My Antagonist Life Reancarnation

My Antagonist Life Reancarnation
Bab 2 : 20


__ADS_3

Seperti biasa, sebelum Hanna dan Abel datang Aku sudah terlebih dahulu bangun dengan membasuh wajah pada sebaskom air di samping ranjang.


Hingga Hanna dan Abel datang, Aku di bantu menggunakan baju merepotkan sedunia.


Sungguh, akan lebih baik jika dunia ini segera menjadi modern.


Tapi lupakanlah. Karena semua itu harus di proses baru bisa menjadi lebih canggih. Bahkan Aku tidak tahu, seberapa canggih dunia ini jika Aku masih hidup hingga menuju sisa akhir hidupku.


Selesainya pun Aku melakukan sarapan bersama di ruang makan. Kami bercerita tentang banyak hal. Walau sebenarnya Aku tak termasuk dalam berbicara di situ.


Melakukan kegiatan sehari-hari, merupakan hal yang di lakukan setiap makhluk hidup. Aku pun begitu, berjalan menuju ruang dengan ukiran indah pada sepasang pintunya.


"Selamat pagi, Kak Annie!!" Semangat pagi dari dua anak kembar manis dengan bentuk suara yang sangat manis, itu membuat sebuah mood booster pada ku.


"Selamat pagi, juga."


Astaga.


Wajah imut dan bersinar dari anakan malaikat, yang di suguhkan pada pagi hari, itu benar-benar sebuah hal indah dan menyehatkan mata.


Dan yang menyapa ku adalah kedua adik kembar yang selalu ku nanti-nantikan dulu. Nama mereka adalah Arlichen dan Erlissen.


Mereka kembar tak identik. Nama mereka secara tulisan memang berbeda, tapi secara audio terdengar mirip.


Arlichen adalah kembar pertama, Kakak Erlissen, adik kandung pertama ku, putra ke tiga keluarga ini. Jika di deskripsikan wajahnya mirip dengan Mama, rambutnya seperti Kak Raan.


Dia memiliki warna mata seperti Papa, juga sifatnya ceria seperti Kak Reen —tapi dia versi pintarnya—. Aku memanggilnya Len.


Lalu, Erlissen adalah putri ke dua keluarga ini, sebagai anak bungsu. Aku juga suka memberinya panggilan Rin.


Kali ini jika dia di deskripsikan, memiliki bentuk wajah dan bibir seperti Mama. Tapi bentuk mata, hidung dan kulitnya seperti Papa, juga warna mata.


Sifat mereka berdua hampir sama, jadi mereka bisa di sebut kembar kompak.. mungkin?


Kenapa Aku memanggil mereka seperti itu? Itu karena mereka mengingatkan ku pada salah satu karakter Voca*oid.


Jadi ku panggil saja mereka begitu.


Jika pun mereka bertanya bagaimana mungkin nama panggilan mereka seperti itu, padahal tidak ada bagian tersebut dalam nama mereka. Dapat ku jawab dengan penuh karangan, karena Aku sudah memikirkannya.


Kita kembali.


Sudah menjadi kebiasaan ku untuk bermain bersama mereka ketika waktu luang, mengganti kan kasih sayang dari Mama yang pernah hilang karena terus menyibukkan diri.


Walau sekarang Mama benar-benar menyadari perbuatannya dan memberikan dengan benar kasih sayangnya, Aku merasa itu tidak cukup.


Semenjak Aku menghilang, Mama menjadi sangat terpukul. Dengan perilaku depresinya, Dia terus menutup senyum hangat nan lembutnya itu.


Berusaha mengalihkan perhatiannya dengan menyibukkan diri pada pekerjaannya.

__ADS_1


Aku.. merasa sedih dengan sifat Mama, juga senang dengannya. Tak pernah ku rasakan dengan sungguh ketika seseorang menyayangi ku.


Mungkin kah begini juga perasaan keluarga ku ketika melihat ku menutup diri? Yang tidak pernah memiliki tanda-tanda untuk membuka diri.


Tapi lupakan lagi hal-hal seperti itu.


Aku tahu hal ini dari Kak Reen. Mungkin awalnya Aku berpikir bahwa Kak Raan lah yang bisa ku tanyai melihat dari wataknya.


Tapi, setelah melihat reaksinya saat Aku pulang, Dia, benar-benar seperti Mama.


Jadi tak mungkin ku tanyai.


Perasaannya pasti lebih sensitif ketimbang Kak Reen, walau pun wataknya lebih terlihat sulit di percayai dari pada Kak Raan.


"Kak Annie. Sihir." Girang Rin pada ku. Aku mengangguk.


Mereka sering meminta hal ini pada ku, semenjak mereka melihat elemen apa saja yang ku punyai. Dan hasilnya.


"Api!" Pilih Len.


Buusssh


Seketika muncul api berwarna merah ke-oranye-an di kelima jari tangan kanan ku. Ku ayunkan sedikit jari dan pergelangan tangan ku seperti sedang menari.


"Angin!" Kali ini Rin.


Kali ini elemen angin ku, ku buat menyibak wajah mereka, sehingga rambut mereka nampak melayang-layang.


Tawaan senang ala anak kecil terdengar.


Itu lah kenapa Aku menyukai anak kecil. Itu karena mereka mudah sekali di buat senang.


Meski tawaan mereka terdengar sedikit berisik, tapi bagi orang yang menyukai anak kecil, itu merupakan hal yang imut.


Jadi jika ada anak kecil yang nakal, maklumi saja. Itu memang perilaku mereka, yang masih belum mengerti sepenuhnya. Cukup nasehati saja mereka akan langsung mengerti.


Jangan berperilaku sok dewasa dengan marah-marah, seolah Kalian tidak pernah menjadi anak kecil saja.


"Air!" Teriakkan girang terdengar kembali.


Ku buat air menggumpal di depan ku. Lalu ku buat menjadi seperti seutas tali dan mengelilingi tubuh mereka.


Aneh? Kenapa barusan suaranya agak lebih dewasa? Dan kata-katanya terdengar lebih rapi, seperti sudah lihai berbicara.


Entah lah.


"Tanah!" Lagi. Tapi Aku hanya menurutinya.


Ku buat salah satu pot bunga dengan tanaman di atasnya, membentuk patung kecil dengan tanaman di atas kepalanya. Patung itu berbentuk golem tanah pada game MMORPG yang biasa kalian lihat.

__ADS_1


"Criiingg!" Kali ini benar-benar suara Rin, dengan gaya sebutannya sendiri.


Muncul sebuah cahaya menyilaukan dari jari-jari ku. Mereka nampak senang.


"Boooomm!" Dan ini, Len juga.


Lalu, muncul gemerlap butir-butir hitam kecil dari atas mereka. Gemerlap butir-butir hitam kecil itu keluar dari satu tempat, tapi setelah pecah menjadi ke seluruh ruangan ini.


"Waw~ Hebatnya!"


Tunggu.


Suara ini..


Sepertinya, Aku mengenal suara ini.


Terasa tadi jika tidak salah dari arah jendela.


Aku pun menoleh ke arah jendela. Di sana, terdapat dua makhluk sama sifat beda ras.


Duo ras gila? Bukan. Itu adalah Kak Reen dan Lucifer.


Cuma mereka toh.


Ngomong-ngomong, Aku punya sebuah tujuan. Yaitu tentang hal yang berhubungan dengan ramuan yang kemarin ku tulis. Tapi, nanti saja lah.


"Lagi!" Teriak si kembar kecil itu.


Tentu ku turuti. Mereka sangat imut, tidak tega ku tolak. Ku lakukan hal seperti itu terus menerus, terkadang kolaborasi.


Hingga Kak Reen menghentikannya, dengan alasan Aku sudah lelah, dan itu benar, mana ku terpakai banyak.


Mereka nampak sedih. Tidak tega, Aku pun mengajak mereka ke taman Mama yang dulu biasa ku kunjungi sambil membuat mahkota bunga.


Karena satu-satunya spot bersantai.


Entah kenapa, pikiran dan raut wajah ku tidak pernah sesuai. Jadi meski di berikan pojok ekspresi pun tidak ada yang bisa di deskripsi dari ekspresi ku, kecuali tanpa raut.


Lalu Kami bermain hingga makan siang. Karena hari ini semua jadwal ku setelah makan siang, tentu ada waktu untuk bersantai.


...----------------...


Selamat natal semuanya, (bagi yang merayakan) ^^


Semoga selalu sehat lahir dan batin, untuk Kita semua dan juga dunia ini ^^


Terimakasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa Vote, komen, 5rate dan favorit kan ya~ ^^


Maaf jika ada salah kata yang bisa menyakiti hati pembaca sekalian, baik itu secara tidak sengaja mau pun sengaja ^^

__ADS_1


__ADS_2