My Antagonist Life Reancarnation

My Antagonist Life Reancarnation
Bab 2 : 8


__ADS_3

"Semuanya! Annie! Hey ho! Aku datang dengan membawa kebahagian!" Teriak seorang gadis kecil dengan nada yang begitu amat sangat bahagia.


"Panjang umur sekali." Ucap ku sambil menggigit kue yang di siapkan oleh A-06.


Enak juga, siapa yang buat?


"Eh? Apa hubungannya?" Tanya gadis kecil tersebut, namun Aku hanya mengendikkan bahu.


"Lihat. Kelakuannya hampir sama dengan Annie." Ucap A-01.


"Lupakan. Anniiiiieee! Aku merindukanmu! Ayo makan!" Teriak gadis tersebut. Dan yap. Itulah sang 08 yang di maksud.


"Gadis ini.." Mama berkata menggantung.


"Dia yang barusan kita bicarakan. A-08, makhluk astral paling bar-bar setelah Annie, A-04 dan A-02." Ucap A-05 dengan santainya.


"Kau yakin? Aku rasa 02 tidak bar-bar, hanya pecicilan saja." Tanya dan nyata A-01.


"Kau benar. Tapi Dia lebih mengesalkan dari mereka bertiga." Ucap A-06. Hmm.. terasa penuh dendam.


Sepertinya mereka ingin baradu perasaan dan mulut. Lebih baik Aku cepat menghabiskan semua makanan ini sebelum menjadi sia-sia karena tidak ada yang memakannya, biar ku bantu. Mereka masih


Terasa angin lembut mengibas kulit ku namun terasa dingin. Entah bagaimana menjelaskannya secara spesifik, yang pasti seperti itu lah kata-kata yang menurut ku tepat.


Beberapa kian waktu terlewati dengan obrolan dari beberapa orang dewasa ini dan 7 bocah kecil ini, tentu saja kecuali Aku. Aku paling anti yang namanya membuang kosa kata yang tidak di perlukan.


Kenapa Aku bilang 'tidak di perlukan'? Karena dari tadi sekumpulan makhluk hidup ini terus-terusan menggosipi orang dan membicarakan tentang organisasi ilegal itu lalu Kami ber delapan.


"Berarti, seharusnya 08 itu di panggil 'A-07', kan?" Tanya Mama.


"Ah. Itu karena Aku menyukai angka 8. Jadi Aku minta pada pria gil- pria topeng itu untuk memanggil ku seperti itu. Eh? Atau mungkin memberi?" Ucap dan tanya A-08 dengan santai. Tidak bar-bar seperti tadi.


"Apa-apaan itu? Barusan Kau ingin mengatakan 'gila', kan?" Komen A-06, namun sepertinya ia sedang mengoreksi.


"Tidak tuh." Jawab A-08 sambil melihat ke arah lain, terlihat untuk menghindari tatapan A-06.


"Aku kan anak baik-baik. Jadi tidak mungkin setidak sopan itu." Lanjutnya lagi masih dalam keadaan melihat ke arah lain namun di akhiri dengan siulan tak beraturan yang memperlihatkan seolah-olah memang sedang menghindar.


"Kenapa kalian semua seperti ini? Kenapa hanya Aku yang waras?" Lirih A-06 dengan kepala yang bersandar di atas meja seolah pasrah dengan kelakuan Kami(?).


Melihat hal itu Aku mengelus punggungnya, karena Dia berada tepat di samping Aku dan Mama. Lalu menatapnya dengan tatapan seolah mengatakan 'Kasihan sekali hidupmu nak'


"Annie memang yang terbaik~" Rengeknya sambil berusaha memeluk ku.

__ADS_1


'Menjauh Kau, hama.' Pikir ku sambil menolak usahanya dengan kaki kanan.


Sepertinya karena pikiran ku berkata seperti itu, tatapan ku pun ikut mengekspresikannya. Wajahnya entah kenapa begitu menjengkelkan, ingin segera ku hempaskan agar menjauh sejauh-jauhnya.


Astaga. Memaksa sekali makhluk yang satu ini. Meski dorongan yang ku berikan cukup kuat Dia masih saja berusaha memeluk ku.


Masih tidak ingin mengikuti kemauan ku yang mengatakan untuk menjauh. Aku pun membuat ekspresi yang seolah mengatakan


'Enyah Kau makhluk pedofil gila'


"Kyaaaa! Maafkan Saya Tuan Putri!" Ucapnya sembari menjauh.


Tapi teriakan mu itu sungguh menjijikkan sekali. Apakah Kau ingin mengubah gender menjadi wanita? Jika iya, mari ku bantu.


Mereka yang melihat akan hal itu segera mengejeknya. Berbagai bentuk ejekan di suarakan. Sepertinya, pertengkaran kecil dan sementara akan di mulai.


Tapi lupakan saja sekarang.


Sebenarnya dari tadi Aku sedikit penasaran dengan pria yang hanya tertawa ringan dan bersuara paling sedikit di sini.


Saat Aku yang terus melihatnya, Dia yang seolah merasa di lihat oleh ku, menoleh ke arah ku. Setelah itu tersenyum kepada ku.


Entah kenapa setiap ia tersenyum kepada ku rasanya kepala ku terasa ringan.


"Tolong panggilkan mereka berdua. Aku ingin melanjutkan taruhan Kami." Ucapnya kembali dengan semangat, dan orang itu adalah A-04.


Aku hanya mengangguk dan menggumamkan kecil nama mereka berdua. Seketika dua asap kecil berbeda warna membesar dan menampilkan wujud dua pria dewasa.


Terlihat lucifer dan Rafael sedang melayang dengan kaki yang bersila. Dan ada apa dengan kedua makhluk lain ras sama sifat ini?


Mereka terlihat seperti sedang bertengkar. Saling memunggungi satu sama lain. Terlihat juga sebuah wajah saling tidak senang dan merengut. Aku bertanya dengan menatap mereka.


"Dia yang mulai duluan!" Ucap mereka berdua secara bersamaan.


"Jangan mengikuti ku!" Lagi. Secara bersamaan.


"Sudah ku bilang jangan!" Satu lagi bersamaan.


"Enyah Kau kerbau!" Ucap Rafael dengan nada tidak senangnya.


"Kau yang enyah tua!" Balas Lucifer dengan nada yang sama.


Aku yang melihat hal itu pun hanya bertepuk tangan ria karena sikap anak-anak, usia bapak-bapak. Kenapa tidak? Lihat kelakuan mereka berdua.

__ADS_1


Ck ck ck. Hanya bisa membuat ku malu saja.


Hmm. Kalau di pikir-pikir. Kenapa Kalian bisa punya panggilan yang bagus untuk satu sama lain?


Lucifer di panggil kerbau karena bertanduk. Dan Rafael di panggil tua karena serba putih terlebih rambutnya, kecuali iris matanya.


"Hmm~" Dehem ku tak perduli. "Selamat malam. Jika ingin bertengkar, 04 dan 06 bisa jadi wasit." Lanjut ku.


"Tentu!" Jawab mereka berdua dengan semangat 45 atas saran ku. Lalu, anggukkan semangat dari A-04 dan anggukkan pasrah dari A-06.


Aku yang merasa mengantuk pun berusaha tertidur di pangkuan Mama.


Ah! Maaf salah tulis narasi.


Aku yang merasa mengantuk pun berdiri untuk kembali ke ruangan tadi. Tapi sebelum Aku berjalan Aku tersentak akan sesuatu.


"Ada apa?" Pria yang membuat kepala ku terasa ringan tadi menyadari rasa tersentak ku.


"Ke mana jalannya?" Tanya ku.


"Itu lah kenapa Aku mengatakan hanya Aku yang waras." Itu jahat lho, A-06.


"Benarkah? Kenapa tidak tidur di sini saja, biar nanti Kami mengangkatmu kembali ke kamar." Saran pria itu dengan suara lembut.


Sekali lagi ku katakan, dia membuat kepala ku terasa ringan hanya dengan suaranya. Apakah itu sihir?


Jika iya, maka itu benar-benar hebat. Seketika terlintas sebuah saran atau mungkin ide dari kepala ku untuk diri ku sendiri. Jika senyum dan ucapannya dapat menenangkan, maka..


Tap tap tap


Buugh


"Ah! Annie itu.." Mama menggantungkan kalimatnya.


"Tidak apa-apa. Biarkan saja." Balas pria itu.


"Tapi.." Mama sedikit ragu. "Baiklah jika Anda berkata seperti itu." Lanjut Mama.


Maka.. jika di dekatnya akan ada hal yang lebih menenangkan. Itu pasti bukan lah sebuah sihir, itu pasti memang berasal dari dirinya.


Hangat. Dan, menenangkan.


Itu lah kata yang tepat untuk memberi tahu kan rasa yang sedang ku rasakan. Aku tidur di atas pangkuannya. Benar-benar menakjubkan.

__ADS_1


Kemudian Aku terlelap dengan perasaan yang ku rasakan saat itu. Sangat melelapkan. Mungkin besok-besok Aku tidur dengan tuan ini saja.


__ADS_2