My Antagonist Life Reancarnation

My Antagonist Life Reancarnation
Bab 3 : 24


__ADS_3

"Apa-apaan Slime ini! Menjijikan!" Teriak Kushida yang sudah di ambang batas, tatkala sebuah cairan kental berwarna hijau mengerubungi ketiga gadis di sana.


Yap! Tiga!


Karena Annie tidak termasuk.


Dia hanya bersorak menyemangati dari atas untuk ketiga gadis di sana, benang miliknya dibuat menjadi penyanggah agar tidak jatuh.


Bersama si kucing juga tentunya. Untuk si gagak Dia hanya bertengger di atas tali dan hanya melihat yang terkadang berbicara kepada Annie.


Slime. Itulah yang menjadi lawan anak-anak itu. Mereka, kecuali Annie dan si kucing, bertarung mati-matian.


Mereka berdua —Annie dan si kucing— merasa membunuh monster-monster tingkat rendah ini mudah, namun melelahkan. Jadi, para 'budak' merekalah yang menjadi tumbal dari kelelahan itu.


Bagaimana tidak melelahkan, jika bertumpuk-tumpuk Slime menyerang mereka. Memang mudah, tapi melelahkan jika mereka tidak ada habisnya.


"Oi! Gadis yang disana! Sihir api-mu kan kuat, coba bantu kenapa!" Teriak Lucifer.


Annie yang merasa disebut namanya hanya melirik singkat. Tidak menghiraukan sedikit pun maksud dari perkataan si pemuda(?).


"Tapi menurutku tak apa. Akan ada pemandangan indah jika Kita biarkan." Ucap Yhansen sambil mengacungkan jempolnya.


"Mati sana!" Ucap Kushida yang mengerti maksud dari ucapan Yhansen. Sebuah mantra diteriaki oleh Kushida itu, merupakan mantra yang sangat efektif tanpa mana. Mantra ini sesuai dengan hal yang terjadi.


"Nice shoot!"


Yap! Benar. Seperti teriakkan si kucing. Itu adalah sebuah tendangan yang melambung ke arah wajah sang mangsa.


"Tidak! Jangan buat Dia pingsan! Kita butuh makhluk itu!" Histeris Reen.


"Siapa peduli! Summon apanya! Tidak berguna seperti ini!" Kesal Raan yang ikut menginjak.


Saat ini, anak-anak itu sedang bertarung melawan sekelompok Slime berlevel paling besar 6.


Entah apa yang mengisi dungeon dengan monster-monster berlevel rendah namun banyak di sini. Mereka sudah berkali-kali menuruni tangga atau apapun itu yang menurun, dan labirin ini tetap tidak ada habisnya.


Mereka pernah sekali berniat kembali. Namun terhalang karena ceramah no jutsu dari Arthur, Yhansen dan duo ras gila itu.


Mereka mengalon-aloni pemikiran yang lain tentang usaha yang mereka lakukan. Meski tak berpengaruh, tapi yang lain tidak mungkin meninggalkan Annie sendirian.


Kenapa Annie? Karena Dia dengan langkah riang menuruni tangga saat keempat makhluk itu masih dalam mode: ceramah no jutsu.


Hingga kinilah yang terjadi. Sekelompok Slime hijau perusak pakaian menyerang mereka.


Bahkan saat ini, beberapa bagian pakaian mereka semua kecuali Annie, rusak. Di katakan compang-camping, tidak. Tapi deskripsi katanya begitu, iya.


"Annie! Tolong ya!" Mohon Vanessa sambil memelas. Sempat-sempatnya Dia menatap Annie saat sedang mencoba menangkis setiap Slime yang ingin mendekat.


"Hihihi." Kikik Annie lucu. Bersamaan akan dirinya yang turun dan berjalan maju dengan api oranye yang ikut melauti sekitar.


Walau begitu, api tersebut tidak sama sekali mengenai teman-temannya. Meski sebuah benang menarik mereka tanpa jeda dengan api yang masih menjadi lautan.


"Baiklah, baiklah. Mundur Kalian semua. Lalu, Kalian berdua bantu Aku." Ucap Annie sambil menunjuk Raan dan Resh juga Lucifer yang tidak ikut tertarik.

__ADS_1


Ketiganya hanya mengangguk dengan maju beberapa langkah lagi.


"[Fire Ball]" Lusinan bola api melayang dengan panas api yang cukup membara untuk kulit maupun udara diruangan pengap itu.


Tak sampai di situ, api tersebut dilemparkan secara membabi buta tanpa memandang apa yang akan dikenai. Wajah Annie sungguh tidak memandang secara datar atau apapun itu sebagai bentuk ekspresi sehari-harinya.


Wajah yang tersenyum simpul terpatri, seakan menyiratkan sebuah kesenangan baginya. Banyak Slime yang mulai mengabu karena api Annie yang cukup 'padat'.


"Gila! Aku merasa ingin melakukannya juga!" Seru Gilda.


"[Fire Blast]" Sihir baru terucap dari Annie sekali lagi. Menimbulkan sebuah sihir api lainnya yang tak kalah berlevel dasar.


Cukup banyak api yang dihasilkan mengingat jumlah mana Annie. Dengan mudah, Annie membelah lautan hijau kayak ingu-piiipp itu.


"Waw! Hanya dua sihir tingkat rendah!" Komen Resh yang terperangah.


Mereka semua mau tidak mau hanya bisa ber-sweatdrop ria. Bahwasanya Annie telah mengalahkan monster-monster itu tanpa bantuan dan waktu yang lama.


Perlahan api milik Annie menghilang dan menampakkan apa yang sudah terhasilkan dari sihir Annie.


Tidak ada apapun di sana kecuali warna hitam dari dinding-dinding lorong karena hasil bakar-bakaran Annie.


Tak sampai di situ, Annie kembali membuat belasan bola api. Bola api itu di terbangkannya di sekitar dirinya.


"Ayo jalan." Ajak si kucing mendahului Annie.


Dalam terperangahan namun dengan sedikit bumbu kekesalan sebagai tambahan, mereka hanya mengikuti ajakan dari si kucing.


"Mentang-mentang cuma dua kali serang sombongnya minta ampun. Padahal Kami kebingungan harus apa! Si*lan!" Kecam Raan kesal.


"Kalau begitu matilah duluan sebelum Aku berusaha." Balas Annie asal.


"Jika Kami mati Kau juga akan kesulitan." Sambung Arthur asal juga.


"Bagaimana mungkin? Palingan juga Dia cuma mendramatisir kenyataan seolah paling tersiksa karena melihat teman-temannya mati secara langsung di hadapannya." Ucap Gyndenki mengingatkan kenyataan, ada nada memenye-menye kesal di dalamnya.


"Bagaimana bisa spekulasimu itu menjadi kenyataan?" Tanya Reen.


"Dengan membunuh diri Kita sendiri sambil membuka lebar mata Annie." Sambung Resh mewakili.


"Annie kecilkan sedikit api-mu itu! Di sini jadi sedikit panas!" Teriak Rafael memberitahu. Karena meski mereka terus melangkah maju, sihir api Annie terus menyala tanpa takut kehabisan mana.


Annie terus menyalakan apinya dengan membuat lautan api di sekitar dirinya juga teman-temannya. Karena itu juga ada sebuah jarak besar antara Annie dan teman-temannya.


"Tidak bisa! Jika kukecilkan semuanya akan menjadi lama!" Balas Annie yang juga sambil teriak.


Meski hanya membuat keadaan seolah sengaja menjadi lautan api, tapi di sisi Annie yang bertarung tak memperlihatkan sedang bertarung dengan apa.


"Memangnya monster tingkat berlevel ber-apa yang Kau lawan?!" Tanya Elgartara singkat. Seolah kalimat kompleks, dirinya menyatukan dua pertanyaan menjadi satu.


"Skeleton yang bisa guna-guna! Level meneketehek!" Balas Annie asal.


"Hah? Guna apa tadi? Sama men.. apalah itu?" Tanya Gyndenki bingung. Tak seperti yang lain Dia berbicara santai.

__ADS_1


"Tidak, lupakan." Annie juga membalas secara santai tidak berteriak-teriak.


"Ah! Hati-hati, mereka bisa saja merusak lantai ini dan membuat Kita jatuh." Lanjut Annie memperingati.


"Apa?! Besarkan sediki—" Teriak Rafael.


Bruuggh!


"Fly! Gunakan fl-" Annie memperingati sekali lagi.


Kreek kreek krek


"Lari!" Teriak Annie lagi.


"Kami tidak bisa bergerak! Jika Kami melakukannya lantainya akan benar-benar—"


"Oh. Apakah akan hancur sebentar lagi?" Tanya Arthur mewakili Reen dan Lucifer yang ikut berjalan cepat ke arah belakang.


"—han..cur..." Lanjut Vanessa yang melengkapi kalimat miliknya.


"Kita mati sungguhan kali ini!" Teriak ulang Vanessa dengan wajah berkedut kesal.


Annie yang mengerti situasinya karena sempat melirik sebentar di sela-sela menyihirnya pun mencoba mengeluarkan sihir cahayanya.


"Semuanya siap-siap ya!" Annie mengingatkan.


Lautan api dan sebuah asap-asap tipis hitam menghilang, menggantikan bentuk nyata dari retakan pada lantai dan dindingnya.


"Apapun itu namanya, sihir cahaya ini Aku gunakan untuk melenyapkan Kalian." Gumam Annie berseringai.


Cahaya terang berwarna putih membentuk sebuah pola rune, nampak di bawah para penyihir Skeleton di sana.


Skeleton-Skeleton itu mulai mengabu bak seorang vampir yang terkena sinar matahari di film-film.


Lantai yang mulanya hanya mematri sebuah retakan-retakan kecil, kini memberi sebuah retakan yang terdengar lebih besar dan dalam. Yang membuktikan sebuah kenyataan akan jatuhnya mereka ke bawah karena beberapa lubang mulai muncul.


"Tutup mata Kalian!" Perintah Annie yang langsung dilakukan oleh teman-temannya.


"Kaak! Kaak! Mati! Mati!" Waspada si gagak.


Perlahan, retakan membesar dengan Annie yang membuat sebuah pelindung mana mengelilingi tubuh teman-temannya dan dirinya. Si kucing dan gagak termasuk ya.


"Aaaahh!"


"Meooowww!!"


Retakan membesar dan teriakkan terdengar. Semua itu perlahan terjadi hingga mata setiap orang menggelap baik indra penglihatan maupun pendengaran.


Hingga suara-suara dari setiap makhluk hidup di sana menghilang. Berganti suara dengan hanya sebuah jatuhan kecil dari batu-batu kecil juga.


'Semoga rencana dadakanku kali ini berhasil juga.' Ucap Annie dalam hati ketika menyadari suara teman-temannya yang menghilang.


'Astaga, sakit sekali tubuhku. Semoga yang lain tidak.'

__ADS_1


__ADS_2