
Setelah beberapa jam yang mengakibatkan sekitar mereka menjadi hancur, akhirnya Annie bisa tenang.
Meski wajahnya begitu masam seperti perasan lemon- tidak. Seperti perasan jeruk nipis. Lemon tidak terlalu asam, jeruk nipis baru asam.
Sedangkan di sisi Lucifer, dirinya sedang di obati oleh Rafael. Wajahnya hampir tidak berbentuk. Mirip sekali dengan kue yang tidak jadi dan bantet(?).
Annie berjalan mendahului yang lain, Dia berjalan ke sebuah pojok dari ruangan itu. Yang lain nampak memperhatikan.
Namun pikiran mereka sedang bergelut dengan pertanyaan-pertanyaan.
"Dimana jalan menuru ruang harta itu? Di bawah lagi kah? Tapi Aku tidak melihat jalannya?" Gilda melihat sekeliling dengan tangan kanan di taruh secara horizontal di atas alis.
Annie terlihat sama sekali tidak menggubris (kelihatannya). Dia hanya terus berjalan menuju ke pojok sana.
'Omong-omong, apa Aku tadi salah lihat ya? Wajahnya nampak memerah sedikit.' Ucap Arthur dalam hati sambil melihat seseorang melalui ekor matanya.
Segera Arthur hanya mengendik acuh dan kembali tidak peduli. Dia memilih melihat Lucifer dan mengejeknya, hanya sekedar iseng.
Annie berjalan masih menuju ke arah sebuah pojok di sana.
Kakinya yang masih seukuran anak 10 (baca: 7) tahun itu tentu tidak bisa membuatnya lebih cepat sampai ke pojok itu.
Terlebih, ruangan itu sangat amat besar, juga lebar dan tinggi. Tentu menjadi salah satu alasan kenapa Annie begitu lama.
"Kaak! Kaak!" Seekor burung gagak mendatangi Annie dan bertengger di bahunya.
"Kau mau kemana?" Tanya si gagak.
"Menuju ruang harta karun."
Beberapa saat sunyi sebelum akhirnya Annie kembali membuka suara.
"Aku tahu Kau juga merasakan di mana perasaan itu —intensitas mana—, kan?" Sedikit menoleh. "Kau pikir Aku tidak tahu umur gagak-gagak dari klan Kainigose pada berapa semua?"
Si gagak hanya menatap lurus ke depan. Meski matanya berada di samping (semua).
Annie terlihat kembali berwajah datar, masih ada sedikit rasa kesal terhadap Lucifer juga tubuhnya sendiri.
'Ini kaki ngajak berantem kah? Pendek banget langkahnya!'
Annie langsung berhenti sejenak.
Dia berbalik menghadap ke arah teman-temannya.
"Sedang apa Kalian? Duduk saja tidak akan membuat pintu masuknya mengarah kepada Kalian." Annie menunjuk dengan dagunya pada pojok yang sedari tadi Dia coba susul.
Semua orang saling pandang. Seolah sedang bertanya dengan telepati.
"O-oh..." Kaku Gyndenki.
"Yaa!" Reen dan Yhansen segera berlari untuk menyusul Annie. Dan jangan lupakan Arthur juga.
Annie yang tanpa menunggu teman-temannya meski mereka mencoba berlari untuk menyusul, segera berbalik duluan.
Diam-diam, salah satu dari mereka tersenyum kecil. Seolah, sedang menemukan sebuah hal terbahagia darinya.
...****************...
Mereka saat ini sedang melihat Annie yang tertunduk memperhatikan sebuah lantai tanpa celah.
Tentu semua bingung.
Kenapa teman mereka yang bersikap lebih dewasa dari mereka namun seperti adik kecil mereka sendiri memandangi lantai tersebut selama satu menit.
Benar, meski satu menit, mereka menganggap itu sudah sangat lama dan bisa saja merasa itu sebuah masalah 'kecil' yang bisa di permasalahkan.
"Sudah lama sekali Kau melihat lantai datar itu. Jangan bilang Kau jatuh cinta pada sebuah lantai?" Keluh Resh.
"Kalian benar-benar sudah level itu, kan? Aku yang berada di level 20-an saja sudah bisa merasakannya." Annie menatap aneh.
"Merasakan? Apa maksudmu?"
"Intesitas mana." Annie kembali melihat lantai itu.
"Dan Aku sedang memikirkan cara apa yang bisa di buat untuk membuat pintu ini terbuka."
"Membomkannya kah? Memberinya mana kah? Memberinya mana dari elemenku kah? Atau apa? Aku sedang membayangkan efeknya." Lanjut Annie yang di balas tatapan datar dari teman-temannya.
"Di coba praktikkan! Bukan di coba bayangkan!" Kesal Kushida sambil menjitak Annie.
"Aku tidak bisa, mana-ku habis." Dia memanyun. 'Sebenarnya masih ada, tapi sudah hilang seperenamnya.. mungkin.'
"Kami saja tidak tahu bagaimana pintu yang Kau maksud. Bagaimana mungkin Kami membantumu." Gumam Vanessa bingung.
Annie meletakkan tangannya ke lantai yang sedari tadi Dia pandangi.
Sebuah intensitas mana kecil dari elemen miliknya terasa di mereka.
Setelah merasa cukup Annie menjauhkan tangannya. Dia juga berdiri dan mundur beberapa langkah.
Sudah beberapa menit sejak kejadian itu, namun masih tidak ada yang terjadi.
Mereka mulai mengoceh tidak jelas karena lelah menunggu. Meski beberapa —Reen, Arthur— bernyanyi secara asal. Dan juga jangan lupakan suara fals yang mereka buat.
Sebuah suara lain dari suara-suara yang mereka buat terdengar.
Suaranya pertama remang-remang. Lama kelamaan suara itu semakin besar dan terdengar berasal dari lantai yang Annie lihat sedari tadi.
Bagi Annie itu seperti sebuah pintu brankas otomatis yang terbuka, sedangkan bagi yang lain itu seperti sesuatu yang baru mereka dengar.
__ADS_1
Kini semua orang dapat melihat tempat yang Annie pandangi selama satu menit itu membentuk sebuah celah melingkar.
Perlahan lingkaran itu sedikit masuk kedalam dan berputar sedikit dan perlahan terbuka sedikit (juga), namun berbentuk sedikit segitiga tak beraturan dalam tiga bagian.
'Apa-apaan Ini? Apakah kemodernan ini sudah ada sejak zaman ini? Hanya belum terpublikasikan saja.' Annie menatap dengan pandangan yang sulit di artikan.
Sebuah sistem model lama bagi zaman saat gadis itu berada di dunia sebelumnya, sama saja sistem canggih di dunia ini.
Dia paham betul batasan pada bagian mana saja mesin, sistem, alat atau semacamnya berada pada tahap apa.
Dan tentu untuk teman-temannya itu wajar jika mereka terkejut dalam hal kecanggihan, berbeda untuknya.
Itu sungguh hal terkejut karena sistem itu berada pada saat itu masih seharusnya dalam perkembangan.
Bukan sudah berkembang!
Dia..
Dia!
Harus segera memeriksanya!
Annie tentu langsung membuat sebuah pemikiran di kepalanya.
Dia berpose seperti orang sedang berpikir pada umumnya. Memegang dagu dengan salah satu tangannya menahan tangan yang memegang dagu itu.
Pemikirannya saling bertumburan.
Antara sebuah spekulasi bahwa ini adalah rencana seseorang yang ingin mengembangkannya hingga tiba saatnya di publikasikan, atau seseorang dari dunia yang sama dengannya?
Atau mungkin lagi, di masa depan pada dunia ini, seseorang bertravel ke masa lebih lalunya. Lalu mengembangkan secara diam-diam.
Annie menggeleng kepala, Dia mendengus geli. Spekulasi pertama merupakan hal yang sangat mungkin.
Tidak, tidak.
Kata 'mungkin' itu berarti tidak pasti, meski ada tambahan kata 'sangat'.
Jadi, spekulasi pertama adalah sebuah kepastian yang lebih tepat namun juga tidak. Untuk spekulasi sisanya hal yang bahkan jauh dari kata 'mungkin' atau pun 'tidak mungkin'.
Meski di katakan 'mustahil', itu juga bukanlah kata yang cocok.
Annie melihat ke arah teman-temannya yang sudah tidak merasa takjub lagi. Mereka memandangi pada satu pusat. Dirinya.
"Mari masuk. Biarkan Aku yang duluan." Annie mulai melangkah mendekati pintu mekanik itu. Meski mekanik dengan tambahan 'mana' juga.
Sebuah tangan yang lebih besar dari Annie menghalangi langkah si gadis. "Kau bisa saja menempati dirimu dalam bahaya. Biarkan Yang lebih kuat yang duluan."
Annie menatap bingung, hingga rasa bingung itu terlihat oleh semua orang. Dia mengangkat satu alisnya.
Dia berpikir, 'Yang lebih kuat? Siapa? Mama? Tapi Mama saja tidak mungkin berada di sini. Dia bahkan mungkin tidak tahu Kita di sini meski dirinya kuat.'
Apakah Dia tidak mendengar teriakan angka darinya saat bertarung tadi?
Annie yang dalam masa kebingungan akhirnya merubah raut menjadi 'Oh, Iya ya'.
'Benar juga. Mereka, kan tidak mendengar angka puluhan yang kugumamkan.' Ucapnya dalam hati dengan perasaan memaklumi.
Tapi sepertinya akan sangat seru jika Dia menggurau kecil dengan temannya. Biarkan mereka tetap tidak tahu.
Senyum licik terhias. "Aku yang saat level lebih rendah dari level 30 sudah bisa merasakan intensitas mana, bagaimana mungkin itu di sebut kuat?"
Logis!
Mereka merinding dan terkaku. Gadis di depan mereka selalu punya rencana licik. Meski kali ini bukanlah salah satunya.
"Terserah, terserah. Terserah Kau saja." Balas Kushida selaku orang yang menawarkan kedahuluan dari orang 'kuat' tadi.
Annie berjalan kembali.
"Dasar rubah mengerikan." Lanjutnya bergumam, yang masih dapat di dengar setiap orang. Tidak terdapat sebuah pemikiran ingin mengejek diam-diam, itu sengaja di berinya.
Annie yang sudah mulai ingin turun lebih dalam di tangga itu segera melihat teman-temannya.
"Perempuan duluan. Tidak mungkin rok mereka di perlihatkan untuk Kalian." Dia lanjut menuruni tangga.
"Kasihan sekali. Rencana mesum Kalian sudah tergagali. Ahahahahaha!" Si kucing masuk dengan Annie yang menangkapnya.
Kushida menyusul.
Yang lain —laki-laki—, hanya berwajah masam. Salah satu(?) dari mereka padahal sudah berbahagia akan rencana yang terhalang oleh ucapan Annie itu.
Mereka diam-diam berdecih dalam hati.
Gender perempuan tidak lagi tersisa di atas. Kini para laki-laki yang tersisa menyusul.
Untuk si gagak, Dia setia di bahu Annie. Sedangkan si kucing, tadi lah.
Suara sepatu kulit terdengar menuruni sebuah tangga yang terbuat dari logam besi. Terdengar begitu jelas dan ramai.
Hingga pada akhirnya memperlihatkan gadis kecil dengan gagak dibahu dan kucing digendong.
Di susul Khusida, Vanessa dan Gilda. Untuk sisanya para anak laki-laki itu.
Ups! Saya lupa!
Ada pria (dewasa) juga di sana. Namun tubuh dan perawakan mereka seperti 'anak-anak'. Yap! Tentu itu si Lucifer dan Rafael!
Tapi untuk apa juga membahas mereka? Kan cuma tokoh tambahan. Ahahaha.
__ADS_1
Baik, lupakan.
Saat ini mereka sudah berada pada sebuah tempat persegi.
Dan inilah tempat yang di maksud Annie sebagai tempat yang memiliki intensitas mana tinggi tersebut.
Jika melihat pintu mekanik dengan mana tadi, Annie menyebutnya brankas.
'Astaga. Tempat ini begitu menyilaukan. Begitu kaya sekali rasanya, haha.' Jiwa MissQueen Annie meronta-ronta melihat apa yang ada di hadapannya.
Sebuah tempat harta karun yang sesungguhnya. Begitu terasa penuh dengan berbagai macam senjata dan peralatan yang 'Wah!'.
“Apa ini yang dimaksud dengan kaya mendadak? Aku merasa akan pingsan sekarang.” Keluh si kucing dengan nada sinis.
Dia merasa sebuah kekurangan. Namun yang lain merasa sebuah kelebihan, bahkan sebuah kekuatan.
“Ini akan menarik untuk Kami. Harap siapkan matamu kucing gendut.” Ejek Annie. Dia tahu si kucing itu bersinis kata karena tidak bisa ikut berpegang tangan pada senjata dan harta lainnya. "Oh ya, hati-hati juga langkahmu. Kasihan nanti kakimu kalau tidak sengaja memijaknya."
"Cih!"
Lupakan si kucing. Kita kembali pada kenyataan yang di alami Annie dan teman-temannya.
"Waw! Aku tidak pernah melihat emas dan senjata-senjata ini! Ini sangat menakjubkan!" Ucap Gilda sambil mencoba melihat lebih dekat lagi.
Setumpuk besar emas, perhiasan, permata, rubik, semua jenis logam berharga yang di anggap sebagai harta tertumpuk.
Baik itu logam yang sudah jadi dan membentuk perhiasan, atau yang belum dan hanya sekedar bentuk koin atau bijihnya.
Lalu, selain itu, ada lagi senjata-senjata yang secara biasa tergeletak sembarang dan ada pula beberapa di beri sebuah kotak kaca khusus untuk senjata itu.
Bahkan di beri sebuah podium khusus, seolah itu adalah senjata yang lebih berharga dari yang ada di bawah.
Bahkan mereka merasa sebuah sinar menyilaukan karena banyaknya emas mengkilap di sana. Seolah tidak perlu lagi bagi mereka memiliki sebuah lampu di tangan.
"Kau serius? Ini setara dengan penghasilan kerajaan Clover selama satu tahun. Tidak. Mungkin ini lebih dari itu." Gyndenki menatap dengan senyum berkedut.
"Katakan ini mimpi." Lirih Reen dengan Arthur dan Yhansen yang mengangguk setuju. Mereka bertiga memiliki perasaan lemas karena terkejut.
"Sayang sekali. Jika ini mimpi, sedari awal sudah kuhilangkan kalian berdua dari kehidupanku." Sadar Kushida pada mereka. Datar~
"Dasar pengacau!" Kesal Yhansen akan maksud jelas dari gadis satu itu. Kushida hanya menjebil mengejek.
"Mari serakah. Jangan sia-siakan kekayaan sekali seumur hidup Kalian." Saran Annie yang menjerumus ke kesesatan.
"Sesat." Tunjuk si kucing.
"Bilang saja kalau 'Wiskasnya harus bertambah jika Kau ingin Aku tutup mulut'." Annie meminyi-minyi.
"Heh! Kau tahu itu. Karena itulah budakku. Lakukan saja." Sombong si kucing. "Kami tidak butuh."
"Eh?! Kenapa?!" Sentak si kucing.
"Tanpa menyuapmu Aku sudah bisa membuatmu tutup mulut." Senyum mengejek terulas di wajahnya.
"Kau!" Akhirnya mereka memberi sebuah perdebatan tidak berguna.
Dari pada menjelaskan ketidakjelasan kedua makhluk 'akur' itu, lebih baik Kita melihat yang lain.
Saat ini, teman-teman Annie itu sedang mencoba melihat sekitar lebih jelas.
Ruangan itu benar-benar besar, karena itulah Author menyebutkan setiap senjata yang terlihat hebat di sana di sediakan sebuah podium untuk masing-masing.
"Bahkan tempat yang di berikan untuk Kita berpijak masuk saja tidak sampai sepersepuluh dari ruangan ini. Berarti ini benar-benar sebuah kekayaan." Vanessa menyampaikan pendapatnya sambil melihat koin emas di sana.
"Ini kehebatan! Darimana Kita akan mulai?!" Resh mulai berteriak dari tempatnya. Dia duduk jauh dari yang lain bersama Raan dan duo ras gila di sebuah sudut tempat mereka masuk tadi.
Dia —mereka— terlihat sangat acuh dan tidak penasaran. Seolah, hanya menginginkan 'Ayo cepat selesaikan ini lalu tamat'.
Semua orang saling pandang, mereka ingin bertanya pada Annie. Tapi.. sudahlah, lupakan saja. Mereka sangat suka saling berdebat. Lebih-lebih si kembar di kelompok mereka dan duo ras gila itu.
"Waw!" Yhansen, Arthur dan Reen berteriak girang. Sangat girang seolah menemukan hal 'Indah'. Yang lain acuh, mereka mengira itu pasti hanya sebuah sifat mereka saja.
"Apa ini?!" Girang Yhansen.
"Ini tombol lah!" Balas Reen mengerutkan kening. "Tapi apa ya?!"
(Ikan hiu makan golok. Gob- piiiiippp!)
"Siapa peduli?! Ayo coba tekan!" Arthur tanpa aba-aba menekan 'tombol' yang dimaksud itu.
"Tunggu! Apa?!" Annie dan si kucing langsung berhenti dari debat mereka. Mereka langsung menghiraukan ketiga sejoli itu.
Klik!
"Si*l! Kalian bertiga memang harus hanya dijadikan sebuah pajangan saja!" Kesal Gyndenki melihat arti dari kehebohan dari anak-anak itu.
[Author POV end]
...----------------...
Rekor baru! 2115 kata!
Itu akan menjadi jumlah kata yang bakal Author capai ketika akan update.
Jika tidak sampai. Buat list jadi 1400 kata sampai 2000-an kata!
Yosh!
Sangkyu minna~ Atas dukungan Kalian selama ini~
__ADS_1
\=,\=