
"Hmm Hmm Hmm Hmm Hmm Hmm Hmm Hmm Hmm Hmm Hmm Hmm Hmm Hmm Hmm Hmm Hmm Hmm Hmm Hmm-"
"Ku bilang hentikan, gadis gila!" Geramnya (lagi), sambil berusaha menutup telinga serigalanya itu dengan tangan kucing kecilnya itu.
Satu kata. Kawaii~
Itu hanya sementara, karena mengingat wataknya barusan.
"Sulit untuk ku berhenti. Soalnya Kau membuat ku sedikit kesal saat di masa lalu, selama satu minggu." Mulai ku.
"Juga, saat ini. Ber-pu-ra-pu-ra menjadi korban tabrak tanggung." Aku kemang mengucapkannya datar, tapi Aku memberi sedikit penekanan pada beberapa kata.
Dan itu pun cukup untuk membungkamnya.
"Lupakan. Kau mengawasi ku?" Dia terdiam kemudian mengangguk.
Dengan aneh Aku bertanya isyarat mata. Bagaimana tidak aneh coba? Dia mengawasi ku secara terang-terangan.
Seingat ku tidak ada alur sang penjahat memelihara kucing gendut hitam. Mencoba merusak kah? Hmm.. menarik.
"Hanya bermain-main." Hmm.. terserah. Aku pun duduk kembali di samping Mama.
"Tuh kan! Kau memang gila! Bagaimana bisa hanya itu responmu!?" Sentaknya. Aku mengerut.
"Memangnya Kau ingin Aku bagaimana?"
"Memaksa ku untuk berbicara jujur, mencaci maki berbagai macam cacian dan sebagainya. Walau memang seperti itu kenyataannya." Jawabnya santai.
Apa...??
Dengan cepat ku raut kan wajah seolah melampirkan sesuatu yang menjijikkan nan mengerikan.
"Ugh.. Masochist." Lirih ku padanya.
"Apa?! Tentu bukan bodoh! Apa-apaan raut wajahmu itu!"
Heh. Rasakan itu. Aku masih belum merasa puas dengan balas dendam ini. Mimpi buruk selama tujuh hari berturut-turut.
Berpura-pura menjadi korban tabrak tanggung dengan, kaki yang seolah patah atau semacamnya.
Huh!
Hmm..?
Pengganggu para pejalan..??
Aku merasakan bergerombolan orang sedang bersembunyi di semak-semak.
Jika saja Kalian melihat latar di tengah hutan pada perjalanan Kami kali ini, pasti akan berpikir itu orang-orang yang berkemah.
Namun, jika Kalian dapat merasakan hawa keberadaan orang-orang ini di mana, pasti Kalian akan memikirkan satu kata. Perampok.
Bunuhkah..? Atau, bawa ke penjara saja..?
"Catie Redie Blackie gendut? Hanya pingsan atau bunuh?"
"Jangan berlebihan jika ingin gila! Tentu saja hanya pingsan!" Teriaknya. Dan hanya ku jawab Ok saja.
Aku pun menggumamkan kecil nama Lucifer dan Rafael, sangat kecil hingga hanya seperti deruan nafas ringan yang sengaja di keluarkan.
Seketika itu juga dua aura baru terasa oleh indra ku.
__ADS_1
Mereka tidak di dalam kereta atau pun di sekitar kereta, melainkan sebaliknya. Mereka berada sekitar beberapa puluh meter dari tempat ku.
Akhirnya ada gunanya juga ajaran dari pria itu. Tapi mari kembali ke topik.
Sepertinya Mama juga merasakannya terlihat dari raut wajah yang agak tertegang. Mama cukup pandai menyembunyikannya.
Namun, Mama masih perlu banyak belajar. Jika di hadapkan oleh orang seperti ku dia akan ketahuan.
Dia tidak memperhatikan perkataan Kami lagi, tapi fokus pada pengganggu jalanan itu. Rasanya Aku sedikit kasihan. Aku pun menoleh ke arah kucing gendut itu, memberi isyarat.
Kucing gendut itu lantas menoleh ke arah ku, mungkin ia merasa Aku sedang melihatnya. Mata Kami sekontak, dengan guratan arti sinis pada tatapannya.
Lalu, Aku yang menatapnya menoleh ke arah Mama. Lebih tepatnya melirik dari sudut mataku.
Raut wajahnya agak meramah. Ia sepertinya mengerti.
"Nyonya Anda tidak perlu khawatir. Biarkan dua ikatan bocah ini yang mengurusnya." Saut kucing gendut itu. Nadanya benar-benar ramah, berbeda sekali dengan ku.
Mama mengernyitkan dahinya sebentar sebelum memberi raut lembutnya. Dapat terlihat dari sudut mata ku yang sedang menoleh ke arah luar.
Aura manusia yang mengelilingi Kami perlahan mulai berkurang. Tak berselang beberapa menit. Salah satu dari mereka berteriak sehingga mengejutkan kami serta kawanannya juga.
Itu pasti Lucifer dan Rafael yang mulai bertindak.
Lucifer dan Rafael nampaknya sengaja melambat-lambat. Mungkin mereka merasa sudah lama tidak bermain-main. Dasar pshycopath.
Mama dan sang kusir nampak bersiaga. Mama menyiapkan tangan yang sedang di fokuskan untuk membentuk mana. Sang kusir segera memberhentikan kereta, lalu melihat ke sekeliling.
Mereka itu sengaja memancing para pencuri ini untuk segera menunjukkan diri ke kereta Kami. Dasar duo ras gila.
"Bersiaplah~ Mereka salah satu pencuri terkenal di kalangan pelancong~" Kucing gendut gila, bisa-bisanya dia memprovokasi mental orang di saat begini.
...****************...
"Jadi ada apa gerangan Nyonya muda dan rombongan lewat kemari?" Begitu manis mulutnya, tapi tidak dengan wajahnya yang berwarna-warni bak pelangi di musim panas.
"Kami ingin kembali ke kerajaan Clover. Apakah ada masalah dengan itu?" Sinis Rafael yang berada di samping ku.
"Kalian ini sudah menghabiskan waktu Kami. Harus ada bayaran untuk itu." Kini Lucifer mulai ikut-ikutan.
Bugh bugh
"Kalian benar-benar banyak oceh! Ini juga karena Kalian yang bermain-main!" Kucing gendut itu hebat juga, bisa memukul dan memaki duo ras itu.
"Berisik Kau kucing aneh!" Balas Lucifer tak terima.
"Betul! Kucing gendut aneeeh!" Timpal Rafael.
Kalian kembar tak se-ras, kah?
"Hei! Mulut Kalian jangan asal bicara!"
"Sudah, sudah. Tidak perlu di lanjutkan. Lebih baik Kita urus dulu mereka." Lerai Mama.
"Ku-kucing itu bisa berbicara!" Teriak salah satu bandit.
"Kenapa?! Tidak setuju!" Sinis si kucing yang sempat membuat bandit-bandit itu merinding ngeri. Mereka memilih diam ketika si kucing membentak.
Tidak perlu banyak diskusi akhirnya para bandit ini di bawa ke penjaga yang ada di depan gerbang besar kerajaan Clover.
Wajah mereka nampak terkejut —penjaga—. Tapi setelahnya Kami di biarkan masuk secara gratis. Dan di beri bayaran sesuai untuk penangkapan para bandit yang sudah menjadi buronan mereka.
__ADS_1
Mama pun menolak bayaran mereka, karena ia merasa uang itu tidak terlalu berguna baginya, lalu dia berikan secara percuma kepada para penjaga itu. Mama memang hebat~
Sasuga nee, Mama.
Tak sampai di situ Kami masih harus berjalan lagi untuk sampai ke kediaman Lizabethen. Para bandit itu membuat perjalanan Kami tertunda, yang di campur tangankan oleh duo ras gila ini.
"Apa Kalian tidak ingin kembali? Akan sulit menyembunyikannya Kalian." Ucap kucing gendut itu.
"Tidak. Aku bosan di sana." Keluh Rafael.
"Bagaimana kalau mereka melihat dua ras tinggi seperti Kalian? Benar-benar sulit untuk menyembunyikannya." Jelas kucing gendut itu.
"Kami bisa menyesuaikan diri menjadi anak manusia berusia sembilan tahunan." Seketika asap berbeda warna mengelilingi mereka berdua.
Asap tersebut tak berbau menyengat seperti asap bakar sampah, jadi Aku tidak perlu menahan batuk.
Asap tersebut mulai kehilangan warnanya dan menampilkan dua sosok imut(?). Di sebelah kanan ku, ada bocah bersurai hitam dan mata berwarna merah menyala.
Nampak sangat elegan dengan setelan kasual di dunia ini, dan setelan formal jika itu di dunia modern. Celana panjang dengan jas berwarna hitam.
Lalu di samping kiri ku, ada juga bocah laki-laki dengan deskripsi yang sama dengan bocah di sampingnya.
Hanya berbeda warna saja dari dirinya. Dia memakai setelan putih dengan sepatu coklat. Lalu surai dan kulitnya yang albino, serta warna mata biru terang.
Sepertinya Kalian memang kembar tak se-ras. Setelan yang sama, ucapan yang selalu sama, suka bertengkar bahkan pada hal kecil sekali pun, saling menyetujui apa yang di katakan kembarannya ketika satu pemikiran, dan semacamnya lah.
Entah kenapa, nampaknya semua yang ada di sekitar ku dapat membuat Mama bungkam seribu bahasa. Ia terlihat ingin bertanya banyak pertanyaan yang hanya sebagai pemastian saja.
"Hmph! Seperti ini saja sombong. Jika mana-nya habis juga akan kembali seperti semula." Sinis kucing gendut itu.
Ia sepertinya sangat amat tidak menyukai mereka berdua. Kenapa ya? Tapi itu juga bukan urusan ku sih.
Sinisan kucing gendut itu sepertinya tidak di sukai oleh duo ras gila itu. Lalu berakhir lah semua itu dengan pertengkaran. Tingkah mereka benar-benar membuat ku ingin membungkam mereka segera.
Namun ku urungkan niat itu ketika mendengar tawaan kecil dari Mama atas apa yang mereka lakukan. Ini tidak apa asalkan Mama memang sudah tidak meng-apa-kannya.
Aku pun memejamkan mata sementara. Seketika pejaman mata ku menjadi mengernyit karena kereta yang mengantar Kami pulang berhenti.
"Nyonya, kita sudah sampai." Tukasnya.
Mendengar itu Mama lantas turun lebih dulu. Yang di susul Rafael kemudian Lucifer. Kucing gendut itu dia juga turun duluan. Namun lebih dulu lagi, saat Mama ingin turun.
"Ayo." Lucifer yang turun sebelum Aku melampirkan tangan kanannya. Tentu saja Aku menggapainya.
"Kalau begitu Saya kembali, Ketua. Selamat malam." Sapa sang kusir, Mama pun menjawabnya.
Ayo masuk. Jangan tegang. Jangan gugup. Jangan takut. Jangan sedih. Hanya perlu menyapa mereka lalu istirahat. Kuharap realita sesuai ekspektasi.
Kedua penjaga gerbang di sana nampak memasang wajah melongo. Namun sepertinya mereka masing sedikit sadar untuk membukakan gerbang. Dengan langkah santai, Lucifer mengikuti Mama.
Kenapa Aku menyebut Lucifer? Menurut Kalian?
Yap! Tentu saja karena Aku memintanya untuk menggendong ku. Berjalan akan melelahkan untuk tubuh mungil ku ini. Sesampai di depan pintu Aku meminta Lucifer untuk menurunkan ku.
Ayo rumah! Aku kembali! Aku pulang semuanya!
Mari siapkan camilan manis tapi tidak manis!
Aku suka manisan yang tidak manis!
(Apa hubungannya hei!)
__ADS_1