
Author POV:
Brak
"Kalian sudah sering kali melihatnya kan?! Dia begitu datar dan dingin! Aku tidak menyukainya!" Bentak seorang gadis kecil dengan rambut gelombang berwarna biru navy-nya. Manik hazel brown-nya terlihat kesal dan berapi-api. Ia menggebrak meja.
"Hei! Jangan membentak! Tidak ada yang bisa Kamu lakukan jika di sini dan pada Kami!" Balas gadis kecil lainnya. Dengan rambut biru mudanya. Mata coklatnya itu sedikit risih dengan gebrakan meja itu.
Untung saja para pelayan di sana sudah keluar. Jika tidak, rumor buruk menyebar. Terlebih gadis satunya itu biasanya kalem menjadi sedikit kasar, karena gebrakan meja temannya.
"Haa~ Kalian ini kenapa sih? Aku sedang membaca saja jadi tidak fokus. Jika tentang si antagonis itu, biarkan saja sih. Dia mungkin merasa sombong saja." Balas gadis lainnya lagi. "Karena dia imut saja, Aku mau bertemu dengannya kemarin. Dia benar-benar pendiam ya?" Gumamnya. Ia menutup pelan buku yang di bacanya. Menangkup dagu dengan kedua tangannya di atas meja.
"Sayang sekali sih. Saat kecil Dia kalem bak tak pernah berbicara. Tapi saat besar- ck ck ck, bagaikan monyet yang sedang jatuh cinta saja. Ah! Maksud ku seperti anak muda yang baru jatuh cinta untuk pertama kalinya." Safir coklatnya nampak tengah menatap langit biru yang berwarna sama dengan rambutnya. Seperti temannya, di tangkup dagu itu oleh dua buah tangan.
"Bagaimana jika kita merubahnya menjadi lebih baik. Agar tidak ada yang tersakiti?" Saran si gadis biru navy.
"Hanarhy sayang. Jangan bercanda deh! Itu sama saja Kau mengubah tatanan ceritanya! Lebih baik jika Yuri dan pangeran bersatu! Bagaimana kalau tidak!"
"Iih! Sewot banget sih! Kan Aku cuma nyaranin Myr!" Balas gadis yang memiliki nama Hanarhy itu.
"Ya kan Aku cuma nyautin aja! Kalo gak di jawab entar malah marah!"
"Diam! Kata-kata kalian berdua itu sudah melewati batas dunia ini!" Bentak gadis yang di ketahui sebagai Zallika. Mereka berdua pun diam dengan bibir yang memanyun.
"Berbicara lah lebih sopan! Aku tidak ingin karena kalian berdua, Aku juga kena ampasnya." Lanjutnya sambil menyelis. Kedua gadis itu hanya mengiyakan kata-katanya.
"Baik. Jadi bagaimana menurut kalian anak itu?" Myra membuka suara, terdapat nada tak anggun sama sekali.
"Myra." Zalika kembali menyelis dengan galak.
"Iya iya. Jadi bagaimana menurut kalian tentang Bella? Jika menurut ku, dia itu tidak seperti ceritanya, begitu tanpa ekspresi dan berbicara. Padahal di bukunya Dia di deskripsikan sebagai anak manja sedari kecil." Kali ini ia lebih anggun dengan tubuh yang tegap.
"Bagi ku dia itu imut dan manis. Padahal kita seumuran tapi dia lebih kecil. Jika di bandingkan kedua adik kembarnya, hanya beberapa centi mungkin." Hanarhy menyahut, sama, lebih anggun dan tak menyelis sedikit pun dari tata krama.
"Kalau Aku, Dia itu perlu di ubah. Aku tidak peduli siapa pasangannya nanti, yang pasti jika Yuri kita yang bak malaikat ini tidak terluka, Aku setuju." Mereka melotot ke arah Zalika.
__ADS_1
Bagaimana mungkin dia berbicara seperti itu dengan santainya? Jika itu malah mengubah ceritanya pasti bisa kelabakan mereka. Saat hendak menyelis sebuah suara yang merdu bak malaikat kecil memanggil nama mereka.
"Hana! Myra! Zalika! Maaf telah membuat kalian menunggu!" Seorang gadis dengan rambut bergelombang pirang dan manik hijau zamrud memanggil nama mereka bertiga dengan nafas tersengal-sengal.
"Tidak apa-apa, Yuri. Kami juga belum lama sampai." Ucap Zallika dengan anggun dan elegan. Memang, gadis satu ini selalu kalem dari orok di dunia sebelumnya. Ups! Saya spoiler pemirsa!
Ini lah Yuri sang pahlawan wanita kita. Dengan rambut pendek bergelombang di ujung, juga lemak bayi yang masih menangkup di pipinya, membuat ia tampak imut dan manis, meski oval adalah bentuk wajahnya.
Mata hijau zamrud yang bersinar itu nampak sangat cerah. Kulit putihnya dan bibir kecil merah itu. Terlihat nampak begitu menambah keimutnya yang selaras dengan warna dan bentuk rambutnya. Begitu sempurna ciptaan Author yang satu ini.
Yuri Kim. Dari keluarga Baron Kim. Memiliki elemen tunggal yakni Cahaya. Meski begitu, elemen yang jarang tertemui dan berharga ini juga di miliki oleh sang penjahat wanita. Ups! Lagi-lagi saya kelewatan permisa!
"Senang mendengarnya." Ucapnya dengan senyum ceria yang manis dan termaafkan.
Perbincangan mereka terus berlanjut dengan penuh tawa dan keceriaan. Seperti wanita pada umumnya, mereka terus berkata 'katanya' dan 'benarkah'. Ck ck ck, dasar gosip!
"Apakah Kalian sudah dengar?" Yuri berucap.
"Apa?"
"Ulang tahun? Siapa?" Hana menatap bingung.
"Pangeran kerajaan ini. Katanya pesta itu di buat menjadi tidak terlalu mewah. Seperti pesta teh biasa. Namun Aku ragu tentang 'tidak terlalu mewah' itu." Mereka menyimak dengan hati-hati. "Bagaimana mungkin hanya seperti minum teh biasa. Dia kan seorang pangeran."
"Juga! Akan ada pengumuman tentang tunangan pangeran." Lanjutnya.
"Pangeran yang mana?" Myra bertanya.
"Pangeran Edward Clover. Karena Ia calon putra mahkota, sekalian saja Ia di angkat saat pesta itu. Begitu katanya." Yuri tersenyum manis. "Ta-tapi bukannya A-aku berharap di undang." Malu-malunya.
"Tenang saja. Akan ku pastikan kita berempat berada di pesta itu." Hana menyahut ucapannya dengan anggun juga antusias.
"Ba-bagaimana mungkin A-aku bisa melakukan itu. Aku hanya seorang putri Baron." Lagi-lagi Ia merendahkan diri.
"Tenang saja. Tunangan ku seorang putra Duke, Kau ingat? Dia juga sepertinya berada di faksi pangeran Edward, jadi meminta sebuah undangan lebih satu tidak apa-apa kan." Hana dengan anggun dan elegan mengatakan seolah itu bukan masalah besar.
__ADS_1
"Hana! Terima kasih!" Ucap Yuri dengan senyum penuh malaikatnya.
"Tentu. Kau adalah teman ku, jadi tidak masalah untuk saling membantu. Lagi pula, akan terasa sepi jika kita tidak lengkap di sana." Zalika membalas ucapan dari Yuri dengan penuh keanggunan dan mengharukan. (//hiks)
"Kenapa malah Kau yang menjawab?" Hana menyelisihi tak suka. Kata-kata mutiara nan baru yang seharusnya Ia ucapkan, malah di lakukan oleh orang lain.
"Jika Kau yang lakukan semua bisa menjadi aneh, kakak." Kali ini Myra.
"Aku bukan kakak mu, hentikan itu."
"Tapi Kau yang lebih nan paling tua."
Yuri hanya mengkekeh kecil melihat kelakuan ketiga temannya itu. Sedangkan kedua temannya yang berselisih tadi masih terus berlanjut.
Akhirnya mereka pun hidup bahagia selama-lamanya. The End
.......
.......
.......
.......
.......
Hachiuu-
'Kenapa tiba-tiba Aku merasa merinding ya? Tidak ada angin tidak ada hujan. Siapa yang sedang membicarakan ku?' -Annie
.......
.......
.......
__ADS_1
[Author POV End]