
"Kenapa tidak?" Edward bertanya karena dari semua yang terkejut, memilih diam. Mereka merasa, 'Ya sudahlah'.
Annie melihat mereka dengan tatapan menyelidiki, namun tak terumbar.
Masih dalam senyum hangatnya, Dia melihat pelan semua anak yang berteriak. Termasuk Yuri tentunya.
'Aku mengerti untuk Yuri. Tapi, untuk anak-anak ini, sepertinya harus dipastikan terlebih dahulu.' Pikir Annie sambil menyesap tehnya lagi.
Anak-anak itu dan Yuri diam seribu bahasa. Nampak menunduk dan melirik-lirik takut. Tak bergerak, atau bahkan berganti bentuk duduk.
Kecuali ke sepuluh jari mereka yang menari-nari.
"Apakah Kalian merasa takut, jika sudah membuat khawatir orang tua Kalian?" Annie bertanya.
Anak-anak di sana melirik satu sama lain. Setelah beberapa saat, Yuri mengangguk kecil dengan wajah sayu dan lirih.
Semua orang menatap Yuri dengan tatapan yang 'iba', kecuali Vanessa dan Annie.
"Atau..." Semua orang menatap secara serentak pada Annie karena menggantungkan kalimatnya.
Dalam keadaan tersenyum hangatnya itu Dia berkata,
"...karena Kalian takut pada orang tu— tidak. Pada orang yang Kalian anggap, mungkin, sebagai keluarga." Pernyataan itu lantas membuat yang di sana tersentak.
Annie cukup mengerti sebuah hal. Kelompok pria bertopeng itu tidaklah benar-benar jahat.
Dia tidak menyiksa orang lain atas dasar sesuatu yang hanya untuk bersenang-senang. Dia menyiksa kebanyakan orang yang memiliki masalah, dan merasa ingin mati.
Meski pada akhirnya, Dia menambahkan rasa ingin mati mereka untuk dapat melihat wajah tersiksa mereka.
Bersenang-senang maksudnya.
Gyndenki berjalan menuju ke arah Annie. Dia berjalan dengan langkah santai tanpa membuat sebuah raut.
Semua menatap bingung. Dia berjalan dan berhenti di belakang Annie. Tangannya secara perlahan menyentuh— ah! Maksudnya menggenggam bahu Annie.
Tak tahu seberapa lembut atau kuat genggamannya. Hanya kedua orang itu yang tahu.
Annie melirik dari ujung matanya. Dia melirik cukup lama, menunggu ucapan apa yang akan keluar dari bibir laki-laki muda itu.
"Apa maksudmu?" Annie menghentikan aktivitas lirikannya.
"Spekulasi." Singkat Annie.
"Tidak." Gyndenki berkata.
"Hm?"
"Ceritakan." Gantinya.
"Apa maksudmu?" Annie bertanya bingung.
"Ceritakan. Bukankah Kita pernah berjanji, tidak akan saling merahasiakan sesuatu satu sama lain." Gyndenki bertanya datar.
"Kau tahu. Artinya Kau mengikutiku.. kan?" Annie bertanya.
"Tidak. Hanya merasakan. Insting seorang teman." Vanessa menyelis antara mereka.
Annie sedikit terkaku, namun setelahnya menyesap dalam diam. Semua orang menunggu dengan saaaa~baaarrrr~
Brak
"Oi! Jangan menggantungkan cerita!" Kushida mulai kesal. "Hentikan kebiasaan itu!"
Annie melirik pada ujung penglihatannya. Dia malah melanjutkan menyesap tehnya dan menaruh di atas meja.
"Aku sedang memproses kata-kata." Annie berkata polos.
__ADS_1
"Jangan lama-lama!" Kembali. Kushida mengeluh kesal.
Annie terkekeh. "Baik-baik."
[Author POV end]
[Flashback on]
Aku berlari atau lebih tepatnya melompat dari dahan satu ke dahan lain.
Aku membelokkan arah dari tempat tadi ke arah perkemahan. Tidak ada maksud tersembunyi, hanya berniat mengikuti alur yang diinginkannya.
Dia seolah sedang mengajakku menuju jebakannya. Walau belum pasti itu jebakan. Entah kenapa, Aku begitu percaya diri untuk mengikuti keinginannya.
Aku terus menerus mengarah pada sebuah mana yang begitu kukenal.
Hingga, sebuah siluet terang yang gelap terlihat. Itu adalah si X-bod*h itu. Dia berdiri seolah menunggu.
"Apa?" Tanyaku langsung.
"Jangan dingin seperti itu, nanti tak akan ada yang mau denganmu."
"Jadi?" Aku bertanya singkat.
"Kau menyadarinya dengan cepat ya." Dia sok memuji.
"Langsung saja pada intinya." Aku mulai kesal.
"Anggap saja ini sebagai hadiah." Dia melemparkan sebuah bola kristal.
Aku mencoba mengecek dengan memutar-mutarkannya, apakah itu sebuah perekam atau malah bom?
Namun tidak ada yang istimewa. Sehingga Aku mengembalikannya, Dia hanya mengendik acuh saat menangkap bola itu.
"Aku hanya ingin mengubah sudut pandangmu tentang diriku yang kejam ini." Dia memulai. Aku hanya diam, menunggu ucapannya.
"Anak-anak yang kuculik—"
"'kusiksa'." Tekanku yang memotong ucapannya. "Baik-baik."
"Yang kusiksa itu, secara tak keseluruhan merupakan anak-anak yang memiliki potensi, namun juga tersiksa. Mereka merasa ingin mati saja akan kemalangan hidupnya."
Aku membelalak.
"Mereka anak-anak malang yang tersiksa oleh orang yang bisa kita sebut sebagai 'keluarga'." Seolah melucon, dua jarinya yang membentuk huruf 'V' digerakkan terbuka menutup.
"Beberapa dari mereka kabur dan Kami menangkapnya. Itu semua karena mereka terus-menerus disiksa seperti perlakuan Kami."
"Jadi, jangan coba-coba memulangkan mereka." Aku hendak menyambung. "Begini-begini juga Aku masih punya hati nurani."
Aku menyelis kesal dan hendak menjauhkannya yang tiba-tiba berada di sampingku, membisikkan kalimat keduanya itu.
"Hahaha. Kalau begitu selamat malam." Dia menghilang lagi secara sekejap mata seperti angin.
Aku terpaku sebentar di sana. Entah kenapa ada yang mengganjal.
[Flashback end]
[Author POV]
"Seperti itu." Annie mengakhiri 'cerita'-nya.
"Yah, Aku tidak peduli bagaimana pemikirannya. Jadi lupakan Dia." A-04, Yhansen Gyaskille, berucap bodo amat.
"Tak ada yang menanyaimu." Elgartara menyambung.
"Siapa Kau?" Yhansen sok tak kenal.
__ADS_1
"Tapi, setidaknya Kau tidak menyembunyikan apa pun yang penting dari Kami, Annie." Gilda berucap dengan bibir yang memanyun.
Jari telunjuknya memutari membentuk lingkaran pada meja.
'Kalau itu maaf ya.' Pikir Annie.
"Ya, Aku sungguh merasa curiga tadi." Gyndenki entah bagaimana terdengar lega. Tangannya di lepas dari bahu Annie. Dia bersandar pada dinding di belakangnya.
"Entah kenapa, hanya pria itu yang bergerak. Anak buahnya baru beberapa itu yang bergerak. Dia seperti mengincar atau menghalangi Kita." Dia menghela. "Sampai sekarang mereka belum bangun karenamu Nona." Ucap salah satu seorang yang ada di sana.
Dia adalah Kouji , salah satu anggota yang bersama Annie. Dia sama dengan Annie dan lainnya, anak pada tahun keempat di klan Kainigose.
Memang sedari tadi senyum lembut Annie terekah. Tak tertuju pada apa atau siapa pun. Namun kali ini tertuju pada si Kouji itu.
"Ahaha, kalau begitu maaf." Annie mengkekeh.
"Ya ya, tak apa. Kau sendiri tapi nanti yang mengantarogasi." Ucap Kouji santai.
Wajahnya tidak terlihat seperti merasakan ada yang salah dengan perkataannya. Dia menatap kuku-kuku jari tangannya sambil bersiul.
"Apa itu? Makanan jenis baru kah?" Gilda bertanya karena kata-kata baru yang terucap darinya. Kouji maksudnya.
"Eh? Bukannya 'mengintarigasing'?" Arthur bertanya juga.
"Interogasi!" Sentak Kushida dan Elgartara bersamaan.
"Ah! Benar itu!" Kembali, kedua orang itu —Arthur dan Kouji— bersikap bodoh.
"Kami merasa sudah tidak punya kewarasan juga." Yhansen berkata dengan super benarnya.
Meski bar-bar, tapi Dia itu tak sampai jadi bodoh seperti itu. 'Wajar' lah istilah dari kelakuannya.
'Aku waras kok, dan selalu merasakannya.' Sweatdrop Annie.
Jalan cerita terus berlanjut, dengan beberapa anak yang mulai menguap sambil menahan kantuk. Annie yang menyadari itu segera membawa anak-anak kecil yang mengantuk untuk tidur.
Kecuali, Yuri. Karena seumuran Annie lho.
Ah! Bai de wey, tenda besar itulah yang menjadi tempat mereka untuk tidur.
Meski rasanya seperti basecamp kecil yang di gunakan untuk nongkrong bersama.
"Ada apa?" Annie bertanya dengan penuh kelembutan, tatkala salah satu anak di sana, yang sebelumnya disuapi Annie menahan lengan baju panjangnya.
Anak itu sedikit memelas dari wajah polosnya yang masih kawaii. Annie cukup mengerti dan duduk di samping anak itu.
Anak itu membaringkan diri di dalam pelukan Annie.
Aww~♡
Andai ada camera atau Author punya potonya, pasti Kalian akan melihat ke-uwu-annya. Seperti seorang Kakak perempuan kecil yang sedang mengurus adik manja.
.......
.......
.......
.......
.......
...----------------...
(Walau sebenarnya Len dan Rin juga dimanjakan. Cuma terlupakan saja. Udah hilang mereka setelah beberapa lusin chapter. Awokawokawok)
Dahlah, lanjut chapter selanjutnya aja. Author capek, habis ngerjain tugas. Makanya baru sekarang update untuk dari jadwal yang biasanya. Hiks *^*
__ADS_1