
Kalian pasti bertanya, "kenapa Annie pendek?"--
Tidak, mari lupakan.
Saya hanya bercanda.
Serius.
Demi apapun, Annie semakin tinggi, kok.
Serius, Saya tidak bercanda.
Baik, mari kembali. Saya tidak ingin didukun karena menghabiskan banyak word.
Saat ini semua bisa melihat sebuah kekacauan. Tenang, tidak melibatkan nona bangsawan yang berakting, 'maaf! Saya tidak sengaja! Tangan Saya sedikit tergelincir!'
Tentu saja. Karena adegan itu sudah basi bagi Saya.
"Maaf. Tangan Saya sengaja melepaskannya."
Apalagi yang ini.
"Ka-kamu!"
Tunggu! Apa tadi?!
"Kenapa marah? Saya 'kan sudah meminta maaf."
Penulis ragu itu kalimat yang bagus. Dan karena sikapnya itu, seorang bangsawan yang lain maju. Kelanjutannya? Tentu saja menghardik.
"Sangat tidak sopan! Apakah kamu iri? Sehingga sengaja membuat masalah seperti ini?"
"Sshh! Tolong jangan berteriak. Lady menjadi yang paling tidak sopan di sini. Lagipula, Saya bilangkan tidak sengaja." Gadis itu menutup telinganya dengan masing-masing telunjuknya.
Seorang pemuda dengan ketampanan yang tidak manusiawi menegur. "Lady Lizabethen... Anda mengatakan yang sebaliknya..."
"Diam." Datar gadis itu.
"Baik." Responnya yang secepat kita menekan notifikasi dari si 'seseorang', dan segera mengambil tempat dimeja sebelah.
"Kalau begitu, kan, hanya kurang satu huruf. Kenapa sepele sekali?"
"Tidak tahu malu!" Gadis yang tersiram teh tadi mengangkat tangannya.
Iya. Diangkat. Kan ceritanya mau nabok.
"Tunggu." Berhenti, tangan gadis itu menurut. Karena suara tenang yang memanggilnya.
Namun bukannya berhasil mengeluarkan kalimatnya, suara gadis yang menjadi penyebab utama masalah ini mendahului.
"Lady Queenie, hukuman karena melukai calon putri mahkota, putri seorang Duke, putri pertama dari satu-satunya bangsawan pertama yang menjadi anggota klan Kainigose, tidak akan menjadi ancaman kecil untuk keluarga Anda."
"Lady Annabella."
Menoleh dan hanya dijawab oleh deheman.
"Kamu kurang satu hal,"
"Calon ratu masa depan."
"Owh. Benar." Cetusnya.
Sebentar. Saya merasa tidak paham.
"Tapi, Tuan Putri! Gadis ini yang memulai! Dia juga hanya putri seorang Duke baru! Tidak bisa memiliki pengaruh!"
"Dan lagipula, bukankah itu masih calon Putri Mahkota!"
Tak!
Gadis yang membela Annie tadi meletakkan cangkir tehnya dengan tidak santai. Membuat gadis bermarga 'Queenie' itu terbungkam.
"'Itu', yang Anda maksud itu, apa?" Tekannya.
Bagus. Bagus, Annie. Kamu membuat masalah lagi kali ini. Beruntung ada sang Putri yang bersedia membelamu. Jika tidak, mungkin ketiga pangeran terkenal kerajaan mereka mesti turun tangan dan kelabakan sendiri.
Tapi tunggu sebentar, mari lihat iklan berikut.
"Padahal katanya ini pesta teh untuk menyambut kita. Kenapa malah menjadi tempat adu mulut?"
"Bagus, Annie! Lanjutkan!" Sesuatu menyelip dialog Gyndenki. Itu Arthur. Berteriak dengan tidak elitnya. Yang untungnya tidak terlihat buruk karena wajah bayi miliknya.
"Kak Enki, Arthur. Jangan tata krama kalian."
"Baik!" Kedua pemuda itu menurut.
"Haa... tenangnya..."
"Sa-saya rasa tidak ada kedamaian hari ini."
Jika kita sedikit melirik ke kiri. Kalian bisa melihat Edward dan Yuri yang berdialog kecil.
__ADS_1
Lalu jika kita ke kanan kalian bisa melihat Vanessa yang menyemangati Lumiere, pangeran kerajaan Clover kita.
"Aku menyesal memilih duduk satu meja bersama Putri Clarence tadi."
"Tolong biasakan saja jika Anda ingin duduk semeja dengan Annie, Pangeran." Namun segera dia menyadari sesuatu, "tapi sepertinya itu sudah tidak berguna karena Anda sudah berpindah meja."
"Aku cantik, aku diam." Telak Kushida. Dia diam dalam meminum secangkir teh dengan anggunnya. Padahal dirinya sedang berada diantar pertengkaran itu.
"Tuan Putri?!"
Tiba-tiba gadis yang disiram Annie berteriak kencang tepat disampingnya.
Entahlah. Mungkin Kushida hanya bisa tersenyum semanis mungkin dari wajah cantiknya.
Tapi tidak semudah itu dengan gratisnya Kushida melebarkan senyum manisnya tanpa hal-hal lain.
Tuk
Tenang, itu cuma secangkir teh.
Bruak!
Jangan tenang, itu cuma meja yang digebrak hingga entah bagaimana samar-samar terdengar juga suara kayu yang patah.
"Berteriak dengan memanggil gelar orang yang lebih tinggi darimu itu tidak bagus. Terlebih bukan hanya sekali."
Sejenak semua diam.
"Lady Kushida! Anda sedang membela-!"
"Marga Saya Takata, tolong Anda pelajari lagi kelas tata krama. Kita tidak dekat."
Wah~ Ini gawat.
"Ugh-" Lady Queenie menggigit bibir bawahnya. Dia kesal, bahwasanya semua orang-orang dengan gelar tak langsung disini membela gadis yang tak pernah terlihat selama pesta-pesta yang pernah dihadirinya.
Awalnya dia memang terkejut. Tapi, bukankah itu hanya keluarga Marquess yang baru-baru ini naik pangkat tanpa terdengar telah menyelesaikan konflik besar apapun?
Mereka hanya dinilai telah meningkatkan penghasilan yang setara dengan Duke kelas menengah.
Terlebih, ayahnya yang juga seorang Marquess tidak mengatakan apa-apa tentang hal ini. Itu artinya, mereka tidak penting. Bisa kapan saja dijatuhkan.
Karena itu ia menjadi lebih dari berani.
Tapi itu kesalahan gadis itu saat ini.
"Mungkin Anda memikirkan kenapa Kami lebih membela Lady Annabella daripada Anda yang...ekhem... diperlakukan seperti itu olehnya..."
Iya... teman(?).
"Intinya, yang jelas, rumah tangga Lizabethen memiliki dukungan yang tersirat dari beberapa keluarga Marquess juga Duke."
Entah kenapa Annie ingin berbatin, 'haruskah ekspresimu mengatakan kamu sedang dalam ketabahan?' Tidak, tidak. Jika bisa dia ingin berdialog langsung.
Kalian bisa membayangkan ekspresi memejamkan mata sambil berkerut dahi. Dengan tangan terkepal yang berada di depan mulutmu, seolah berusaha menutup bentuk bibirmu.
Atau semacamnya?
Oh! Jangan lupa tambahkan gelengan ringan.
"Pelayan. Bawa Lady Queenie untuk mengganti pakaian."
Segera, kepala pelayan mengambil langkah.
Semua tamu melihat ke arah perginya putri Marquess Queenie yang menahan amarah. Tidak ada yang berbicara sampai saat itu.
"Pfft-"
Seorang pemuda dengan mulut tertutup tangan menarik perhatian. Wajahnya berekspresi seolah ada sesuatu yang lucu. Namun seketika ada tawa menggelegar namun tidak terdengar kasar.
"Ahahahaha!"
Sebenarnya yang ini bukan dari pemuda yang menahan tawa tadi. Tapi dari Yhansen.
"Saya bersenang-senang. Terima kasih, Lady. Itu sebuah pertunjukan yang memuaskan." Kali ini baru pemuda yang menahan tawa tadi.
"Aku tahu, Aku tahu. Lain kali akan kubuat teaterikal berbayar."
"Annie, tata kramamu." Yhansen memang mengatakan itu, tapi dengan tawa yang masih tersela besar.
"...tolong kacanya."
"Tapi, terlebih lagi. Bukankah Kamu seharusnya membela saudarimu, Tuan Muda Queenie?" Annie tidak habis pikir dengan pria yang menahan tawa itu.
"Untuk apa?"
Annie diam saja, tidak menjawab maupun berekspresi lain. Dia paham.
Tidak ada yang berniat membela ataupun menyalahkan kedua gadis yang bermasalah tadi. Itu karena mereka sedikit penasaran dengan gadis bermarga Lizabethen itu.
Tidak pernah mereka melihat batang hidungnya muncul. Sehingga mereka tidak bisa menyimpulkan setidaknya sebagian kecil hal.
__ADS_1
Sedangkan, putri Marquess Queenie. Mereka tidak berniat peduli. Siapa sih yang menyukai gadis itu? Mereka lebih senang melihat drama darinya dan antek-anteknya itu.
Lihat saja, bahkan antek-anteknya begitu setia dan memilih mengikuti tuan mereka layaknya anjing.
Tersenyum.
Semua orang tanpa sadar tersenyum dan kembali fokus pada pembicaraan mereka tadi.
Kejadian tadi sebenarnya apa? Secepat itu mereka lupa.
"Woah~ Benar-benar layaknya aristokrat profesional." Annie berucap kata kagum, tapi ekspresinya tidak.
"Astaga Annie. Lain kali jangan sampai terbawa emosi seperti itu. Lagian apa yang dia lakukan hingga membuat adik kecil kami ini marah, huh?"
Memang Vanessa yang hanya bisa bersikap lembut diantara mereka. Lihat saja, bahkan dia sampai menghampiri Annie yang masih betah berdiri.
"Tidak ada. Benarkan, Kushida?" Luarnya memang seperti itu. Tapi dalamnya memaki-maki bahwa sebenarnya dia lebih tua dari mereka.
"Huh? Oh, ya. Tidak ada."
Mereka tidak percaya itu, tapi memilih diam. Annie yang masih betah berdiri itu kembali menatap teman-teman semejanya.
"Lebih baik kalian segera pindah meja. Karena meja itu tidak akan-"
Bruk
"-bertahan lama." Lanjutnya cepat. "Tak apa. Untung saja makanannya segera dievakuasi."
"Kyaa!"
"Astaga! Hampir saja!"
"Hei! Apa makanan saja yang Kamu pikirkan!" Namun Annie tidak peduli. Dan lihat. Bahkan dua meja yang mengisi teman teman mereka terlihat tertawa tanpa beban. "Ya ampun. Jangan tertawa." Kushida memelankan suaranya. Tentu sambil memasang ekspresi tabah, tanpa tangan yang terkepal.
...****************...
"Annie." Annie berdehem. Santai sekali, padahal tadi baru saja- sudahlah. "Lebih seringlah menghadiri undangan para bangsawan, agar setidaknya mereka lebih sopan juga kepadamu."
"Y."
Wow~
"Aku serius. Jangan membuatku kesal."
"Umurku sudah bertambah kemarin. Jadi tidak mudah mengingat setahun lagi Aku akan bersekolah."
Annie dan yang lainnya kini sedang beranjak dari acara minum teh yang telah selesai ini.
Jawaban terakhir Annie tidak membuat Kushida, yang satu-satunya mengajak gadis itu berbicara, berbicara lagi.
Jika boleh jujur. Annie benar-benar terlihat lebih fokus pada misinya. Dia tidak pernah berpikir setidaknya bersenang-senang di usia mudanya itu. Mereka merasa sedikit khawatir.
Tapi itu kesalahan setiap orang saat ini.
Jika saja orang-orang dengan gamblang mengatakan hal seperti itu kepada Annie, pasti dia koar-koar karena jiwanya yang bahkan lebih tua dari sang Ibunda itu.
"Kamu setidaknya harus lebih sering bermain, Annabella. Sebagai calon kakak ipar yang lebih muda 2 tahun dariku, kamu harus mendengarkanku." Sang Putri berkomentar.
"Clarence, diam."
"Eh? Eh?! Eeehhh?!!!"
Lihat. Bagaimana bahkan seorang putri kerajaanpun, dia perintah.
Memang berani sekali gadis ini.
Tidak heran. Bahkan sang Duke sering kewalahan.
Seketika Annie berhenti. Dia menatap awan. Dirinya berpikir, 36 tahun itu. Waktu yang sebentar, ya?
...****************...
"Kapan kalian akan kembali?"
"Kami sudah kembali saat ini. Kenapa bertanya?"
"Maksudku, kapan libur kalian selesai?" Kesal Annie.
"7 hari lagi kami akan kembali."
"Oh. Bagus."
"Kurasa itu bukan reaksi yang bagus dari seseorang yang baru saja menghancurkan pesta teh penyambutan orang lain."
"Terserah kau saja." Annie...
Siapa sih yang punya karakter seperti gadis ini? Sepertinya, tidak ada.
Karena tidak ada yang tahu kemana hilangnya ide Saya kemarin. Maka, Penulis memiliki kabar baik. Akhirnya, tepat saat pembukaan acara tadi, Lady Baron Kim telah diresmikan menjadi Lady Duke Louis.
Mari tepuk tangan. Karena kini, dunia novel Annie ini sebentar lagi akan memasuki bab pertama.
__ADS_1
Mari kita berikan tepuk tangan~