
Sudah satu jam lebih Aku menunggu. Tapi tidak ada selesai-selesainya yang berdatangan.
Dan satu hal membuatku penasaran. Dari sekian peserta yang ada, seluruh peserta dari tempat yang sama denganku berada disini.
Sepertinya pada lulus semua ya.
Tapi sekarang Aku akan bersungguh-sungguh. Hentikan ocahan dan pusat perhatian ini!
Kucing itu mengoceh sesuatu yang sama dan berbeda pemikiran setiap saatnya, Aku hanya bisa menutup telinga agar suaranya tidak terdengar.
Tapi berbeda dengan harapanku itu. Suaranya malah masih terdengar. Tidak salah jika dia dijadikan pembawa acara tanpa microfon.
Lagian juga, kemana anak-anak yang lainnya sih? Dari tadi mereka tak terlihat. Apakah benar-benar memang sudah—
"Annie!" Suara itu datang bersamaan dengan sebuah pelukan dari belakangku.
Aduh!
Jantungku!
Begitu terkejut!
Sudah mati belum ya?
Terdengar dari suaranya dapat dipastikan itu adalah A-08. Sebuah pertengkaran terdengar juga. Seperti suara A-06 yang sedang marah-marah dan suara A-02 yang terus menyulut.
Hah~
Aku menghela nafas pasrah dalam hati.
"Wah! Kalian selamat ya. Sayang sekali~"
Memang ya, mulutnya itu benar-benar ingin dirobek kah? Saat berbicara denganku selalu teriak, teriak dan teriak. Giliran orang lain malah begitu santai bak orang yang tak pernah marah.
(Neng, padahal kosakatanya itu lho. Aduh~)
Mereka malah bergelut sekarang. Tidak ada habis-habisnya mereka ini. Ngomong-ngomong, selama beberapa hari ini Lucifer dan Rafael tak tahu kemana.
Di dimensi sebelah mereka tidak ada. Bertelepati pun tidak dijawab. Rasanya mereka seperti berada di tempat yang jauh. Apakah itu bisa? Karena mereka seharusnya tidak bisa menolak perintahku.
Tapi ini tidak bisa sama sekali. Apakah mereka terkekang akan sesuatu, sehingga Aku tidak bisa berkomunikasi dengan mereka. Atau.. itu Aku?
Kuharap itu saat ini adalah Aku, bukan mereka. Karena jika itu ke mereka, sangat lemah sekali. Seperti latihan keras, tidak tidak tidak, sangat keras.
"A-anu..." Sebuah suara manis terdengar tepat di dekatku.
Ternyata itu adalah seorang gadis yang Kami bawa saat pelarian dari neraka mengerikan itu. Aku berekspresi bertanya, Ia nampak sedikit gelagapan. Kenapa ya?
"A-anu.. itu.. No-nona..." Ia begitu imut. Dasar anak-anak.
(Pedofil?)
Matanya tertuju padaku. Sepertinya dia sedang berbicara denganku.
"Zerozero."
__ADS_1
"Nona Zerozero. Saya ingin berterima kasih kepada Anda. Terimalah hadiahku." Ucapnya sambil membungkuk 45 derajat, dengan tangan yang menyodorkan sebuah kotak kecil.
Hadiah? Kenapa? Ulang tahunku sudah lewat, beberapa bulan lalu. Bagaimana dia tahu?
"Hadiah? Untuk apa?" Aku mulai lelah berspekulasi.
"Karena telah menyelamatkanku saat di menara itu." Kali ini postur tubuhnya sudah tegap kembali.
Menara? Maksudnya neraka jahanam itu.
Aku menggeleng kepala pelan. Dia bermimik tanya.
"Tidak. Bukan Saya yang melakukannya, tapi merekalah." Aku menunjuk ke belakangku, tempat yang lain berdiri. "Disana Merekalah yang membantu Kalian untuk melawan para bawahan pria itu. Jadi merekalah yang berhak mendapatkannya. Disana Saya dilindungi oleh Kalian semua."
Benar, saat melakukan pelarian, Aku terus-menerus dilindungi dan dilindungi. Tak pernah sekali pun Aku membantu. Komandoku itu hanya sebuah omong kosong. Karena mereka sendiri yang bergerak.
"Ta-tapi.. Saya melihat Andalah yang memberi arahan untuk Kami agar bisa melawan para bawahan pria itu." Ia sedikit murung.
"Bu-bukan berarti yang lain tidak melakukan apa pun. Mereka melakukan semuanya. Tapi, tanpa Anda mungkin kami sedikit kesulitan melakukan pergerakan karena kami tidak akan langsung kompak." Paniknya. " Menurut saya Anda itu seperti ketua saat membantu Kami." Tegasnya.
"Benar Annie. Karena rencana dan arahanmu lah akhirnya kita bisa keluar. Terima saja dengan senyuman manis." Bela A-06. Gadis tadi mengangguk antusias.
Mereka malah mendesaknya untuk menerimanya. Ya ampun, mereka ini. Memaksa sekali. Tapi ya sudahlah.
"Terima kasih." Ucapku saat menerima kotak kecil itu.
"Astaga Kau ini. Tersenyumlah. Dasar, tak punya sopan santun." Kucing besar satu ini, doyan sekali menyindirku.
"Jika tidak bisa, belajar sana. Pada Nyonya saja, dia manusia baik yang lembut, tak sepertimu. Begitu estetika sekali." Sindiranmu itu, serasa jika merobek mulutmu itu bukanlah masalah, dan hanya perlu mengatakan kata 'Maaf' saja.
"Yah, benar juga kata kucing gendut ini. Kau itu tak pernah tersenyum. Bahkan saat orang lain memberimu sesuatu, Kau hanya 'makasih ya'." A-01 berkata.
Tapi si*alannya, mereka seperti begitu pilih kasih. Haruskah ku kutuk satu-satu dengan akhir hidup mereka begitu tragis?
"Selamat pagi semua peserta." Sebuah suara baru dan kami kenal terdengar.
Ia menyapa Kami. Perhatian Kami tertarik kepadanya. Itu adalah dua gadis kembar dari ras malaikat kemarin. Tapi tadi hanya satu yang berbicara.
"Tahap Kali ini kalian akan mengetes aura."
"Setiap peserta yang menggunakan pin nomor urut ini adalah untuk dapat mengetahui apakah kalian akan lulus atu tidak." Semua orang langsung melihat ke arah dada mereka yang dipasang sebuah pin. Kami baru tahu dan sadar ada pin ini.
"Baik, Kita mulai dari peserta nomor 7."
Setiap peserta yang dipanggil merupakan peserta dengan nomor urut di atasku semua. Satu persatu setiap orang dengan nomor urut paling dulu sebelumku di panggil.
Anehnya, semua sudah lebih dari setengah orang dipanggil, tapi belum sampai pada nomor enam ratus sama sekali.
Sepertinya Aku yang menjadi nomor terakhir di sini. Jadi, kemana semua peserta yang berada di nomor urut bawahku? Mereka sudah tereliminasi kah? Benar-benar sangat di sayangkan.
Jika di hitung Kami semua ada Sekitar 200-300an orang. Dan Aku yang terakhir. Benar-benar sangat di sayangkan. Menunggu dan menunggu, rasanya seperti orang gila.
Bahkan anak-anak yang lain sudah dipanggil. Masing-masing dari mereka memiliki aura yang cukup kuat dan hebat.
Seperti A-01 yang memiliki berwarna merah. Yang membuat ia terdengar begitu sesuai dengan mantan sandangannya. Lalu, A-02 yang berwarna kuning, seperti tingkahnya.
__ADS_1
"Peserta ke 500."
Mungkin masih ada sekitar 20an orang lagi setelah peserta ini baru Aku. Saat ia meletakkan tangannya cahaya keluar. Hah~ Tahan! Sedikit lagi!
"Peserta ke 629."
What? Lho? Langsung ke nomor pesertaku, apakah nomor yang lainnya telah die atau apa? Tapi apa peduliku. Lebih baik segera akhiri ini dan melihat pin milikku.
Seperti yang lainnya, tanganku mengarah ke bola kristal di depanku ini. Saat menaruh tangan dan hendak menyalurkan mana—
"Meow~"
—Kucing gendut ini menaruh tangan kecilnya juga. Aku yang sudah menyalurkan mana merasa sesuatu menolak mana-ku.
Sebuah cahaya menyilaukan membuatku menutup mata dengan kedua lenganku yang kusilangkan di hadapan. Bersamaan dengan suara sesuatu yang terdengar pecah.
Cahaya menyilaukan itu menghilang. Suara pecahan yang awalnya kukira dari bola kristal itu, ternyata salah.
Sebuah mana yang seperti pecahan kaca jatuh perlahan kebawah sebelum akhirnya benar-benar menghilangkan seperti angin.
Dapatku lihat kucing itu menatapku dengan raut seperti sedang senang. Telinga yang seluruhnya tegak ke atas, lalu bibir yang seperti sedang tersenyum. Posenya sedang duduk dalam posisi tegap saat ini.
"Ukh-" Aku mengerang pelan.
"Meow~"
Eh? Darah? Dari mulutku.
"Tidak ada yang boleh tahu hal ganjil darimu."
Suaranya terdengar seperti dikepalaku.
"Jadi.. selamat tidur, Nona—"
Kepalaku terasa berkunang-kunang.
"—Annieliza."
Sayup-sayup teriakkan terdengar dan penglihatanku perlahan menggelap. Teriakkannya di dominasi oleh suara perempuan. Mungkin karena sangking kaget.
Tapi juga terdengar ada yang memanggilku beberapa. Sambil menengadahkan tangan terhadap darah yang masih mengalir ini.
Dapat terlihat wajah orang-orang yang menjadi pengawas di sini tegang dan panik, tapi tidak bergerak sama sekali. Ada apa? Apakah karena kucing ini?
Aku merasa ini adalah ulang si kucing gendut.
"No.. na.. Lizabethen." Bata gadia kembar yang berada di kanan
Tubuhku, terasa sangat lemah. Aku merasa terjungkal ke belakang.
Wah!
Jatuh pasti ini!
Semoga tidak kepala duluan.
__ADS_1
Jika iya, mungkin bisa mati lagi Aku.
Bruuk