
Cuma mau ngasih tau juga, ini chapter update jam 00.00 loh~
pamer? Iya~
Dah lah. Balik ke cerita. Happy Reading, readers ku <3
...----------------...
Cklek
"Maaf Kami terlambat." Ucap Kak Reen, sambil mewakili Kak Raan juga.
"Lama sekali Kalian, Meow. Sedang apa saja dari tadi. Aku sudah lapa-meoow!" Kesal kucing gendut itu namun terpotong oleh pukulan ku.
"Itu sakit tahu, Meow!"
"Ingin ku buang dalam kotak Kau?" Ancam ku, namun malah di balas ocehannya yang lain.
Mama melerai, lalu makan malam Kami di mulai. Percakapan termulai setelah beberapa saat kami menyantap hidangan di depan kami.
"Anak-anak. Apakah Kalian sudah memutuskan tentang ujian masuknya?"
"Nyonya, apakah Kami boleh ikut?" Tanya duo ras gila itu, wajah mereka seolah memamerkan ke imutannya. Walau sebenarnya muka mereka ingin membuat ku menggilingnya. Lihat. Mama yang baik hati pasti akan luluh dan menanarkan wajahnya dengan lembut dan hangat.
"Tentu saja. Ujian ini bersifat terbuka, bagi yang mengetahuinya. Apakah Kalian yakin? Ujian ini berbahaya, jika kalian mati di tempat penyelenggaraan tidak akan bertanggung jawab, sebelum mereka di masukkan ke tahap pertama akan di beritahukan apa pun yang berhubungan dengan ujian ini dan di minta untuk segera memutuskan untuk mundur atau menetap." Mama menjelaskannya dengan senyuman lembutnya. Tapi terasa bahwa Mama seolah sedang berusaha untuk tidak mengatakan
'Tidak! Jangan ikut! Lebih baik kalian berkumpul dan bersinis ria dengan sesama bangsawan lainnya'
"Oh! Kalau begitu kami ikut!" Duo ras gila itu bersuka cita. Air muka mereka langsung berubah menjadi seperti beberapa persen dari sinar protagonis kita, untuk menunjukkan betapa bahagianya mereka.
"Lalu, Raan dan Reen. Apakah Kalian masih memikirkannya atau sudah menentukannya?" Pertanyaan Mama beralih ke duo pengganggu.
Mereka nampak bingung. Peduli amat lah, lebih baik Aku dulu saja yang jawab. Siapa lagi yang peduli tentang pilihan mereka setelahnya.
"Mama."
"Ya?"
"Ikut." Ujar ku.
__ADS_1
"Eh?? Oh. Annie ingin ikut ya, baiklah. Bagaimana dengan kalian berdua?" Mama mulai kembali ke duo penganggu itu.
Mereka masih nampak berpikir dan bingung. Harus kah Aku saran kan lagi untuk memikirkannya. Baru juga beberapa hari setelah pertanyaan Mama yang pertamanya. Jadi waktu untuk memutuskannya masih banyak.
"Kami.." Mereka saling menoleh. Dan
Waw!
Kalian sedang telepati kah? Ada apa dengan wajah kalian? Gatal kah? Oh! Benar, kalian kan kembar identik. Jadi ada memungkinkan untuk berbicara dalam hati dan hanya saling tatap.
"Kami ikut juga." Pilihan mudah tervonis dalam kurun waktu beberapa hari.
...****************...
"Wah! Apakah itu sungguhan?! Jika ya Aku juga!" Girang A-08.
Meski Aku sudah tahu nama mereka masing-masing, tapi karena sudah terbiasa dengan panggilan seperti itu, ada sebuah rasa malas dalam hati untuk melakukannya.
Toh, mereka masih menoleh juga ku panggil seperti itu. Jadi tidak ada alasan rasional lainnya yang bisa membuat ku membiasakannya.
"Itu terdengar seru! Seperti tantangan hidup dan mati sungguhan!" Kali ini A-02 juga ikut-ikutan.
"Ya. Tapi biar ku beri tahu juga. Kalian harus menggunakan akal kalian itu. Sebagai contoh jika itu Aku, 'Ternyata organisasi ilegal busuk itu cukup membuat hidup ku berguna', Aku akan memikirkan itu, ketika menggunakan ajaran dari orang gila yang satanisme itu." Ujar ku.
"Tunggu. Apa hubungannya ujian ini dengan organisasi ilegal itu? Perumpamaan aneh yang tak masuk akal apa itu? Tunggu, apa itu benar perumpamaan?" A-01, apa yang sebenarnya ingin Kau tanya? Aku tak paham lah.
Oh! Aku baru maksud dari pertanyaan mu. Entah lah. Mungkin karena Aku malas menjelaskan secara rinci tentang kata-kata ku. Makanya membuat perumpamaan yang tak sengaja itu.
Aku pun mengendikkan bahu sekenanya. Terlihat urat yang menonjol membentuk perempatan di kepala A-01. Ada apa dengannya? Dia kesal kah? Padahal Aku hanya mengendikkan bahu loh. Kenapa Kau malah kesal begitu.
"Jadi, Aku akan memberi wakt-"
"Annie, Annie." Potong A-02. Dia terlihat lebih santai dalam berbicaranya.
"Ada apa?" Tanya ku.
"Jika Kau ikut kenapa Kami tidak? Apa Kau melupakan Kami? Kita sudah sering mengalami yang namanya peruntungan antara hidup dan mati. Lalu, apa yang masih Kau tanyakan? Maka jawaban Kami di tempat ini tentu saja iya. Jika ingin mengirim surat kirim lah untuk pemberitahuan lebih lanjut lagi." A-02, ada apa dengan mu? Jarang sekali rasanya Kau berbicara santai?
[Hei! Serius lah sedikit! Pernyataannya Pernyataannya! —Author]
__ADS_1
"Lakukan sesuka Kalian." Mereka nampak bersorak ria.
"Tapi.." Mereka kembali terdiam.
"Izin dari orang tua, adalah hal utama. Diskusikan lebih lanjut tentang hal ini pada orang tua Kalian. Jangan mengurangi atau melebihkan cerita baik itu secara sengaja atau tidak. Jika perlu buat sebuah narasi lalu bacakan pada orang tua kalian. Kalian mati, klan Kainigose telah memperingatkan Kalian."
Hidup, hidup mereka. Kematian, kematian mereka. Untuk apa Aku terlalu peduli dengan mereka. Biasanya juga, jika mereka sedang berada di antara peruntungan itu, Aku hanya menjadi penonton.
Lalu pembicaraan mereka terus berlanjut. Hingga topik terakhir, Aku masuk. Kami akan berburu bersama untuk 3 hari mendatang yang telah di tetapkan.
...****************...
Brukk
Melelahkan~
"Meow~"
"Kucing gendut tidur lah jika Kau mengantuk. Aku ingin membersihkan diri sebentar."
"Jangan terlalu lama, meow. Jika Kau sakit, buruan ku tidak akan mau menunggu beberapa hari mendatang." Aku hanya mendengus mendengarnya.
"Baik, baik. Selamat malam. Semoga mimpi indah."
"Meow~"
Ku rendam tubuh ku dalam bathup di kamar mandi ini. Rasanya cukup nyaman. Semua lelah ku menghilang karena di usir oleh air hangat ini.
Beberapa menit Aku berendam kantuk datang. Tidak mungkin berendam di air terlalu lama karena tertidur Aku pun bangun. Meski itu air hangat, saat di biarkan hingga pagi mendatang pasti akan dingin.
Aku berada di dalam ruang ganti, setelah membuka pintu kamar mandi. Ruang ganti dan kamar mandi ku menjadi satu. Jadi setelah mandi, langsung memakai baju pun bisa.
Ku pilih setelan baju tidur tipis namun menutupi tubuh ku. Warna putih dan panjangnya yanga sampai ke kaki, membuat ku terlihat seperti memakai gaun. Tapi ini kan memang gaun, gaun tidur.
Berjalan menuju ranjang yang berukuran kingsize itu. Di sana telah terdapat seekor makhluk imut dengan bulu-bulu lebatnya yang terlihat lembut dan halus jika di sentuh. Walau kenyataannya saat di sentuh seperti itu.
Dia mendengkur kecil dan alami. Saat diam dia akan benar-benar imut dan menggemaskan. Tapi ketika bangun, Kau akan merasa adakah kotak yang bisa muat untuk kucing ini. Mau ku sumbangkan ia pada orang-orang baik yang menerima ia saat sedang berjalan-jalan.
Ku jatuhkan diri ke kasur, namun secara perlahan agar kucing itu tidak bangun karena terkejut. Menatap langit-langit kamar yang memiliki interior indah berwarna yang saling memadukan diri ke warna lainnya. Ku hembuskan nafas lembut namun dapat terdengar suaranya
__ADS_1
Hah~
"Semoga esok adalah hari yang menyenangkan." Gumam ku dalam hati.