My Antagonist Life Reancarnation

My Antagonist Life Reancarnation
Bab 1 : 11


__ADS_3

Beberapa bulan sudah ku lewatkan. Dan sekarang umur ku sudah sekitar satu tahun tujuh bulan. Aku sudah bisa berjalan lebih lancar tanpa perlu berjalan pelan-pelan karena takut jatuh.


Benar-benar sebuah pencapaian terbesar dalam hidup ku di dunia ini.


Saat ini Aku bersama Hanna dan Abel, sedang berjalan ke tempat Ibu berada. Dan kata mereka, si anggota ke tiga dari trio pengganggu sedang bersama Ibu.


Aku ingin menolak tapi apalah daya ku sebagai anak kecil. Mereka berpikir Aku akan senang, ketika bermain dengan si anggota ke tiga trio pengganggu itu. Sehingga dengan riangnya mereka langsung mengangkat ku.


Kami terus berjalan melewati jalan yang ada untuk sampai di tempat tujuan, yaitu tempat Ibu dan tsun-tsun generasi muda menjengkelkan itu berada.


Setelah beberapa saat mengamati sekitar. Entah berapa waktu yang berlalu, akhirnya kami sampai di tujuan.


Uugh-


Bener-benar melelahkan saat sudah tiba di tempat tersebut. Bagaimana tidak? Melihat sesuatu yang dapat merubah mood adalah hal yang tidak pernah di inginkan setiap orang.


Lihat. Dia hanya bilang tentang tsun-tsun menjengkelkan itu, tidak dengan trio menjengkelkan atau pengganggu.


"Annie, selamat siang." Sapa Kak Resh dan hanya ku jawab hanya dengan senyum termanis yang pernah ku buat.


Perut Ibu semakin membesar yang membuatnya semakin terkesan seperti ibu-ibu hamil pada umumnya.


Tapi kecantikan Ibu tidak pudar, dia masih terlihat sangat cantik meski perutnya membuncit. Astaga, apakah dia dewi yang berpura-pura menjadi manusia?


Nemu di mana sih Ayah? Jangan-jangan itu karena Tuhan terlalu baik padanya, sehingga Dia bisa dapet istri secantik itu. Kau harus berterima kasih pada Tuhan Ayah.


Tapi lupakan itu saat ini.


Kita harus berfokus pada trio pengganggu yang menjengkelkan itu agar bisa tenang. Aku harus memikirkan bagaimana caranya agar Aku bisa menghindari mereka. Mungkin sebuah ide untuk melarikan diri adalah bagus.


Ah! Aku tahu cara hebat! Caranya adalah dengan berpasrah diri hingga mereka bubar ke habitatnya masing-masing.


Astaga, itu benar-benar cara yang sangat, sa~ngat brilian, karena kau seperti hanya boneka yang bernyawa tapi tak hidup. Ide ini sangat cermelang sekali lho! Haha. Benar-benar pintar sekali diri ku ini! Ahahaha ha ha, ha...


Dasar bodoh! Itu bukan lagi ide yang bagus tahu! Karena kau tidak bisa melakukan apa-apa! Apanya yang ide cemerlang dan pintar hei! Itu hal terbodoh dan naif sepanjang ku hidup di dunia ini!


Baiklah~


Jika hanya bertahan adalah pilihannya, maka yang harus ku lakukan seperti itu lah. Jika tidak, hasilnya akan ada hal yang tidak di inginkan. Itu kemungkinan besarnya.


Hah~ Terkadang bersabar adalah segalanya, dan kau harus berbahagia akan hal itu meski sulit namun berusaha lah.


"Annie, semakin besar saja." Ucap Kak Resh yang memperhatikan Aku yang sedang berjalan-jalan di taman bunga Ibu.


Entah kenapa semua hal tentang di lingkungan rumah ini pasti selalu taman bunga milik Ibu. Apakah mereka menyukai atau memang hanya ini tempat spot menarik yang ada untuk bersantai atau berkumpul?

__ADS_1


Dan insting kehidupan ku mengatakan, sepertinya mereka tidak memiliki tempat selain taman ini untuk bersantai atau berkumpul, jika tidak di ruang tamu.


Oh! Dan yah, kau bodoh ya..?


Bagaimana mungkin Aku kecil terus..?


Kau pikir Aku itu benda mati apa, hah? Yang memiliki ukuran dan sifat yang seperti itu terus, 'sama' gitu?


Aku tidak mau kecil terus menerus karena hal itu sangat melelahkan, tidak ada yang bisa berkomentar dengan kata tidak.


"Tentu saja lah, dasar bodoh." Saut Kak Raan dengan nada bodoamat-nya, namun itu seperti sautan yang terlihat seperti peduli.


"Tapi Kau benar. Apa lagi dengan sifatnya itu. Dia benar-benar berbeda dengan bayi-bayi atau anak-anak pada umumnya." Lanjut kembali Kak Raan.


"Maksud mu?" Tanya Kak Reen dengan bingung.


"Kau bodoh, jadi tidak perlu tahu." Jawab Kak Raan secara spontan.


"Oh baikl- Tunggu, kau tadi bilang apa?"


Ah~ Mereka mulai lagi. Meski begitu mereka benar. Tapi jika saja kalian tidak mengerti, aku akan bilang 'Ketidak tahuan adalah kebahagian.'


Dan yah... kalian masih terlalu cepat untuk di beri tahu tentang hal-hal itu.


Umm.. tapi memangnya Aku bisa memberi tahu mereka dengan kondisi tubuh yang seperti ini?


Huh~


Ayolah Annabella Lizabethen! Berhenti berpikir seperti itu! Ingat! Sekarang Kau adalah Annabella Lizabethen dengan nama panggilan Annie! Bukan memiliki nama Annie! Tapi hanya memiliki nama panggilan Annie!


Baiklah akan lebih lengkap, jika Aku mulai melupakan semua masa lalu dan membuatnya hanya menjadi kenangan.


Lalu, memikirkan hal-hal untuk masa depan mendatang. Agar sesuatu yang tidak di inginkan tidak lah terjadi seperti apa yang telah di bayangkan.


Beberapa menit sudah terlewatkan. Dengan diri ku yang bermain di bawah pohon, sambil melihat kupu-kupu bermain-main di atas bunga-bunga indah yang bermekaran.


Melihat semua itu tanpa aktivitas apa pun, membuat ku mengantuk. Lalu Aku pun menelentangkan diri ku di bawah salah satu pohon yang ada di sana, yang sedang ku tempati.


Kemudian menutup mata dan menuju ke alam mimpi nanti.


Entah berapa lama waktu yang ku habiskan. Tetapi Aku tidak berpindah tempat ke alam mimpi namun hanya terpejam.


Kenapa rasanya sulit sekali untuk tidur padahal tadi Aku jelas-jelas mengantuk.


Aaah! Lupakan saja!

__ADS_1


Karena tidak tahu harus melakukan apa, Aku pun mendudukkan diri kembali.


Aku melihat ke arah mereka yang sedang bersantai ria sambil meminum teh buatan pelayan pribadi Ibu.


Mereka tampak membicarakan sesuatu yang terlihat seperti menggosip akan masalah-masalah terkini.


Sepertinya mereka bertiga akan menjadi ibu-ibu tukang gosip deh bukan menjadi ayah-ayah yang baik.


Aku merasa sedikit frustrasi karena tidak bisa melakukan apa-apa. Meski pun Aku sudah bisa berjalan dengan sedikit sempurna. Tapi tetap saja sulit untuk menyesuaikan diri dengan kaki kecil dan lemah ini.


Andai Aku bisa berbicara dengan benar. Maka sudah di pastikan Aku sudah berada di salah satu kursi yang masih kosong di sana dan bergosip ria sembari meminum teh dengan elegan.


Karena lelah Aku pun memilih untuk berbaring kembali dan menutup mata.


Kantuk yang menghilang secara tiba-tiba, datang kembali dan melakukan tugasnya hingga beberapa jam.


...****************...


Sesampai ku pada kenyataan telah kembali, membuat ku sedikit bingung sudah berapa lama Aku tidur?


Melihat hari yang sudah gelap membuat ku berpikir kembali ini untuk yang ketiga atau keempat kalinya atau mungkin lebih, Aku tertidur dari terang hingga gelap.


Karena merasa memerlukan sedikit udara Aku pun berjalan ke arah taman untuk menghirup udara dingin malam.


Bagi orang lain pasti saat ini dia akan membutuhkan sebuah kain untuk membuat dirinya tetap hangat.


Namun entah kenapa Aku tidak, malahan Aku merasa ini adalah sebuah hal yang sangat Aku butuhkan.


Aku berjalan ke arah salah satu pohon yang tadi siang Aku tempati, dan duduk bersandar pada pohon tersebut sambil memejamkan mata.


Aku bersenandung kecil dengan lagu yang suka ku nyanyikan saat berada di dunia sebelumnya.


Ah~


Padahal Aku sudah mengatakan pada diri ku sendiri untuk melupakannya, namun sekarang Aku melakukan hal yang sebaliknya.


"Annie." Sebuah suara terdengar dari arah depan ku, membuat ku membuka mata dan menoleh pada sang empu. Namun tidak secara spontan, tetapi secara sadar dan perlahan.


"Sedang apa Kau di sini? Dan kenapa Kau bisa ada di sini?"


...----------------...


Terimakasih sudah membaca novel ini.


Maaf jika ada kesalahan karena ini novel pertamaku.

__ADS_1


Dan Selamat hari Maulid Nabi semuanya bagi yang merayakan.. mungkin? Atau ada kata lain selain 'merayakan'? Yang pasti seperti itu lah.


__ADS_2