My Antagonist Life Reancarnation

My Antagonist Life Reancarnation
Bab 3 : 12


__ADS_3

Hah~


Semenjak hari itu, Aku jadi sering mengambil tugas di administrasi klan. Entah apa yang membuatku seperti itu. Mungkin hanya untuk melampiaskan kekesalan saja.


Namun meski begitu, ada satu hal yang membuatku sangat bingung. Setiap mengambil tugas pasti akan ada imbalan. Dan pada umumnya imbalan itu adalah uang (dan Exp).


Jadi.. di situlah letak kebingunganku.


Punya uang tidak terlalu berguna untukku saat ini. Beli ini itu, cek, lalu ceklis. Selesai.


Hmm.. lebih singkat dari sebuah cerita pendek, kan?


Mama dan Papa bahkan tidak peduli berapa pun itu tagihan yang kukeluarkan. Bahkan semua tagihan tentang penelitianku mereka tidak peduli seberapa besar biayanya itu.


Mengingat tentang uang. Ada 3 tingkatan utama darinya. Yaitu perunggu, perak dan emas. Sebagai tambahan adalah koin platinum.


Bukan di bumi duniaku dulu, emas untuk perhiasan, emas untuk simpanan, emas di jual, sangking berharganya orang-orang pada mau merampoki benda seperti ini.


Sedangkan di sini, emas di gunakan sebagai alat tukar dari kegiatan jual-beli. Perbedaan tingkatan antara mereka adalah masing-masing 1000.


Secara singkat sih, 1000 koin perunggu sama dengan 1 koin perak, lalu 1000 koin perak sama dengan 1 koin emas. Begitu pula koin emas dengan koin platinum, 1000 koin emas sama dengan 1 koin platinum.


Kalau 100 koin platinum? Sama dengan 1 koin apa? Entahlah, Aku pun tak tahu. Mungkin bisa jadi sebuah nyawa.


Sudah sudah. Kenapa malah bahas budak?


Biasanya jika Aku berbicara yang membuat sesuatu keluar jalur, itu pasti karena bosan atau gabut. Biasa,, kaum rebahan tapi tetap kerja.


“Kaak kaak!” Si burung datang-datang merusak hayalan saja. “Perintah!” Ngegasnya. Aku beraut ‘nanya?’.


“Apakah Kau yakin?” Tanyanya ambigu. Oke, kali ini Aku benar-benar beraut wajah bertanya.


“Di sana, terdapat lebih dari beberapa ekor kucing besar yang membuat was-was lho~” Godanya padaku. Tapi sayang sekali, Aku tidak ter-


Hmm.. kucing ya..? Tidak tidak!


Aku tidak-


Tapi itu katanya lebih dari beberapa. Ck, tidak tidak tidak!


Aku-


Mencari uang dan menambah peringkat juga level memang susah. Jadi wajar jika semelelahkan itu. Tapi.. Aku-


“Yakin. Sangat yakin untuk ikut.” Yakinku.


Hmm.. serba kata 'yakin'.


“Dasar tukang cari mati.” Oh yah? Sebelumnya sepertinya Kau berniat mendukungku, kenapa sekarang malah mencemooh?


Tak perlu banyak waktu, si gagak menyuruhku mengemas keperluan sehari-hari yang sering kugunakan. Katanya, perjalanan ini sedikit memakan waktu lebih dari pagi ke pagi.


Bukan hanya perjalanan menuju tempat tujuan saja. Tapi juga menangkap para kucing liarnya juga. Tentu saja, tidak mungkin rasanya seperti sedang menangkap seekor pencuri kecil.


Ini monster lho. Bukan hewan.


Eh?


Sama saja ah


Cuma bedanya bukan fisik tapi 'sifat'


Aku mempersiapkan semua yang di butuhkan sendiri. Karena si hitam satu ini ngasih tahunya malam-malam, jadinya siapa coba yang bisa bantu.

__ADS_1


By the way, jika mengingat tingkatan. Aku akan memberitahu kalian apa saja tingkatan kedudukan dalam anggota klan Kainigose.


Pertama, yaitu yang paling dasar adalah tingkat 'Dasar', yah.. tidak beda dengan sebutannya. Dalam tingkatkan ini terbagi menjadi tiga bagian; anggota pemula bagian 1, anggota pemula bagian 2 dan anggota pemula bagian 3.


Kedua, yaitu tingkat 'Lanjut'. Seperti sebelumnya, juga tiga bagian; anggota bagian 1, anggota bagian 2 dan anggota bagian 3.


Ketiga, tingkat 'Tinggi'. Empat bagian, pada tingkat ini lebih berbeda namanya. Bagian 1 'Pilar tingkat Dasar', bagian 2 'Pilar tingkat Menengah', bagian 3 'Pilar tingkat Tinggi', dan bagian terakhir yang paling kuat, 'Pilar'.


Mama termasuk yang paling kuat lho~


Sekian.


Setelah berkemas-kemas yang cukup singkat dan tak ribet. Aku pun menuju kasur di mana si kucing gendut sudah tidur pulas.


Memikirkan hari esok yang akan menegangkan.


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


'Oh iya, Aku lupa. Kan Aku pengidap insomnia baru-baru ini.' Ucapku dalam hati sambil memposisikan diri menjadi duduk di bibir ranjang.


Si gagak juga sudah tidur di atas tiang berbentuk 'T' yang kusiapkan untuknya.


Seperti kataku sebelumnya, Aku menjadi terus-menerus mengambil dan mengerjakan tugas dari administrasi tugas.


Perlahan-lahan Aku mulai menjadi semakin kuat, bahkan peringkatku sekarang sudah semakin mendekati tingkat 3. Peringkatnya para pilar.


"[Open status]" Ucapku sambil menyalurkan sedikit mana ke arah cincin dari klan Kainigose.


Secara cepat sebuah hologram mini tampil di depan wajahku.


["Anggota bagian 3"


Name: Chou


Race: Human


Age: 10


Element: Kegelapan, Cahaya


Title: A 'Butterfly Night'


Level: 31 (1.900/3.200)


Hp: 3.100/3.100


Mp: 53.700/53.700]


Ah?!


Ternyata penugasan yang kulakukan sangat gila. Aku melebihi level anak-anak umur sepuluh tahun pada umumnya.

__ADS_1


Bahkan sepertinya Aku terlalu sering bermeditasi.


Iya juga sih. Kan Aku dari kecil menyerap mana terus. Sampai sekarang Aku tidak henti dan bosan-bosannya melakukan itu.


Semenjak insomnia baru-baru ini, Aku juga malah mengganti tidur dengan meditasi. Terkadang malah seperti jadi penjaga malam utuh selama semalaman.


Keliling-keliling kota dengan memburu beberapa anak-anak nakal yang masuk rumah orang tanpa izin. Kalau tidak ada apa-apa malah meditasi lagi di atas atap rumah orang.


Begitulah keseharianku semenjak mengidap insomnia. Baru beberapa minggu sih.


But, wait a second.


'Title'? What is that?


'Butterfly Night'?


Sejak kapan Aku jadi wanita malam?


Hei! Ini panggilan keterlaluan banget sih! Aku memang keluar malam-malam, tapi tidak jadi seganjen itu sampai-sampai ada panggilannya!


Huh! B*doh amat lah!


Yang pasti, Kita keluar lagi. Untuk menemukan sebuah hal yang bisa di tangkap. Tapi sepertinya akan sangat membosankan, karena Aku jarang sudah menemukan sesuatu seperti mereka.


Meditasi saja lagi apa ya? Ya sudahlah. Toh, bermanfaat juga ngabisin mana di rumah ini. Awokawokawoka


Setelahnya selama semalam utuh, meditasi-lah yang bisa menjadi pengganti tidurku, meski rasanya lebih sedikit aneh dari pada tidur sungguhan.


...****************...


Tok tok tok


"Nona, waktunya bangun." Ucap seseorang dari luar yang terdengar sedikit redup karena terhalang pintu.


Setelahnya suara pintu terbuka dengan deritan pelannya terdengar, Aku yang sedang merapikan seragam hanya melirik sekilas sebelum akhirnya berdehem.


"Eh? Anda sudah bangun nona? Apakah Anda ingin bertugas lagi?" Tanyanya sambil mendekat. Kemungkinan untuk merapikan seragamku ini.


"Hmm."


"Sudah." Ucapnya yang telah berhasil merapikan pakaianku.


"Jika ada surat dari mereka biarkan saja dulu sebelum si gagak datang." Benar. Selama dua tahun mereka berlima di kirim ke akademi Kainigose, surat-surat yang tak ada pentingnya terus berdatangan setiap hari.


Aku yang merasa seperti itu hanya membaca sekilas, ada yang pentingkah? 'Tidak ada' setelahnya.


Seperti itu saja terus, lalu Aku merasa benar-benar kesal. Kukirim mereka sebuah surat dalam sebagian sobekan kertas yang di bagi lima, dengan satu kalimat ngegas.


'Berhenti mengirim surat setiap hari?!'


Maksudku, kertas-kertas seperti ini jangan di buang-buang kenapa sih?! Kasihan para perkakasnya(?)! Mereka membuatnya untuk sesuatu yang penting bukan mainan?!


Sungguh tidak penting sekali. Mereka semua malah bertanya lagi, 'Lalu kapan?'. Kujawab kembali menggunakan sobekan kertas dengan tulisan ngegas lagi.


'Sejarang mungkin!'


Lalu mereka benar-benar melakukannya sejarang mungkin. Namun lupakan hal itu, mari berangkat, menuju masa depan yang penuh tantangan!


.......


.......


.......

__ADS_1


Tapi sebelum itu Kita sarapan dulu


__ADS_2