My Antagonist Life Reancarnation

My Antagonist Life Reancarnation
Bab 3 : 17


__ADS_3

Kali ini Annie tidak menjadi seorang pelatih namun seperti siswa dan anggota yang lain. Berlatih.


Mereka di minta untuk berlatih menghunuskan pedang sambil maju dan mundur selangkah. Gaya latihan dojo-dojo lah.


Mereka mengatakan ini gaya latihan dari Timur. Jadi wajar bagi Annie untuk menganggap ini hal yang biasa saja.


Dia, Annie, tanpa suara mengikuti orang-orang. Bergerak seirama dengan yang lain. Semakin lama mereka berlatih, semakin berbeda gaya yang di lakukan.


Jarak sekitar satu meter membuat mereka bisa semakin leluasa dalam melakukan gerakan yang terakhir ini.


Gerakan yang di lakukan mereka adalah, dengan awalan memegang kedua tangan lalu menghentakkannya ke depan.


Di lanjutkan dengan seperti serangan kejutan, tangan dominan mereka menghempaskannya dalam bentuk menyamping atau miring.


Setelahnya mereka mundur selangkah lalu membuat gerakan baru lainnya.


Gaya yang mereka gunakan tak serta merta berbeda. Seolah itu memang sebuah jurus yang satu. Tak tercipta hal lain.


Semua gerakan di lakukan dengan seirama. Siswa dan anggota baru yang pertama kali mempelajari di pisahkan pada kelompok sendiri.


Lalu bagi orang yang sudah cukup sering melatihnya, di tempatkan pada kelompok yang tahun kedua dan seterusnya. Termasuk Annie.


Jangan melupakan bahwa Furai atau Dinda lah yang menjadi pelatih sihir beserta pedangnya si Annie. Kalau Annie bilang sih, instruktur gratis.


Berbeda bagi mereka yang memilih job Mage, mereka juga di barisan yang berbeda. Di latih dengan sebuah pelatihan menyerang jarak jauh dan PvP.


Sungguh aesthetic sekali mereka ini.


Pembelajaran ini di lakukan langsung untuk semua tingkat pada sebuah lapangan yang berukuran lebih dari sehektar itu.


Demi menciptakan waktu yang lebih efisienibel, mereka lakukan langsung sekali dalam jangka waktu 15 hari.


Dan baru 7 hari mereka melakukannya. Guru-guru yang melatih semua berada dalam satu lingkup. Ada sekitar beberapa lusin guru yang mengajar di ruang lingkup terbuka ini.


Mereka mengajar dalam sekali lingkup sebanyak itu. Bisa di hitung dengan akhiran ribu oleh jari tangan.


Pelajaran terus berlanjut hingga tak terasa malam akan menghampiri. Matahari yang sudah berada pada sudut 60 derajat lagi untuk turun.


Annie di beri sebuah tenda untuk dirinya tidur oleh guru-guru yang di sana. Mengingat atas konstribusinya tentang siswa yang di ajarinya.


Namun, sekali lagi Ia menolak. Orang insomnia di kasih tempat tidur. Sulit untuk si penyakit di ajak kompromi. Tempat tidurnya jadi terbengkalai lah.


Lama-lama jadi sarang setan, tak ada yang menempati soalnya.


Annie di beri sebuah kelompok baru juga oleh Furai. Dia di minta untuk mengkoordinasikan mereka dengan arahan ketika sedang berburu.


Alhasil, kebanyakan hasil dari berburu mereka sesuatu yang besar atau banyak.


Makanya ya, orang bar-bar jangan di buat satu kelompok, jadinya hasilnya juga bar-bar. Gak karuan.


Karena Elgartara dan Arthur berapa di dalam kelompok Annie. Annie yang termasuk kategori bar-bar itu di turun jabatkan, menjadi si Elgartara yang menyambung hidupkan kelompok yang hampir kehilangan kewarasan itu.


Lalu, maafkan Author yang tidak jadi membuat si Annie berkategorikan sebagai Ice Princess dan tenang. Awalnya niatnya gitu, tapi Author malah kebablasan. Ya.. gitu deh.


Tapi, tenang saja. Tidak akan mengubah jalan skenario yang Author ingat di kepala.

__ADS_1


Kelompok yang di temani oleh Annie menjadi kelompok yang berlebihan bahan. Jadi deh bagi-bagi kurbannya. Itung-itung kasih amal.


Untuk rempahnya tidak, Annie tidak punya lebih. Dia bawa lebih sih, tapi lebih untuk dirinya sendiri, bukan kelompoknya. Jadi tak di bagikan pada yang lain.


Acara masak-memasak terjadi. Annie yang selalu membuat selama membuat makanan untuk kelompoknya.


Meski begitu masih di bantu kok sama yang lain. Dia memberi perintah untuk memotong atau semacamnya saja. Selebihnya benar-benar Dia yang melakukannya.


Biasa, calon Ibu muda dulu. Jadi masak merupakan hal lumrah tanpa 'pamrih' untuknya.


Namun, tetap saja Annie meminta mereka memperhatikan apa saja dan bagaimana cara membuatnya.


Acara makan memakannya pun sudah mencapai pertengahan, di selingi tawa canda dari sekitar. Dan tahu tidak?


Si kucing dan A-04, Raymond Allebert merupakan orang yang paling menertawakan semuanya. Orang sekeliling anteng saja karena aura yang di keluarkan mereka.


Tidak merisihkan atau semacamnya.


Annie selalu sama, datar, kek gak punya muka. Diem kalem lebih-lebih boneka. Gak apa-apa kalau di ejek terus. Kan, Saya Authornya.


"Tertawa kenapa? Diam saja terus." Oceh si kucing pada Annie.


"Jadi patung manekin saja sana! Tak gerak bicara bernapas!" Masih bercerewet ria.


"Apa? Mane- apa?" Elgartara yang menyadari bertanya.


"Tidak, tidak ad— huh!" Ucap si kucing, namun terpotong.


Siiing


Suara besi dari mata pisau yang menolak angin, terdengar ringan. Sehingga hanya sebagian kecil yang tahu dan sadar.


Mangkuk tadi tak terletak dengan santai. Hingga isi dari mangkuk tumpah berserakkan.


Ting! Ting! Ting!


Suara berdenting antara kedua belah pisau membuat semua orang terdiam.


Sebuah- ralat! Maksudnya beberapa pisau tadi tergeletak dan hampir mengenai si kucing —semuanya—.


"Oi oi! Sengaja ya?!"


"Diam!" Annie membungkam si kucing dengan suara. Si kucing diam tak menjawab mau pun menggerutu.


Matanya menilik sekitar tanpa jeda, seolah sedang mengikuti sebuah gerakan yang di lakukan seseorang. Yang lain juga sudah bersiap dengan apa yang mereka bisa.


Semua orang melihat ke sekitar sambil waspada, tanpa tahu apa yang terjadi dan menyerang.


Tak!


Suara jentikkan jari dari Annie terdengar. Kini tangannya sudah tak memegang pedangnya lagi. Sang senjata sudah berada pada sarung.


"Apa mau Kalian?" Tanya tenang sambil melihat ke atas.


Di sana, atas, terlihat beberapa orang serba hitam seperti Assassin terbang. Tidak! Mereka berdiri pada sesuatu yang tipis. Terbukti dari sebuah kilatan cahaya tipis membentuk garis panjang.

__ADS_1


"Jika Kami tak memberi tahu, memangnya Kau mau apa?" Tanya salah satunya memprovokasi dengan nada meremehkan.


"Kau tahu?" Orang itu diam, tak menjawab atau bertanya.


Annie mengangkat jarinya seolah menunjuk ke atas, atau mengatakan kata '1'.


"Dalam satu tarikkan, Kalian bisa terpotong menjadi dadu kecil." Orang itu malah tambah meremehkan, dengan tambahan teman-temannya yang lain tertawa.


"Hah~" Menghela. Annie menghela napas lelah.


"Sia-sia Aku berbelas kasihan pada Kalian. Aku sudah susah payah memberi Kalian pijakkan dan terlihat keren seperti ini" Annie bernada lelah. "Hah~"


"Gadis kecil, Kau berusaha menghumor untuk Kami?" Tawaan mengejek datang dari pita suara temannya.


'Gawat!' Pikir orang-orang yang mengenal dekat Annie.


"Aku baru saja makan setengah, makanan yang menjadi makan malamku." Annie berucap dengan wajah menggelap.


"Semuanya! Lari! Cari tempat yang bisa sembunyi! Atau setidaknya beri ruang yang luas!" Furai berteriak. Yang mendengar malah cengo dengan wajah tak mengerti.


"Tapi, terganggu oleh Kalian. Apakah Kalian tak pernah tahu terima kasih setelah ku lepaskan dan memberi pijakkan?" Semakin menggelap.


"Cepat!!" Teriak Gyndenki dan Elgartara.


"Lalu, mengatakan Aku 'kecil'. Mau mati sungguhan, kah?"


Semua orang mulai sadar dan menyingkir. Namun baru hendak menyingkir.


"Matilah." Dia berucap sambil menarik satu jarinya tadi.


Siing


Suara dari sesuatu seperti bergesek, menimbulkan nada seperti pedang yang di asah menggunakan pedang lainnya.


"Eh?" Salah satu dari mereka berkilat mata bingung.


Suara sesuatu yang basah dan lembek jatuh, terdengar, lebih dari satu. Seperti banyak yang jatuh.


"K-kyaaaa!!" Salah satu gadis yang ada di dekat jatuhnya sesuatu itu berteriak.


Itu adalah sebuah tangan dengan darah yang kental mengucur pelan, seperti sebuah lava yang sedang bergerak.


Bagaimana bisa mereka menyebutnya tangan? Padahal bentuk yang terjatuh itu sudah benar-benar terpotong menjadi dadu kecil yang mengerikan.


Karena bagian, susunan dan bagian pada jarinya yang tak terpotong, membentuk sebuah tangan.


"Aaaaahhh!!!" Teriak salah seorang yang berkilat mata bingung tadi. Dia mengerang sambil memeluk tangan kirinya yang tak utuh lagi.


"A-apa?!" Orang pertama yang memprovokasi tadi bertanya bingung melihat tangan temannya yang telah putus itu.


"Aku bertanya, Kau ingin mati, kah?" Mata Annie berkilat tajam, memancarkan rasa amarah yang tak di aurakan.


"Glup-" Suara para Assassin itu menegup ludah dengan susah payah.


'Ah. Terlambat sudah.'

__ADS_1


Sekali lagi, orang-orang yang dekat kenal dengan Annie, berpikir. Namun kali ini sangat pasrah.


Dengan wajah berkedut mereka.


__ADS_2