
"Ya ampun. Aku berharap senjataku seorang perempuan cantik. Kenapa ini anak kecil? Pria? Haha.. Aku beruntung," pundung Elgar. Astaga, Kamu itu masih kecil juga, Son. Mohon kesadarannya.
Tiba-tiba Elgar tersentak, dia segera ke Annie dan menggenggam tangannya. "Ayo tukaran!"
Rasanya kini bibir Annie berkedut, "tapi Dia masih seorang pri-"
"Tak masalah!"
"Kau yaki-"
"Tak masalah!"
"A-aku kira Dia tidak mungkin Jadi wan-"
"Tak masalah!" Efek blink-blink seolah memiliki harapan itu membuat senjata milik Annie berkerut kesal.
"Tidak! Aku tidak mau memiliki tuan sepertimu! Kalimatmu tentang perempuan cantik meragukan!" Ketusnya.
"Sudah mesum!"
Jleb
"Seperti penjahat kelamin!"
Jleb
"Tidak imut sama sekali!"
Jleb
"Ucapanmu sangat tidak sesuai umur! Kau sendiri bahkan lebih muda darinya!"
Kasihan Elgar. Jiwanya hampir menghilang.
"Ya ampun Elgar. Aku tidak tahu Kau orangnya seperti itu," lirih Gilda dengan wajah berkedut.
Benar. Kalimatnya ambigu memang.
"Tunggu! Ini tidak seperti yang Kau pikirkan Ilda! Aku hanya tidak menyangka!" Ucap Arthur dramatis sambil meragakan bak orang paling menyedihkan.
Sedangkan Vanessa memperagakan seolah melihat hama, "tidak! Aku tidak akan percaya! Kamu menjijikan Mas!"
"Tidak Ilda! Dengarkan Aku!"
"Jangan sentuh Aku Mas! Aku jijik! Aku jijik Sama Kamu! Iyueh!"
Bagus. Temennya susah malah dinistain.
Ajaran siapa sih?
"Kenapa pakai namaku?" Mungkin senyum bisa membuat Gilda jadi lebih sabar. Cobaan hidup saja berat, apalagi cobaan berteman dengan beban.
Iya, teman yang beban.
Kalau Kalian beban keluarga.
No. Don't take it personally, just kidding
Haha, Saya sungguh suka wajah mereka yang bak sedang menyaksikan 'cinema' yang tidak pernah mereka lihat. Bahkan para senjata yang sudah memperkenalkan diri mereka ke Tuan barunya sendiri.
"Aku berpikir Tuan Kita dan teman‐temannya tidaklah sehebat yang Kita kira." Ucap peri kecil milik Reen yang berbentuk senjata mirip Excalibur. Benar‐benar tidak sesuai dengan bentuk senjatanya. Meski pria.
"Jangan tanya Aku. Mereka semua bahkan anak‐anak, lebih dari yang kupikirkan!" Cetus Elf dewasa yang cantik disana. Dirinya berdiri disamping Vanessa. Melihat elf yang terbentuk, senjata milik Vanessa ini ialah tongkat sihir.
"Lupakan tentang itu." Gilda tanpa segan memeluk dagger yang berbentuk serigala miliknya. "Ululuu~ Lihat serigala gagah ini! Benar‐benar lembut!"
"Tolong! Si‐siapapun.. pria ini.. ingin membunuhku.. uhuk!" Disisi Arthur, dirinya sedang mengajak tanding senjatanya. Yang entah bagaimana, berhasil Arthur dominasi.
"Apa itu?! Berhenti memanggilku begitu!"
"Terserah diriku, hmph!"
"Diam Kamu anak kecil yang mesum!"
"Aku tidak mesum! Hanya tidak menyangka!"
"Hei! Jangan mengikuti kalimat orang lain!"
"Aku tidak. Lagian Aku hanya meniru."
"Itu lebih buruk..."
Sungguh berantakan sekali bukan?
Jika si Kucing itu melihat ini, mungkin Dia akan berteriak pada orang‐orang disini. Tapi tentu dia tidak melihat ini, karena dirinya sedang terlelap —yang membuatnya tidak muncul‐muncul— dengan menyumpal telinga. Mungkin dia berfirasat buruk sebelum tidur tadi.
Darimana dan bagaimana bentuknya? Entahlah, Penulispun tak tahu. Mungkin ini saatnya kalian menggunakan otak kanan Kalian.
"Apa cuma Kita yang sehat disini?" Tanya gadis cantik di samping Gyndenki.
Sambil menghela napas, Gyndenki menjawab, "menurutmu, apa kita tidak akan terjebak situasi saat ini dalam beberapa detik lag‐"
Buuush
"Kau.. akan menarik kata‐katamu?" Gyndenki yang berwajah datar namun kesal dihati hanya mengangguk. "Yhansen!" Misuh Gyndenki kuat.
"Maaaaf!"
Berkedut, "bahkan belum ada saat baginya untuk menyelesaikan kalimatnya,"
Tiba‐tiba sebuah suara menginterupsinya. "Kau benar. Mungkin beberapa saat lagi Aku jug-" Annie yang belum menyelesaikan kalimatnya (juga) mendapat serangan nyasar (juga).
Brak
Tring!
"Yhansen! Enki!"
""MAAF!""
"Tapi Aku tidak dengan panggilan itu!"
Gyndenki yang merasa bersalah, kini merasa ada yang salah. Kenapa dari sepanjang namanya itu harus 'Enki'? Tidak bisakah, Gyn, Denki, atau yang lebih elegan lagi Ynde? Dengan gelarnya sebesar 'Pangeran', panggilan imut seperti itu menyakiti hatinya. Ingin berteriak rasanya,
"Gelarku lebih tinggi darimu! Mana embel‐embel 'Tuan' atau 'Pangeran'nya!"
"Bukan waktunya memikirkan panggilan! Run! Run Bro! Run for You life!" Yhansen memperingati kehidupannya.
"Apa Tuanku orang yang memikirkan gelar?" Tanya gadis cantik tadi.
Ohohoho~ Tidak, nak. Tuanmu hanya mencoba protes tentang panggilannya yang imut, namun tidak bisa mengeluhkannya. Haha!
"Kalian semua, tolong berhenti. Kita harus memikirkan cara untuk keluar dari sini."
__ADS_1
Boom
Brak
Wush
Nya!
Arilaso!
...tidak ada yang mendengarkan Kushida. Mereka fokus pada suasana milik mereka.
"Kalian.." senjata Kushida melirik kearahnya, mewanti‐wanti apa yang akan terjadi.
"DIAMLAH SEBENTAR!"
Gelegarnya hingga membuat yang lain menutup telinga mereka, untung-untung teriakanmu tidak sampai menutup hidup mereka, Kushida. Rasanya jika ada sedikit genangan air, air itu bisa ikut meresonansi.
Silence
Mereka diam tanpa suara. Ketika Nyonya besar mereka berteriak seperti itu, seolah sedang menegur, pasti ada saja yang membuatnya marah.
Tapi satu hal yang anak‐anak itu pikirkan, 'Kenapa Dia marah?'.
Sial. Kushida harus bersabar terhadap mereka. Mengandalkan Elgar? Jangan diharap. Dia pasti akan ikutan juga. Buktinya, sedari tadi dirinya berkelahi dengan senjata milik Annie.
"Dengar!"
"Jangan berpikir kenapa Aku marah,"
'Cenayang?!'
"Apalagi berpikir Aku cenayang,"
'BENERAN CENAYANG!"
"Sudah kubilang Aku bukan!"
"Ekhem. Yang pasti, Kalian pikirkan dulu cara Kita keluar dari sini. Dengar ya! Kalau Kalian ingin berkelahi nanti saja! Setelah Kita selamat dari dungeon temuan ini!"
"Yes, Ma'am!"
"Apa-apaan itu?" Maksudnya, panggilan dan sikap siap itu.
"Hoaam~ Hnggh- gah!" Suara imut layaknya suara kucing menarik perhatian mereka.
Dan terlihatlah kucing hitam pembawa bencan- maksudnya kucing hitam imut baru saja bangun dari tidurnya dan merenggangkan badan.
Ternyata memang kucing, toh.
"Ha~ Apa Kita sudah kembali?" Ucapnya sambil melepas penyumpal telinga sambil memejamkan telinga. "Loh? Belum ya?" Matanya yang mengintip sedikit itu melihat suasana ruangan. "Ternyata belum. Tapi, tunggu,"
Wajah anak-anak nakal itu terlihat seperti memiliki tanda tanya, "kenapa kelihatannya karakter buatan Penulis jadi bertambah banyak?"
"A-a-a-a-a-a!!" Senjata milik Kushida terlihat terbata-bata.
"Kau kenapa? Apa ada yang salah denganku?" Si Kucing itu melihat-lihat badannya, mencari apakah ada kerusakan atau mungkin serangga.
"Kucingnya bicara?!!" Kaget semua makhluk yang tidak tahu kenyataan tentang si Kucing.
"Kucingkan memang bisa bicara (seharusnya)! Kenapa Kalian kaget seperti itu?!" Kesalnya tanpa sadar maksud mereka.
Annie mengangkat si Kucing, berkata, "tidak, Woody. Maksudnya, kenapa kucing sepertimu bisa mengatakan sesuatu selain 'Meow'."
"Lagipula, kenapa bisa ada banyak makhluk disini! Ada Elf, Serigala, Dwarf, loli, shota, Hibrida. Terus.. Aku tak tahu Kau siapa pria berwajah cantik, maka dari itu Aku akan memanggilmu 'Akang Trap'. Lalu, Kau dan yang lain! Kalian aneh!"
"Tidak, yang aneh disini Kamu. Apa-apaan dengan arti 'loli' dan 'shota' itu?"
"Benar! Apa maksudmu dengan trap?! Aku pria tulen milik gadis bernama Annie disana?!"
Ugh- terlihat ambigu.
"Selama hidupku... seekor kucing seperti itu biasanya hanya hibrida... dan Aku melihatnya berbicara dalam bentuk kucing. Apa Kau hibrida, Kucing?" Gumam senjata Kushida. "Oh astaga! Dunia ternyata semakin kuat sekarang!"
"Kamu seperti ilmuan gila,"
Tentu Kushida berkata seperti itu, karena nada Dwarf imut itu terdengar semangat walau hanya gumaman. Benar-benar mirip profesor 'aktif' yang menemukan sebuah peristiwa material.
"Bicara tentang keluar, mari buat jalan sendiri." Seru Annie sambil tersenyum polos.
"Senyumanmu meragukan..."
"Tolong hentikan... itu membuatku merinding..."
"Jangan lakukan apapun yang ada di dalam pikiranmu. Pokoknya jangan!"
Protes orang-orang.
"Padahal..hiks..Aku hanya tersenyum..hiks.." Pundung Annie dipojok.
"Memangnya tidak bisa ya menggunakan jalur masuk kalian tadi?"
Oh
Pertanyaan itu yang menjadi sebuah ide bagi mereka. Jika masuk lewat pintu, berarti keluar lewat pintu itu juga.
...****************...
"Apa masih belum bisa ditemukan?"
"Menjawab! Belum Ketua!"
"Baiklah, Kamu boleh pergi,"
Anggota tersebut segera keluar dengan ekspresi dan gerakan Kaku. Tidak peduli berapa kalipun Dia mencoba rileks, aura yang dikeluarkan wanita dihadapannya itu begitu hebat.
Disaat bersamaan, terasa tegas dan kuat, juga lembut dan penuh kasih. Meski begitu tak dipungkiri rasanya masih tetap ingin berada di dekat wanita itu.
Namun juga rasanya ingin cepat-cepat keluar. Lalu pergi ke tempat sepi dan berteriak disana, sambil mengatakan sesuatu yang hebat.
"Haa..." Deritan kursi karena disandari satu-satunya suara setelah d*sahan lelah itu.
'Annie membuat masalah besar kali ini.'
Benar, wanita itu, Furai, merasa lelah setelah hilangnya anak-anak didikannya itu selama tiga hari ini.
Hari ini mereka bersiap-siap untuk pulang agar besok pagi mereka bisa langsung kembali setelah sarapan bersama. Jauh sebelum itu, mereka mesti disibukkan dengan pencarian tanpa clue satupun.
Bekas pertarungan berkubah dengan mayat singa-singa sihir? Itu bukan clue, hanya kekacauan.
Beranjak dari posisinya saat ini, Furai keluar mencari angin. Lupakan tentang masalah ini dibuat oleh anak-anaknya atau hanya kebetulan. Mari cari angin segar.
"Ketua!" Menoleh sekilas, Furai berdehem sebagai jawaban dan pertanyaan. Namun bukan langsung menjawab, Kouji, ragu-ragu sebentar, "itu... bagaimana, perkembangannya?"
__ADS_1
"Hm?" Bingungnya, "ooh!" Meregangkan pinggang, "Kita lupakan anak-anak nakalku itu. Aku punya dua lagi dirumah, bahkan bisa buat lagi. Mari fokus mencari anak-anak lainnya saja. Mungkin mereka berpisah."
Itu bukan jawaban yang ingin Kouji dengar. Jawabannya begitu lugas seolah menyiratkan, 'hanya tiga anak tidak berguna, buang saja lalu buat baru'.
Membayangkan ketuanya itu memiliki ekspresi menyeramkan membuatnya bergidik ngeri. "Ka-kalau begitu Saya duluan. Maaf mengganggu!" Belum sempat Furai hendak memintanya membuatkan teh, Kouji sudah lari terburu-buru.
"Hm? Kenapa Dia lari seperti itu?"
Kamu membuatnya berpikir yang tidak-tidak. Tentu saja seperti itu.
...****************...
"Lady Kim?"
"Ah! Iya?!"
"Anda melamun. Apa ada yang mengganggu Anda?"
"Tidak, itu...Ya-yang muli-"
"Saat ini Saya bukan pangeran, Lady Kim. Jangan sungkan memanggil Saya hanya Edward." Potong Edward.
"Ba-baik! Kalau begitu Anda juga!"
Edward tersenyum, "Yuri, jika Kamu mengkhawatirkan ucapan Ketua, jangan dipikirkan. Dia hanya bercanda. Cuma bercanda, haha." Ujarnya, '...mungkin.'
"Hehe, tentu saja. Saya juga tahu itu." Yang mana Yuri? Yang 'hanya bercanda' atau 'mungkin' itu cuma candaan? "Saya hanya memikirkan tentang Lady Annabella dan yang lainnya."
Sekali lagi Edward tersenyum sebelum menanggapi. "Jika itu mereka, jangan khawatir. Saya sendiri yang akan me-nyata-kan candaan Ketua. Untuk semua orang, bukan hanya mereka bertiga. Terutama saudara Saya."
Seketika senyum lembut dan sopan Edward yang terkenal, berubah menjadi senyum layaknya seorang psychopath.
"Untuk mengendalikan seseorang, perlu memberi rasa takut, bukan?"
Yuri meringis pelan mendengar lanjutan Edward. Melupakan senyumnya yang tidak sinkron dengan kalimatnya.
"Tuan-"
"Tanpa embel-embel." Tekan Edward.
Yuri sekali lagi meringis, "E-Edward. Saya ingin bertanya."
"Apa itu?"
"Saya merasakan hawa familiar dari arah sana. Apakah bisa Saya melihatnya?" Ucapnya sambil menunjuk ke arah selatan.
"Tentu saja, akan Saya temani." Tanggap Edward sambil tersenyum ringan, 'karena tugasku menjagamu. Jika Kamu lepas dari pengawasanku, gelar putra mahkota sudah tidak berguna lagi bagi keselamatan hidupku.'
"Terima kasih! Kalau begitu ayo!"
Baru hendak berjalan melewati garis pembatas perkemahan. Suara semak-semak yang bergesekan menghentikan langkah mereka.
Tentu saja, diikuti teriakan lebih dari satu orang.
"Aaaaahhh!"
"Jangan mendekat!"
"Itu menjijikkan! Bunuh serangga itu!"
Tunggu, sepertinya orang-orang yang mendengar teriakan itu sedikit familiar dengan suaranya.
"Meow!"
Seekor kucing hitam dengan gagak di punggungnya datang lebih dulu dari teriakan manusia disana. Wajah mereka terlihat imut, namun juga sedikit datar dengan kening mengernyit.
"Kucing? Eh?"
Tepat setelahnya sebuah mana nampak melingkari sekeliling perkemahan. Beruntung Yuri ditarik Edward mundur beberapa langkah tepat setelah beberapa orang keluar dari semak-semak. Alhasil, mereka tidak tertabrak oleh orang-orang itu.
"Perisal! Mana! Pelindo-! Peduli amat! Aku lupa mantranya! Aaah!" Kata-kata berantakan yang bahkan meleset dari kata aslinya adalah awal dari semuanya.
Bruk
Beberapa orang melompati sihir yang melingkari perkemahan tepat setelah pelindung mana yang sebelumnya pecah menjadi tumbuh lagi. Mereka orang yang sangat terkenal baru-baru ini selama perkemahan.
"Ahahahaha!" Tawa lucu terdengar dari luar pelindung padat transparan itu.
"Kalian lucu! Lucu sekali! Padahal cuma beberapa serangga raksasa sudah berlari seperti itu!" Tawa tersebut masih belum berhenti, namun sedetik kemudian digantikan oleh kalimat datar. "Tapi sayangnya, Kalian tidak lucu beberapa saat lalu."
"Gilda! Jangan marah! Aku cuma bercanda! Sungguh! Jangan dendam padaku!" Teriak manja gadis bersurai biru navy. "Jika dendam dengan Enki saja!"
"Namaku Gyndenki?!"
"Tenanglah Gilda! Aku akan mentraktirmu dengan uang atas nama Pangeran Gyndenki Clover!"
"Jangan seenaknya mewalikanku!"
"Ah! Annie! Jangan mati! Itu cuma serangga dengan ukuran besar saja! Bukan makhluk merayap yang mengerikan, menjijikan, memuakkan, yang iyuh-iyuh kotor seperti itu!"
"My darling sweetie weetie pie apple sorry no level! Jauhkan itu mereka sebelum Kamu membunuh Annie!" Kali ini pemuda bersurai biru muda yang bersuara. "Kalau ingin membunuh! Bunuh saja Darling Enky!"
"Jangan memanggilku seperti itu!"
"Menjijikkan! Menjijikkan! Menjijikkan!"
"Annie jangan bergumam seperti itu! Terlihat mengerikan!"Gyndenki lelah dengan semua ini.
"Tuhan. Jika Kami mati disini, setidaknya berikanlah sebuah kedamaian."
Kini Gyndenki benar-benar tidak tahu harus menanggapi apa. "Yhansen, Arthur. Kalimat kalian terdengar mengerikan..."
"Ahahahahaha! Hancur! Hancur!" Gilda tertawa sambil memukuli pelindung yang Annie buat dengan sekuat tenaga.
Beberapa pukulan terakhir yang dikuatkan dengan mana berhasil membuat pelindung itu retak. Tidak ingin melewatkan kesempatan, kali ini dirinya memukul lebih kuat.
Keberuntungan kini berpihak pada Gilda. "Ayo~ Jika tidak mau yang besar, Aku punya yang kecil. Ehehe." Gilda mengeluarkan tangannya dari sakunya.
"AAAHH!" Goho- Annie pingsan.
Kecoa yang lebih kecil berkali-kali lipat dari serangga raksasa yang ditakuti Annie sebelumnya berhasil menumbangkan Annie. Kaki mereka yang menggeliat kecil sukses membuat yang lain bergidik. Yang disebut Power of Kecoa.
Benar. Kecoa.
Annie pingsan karena kecoa.
Gilda perlahan mendekat, terus mendekat. Dan mendekat, lalu mendekat. Semakin mendekat. Hingga dirinya berdiri tepat di depan Gyndenki. Baiklah, Kita korbankan Gyndenki.
"Ke-kenapa Kau berdiri di depanku?"
Dengan seringai iblis, Gilda memegang bahu Gyndenki. Lupakan tentang dirinya tertawa geli tadi yang membuatnya terlihat manis. Karena sekarang tawa itu hasil kamuflase sang iblis.
'Ah. Aku mati.'
__ADS_1
Lupakan cerita dikejar kecoa yang dikendalikan Gilda. Karena semua hari itu berakhir dengan kalimat-kalimat penuh manfaat dari Furai.