
Berdiri atau tepatnya terbang tepat di atas sela antara reruntuhan hasil karyanya. Itulah posisi si X sialan itu.
Perlahan Dia menurunkan dirinya, tepat di bawahnya dan di depan reruntuhan besar yang sekali lagi hasil karyanya.
Semua orang menatapnya waspada. Pelindung yang tak terlihat itu di sentuhnya menggunakan ujung jari. Getaran yang agak buram tampak saat Dia menyentuhnya.
Pelindung ini terbuat dari [Mana Shield] versi besarnya. Hasil dari pengumpulan mana para anggota yang bertugas di sini.
Semua sudah bersiap dengan kemungkinan terburuk di sini. Terlebih Mama. Dia sudah melihat seberapa kuatnya pria itu padahal Dia belum serius.
"Pelindung? Apakah Kalian berniat melakukan sesuatu? Hanya sekecil ini, jangan bercanda." Si*lan Kau X. Itu juga ada mana-ku tahu!
Ups! Semoga Mama tidak tahu ini.
Dia mencoba mengumpulkan mana pada pusat jari tengahnya. Ku tebak Dia ingin menyentilnya seolah itu mainan.
Praang!
Mana yang berkumpul tipis itu pecah, membentuk serpihan-serpihan mana seperti kaca yang pecah. Namun di mataku nampak cukup indah.
Tertangkap!
Zriing zriing
Rantai mana yang terbentuk dari serpihan mana itu menangkap si X, membelitnya seolah Dia itu hewan peliharaan (Aku menganggapnya begitu). Aku sudah mempersiapkan ini.
Karena akhir-akhir ini Aku merasa Dia berada di sekitar sini. Hawa ini selalu kuingat karena Mama mengatakan Dia melarikan diri waktu itu.
"Wah wah~ Aku tertipu." Kekehnya.
Aku sebenarnya tahu ini tidak akan terlalu berguna. Mengingat Dia itu sangatlah kuat, dan hampir bisa di samai oleh Mama untungnya.
Energi darinya cukup besar, Aku merasakan itu. Sangat mengerikan, jika di masukkan ke kategori apa kekuatannya itu.
Tapi sebelum itu sengaja kubuat Dia kembali tertipu. Mananya bisa kapan saja habis jika Dia tidak segera melepaskan diri.
Menyerap mana dari tubuhnya sedikit sulit. Terlalu banyak jika hanya ke tubuhku. Jadi kucoba salurkan ke anggota lainnya.
Aku menggerakkan tangan kananku seperti sedang berusaha mengatur benang tipis tak terlihat (walau memang benang namanya).
Benang ini terbuat dari sesuatu yang sangat tipis lalu di lapisi mana agar mudah mengendalikannya. Secara cepat kukendalikan untuk menusuk ke bagian inti pusat mana mereka.
Sangking tipisnya ini tidak akan menyakitkan. Semua kulakukan cepat agar segera bisa menyalurkan mananya.
"Astaga, mana-ku terserap. Kalian berusaha menghabiskannya ya?" Aku dapat melihat sekelebat cahaya dari matanya.
Dia mungkin sedang mencari tokoh utama dari penyerapan mananya ini.
Juga, Mama yang sekelebat menatapku dengan tatapan yang sulit kumengerti. Jangan-jangan naluri keibuannya merasakan Akulah penyebabnya.
Ups! Ketahuan~
Criing
Rantai itu mengeluarkan suara sekitar seperti itulah. Rantai itu hancur menjadikannya benar-benar seperti serpihan mana.
"Padahal Aku ke sini dalam maksud baik." Ucapnya sambil menggeleng-gelengkan kepala dan tangan yang terangkat sejajar bahu.
__ADS_1
"Penjahat seperti tidak pernah punya maksud baik. Terlebih seseorang yang kejam sepertimu." Mama menyahut.
Aku salut padanya.
Soalnya langsung memberitahu penilaian atas sifat dari pria itu tanpa basa basi dahulu.
"Astaga Nyonya. Anda selalu sama seperti saat Kita pertama kali bertemu. Begitu ketus denganku." Ucapnya santai.
"Saya ke sini hanya bermaksud meminjam seorang anak dengan elemen langka." Dia menjeda sebentar. "Pemilik elemen cahaya."
Aku tahu itu. Pasti maksudnya adalah Yuri. Aku merasa Mama sedikit tersentak atau semacamnya. Apakah ada yang terlintas di kepalanya?
Mungkin Mama berpikir itu Aku. Sekali lagi Mama melirik sekelebat ke arahku. Ayolah Mama. Aku merasa sangat jahat terus di lihat sekelebat seperti itu.
Pria itu berjalan mendekat ke arah depan. Semakin mendekat hingga tiba-tiba Dia menghilang sekejap mata. Semua orang riuh.
Aduuh!! Berisik sekali sih!
Cobalah lihat ke arah Yuri. Di mana si X itu sedang menilik-nilik ke arahnya. Seperti sedang memeriksa sesuatu.
"Hm hm~ Cukup baik." Ucapnya mengejutkan orang lain.
Tangannya terulur seperti hendak menjangkau Yuri.
Plak
"Apa yang Kau inginkan?" Ucap A-05 selaku orang yang menepis tangan pria itu. Matanya menatap tajam dengan alis yang tertaut. Dengan di sampingnya A-06 dan A-01.
"Astaga Nona. Anda kasar sekali." Ucapnya sambil bernada seolah orang yang telah di salahkan.
Semua orang menatap terkejut atas keheroinan A-05 dkk. Kami yang termasuk anggota sudah bersiap dengan apa yang Kami miliki.
Iyalah. Kalau nolak tak sopan sekali Aku sebagai seorang bawahan.
Mereka berdua yang terus berdebat nampak tak memperhatikan sekitar lagi. Saling menyudutkan tanpa tahu, kalau menang jadi presiden, kah?
Aku mendekatkan diri lebih dekat ke si Edward agar Dia dapat mendengar apa yang ingin kubisikkan.
"Edward. Kau coba jauhkan gadis yang bernama Yuri itu." Dia menatap bertanya. "Lakukan saja." Masih dalam tatapan bingung kutinggalkan Dia agar bisa lebih dekat ke sana.
"Oh? Apa ini?" Ucap pria itu yang tiba-tiba berada di depanku.
Lalu, Dia mengangkatku dengan masing-masing tangan pada antara lenganku. Seperti mengangkat anak kecil yang masih bayi. Tanganku menahan di kedua bahunya.
"Apakah sekarang pesta berganti menjadi penitipan anak kecil?" Ujarnya santai.
Aah~
M*tilah ke neraka Kau, pria gila.
Aku menunduk dengan sangat hingga menggelapkan mataku. Untuk apa? Untuk bisa menahan kekesalan yang amat sangat ini.
"Mati Kau si*lan." Gumamku kecil.
"Hm? Apa?" Tanyanya yang merasa mendengar bisikanku itu.
Belum sempat Dia mendengarkan jawabanku, Mama sudah menyerangnya dengan pedang yang tersedia di tangan, mata pisau itu hampir saja mengenai lengannya.
__ADS_1
Seolah sengaja Dia melepaskanku begitu saja. Aku yang belum siap untuk jatuh hanya berusaha memejamkan mata. Toh, kalau jatuh cuma sakit doang, gak bakal mati.
Tapi sebuah tangan terasa seperti sedang mengangkatku. Lalu sebuah angin yang menerpaku. Aku membuka mata.
Itu adalah Kak Reen. Dia mengangkatku ala bridal style. Kemungkinan besar, angin yang menerpaku tadi itu karena Dia melompat mundur.
Di sisi Mama, sebuah cahaya putih yang terus menyelimuti dirinya seperti serpihan kecil dari mana, menggantikan gaun indah miliknya menjadi seragam anggota.
Begitupun anggota yang lain. Seperti para A-0 dan beberapa bangsawan yang lebih dewasa lainnya. Seragam khusus anggota membaluti mereka.
Mama menyerang secara bertahap menggunakan pedangnya. Setiap aliran mana yang di manipulasi membuat sebuah kesan indah di mata setiap orang akan keindahan itu.
Sementara para anggota lain yang bertugas bersiap dengan sebuah mantra.
Mama yang menyerang dengan berbagai macam teknik buatannya sendiri dan menangkis setiap serangan membuatku sedikit gugup.
Sementara para tamu mencoba di evakuasi(?), Aku sedikit termenung oleh rasa was-was yang deja vu ini. Melirik setiap pergerakan yang mereka lakukan dengan cepat sampai hampir tak terlihat.
"Annabella, cepat. Mereka melakukannya dengan sangat sengit, bisa-bisa Kau ikut terkena." Suara Edward terdengar, namun tidak sampai membuatku mengalihkan perhatian.
[Yuri POV]
Aku pertarungan sengit ini dengan cukup seksama. Hingga sebuah suara mengagetkanku. Aku menoleh untuk melihat suara itu berasal.
"Nona Kim, mari Kita ikuti yang lain." Ucapnya dengan cukup wibawa. Itu adalah pangeran Edward. Aku cukup terkejut Dia mengingatkanku dan memanggilku.
Saat hendak menjawab 'Ya' suara para tamu yang lain membuatku lebih terkejut lagi."Kyaaa!" Beberapa teriakkan dari para tamu wanita.
"Jangan harap!" Teriak pria dengan topeng yang cukup menyeramkan itu.
Sesuatu yang transparan mengurung semua Kami. Seperti yang saat pria itu memecahkan sesuatu seperti kaca. Tapi lebih keras dan mengerikan.
"Semuanya! Lindungi para tamu!" Teriak wanita cantik dari keluarga Lizabethen.
Aku begitu takjub dengan penampilan dan perasaan yang di keluarkannya. Begitu indah dan berkharisma. Mungkin akan sangat cocok jika Dia menjadi seorang idola untuk masa depanku.
Mereka bertarung sangat sengit dan cepat, bahkan Aku takut wanita itu akan akan kapan-kapan saja bisa lelah. Ini pasti menguras banyak mana dan tenaganya.
Hingga akhirnya sebuah luka benar-benar terbentuk di bagian tubuhnya. Luka itu bukanlah luka yang kubayangkan, hanya goresan-goresan kecil yang kubayangkan.
Bukan luka dari pisau yang di pegang pria itu menusuk perut wanita itu.
Ini.. terlalu mengerikan.
Semuanya terjadi dengan sangat cepat. Aku memejamkan mata tak sanggup melihatnya. Aku-
Boommm!
Ssuatu yang terasa gelap dan mengerikan serasa sedang menimpa tubuhku hingga terjatuh. Rasanya sangat sakit dan mengerikan. Tiba-tiba Aku merasa takut.
Sambil berusaha menopang tubuh dengan tangan Aku merintih dan mataku terasa penuh oleh air hingga membuat sekitar terasa buram.
"Beraninya.." Suara yang kecil dan di tekan begitu terdengar di ruangan yang mulai sunyi ini.
"Beraninya Kau!" Teriak sesosok gadis cantik dengan pakaian yang hampir sama dengan wanita cantik dari keluarga Lizabethen itu.
Aku.. terpana.
__ADS_1
Pesonanya begitu keluar. Padahal dalam sebagian kegelapan di wajahnya yang tertutup sinar itu terasa sedang mengerut marah.