My Antagonist Life Reancarnation

My Antagonist Life Reancarnation
Bab 3 : 19


__ADS_3

"No-nona, mereka tetap tidak mau makan meski sudah di beri iming-iming. Bagaimana ini?" Ucap Yuri sembari menujukkan semangkuk sup di tangannya.


"Terus?" Annie yang di maksud hanya bertanya acuh tak acuh.


"Umm.. Sa-Saya tak tahu, hanya saja, naluri Saya ke Anda.." Yuri menjawab panik dan takut, karena telah salah datang.


"Oh."


.......


.......


.......


.......


.......


Hening


Setelahnya hening


Tak ada satu pun kata yang keluar, Annie yang sedang menyesap minumannya tak bergeming sedikit pun.


'Apa yang harus kulakukan?' Pikir Yuri yang tambah panik.


Buugh


"Aw."


"Jawab yang benar! Jangan hanya ham-hem ah-oh saja!" Ucap Elgartara yang memukul —menjitak— kepala Annie.


"Terus?" Perempatan merah muncul di dahi Elgartara.


"Lakukan sesuatu bodoh! Berhenti bertindak seolah Kau pemimpin di sini!" Elgartara menyeret Annie keluar tenda.


'Cangkirnya masih di pegang lho.' Annie berucap dalam hati.


"Tapi peringkatku lebih tinggi darimu." Annie berbicara, namun tak di gubris oleh Elgartara.


Yuri yang melihat itu mengikuti mereka. Mereka berjalan menuju sebuah tenda besar yang baru di bangun semalam, untuk orang-orang yang di bawa —culik— oleh pria bertopeng itu.


Mereka berjalan ke arah dalam tenda. Ah! Ralat. Kecuali Annie. Dia di seret, sehingga Dia tidak berjalan.


Mereka memasuki tenda dengan santai.


Terlihat, ada beberapa anak kecil yang sedang makan namun seperti tak ikhlas, dan beberapa lainnya tidak sama sekali. Lalu, beberapa orang dewasa dan para A-0 yang lain.


"Kenapa Dia yang malah di jemput?" Kushida bertanya sambil berkacak pinggang.


"Banyak makhluk hidup di sini, apakah memang harus Dia?" Kali ini Gyndenki yang bertanya.

__ADS_1


"Naluri gadia baik tak pernah salah." Elgartara berucap saat berhenti tepat di samping Gilda dan Vanessa.


"Cangkirnya biarkan Aku." Vanessa menawar. Annie memberikan cangkirnya yang masih sisa sedikit kopi.


Annie berdiri tegap dengan kakinya sendiri. Dia yang membelakangi beberapa anak, atau lebih tepatnya 3 anak kembar membenahi diri.


Dia berbalik untuk menangkap bagaimana anak-anak yang di maksud. Matanya menangkap apa yang ada. Ketiga gadis itu meringkuk takut.


Meringkuk mereka masih dalam keadaan duduk di kursi dengan meja makan. Di hadapan mereka terdapat makanan dalam mangkuk yang masih berisi dan sudah dingin.


Mata Annie yang melihat anak kecil itu sedikit melotot berbinar kehancuran. Dia mendapati keibaan dalam dirinya. Namun segera Dia hilangkan ekspresi itu.


"Dasar gila. Bagaimana mungkin Kalian memberikan yang masih dingin?"


"Itu masih panas tadi."


Annie hanya mengendik dan berjalan untuk mengambil dua mangkuk yang tersisa di atas meja.


Lalu mengajak Yuri yang memegang mangkuk satunya lagi untuk ke dapur perkemahan. Di sana, makanan dingin itu di ganti dengan masakan yang baru di buat oleh Annie.


Dia kembali berjalan menuju tenda tadi sambil membawa yang baru. Dia berjalan mengambil kursi untuk duduk di samping salah satu anak-anak di sana.


"Jadi, apa yang ingin Kau lakukan?" Arthur bertanya sambil memainkan pisau belati kesayangan miliknya.


Annie yang melihat itu mencoba melihat yang lain, teman-temannya, semuanya, berkelakuan buruk untuk hal yang lembut bagi anak-anak yang tak mau makan itu.


Kecuali sang Mama, Dia menatap bingung untuk sebuah hal.


Annie dengan gerakkan tangan dan imajinasi yang gesit. Membuat pisau kecil, belati dan pedang masing-masing orang di sana melayang dan mendekat ke masing-masing leher yang memiliki senjata itu.


Kecuali sang Mama, Furai. Dia hanya menatap semua itu dengan kebingungan dan keterkejutan.


"Tunggu! Apa yang Kau lakukan?!" Kushida berteriak garang.


Annie mengendik acuh, membuat sebuah aura para orang-orang yang bingung.


Dia menggerakkan sedikit jemari di tangan kirinya, membuat benda-benda di sana semakin mendekat ke arah leher masing-masing.


"Apa perlu mengikat Kami hingga tidak bisa bergerak?" Edward yang juga berada di sana bertanya, mencoba menstabilkan perasaan resahnya karena Annie.


"Jika tak kulakukan Kalian tak akan mengerti."


"Bagaimana rasanya jika Kalian ingin makan, tapi di seperti inikan?" Annie menggerakkan kembali hingga mata pedang hampir mengiris leher mereka.


Semuanya terpaku, tak berani bergerak barang sedikit pun, termasuk bernapas. Mereka berkeringat dingin.


Semua hal itu terjadi, karena Annie memberikan auranya khusus untuk mereka yang di beri ke-kaku-an.


Annie melepaskan mereka dan mengembalikan masing-masing senjata. Membuat setiap orang melepaskan napas lega hingga terengah-engah bak habis lari marathon.


"Kalian mengertikan, kenapa mereka enggan dan ragu untuk makan?" Semua orang mengangguk di tengah kenapasan mereka.

__ADS_1


"Kalau begitu, duduk dan tenanglah." Annie memerintah, yang entah kenapa, mereka semua menurutinya.


Annie sekarang sedang berada dalam keterbingungan. Apa yang harus di lakukannya? Menyuapi dan mengiming-imingi mereka?


Itu tidak mungkin. Yuri sudah mencobanya dan itu tidak berhasil. Kini Annie berpikir.


Jika seorang Yuri yang baik hati dan lembut saja tidak bisa, bagaimana mungkin dengan Aku?


"Apa memangnya yang bisa Kau lakukan?" Kushida menatap tak percaya. Annie untuk kesekian kalinya hanya mengendik.


Annie nampak berpose berpikir, Dia sedang memikirkan apa yang bisa di lakukannya. Yuri menalurikan dirinya. Sedangkan Dia bukanlah gadis 'baik-baik'.


Annie mendesahkan bingung. Mungkin jika dengan perawakannya dulu, saat di dunia sebelumnya, mungkin bisa membujuk anak-anak ini.


Namun sekarang.. hais~


Sudah tidak ada sedikit pun aura pemimpin, tegas, keibuan, lembut, hangat, penyayang atau semacamnya. Begitu, pikirnya.


Namun, tak ada salahnya mencoba. Pikirnya lagi.


"Anak-anak, ayo makan. Akan sangat tidak enak jika makanannya dingin."


Sebuah senyum merekah di pipinya, membentuk sebuah senyuman. Hangat dan lembut, itulah yang terlampir dari senyumannya.


"Y-ya!" Ketiga gadis muda yang kembar itu menjawab gugup dengan sebuah semburat merah di pipi mereka.


"Tapi karena Aku tak bisa menyuapi Kalian satu-satu, bagaimana kalau Kakak-kakak di sana yang membantu Kalian?" Annie berucap dengan lembut. Masih dalam keadaan senyum hangatnya merekah.


"U-umm.." Jawab salah dua dari mereka ragu.


Tanpa terlihat oleh ketiga anak kecil itu, Annie menatap tajam sekilas ke arah teman-temannya. Teman-teman Annie bergidik dan segera dengan panik melakukan maksud dari ucapannya.


"'Aaaa..'" Annie mengangkat sesendok makanan ke mulut salah satu gadis kawaii di sebelahnya.


Suap demi suap terus berlalu, dengan senyuman dan gerakkan yang lembut dan penuh keibuan darinya.


"Wow! Annie Kau hebat! Seperti seorang Ibu sungguhan! Apakah Kau mengasuh anak-anak lebih dari dirimu sebelumnya?" Arthur berucap tanpa filter akan arti dari maksudnya.


Annie menyelis saaa~ngat tajam sekilas ke arah Arthur, namun dapat juga di rasakan oleh sekitarnya.


Mereka bergidik. Meski sudah memiliki ekspresi tajam, tapi mereka sadar, ini yang pertama untuk mereka benar-benar mendapatkan tatapan tajam. Apalagi yang sangat-sangat tajam itu.


"Memanjakan adik sering." Annie berucap sambil menyesap kopi yang sekalian disiapkannya tadi saat memasak makanan yang baru untuk anak-anak itu.


Wajahnya Dia usahakan untuk terus tersenyum. Namun, meski begitu tak ada tanda-tanda yang menunjukkan kelelahan akibat terlalu sering tersenyum.


"Oh ya, apa Kalian sudah menemukan rumah anak-anak ini? Kita akan mengantar mereka pulang."


Brak


"Tidak!!!" Yuri, dan beberapa anak-anak di sana berteriak sergap.

__ADS_1


Annie mengerjap pelan. Dia bingung, ada apa dengan anak-anak ini.


__ADS_2