?!" Geram Naguro dengan putus asa.


"Eh? Ku pikir Kita ingin mengambil semua penelitian ini. Ternyata biodata anak-anak ya?" Bingung Mitsuka yang seolah anak baru ikut-ikutan(?).


"Tidak, itu juga salah satu alasan Kita bekerja keras seperti ini. Penelitian mereka bisa di jadikan ladang bisnis klan Kita, yang di latar belakang kan nama klan Kainigose. Hehehe..." Timpal Zui dengan seringaian licik di akhir kata-katanya.


"Kenapa Kalian putus asa seperti itu? Bukankah Annie mengatakan jika Dia tahu tentang biodata mereka." Ujar Furai dengan nada lembutnya, dan di dukung oleh anggukan ringan dari Annie.


"Benar. Kalau begitu lebih baik Kita lanjutkan pekerjaan Kita, lalu mohon bantuannya ya, Annie." Ujar pria dengan suara menenangkan sebelumnya, yang sekali lagi di balas anggukan ringan oleh Annie.


Rasa putuh asa dan depresi menghilangkan, terganti dengan perasaan malas dan lelah. Namun, Mereka tetap melakukannya.


Benar! Jika Mereka hanya berdiam malas tak bergerak bak patung monalisa, makan gaji buta itu namanya. Lalu ia menjadi orang tidak tahu diri namanya.


Lupakan lah.


Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Memang benar ya. Jika Kau fokus akan suatu hal maka waktu kan terasa cepat.


Terbukti dari gelapnya biru langit di atas sana, namun pekerjaan Mereka masih belum selesai. Mmm.. tidak banyak, tinggal sedikit sih.


"Padahal tinggal dua lagi, tapi entah kenapa rasanya masih banyak." Keluh seorang anggota yang sedang merenggangkan badannya.


"Sabarkan lah diri mu, sebentar lagi Kita selesai. Tapi, jika Kalian sudah lelah, yang lain bisa beristirahat terlebih dahulu, sisanya biar serahkan kepada Kami." Saran Furai yang di balas anggukan mantap oleh orang-orang dari kata 'kami' yang di maksudnya.


"Apakah tidak apa-apa? Rasanya sedikit tidak sopan jika Kami seperti itu." Ujar anggota yang lain dengan nada tidak enak.

__ADS_1


Sekali lagi hanya anggukan yang menjadi jawaban. Mereka yang di maksud untuk di persilahkan pergi pun salih menoleh dan mengangguk, Mereka melakukannya sekejap.


"Terima kasih banyak, Ketua, Semuanya." Ucap Mereka bersamaan dengan kepala sedikit menunduk karena posisi mereka yang sedang duduk bersimpuh.


Mereka yang di berikan izin untuk beristirahat lebih dahulu pun membereskan perlengkapan apa saja yang Mereka gunakan.


Di sisi lain Annie tidak peduli dengan sekitarnya, dan hanya fokus pada tulisan yang ia tulis.


Ia memang di katakan fokus namun tidak dengan matanya yang menatap datar, seperti hari-harinya yang biasa. Hingga Dia mengangkat kepala dan suara yang datar.


"Selesai."


"Benarkah?" Hanya anggukan kecil yang menjadi jawaban.


"Untuk yang diri ku lebih baik tidak perlu, karena sudah ada yang menjemput ku di sini, kalian juga sudah tahu dari awal..etto..." Jelas Annie singkat.


Dengan tangan yang mengangkat sedikit kertas yang baru saja ia tulis terhenti, sejenak ia memegang dagunya seolah sedang membuat pilihan kata.


"...untuk 01, ku harap Kalian tidak terkejut ya." Lanjutnya dengan nada ragunya.


Semua anggota yang mendengar kata terakhir Annie tersebut menghentikan aktivitasnya, lalu menoleh ke arah sumber suara dengan tatapan penasaran.


Seolah apa yang di katakan anak itu adalah hal yang sangat penting.


.


.


.


.


.


.


.


'Entah kenapa rasanya sedikit merinding setelah mengucapkan itu. Apakah ada yang sedang mengawasi ku.' Pikir Annie sesaat setelah mengucapkan kata-kata pengakhir chapter.


...----------------...


Halo Everything!!


Kochou Shinobu desu di sini.


Maaf baru Update, soalnya baru selesai dari ujian yang membuat mental sedikit terkikis. Dan untungnya ada waktu menambahi mental ku T^T


Kalau begitu, terima kasih sudah membaca novel amatir ku ini, hiks T^T

__ADS_1


__ADS_2