
[Gyndenki POV]
"Annie!" Teriakku saat melihat ia terjatuh ke belakang.
Bruukh
(Eh, 'h'-nya ketinggalan kemarin)
Tanpa basa-basi Aku menangkapnya. Sedikit lagi saja, kepalanya bisa lebih dahulu menyapa lantai lalu memberi bingkisan merah berupa darah.
"Annie!!"
Teriakkan kembali terdengar bukan dariku tapi dari yang lain. Mereka menghampiri Kami. Kami sangat panik, para pengawas di podium sedang apa! Kenapa hanya melihat!
"?!"
Kenapa dengan mereka?
Raut mereka nampak tertahan akan sesuatu.
Kucing gendut itu juga kenapa malah santai sekali.
Brukk
Kali ini suara terjatuh benar-benar menyentuh lantai terdengar. Para pengawas itu nampak tersengal-sengal.
Aaaggh!
Kenapa juga Aku peduli?!
Annie lebih penting.
"Tenanglah, meow~"
Kucing ini benar-benar menjengkelkan, di saat seperti ini siapa coba yang bisa tenang! Kucing gendut ini jika ngawur selalu bisa membuat orang darah tinggi terus!
Kenapa Annie bisa tahan mendengarkan kengawurannya? Jika Aku pasti sudah gila.
"Bagaimana Aku bisa ten—" Suaraku tertahan akan sesuatu. Anak-anak yang lain bahkan tidak mengeluarkan kekhawatiran mereka lagi.
Sedangkan para peserta lain seperti canggung untuk mendekat, atau takut karena hal yang mengejutkan ini.
"Sudahku bilang tenang, malah banyak bicara. Dia itu tidak apa-apa, mudah saja menyembuhkannya. Dia juga tidak akan pingsan selama itu. Ya seharusnya."
Tenang sekali dia mengucapkan kalimat terakhir itu. Jika nanti sudah dalam keadaan tenang, akan kubuat dia mengampun-ampun saja bicaranya.
Kucing itu melompat menuju ke samping Annie. Kami tidak bisa mengatakan apa-apa, sepertinya ini ulah kucing gendut ini.
Ia mulai dengan duduk dalam bentuk tegap ala kucing pada umumnya. Tangan kecilnya yang berbulu lebat itu terangkat ke arah kening Annie.
Selama beberapa saat dia melakukan itu. Tidak ada yang terjadi. Jika saja Aku bisa bersuara lagi, Aku akan bertanya tentang apa yang dilakukannya.
__ADS_1
Baru saja memikirkan hal itu, tangannya mulai menjauh kembali.
"Sudah meow~" Tertaut raut bertanya. Aku butuh penjelasan, tolong.
"Tidak perlu banyak tanya lebih baik selesaikan saja ujian ini." Ujarnya dengan santai. "Kau. Cepat bantu anak ini." Ia menunjuk pada seorang pria yang berdiri di belakangku.
Kasih tahu dulu tentang apa yang terjadi. Jangan malah dihiraukan rasa khawatirku ini. Sungguh menjengkelkan!
[Gyndenki POV end]
...****************...
Sebuah sinar surya matahari bukan tembakau, menusuk penglihatanku bukan penciumanku. Aku melihat ruangan yang penuh dengan bau obat-obatan.
Lho? Kok dilihat? Bukan tercium?
Ruangan polos tanpa hiasan dinding, juga lantai. Membuatku yakin, tempat ini merupakan ruang kesehatan. Terlebih baju yang sedang kupakai ini.
Sreet
Suara pintu geser yang sangat khas membuatku melihat ke arahnya. Seorang wanita dewasa berparas lembut menatapku dengan penuh haru.
Itu Mama.
"Annie! Apa kamu baik-baik saja? Ada yang terasa sakit? Ada apa?" Mama menyerangku dengan pelukan dan pertanyaan yang terluncur lancar tanpa rem tangannya.
Tapi sangat tidak sopan jika hanya berisyarat dengan Mama. Jadi ku gelengkan pelan kepalaku lalu menatapnya.
Lagipula masih ada yang membuatku penasaran dengan maksud kucing itu. Mungkin kapan-kapan saja. Karena saat ini maksud-nya tidak berguna untukku.
Raut Mama menatap tak percaya.
"Bagaimana dengan yang lain?" Alihku.
"Yang lain mereka semua lulus dan sudah di minta pulang. Mereka khawatir padamu."
"Untuk Lucifer dan Rafael, mereka sudah kembali ke dimensimu." Jelas Mama.
Aku hanya ber-oh saja. Lalu pembicaraan berlanjut dengan Mama yang menceritakan tentang beberapa kejadian. Juga, tentang pilihan bagiku. Ingin lulus atau tidak.
Jadi, Mama memutuskan melakukan sedikit usulan tentang tes tanya-jawab. Seperti wawancara masuk kerja saja harus tanya-jawab dulu.
Aku sedikit mengerti ini, walau tanpa bertanya, itu pasti karena mereka melihat potensiku saat membantu mereka beberapa tahun lalu. Namun Aku tetap bertanya seolah tidak tahu.
Sebelumnya mereka meminta persetujuanku dahulu. Apakah ingin melakukan tes tanya-jawab itu atau melakukan sebuah tes kekuatan dengan berduel?
My answer? Sure! Ya!
Jangan berpikir seolah Aku akan mengatakan 'Ya' pada pilihan kedua. Maksudku, lelah tahu berpilih maut.
Sedikit-sedikit mana habis, nanti manjat pohon. Sekalian saja lomba balap karung dan panjat pinang, supaya di karungin dan di pinang.
__ADS_1
Lagian juga, Mama sepertinya sangat berusaha agar Aku fokus pada tes tanya-jawab itu. Sedangkan untuk tes duel, ia sempit-sempitkan untuk lebih dalamnya.
Mama bilang, Aku diminta untuk beristirahat dulu di sini. Karena darah yang keluar cukup banyak, terlebih Aku yang pingsan semalaman ini.
Tidak ingin mengganggu tidurku, Mama keluar dengan bersamaan kucing gendut itu masuk. Masuknya sangat mirip Kak Reen, lewat jendela tanpa permisi.
Wah. Calon maling kedua nih.
Tapi Aku bodoh amat dengan kedatangannya, jadi Aku hanya berguling menatap langit biru yang tertutup atap plafon.
Dan sesuatu yang aneh cukup terjadi. Karena hening, tak ada sedikit pun suara dari si kucing ini. Keanehan ini cukup lain, jadi Aku menutup mata, karena sebuah keajaiban yang merdeka ini.
Haa~
Damainya~
"Santai sekali, meow~"
Damai? Ini bukanlah di sebut damai.
Malahan awal mulai kebisingan.
Ku tarik kata-kataku untuk yang tadi, makhluk ini pengganggu. Harus di musnahkan hingga debunya menjadi partikel paling kecil di dunia.
"Pengganggu. Enyah kau."
"Kasar sekali~" Tumben santai? Lagi PMS kah?
"Tidakkah kau penasaran dengan maksudku kemarin?"
Aku diam.
Tidak menanggapi. Bodoh amat juga sih.
"Sepertinya hal yang kulakukan tidak membuat daya tarik untukmu, meow~" Ucapnya setelah beberapa saat keheningan dariku. Huh! Malas sekali rasanya!
Dasar perusak suasana! Enyahlah kenapa sih!
Inginku berkata kasar seperti itu. Tapi urung, karena dia juga tidak peduli lagi dengan jawaban(acuhan)ku sepertinya.
Sudahlah, tidur saja.
Aku pun memejamkan mata sambil terus mencari yang namanya kegelapan dalam tidur. Hingga bunga mimpi betul-betul datang.
Sudah lebih dari beberapa puluh menit berlalu, tidak ada mencairnya sama sekali keheningan dari mereka berdua.
Hingga sebuah suara mendengkur yang sangat pelan khas orang yang tertidur terdengar.
"Lho? Tidur? Kupikir dia akan merespon setelah beberapa menit. Seperti biasanya." Gumam tak percaya si kucing.
"Astaga. Aku salah spekulasi. Benar-benar menjengkelkan! Arrgghhh! Kenapa kau itu selalu mengesalkan sih! Semoga suaraku masuk ke mimpi burukmu!" Bentak si kucing, namun sang empu yang di do'akan malah tidur dengan damai sentosa aman tentram tanpa ada rasa tak nyaman.
__ADS_1