
Saat ini, mereka berdua sedang mencoba apa saja sihir mereka, dan tentu saja seperti kata ku di chapter sebelumnya.
Itu lah sihir-sihir yang bisa mereka gunakan. Juga, terlihat wajah cukup terkejut dari semua orang. Tentu saja, karena di dunia ini orang yang memiliki 3 elemen itu jarang namun bukan berarti tidak bisa di sebut banyak.
Kecuali si kedua tsun-tsun perusak mata itu atau sering ku sebut, Ayah dan Kak Resh.
Di dunia ini ada 6 elemen utama, yaitu Angin, Api, Air, dan Tanah, serta elemen dua terkuat, Cahaya dan Kegelapan.
Sebenarnya masih ada elemen-elemen lainnya, namun elemen-elemen tersebut adalah hasil perkembangan dari elemen-elemen utama, dan itu merupakan ciri khas ras mereka.
Mereka yang memiliki perkembangan elemen tersebut disebut 'Deviant'.
Orang-orang yang disebut sebagai Deviant biasanya memiliki pengalaman bertempur yang cukup hebat.
Untuk menjadi salah satu dari sekian banyaknya Deviant. Seseorang harus memiliki konsentrasi yang cukup kuat, dan latihan yang bisa di bilang cukup keras. Tidak tidak, sangat keras adalah kata yang tepat.
Di dunia ini untuk meningkatkan kekuatan dari serangan atau kegunaan dari elemen yang dimilikinya menggunakan perlevelan atau sering di sebut 'Leveling'.
Di dunia ini juga terlihat sedikit atau mungkin sangat menyenangkan, karena kau bisa membunuh monster untuk meningkatkan level.
Kedengarannya cukup menyenangkan bukan?
Tapi untuk diri ku yang saat ini akan sulit, karena tidak ada seorang bayi yang mampu melakukannya.
Bisakah kau membayangkannya? Seorang bayi yang dalam hitung hari di jari salah satu tangan mu akan genap 1 tahun, membunuh para monster untuk Leveling?
Bahkan berjalan pun dia belum benar.
Dengan pengawasan dari para pelayan, pengasuh, orang tua, dan orang sekitar ku bagaimana Aku bisa? Maksud ku melakukan Leveling.
Sungguh sangat menyebalkan.
Ternyata bukan hanya para orang tua yang ingin anaknya cepat besar, ternyata sang anak sendiri juga menginginkannya.
Diri ku adalah bukti.
(Tak ada kah kata-kata lain? Sudah berkali-kali Kau mengatakan itu.)
Baiklah, sudah keluar dari topik utama. Kita lihat kembali saja latihan kedua Kakak kembar ku itu.
Mereka sepertinya sedang latihan menyerap mana, mereka terlihat sangat konsentrasi, sungguh lucu melihatnya. Hal itu mengingatkan ku pada Kak Resh. Bagaimana latihan yang dia lakukan? Apakah dia sudah bisa menguasai beberapa mantra?
__ADS_1
Namun Aku hanya bisa berpikir 'lupakan saja'. Tidak mungkin bagi diri ku saat ini bisa menanyakannya. Dia juga tidak akan mengerti.
Sekitar satu jam telah berlalu.. mungkin.
Sang pelatih meminta mereka berhenti. Dia terlihat seperti ingin mengajarkan mereka menggunakan mantra. Itu terlihat dari sang pelatih yang membuat sebuah bola air di tangannya.
Sepertinya dia sedang mengajarkan Kak Reen mengunakan sihir airnya. Dia juga terlihat mengatakan sesuatu pada Kak Raan.
Sang pelatih kemungkinan besar tidak memiliki elemen api, jadi dia mengajarkan teori ringan saja pada Kak Raan.
Terlihat Kak Reen sudah membuat gumpalan air di tangan kanannya, dengan mata antusias menyebalkannya itu. Setelah melihat akan hal itu Kak Raan ikut mencoba, dia terlihat cukup tenang saat membuatnya.
Dari sebuah titik api yang melingkar, terbuat lah sebuah bola api di tangan kanan Kak Raan.
Waktu terus berlalu, mereka akhirnya mengakhiri pembelajaran mereka. Hari terlihat sedikit mendung dengan langit berwarna gelap yang menandakan akan ada cuaca hujan.
Selesai latihan, sang pelatih dan Ayah sedang berbincang. Sedangkan kedua pelajarnya itu dengan gerak cepatnya sudah berada di dekat diri ku.
Oh yah, saat ini Aku sedang duduk di pangkuan Kak Resh karena Aku memintanya tadi. Maklum, tidak mungkin juga aku terus-terusan berada di gendongan Abel, bisa-bisa dia kelelahan menggendong ku. Jika dengan Ibu, Aku tidak ingin membuatnya lelah. Jadi lebih baik orang lain saja yang ku buat lelah.
Mungkin seharusnya begitu, karena wajahnya terlihat kecewa tadi.
Aku yang melihat si trio ini bertemu sedikit merasakan insting tidak enak. Mereka mengobrol ria selama beberapa waktu.
"Ah! Apakah dia tertidur?" Tanya Kak Reen.
"Ingin membawanya ke kamar?" Pertanyaan kembali terucap namun kali ini dari Kak Resh.
Kedua anak kembar yang mendengar hal tersebut hanya mengangguk kepala mereka. Akhirnya mereka mengantarkan ku ke kamar ku dan meletakkan ku di atas kasur bayi ku.
'Kemudian mereka keluar dari kamar ku'
Seharusnya itu menjadi bagian narasi yang selanjutnya. Namun itu tidak terjadi karena mereka memperhatikan ku dengan mata yang antusias.
Aku tahu Aku itu imut karena masih memiliki lemak bayi. Tapi tidak perlu sampai membuat seorang bayi(?) merasa terintimidasi juga, kan?
Mereka melakukan itu selama beberapa saat. Namun terhenti karena Kak Raan yang sejujurnya tidak termasuk dalam aktivitas itu, menghentikan mereka.
Kak Raan yang dari tadi hanya melihat aktivitas mereka, menarik ke duanya untuk keluar dari ruangan itu.
"GYAAH! Tunggu! Tunggu sebentar lagi saja!" Ucap Kak Reen dengan nada manja yang sungguh menjengkelkan miliknya.
__ADS_1
"Tunggu! Tidak! Sebentar! Jangan! Gyaah!" Hentikan itu bodoh, orang lain bisa salah paham dengan kata-kata mu itu.
"Sssstt! Bagaimana jika Annie bangun karena ulah Kalian!" Bentak Kak Raan sambil berbisik. Sayangnya Kak, Aku masih bisa mendengar itu.
Juga, toh, Aku memang tidak tidur dari awal.
Sekarang aura mengerikan tersebut berhenti, sungguh membuat jiwa tertekan saja. Aku pun melanjutkan menyerap mana hingga pagi mendatang.
...****************...
Hari terus berjalan hingga hari ini, hari yang membahagiakan bagi ku karena akhirnya Aku berumur satu tahun.
Mengingat akan hal itu membuat ku merasa bersalah pada waktu, karena Aku selalu menyalahkannya atas semua yang terjadi pada ku.
Karena Aku masih satu tahun tidak mungkin membuat sebuah pesta ulang tahun, dan Aku juga tidak menginginkannya. Jadi Kedua orang tua ku melakukan sebuah perkumpulan kecil dengan keluarga terdekat dan beberapa teman mereka.
Aku tidak tahu siapa mereka yang pasti ini membuat ku kesal. Ku pikir tidak akan ada pesta atau semacamnya. Hari-hari biasa yang ku lalui lebih baik dari pada ini. Tapi Aku harus bersabar, ini juga alasan kenapa Aku ingin cepat besar agar bisa memberi sebuah pendapat.
Teman-teman yang Ibu ku undang terlihat akrab dengan Paman dan Bibi. Apakah mereka juga sudah berteman sejak lama?
"Ahaha, sungguh anak yang manis." Puji salah seorang wanita yang terlihat memakai baju ke seperti kimono bermotif simetris, tidak, salah, ketiga wanita itu memakainya.
"Benar, Enma berkata Dia sangat lah imut dan ternyata itu benar." Ucap seorang wanita di sebelah wanita yang berbicara tadi.
"Ahaha." Seorang wanita yang kali ini berada di sebelah ibu tertawa ringan setelah mendengar perkataan wanita tersebut.
"Semoga dia selalu sehat dan panjang umur." Ucap seorang pria berbadan besar di sebelah Paman ku, tidak sepertinya dia berdoa.
"Sungguh senang melihatnya." Seorang pria dengan aksesoris penuh di sana-sini memuji ku dengan santainya.
Dan perkumpulan kecil itu berlangsung hingga beberapa jam.
Karena pria dengan aksesoris penuh tersebut mengatakan masih memiliki urusan. Sehingga membuat ke empat orang asing lainnya ikut pergi.
Hari yang sudah masuk waktu untuk makan siang, Ibu mengajak mereka untuk makan bersama. Namun mereka menolak dengan alasan harus melakukan sebuah misi.
Misi? Misi apa yang dia maksud? Ini sedikit membingungkan.
Namun terserah lah, untuk apa Aku peduli. Setelah itu waktu yang ku jalani sedikit lebih ramai untuk hari ini dan juga jadi semakin sangat melelahkan.
...----------------...
__ADS_1
Terimakasih sudah membaca novel ini.
Maaf jika ada kesalahan karena ini novel pertamaku.