My Antagonist Life Reancarnation

My Antagonist Life Reancarnation
Bab 2 : 18


__ADS_3

"An..nie?" Bata Papa. Aku pun menoleh, ke arahnya. Menatap dengan tanda tanya.


"Dasar manusia bodoh! Matamu memang tidak bermasalah! Sepertinya otakmu yang bermasalah!" Teriak kucing gendut itu pada Kak Reen, entah kenapa dari nadanya terdengar kesal.


Mungkin karena ucapan aneh Kak Reen. Aku memang 'Annie'. Bukan setan yang seliwiran di sekitar terus menyerupai bentuk 'Annabella Lizabethen'.


"Eh! Otak ku kenapa!?" Balas Kak Reen dengan nada terkejut.


"Rusak!"


"Bagaimana bisa?! Apa Kau sudah melihatnya?!"


"Terserah Kau saja!"


"Baik!"


Mereka sepertinya akan mudah akur ke depannya. Tapi lupakan. Kenapa dengan Papa dan Kak Raan? Mereka sakit gigi, kah?


"Mata ku pasti sedang berhalusinasi." Ujar Kak Raan yang sambil memijat pelipisnya. Kalian kenapa sih?


"Ini kejutannya. Annie Kita.. sudah pulang." Mama mulai mengangkat suara, terdengar agak parau.


Oh. Benar juga. Bagaimana Aku bisa menjadi pelupa seperti ini. Aku kan sudah menghilang selama dua tahun dari rumah ini, wajar reaksi mereka aneh menurut ku tadi.


"Aku pulang."


Buugh~


Eh?


Mata ku mungkin agak membelalak saat ini.


Tapi.. apa yang di lakukannya? Begitu cepat, bahkan Aku baru sadar. Kak Raan, sedang memeluk ku saat ini. Hangat memang.


Tapi kenapa dia memeluk ku?


"Maaf. Aku Kakak yang buruk." Gumamnya lirih, kecil, hingga hanya Aku yang bisa mendengarnya.

__ADS_1


Begini ya rasanya ketika Kau menyadari ada seseorang yang menyayangi mu. Bahkan saat Kau pergi dan pulang dia tetap mengkhawatirkan mu.


Maaf Kakak-kakak ku di dunia sebelumnya. Seharusnya Aku juga sadar ketika di dunia itu. Bahwasanya Kalian sedih ketika Aku terus menutup diri.


"Tidak apa-apa. Kakak selalu baik."


Dapat ku lihat tubuhnya bergetar kuat setelah mendengar balasan dari ku. Dia terlalu kuat. Bahkan menahan sesuatu seperti ini saja dia bisa.


Artinya Kau bukan sesuatu yang buruk, kan?


"Jangan di tahan. Jika di tahan itu akan sakit."


Seketika getaran dari tubuhnya menciut, namun di gantikan dengan suara raungan sedih dari kerongkongannya yang memenuhi ruangan lebar ini.


Suara itu sedikit membuat tangis Mama pecah. Sementara Papa Dia tersenyum hangat kepada ku.


Suara Kak Raan memang lah terdengar parau, dan Aku sedikit terharu. Tapi entah kenapa Aku tidak bisa menangisi hal ini.


Ternyata benar. Hati ku, sudah membeku. Tapi kenapa Aku bisa merasakan hal-hal hangat seperti ini.


Sehingga karena itu lah Aku bisa merasakan perasaan hangat dan terharu tapi tidak menangis. Mungkin, lebih baik ku servis saja nanti.


Oh. Suara Kak Raan perlahan mulai mereda, namun masih belum sepenuhnya menghilang. Apa yang harus ku lakukan sekarang?


"Haha, lihat akhirnya Kau menangis juga." Ucap Kak Reen dengan riangnya sambil menepuk bahu Kak Raan.


"Berisik." Balas Kak Raan sambil mengangkat wajahnya, lalu mengelap sedikit ujung matanya.


"Annie! Aku kangen!" Peluk Kak Reen dengan wajah cerianya.


Seperti dulu, ringam sekali rasanya. Tapi tak apa lah. Toh, besok-besok dia tak akan bisa seperti ini. Atau mungkin Kami?


Karena jikalau di lakukan lagi Aku tidak bisa membuat freezer-nya ke tukang servis, sudah rusak seutuhnya dia nanti. Karena hati ku sudah tidak beku.


Aku tahu, sebenarnya Kak Reen lah yang paling sedih dan ingin mengeluarkan keluh kesahnya. Tapi dia tak melakukannya.


Lebih baik memberi aura positif pada orang sekitarnya ketimbang aura negatif, kan?

__ADS_1


Terutama ketika Kau tidak ingin orang yang Kau sayang sedih dan murung.


Tiba-tiba lamunan singkat ku hilang ketika merasa sesuatu menyentuh ku dengan tangan besarnya. Dia mengangkat ku dengan tangan di antara ketiak ku dengan mudahnya. Dan ya, itu adalah Papa.


"Astaga, Kau semakin mengecil saja, kah? Atau memang tak berubah? Terasa sekali kalau Kau kecil."


"Ya tapi itu wa- guaah!" Ucap Papa tapi terpotong oleh tendangan manis ku.


Seketika, tangan Papa terlepas dari ku. Aku tidak akan jatuh hingga kesakitan saat ini, karena Rafael dengan sigap menangkapku.


"Aaah! Tuan! Anda tidak apa-apa!?" Kejut kucing gendut itu sambil mendekati Papa.


"Kau! Gadis gila! Apa yang Kau lakukan! Ingat Nak dia Ayah mu! Dia memang benar! Kau kan kecil! Kenapa marah!" Ceramahnya singkat.


"Hah? Kau bilang apa? Ngajak gelud? Ku patahkan sungguhan kaki mu nanti, dendam ku masih ada. Tolong di ingat, tuan korban tabrak." Ancam ku.


Dia bergidik sebentar, sebelum memberi ku ocehan tak jelasnya itu. Dia terus mengocehi ku meski Aku mengabaikannya. Mama dan yang lainnya? Mereka membantu Papa.


Aku sudah mengatakannya. Sekali Kau mengatakan diri ku pendek atau semacamnya baik itu secara penglihatan dasar atau memang sengaja, kematian berada di dekat mu. Mungkin-mungkin malaikat maut juga sudah bersiaga.


"Kenapa seperti ini dengan ku." Lirih Papa ketika sudah sadar kembali.


Sungguh malam ini Aku sangat kesal dan marah. Jika dari Kalian masih ada yang seperti itu ku bunuh Kalian.


...----------------...


Hai semua.


Di sini Author Kochou Shinobu desu.


Maaf jikalau nya cerita chapter kali ini pendek, soalnya Author lagi punya beberapa masalah di dunia nyata.


Terus juga. Cuma mau ngasih tau kalo Author Update tuh selalu jam sekisaran 20.15-22.00. Walau lebih sering jam 20.15


Selalu tunggu ya Jam 20.15 ke atas ^^


Terimakasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa Vote, komen, 5rate dan favorit kan ya~ ^^

__ADS_1


__ADS_2