My Antagonist Life Reancarnation

My Antagonist Life Reancarnation
Bab 3 : 14


__ADS_3

[Author POV]


Dalam sebuah perkumpulan kelompok yang membuat perkemahan itu, terlihat beberapa wajah yang familiar.


“Ah~ Hari ini cukup menyenangkan.” Ucap A-02, atau dalam nama bangsawannya, Arthur Weasley.


Ia merasa hari ini menyenangkan, karena berburu beberapa hewan pintar. Sungguh kelakuan yang bar-bar sekali.


“Sikapmu itu tak pernah berubah. Aku heran, apakah memang benar 03 bisa menerima pernyataan sukamu?” A-06, Elgartara Louis, berkata dengan nada mengejek.


“Aku yakin Dia menerima nanti.” Rafael berkata, namun menjeda tak tertahan dengan minum sedikit minumannya, sehingga orang-orang tidak sadar itu masih memiliki lanjutan.


"Akhirnya Aku punya teman yang baik-baik saja orangnya." Arthur menatap lega. Sedikit cemberut menghiasi wajahnya.


“Tapi karena kasihan.“ Ucap Rafael.


“Dasar sekelompok iblis! Suka sekali kalau mengejekku yang punya cerita ini!” Ngamuk si Arthur.


Semua yang mendengar tak dapat menahan tawa mereka. Perbincangan masih berlanjut dengan topik yang sama. Masih seperti sebelumnya, tawaan menggelegar karena sikap humoris(?) mereka.


“Hei, Kalian datang sebagai apa?” Tanya Lucifer, membuka topik baru.


Semua menatap, termasuk kelompok duduk lainnya. “Anggota.” Singkat Gyndenki.


“Aku jug-” Rafael berucap namun terpotong atau lebih tepatnya memotong sendiri tanpa alasan. Wajahnya nampak berbinar-binar.


Tiba-tiba, dirinya dan Lucifer menghilang dalam sekejap mata. Semua orang menatap bingung, 'Ke mana mereka?' pikir yang lain.


Tapi karena Arthur mengajak perbincangan dengan topik yang lain, terlupakan, lah, mereka berdua.


Sementara itu, Rafael dan Lucifer sedang meneleportasikan diri ke arah belakang seorang gadis kecil.


"Annie!!" Teriak Lucifer dan Rafael sambil menubrukkan diri ke Annie, yang seperti di chapter sebelumnya, mereka lagi di atas pohon


"Gyaaahh! Ini tinggi! Bisa mati Saya!" Teriak si kucing yang hampir saja terjatuh. Dia memeluk Kaki Annie dengan kuat, seolah takut dirinya hilang di telan bumi.


"Lucifer? Rafael?" Annie bertanya sambil memegang tangan Rafael yang kebetulan memeluk bagian leher.


Keduanya mengangguk antusias.


"Turun dulu! Nanti sajar reuniannya! Aku bisa jadi orang yang phobia ketinggian!" Keluh si kucing. Akhirnya mereka pun turun sendiri-sendiri.


"Ayo temui yang lain!" Girang Lucifer. Annie mengangguk.

__ADS_1


Mereka berjalan menuju arah perkemahan itu. Annie hanya berdiam diri dengan deheman singkat sebagai tanggapan untuk cerita heboh dua ras ini.


Di sisi perkemahan, mereka yang mulai bersenda gurau hal lain kembali, sudah melupakan kenapa kedua orang(?) sebelumnya yang menghilang secara tiba-tiba.


"Jadi, jadi, Aku yang memenangkan pertandingannya!" Suara antusias dari Lucifer yang berada di arah timur mereka mengundang perhatian.


"Jangan memodifikasi cerita!" Rafael yang membentak membuat setiap orang kembali menajamkan telinganya.


"Aku hanya menambahkan bukan mengganti!" Elak Lucifer.


"Karena Kau tambahkan jadinya terganti!" Kesal Rafael.


"Lucifer, itu benar. Jadinya Kau sama saja mengganti atau memodifikasi ceritanya." Annie bersuara. Menambahkan ketajaman gendang telinga para 'Siswa' yang lain.


"Benarkah? Karena Annie yang mengatakan itu baiklah!" Lucifer men-pin-nya dengan antusias. Kalimat itu lantas membuat Rafael malah semakin menggerutu kesal.


Nampak kedua sosok itu menunjukkan diri setelah menghilang secara tiba-tiba. Namun tak hanya itu, penampakan kucing gemoy yang unch unch kawaii terlihat berjalan di depan kedua anak itu.


"Wah! Ada si kucing gendut!" Teriak Arthur.


"Siapa yang gendut?!" Si kucing ngamuk gays.


Lantas, wajah para 'Siswa' di sana langsung terkejut. Melihat seekor kucing berbicara dengan santainya(?) tanpa memblokade diri terhadap orang lain untuk tidak mengetahuinya.


"Lihat! Ini salahmu karena memanggilku seperti itu!" Kucing itu membalikkan kemarahan, namun bukan ke arah Arthur melainkan kepada Annie.


"Aigoo. Kau tak pernah minta di kasih nama, apa salahku?" Annie mengelak.


"Kalau begitu akan kubantu beri." Elgartara menyambung saat masuk ke perdebatan.


Seluruh anak itu bersenda gurau dengan topik 'nama' untuk si kucing. Annie berjalan mengikuti arahan dari Rafael untuk duduk.


Santainya, Dia tak memperdulikan tatapan menganga dari 'Siswa' di sana. Ia hanya terus memasang raut wajah seperti biasanya.


"Kaak! Kaak!" Gagak menghampiri pundak Annie.


Dalam sela senda gurau mereka, hanya Lucifer dan Rafael, lah, yang sedari tadi tak ikut bertopik. Mereka sibuk beragumen tentang siapa yang duduk di samping kanan Annie.


Di sebelah kiri Annie ada si kucing yang duduk. Jadi, karena itulah mereka berebut tempat di samping kanannya Annie.


'Siswa' menatap kedua makhluk itu dengan tatapan heran. Sebegitunya, kah, ingin duduk di samping kanan si gadis?


Seketika salah satu dari mereka nampak tersentak, mengatakan bahwa itu adalah putri ketiga dari house Duke of Lizabethen, Annabella Lizabethen.

__ADS_1


Bisik membisik menjadi satu, gosip menggosip ganti gender, pindah haluan. Yang biasanya wanita, kini pria semua.


"Kenapa Kalian semua di sini?" Si kucing bertanya. Kini Dia duduk di pangkuan Annie sambil menikmati elusan di kepalanya.


Dia mengalah untuk membuat kedua makhluk kembar beda ras itu dapat duduk tepat di samping Annie.


Terlebih si Lucifer tadi mengatakan Annie akan duduk di pangkuannya saja dari pada berebut seperti itu. Jadi impas gitu maksudnya.


Sungguh cara Penyelesaian masalah yang dapat menumbuhkan masalah baru. Ck ck ck.


"Kami mendapatkan misi sebagai pemandu para Siswa dari akademi Kainigose. Mereka sedang melalukan misi berkelompok, sekalian praktik."


"Apakah ada wiskas di sini?" Si kucing bertanya lagi.


Hingga lupalah mereka akan tujuan utama tentang 'nama' untuk si kucing ini.


"Tentu tidak ad- Hah? Wis apa tadi?"


"Tidak ada, lupakan." Jawab si kucing.


Mereka semua berbincang-bincang kembali, hingga tak terasa waktu benar-benar larut. Terlihat bagaimana bulan sabit mulai berpindah 75 derajat.


"Annie, tidak baik bagi seorang gadis kecil untuk tidur terlalu malam." Gyndenki bernasihat.


"Kau sendiri anak kecil, kenapa panggil Aku anak kecil juga?" Annie bertanya. Faktor kesal karena di panggil '...kecil'.


Dia berpikir untuk langsung mengatakan penyakitnya, namun urung ketika sadar akan kata itu.


"Sebagian dari Kami di sini sedang melakukan tugas jaga, nanti kami gantian juga untuk tidur." Tak ingin kalah, Dia membela diri.


"Meski pun tak Kau suruh Dia juga akan tidur kalau bisa."Si kucing angkat suara. "'Bisa'??"


"Ya. Karena Dia terkena insomnia." Ucap kucing santai.


"Oi oi, jangan bercanda. Anak berumur sepuluh tahun sudah memiliki penyakit seperti itu?" Ucap Elgartara sedikit tertawa, Ia menganggap itu hal yang cukup lucu."Itu tak lucu sama sekali."


Hei! Jangan hilangkan deskripsiku!


"Apa sudah di periksa?" Tanya Gyndenki.


"Sudah. Mereka bilang itu mungkin semacam karena mimpi buruk." Si kucing menjawab. Yang lain mendengar itu hanya manggut-manggut.


"Ada apa ini?" Sebuah suara berintonasi dingin membuat semua orang menoleh.

__ADS_1


__ADS_2