My Antagonist Life Reancarnation

My Antagonist Life Reancarnation
Bab 2 : 6


__ADS_3

Dapat terlihat orang-orang dengan baju seragam yang di mana wanita dengan haori putih bercorak garis-garis berwarna hitam berada paling depan.


Annie yang melihat akan hal itu segera memberhentikan diri, jarak antara Annie dan wanita tersebut terpaut cukup jauh, namun mereka bisa saling melihat satu sama lain.


"Gadis kecil sialan!" Dapat terdengar teriakan yang amat kesal.


"Gawat. Dia marah. Tapi kenapa seperti mengarah padaku?"


"Bukan kah itu salahmu sendiri. Kenapa Kau seolah terkejut." Ucap Lucifer.


"Benar, benar. Kenapa Kau bersikap seolah tidak tahu." Timpal Rafael.


"Lah, Kalian berdua yang melukainya, kenapa Aku yang di salahkannya." Balas Annie dengan wajah datarnya.


"""Bodoh""" Ucap mereka semua melihat kelakuan bodoh Annie dalam membela dirinya.


Kecuali anak-anak lain yang tidak mengenal Annie. Beberapa di antara mereka hanya tertawa kecil.


"Nona, apakah Kalian para penyerang itu? Jika ya, maka kebetulan sekali orang gila- maksudku Bos mereka sedang mengejar Kami. Jadi Ku serahkan pada Kalian." Ucap Annie dengan gaya seperti..mm.. lupakan saja, tanpa memperdulikan umpatan dari temannya yang lain.


"Annie, Kau menjijikkan."


"Astaga, 05. Ku pikir hubungan Kita spesial." Balas Annie dengan nada penuh kesedihan, sambil berjalan ke arah belakang kelompok tersebut.


"Apa-apaan itu. Menjijikkan."


"Gadis kecil! Awas saja Kau!" Terdengar kembali teriakan yang entah kapan dia akan sampai.


"Gawat. Jangan hanya diam, ayo cepat."


"Ah, benar, ayo."


"Nyonya, tolong ya."


"Ya." Balas wanita tersebut sambil mengeluarkan pedang dari sarungnya.


"Ayo anak-anak, kita ke belakang." Ajak seorang wanita.


"Biarkan mereka bertujuh tetap di sini. Lagian mereka dari lantai puncak." Ucap Rafael sambil melihat ke arah tangga tempat mereka turun tadi.


"Baiklah, kita tonton dari belakang."


"Maksud mu, membantu dari belakang?" Ucap Rafael sambil memukul kepala A-02 dengan santai.


"Aw, bantu apa? Kita hanya anak kecil."


"Kau punya kekuatan tapi tidak di gunakan, lebih baik kembali saja sana. Agar Kau lebih berguna. Sehingga ketika penelitiannya selesai kami buat atas nama kami."


"Sungguh sakarstik." Komennya. "Baiklah, Fireball." Ucap A-02 dengan santai.


Dapat terlihat beberapa bola api seukuran bola basket, sedang melayang di sekitar wanita dengan haori putih bercorak garis-garis tersebut.


"Kalau begitu, Aku juga." Ucap Rafael sambil mengulurkan tangan kanannya ke depan.


Kemudian secara tiba-tiba tubuh wanita tersebut mengeluarkan sinar putih. Wanita tersebut tampak sedikit terkejut kemudian melihat ke arah Rafael, setelahnya wajahnya tampak mengerti.


"Annie, Kau tidak ingin membantu? Kalian sepertinya saling kenal."


Mendengar suara tersebut Annie hanya diam, meski mereka berdua bersebelahan namun dia masih saja memakai telepati untuk berbicara dengannya.


"Menurut ku hanya mereka yang mampu melakukannya, termasuk diri mu. Jika terjadi sesuatu orang-orang di belakangnya akan membantu. Kau mengerti, kan maksudku, Lucifer?" Balas Annie tanpa melakukan telepati.


Lalu melihat pertarungan antara dua orang yang kuat di sana.


Sementara Lucifer hanya mengerut bingung. Ada apa dengan tuannya ini.


Sikapnya memang selalu dingin dan kaku, namun kali ini sedikit lebih aneh. karena, auranya seperti sedang mengkhawatirkan suara.

__ADS_1


[Author POV End]


...****************...


[Furai POV]


Kami terus melakukan penyerangan di setiap lantai yang ada. Entah ada berapa lantai yang harus Kami lalui, yang pasti setiap lantai yang Kami naiki setelah sepuluh lantai Kami akan menemukan para orang yang telah hilang.


Mereka memiliki kondisi fisik yang sehat, tetapi hampir semua dari mereka memiliki psikis yang hampir menghilang.


Saat Kami datang mereka tampak seperti menemukan harapan. Mereka telah di bawa ke bagian medis di klan.


Setelah mendapatkan informasi tentang ada berapa lantai gedung ini, kami masih memiliki jalan yang panjang. Tapi setidaknya itu adalah hasil besar setelah beberapa puluh lantai yang kami naiki.


"Semuanya Kita ke lebih atas! Harap mempersiapkan diri! Kemungkinan besar musuh akan lebih kuat!" Ucap ku sambil mengeluarkan aura wibawa yang ku punya.


Karena semua musuh yang kami tangkap sudah di bawa ke markas pusat menggunakan teleportasi.


Eh? Kenapa Mereka berlari-lari? Apakah Mereka sudah tahu Kami sedikit lagi mencapai Mereka? Jadi Mereka maju langsung.


"Bos! Anak dan Istri ku masih di rumah!"


"Bos! Keluarga ku pasti mengira Aku sebentar lagi akan pulang!"


"Bos! Aku pulang dulu ya! Hari ini Nenek ku datang!"


Apakah Mereka ingin pulang? Tapi kenapa begitu takut? Sepertinya Mereka mengira kami akan bersikap sangat kejam ya. Tapi barusan mereka mengatakan apa? Bos-


Eh? Sepertinya mata ku sedang berhalusinasi, karena hal yang di depan ku itu tidak lah mungkin. Bohong, ini pasti hanya lah kebohongan.


Tidak, tidak, tidak, tidak mungkin. Karena bagaimana bisa anak yang ada di depan ku ini ada lah Annie. Anak itu jika masih hidup sekarang akan 4 tahun.


Tapi Dia tidak mungkin tidak bahagia kan? Dia masih sangat kecil. dan anak di depan ku ini terlihat lebih kecil dari seusianya.


Tapi.. mata ku lebih tak mungkin salah. Mata ku sebagai seorang Ibu.


Dia berjalan kemari. Wajahnya begitu dingin. Apakah selama ini Dia bahagia? Entah kenapa dada ku rasanya sangat sakit.


"Nona, apakah Kalian para penyerang itu? Jika ya, maka kebetulan sekali orang gila- maksud ku Bos mereka sedang mengejar Kami. Jadi Ku serahkan pada Kalian." Ucapnya seraya memohon dengan nada yang sulit di katakan.


"Annie, Kau menjijikkan."


Apa yang baru saja di katakannya? Annie? Berarti itu memang Dia, Dia memang benar-benar anak ku.


Rasanya sangat menggembirakan tapi saat ini misi sedang di jalankan lebih baik Aku melakukan hal itu nanti.


"Gadis kecil! Awas saja Kau!" Terdengar sebuah teriakan, yang artinya apa yang di katakan Annie itu benar.


"Gawat. Jangan hanya diam, ayo cepat."


"Ah, benar, ayo."


"Nyonya, tolong ya~"


"Ya." Jawab ku sambil berjalan ke arah depan dengan penuh wibawa yang ku punya.


Aku terus berjalan sekitar beberapa meter lagi Aku akan sampai ke tangga itu. Namun jalan ku terhenti saat melihat seorang pria dengan topeng yang cukup mengerikan untuk di lihat di wajahnya.


Secara tiba-tiba dapat terlihat beberapa bola api sedang melayang di sekitar ku. Aku tidak terkejut karena mendengar percakapan Mereka tadi. Dan terdengar suara seorang anak laki-laki sedang membaca mantra.


"Kalau begitu, Aku juga." Ucap seseorang yang kedengarannya seorang pria dewasa.


Kemudian secara tiba-tiba tubuh ku mengeluarkan sinar putih. Aku sedikit terkejut kemudian melihat ke arah belakang.


Seorang pria serba putih kecuali warna iris matanya sedang mengulurkan tangan kanannya. Melihat akan hal itu setelahnya Aku mengerti.


Lagi pula aura yang di keluarkan olehnya hampir sama seperti tuan, terasa seperti salah satu ras malaikat. Aku cukup berterima kasih padanya.

__ADS_1


Karena tubuh ku terasa lebih ringan dan terasa kembali bertenaga, tidak, lebih tepatnya meningkat. Rasanya sekarang Aku sudah bersiap menyerangnya.


Dengan elemen angin yang ku miliki dan manipulasi mana yang bisa ku buat. Terbentuk segerombolan kupu-kupu transparan mengikuti elemen angin yang melapisi pedang ku.


Dengan kecepatan yang ku miliki dan bantuan elemen angin. Dengan cepat, dirinya yang baru sadar tergores oleh pedang yang ku ayunkan.


Tidak terlalu besar tapi kelihatannya cukup dalam, karena refleks yang di lakukannya sedikit terlambat. Gerak-gerik yang di perlihatkannya sangat terlatih.


Dalam sekejap luka di tubuhnya sembuh. Entah apa yang terjadi, namun spekulasi ku mengatakan itu adalah alat sihir. Ia sangat santai, meski sudah di sembuhkan pastinya itu sakit.


"Yah~ Itu tadi sangat berbahaya, tolong bermain lah dengan serius. Jangan merasa naif." Ucapnya dengan nada menasihati.


"Terima kasih atas sarannya, tapi sayangnya Aku tidak naif."


Aku mulai mengeluarkan beberapa jurus berpedang yang ku ketahui lalu menyerangnya. Semua serangan ku berhasil di tahannya.


"Itu tadi sangat gawat. Kau membuat ku kewalahan. Benar-benar kuat. Tidak ada informasi tentang diri mu." Ucapnya sambil menghempaskan pisau kecil yang di gunakannya ke sembarang arah. "Ternyata gadis itu benar. Aku terlalu meremehkan Kalian."


"Gadis? Siapa yang Kau maksud, jika berkenan?" Tanya ku karena sedikit penasaran dengan gadis yang di maksudnya.


"Gadis kecil itu. Jika tidak salah nama aslinya Annabella. Aku lupa dengan marganya."


"Benarkah? Rasanya Aku sedikit sulit untuk bermain dengan mu. Jadi segera selesaikan ini." Ucap ku sambil menyerang orang itu.


Aku menyerang dengan mengeluarkan setengah kekuatan ku untuk yang satu ini, karena Aku merasa agak kesal.


Benar-benar kuat. Sangat jarang orang-orang memiliki refleks sebagusnya. Tapi yang sangat di sayangkan adalah Dia musuh Kami. Jika Dia rakyat biasa akan Kami coba rekrut.


Dalam pertarungan ini Aku belum terluka sama sekali. Meski pria itu terluka hanya luka ringan lalu kemudian tersembuhkan. Baru saja ku pikirkan, luka yang cukup dalam terbuat di perut ku.


Pisau kecil lincah miliknya baru saja melukai ku. Karena luka itu Aku sedikit batuk darah. Namun pertarungan Kami belum berakhir, ini hanya luka kecil jika di bandingkan dengan pertarungan berat yang pernah ku lakukan.


Luka ku segera sembuh karena pria dari ras malaikat itu menyembuhkan ku.


Tiba-tiba kejadian tidak terduga terjadi. Dengan lincah seorang gadis kecil yang barusan melintas. Tidak, itu adalah Annie.


Beberapa bagian saja yang berbeda. Tidak ada terlalu banyak perubahan, meski Aku tidak tahu apakah setiap serangan yang di ciptakannya termasuk ke perubahan atau tidak.


Sangat lain, dengan taring kecil. Mata berwarna hitam ke ungu-unguan berbentuk seperti mata kucing, berbentuk lancip.


Dan terdapat tanduk transparan berwarna merah di dahi bagian kirinya. Transparan, sepertinya terbuat dari mana. Badannya kelihatan sedikit bertambah besar.


Dan ada sesuatu seperti garis-garis hitam indah yang melilit di tumbuhnya. Tapi garis-garis itu seperti menempel di tubuhnya.


"Barusan.. Kau.. melukainya?" Ucapan terucap dengan penuh penekanan, bahkan aura yang di keluarkanya pun sangat menekan.


"Annie!" Teriak seseorang dari belakang, Aku tak dapat melihatnya karena auranya sangat menekan.


"Te-tenang lah! Dia! Tidak! Ugh! Apa-apa! Jadi tenangkan dirimu!" Teriak kembali terdengar dengan suara yang terdengar seperti seorang gadis, nampak seperti terbata-bata.


Siapa yang di maksudnya? Terluka, terdengar seperti seseorang yang sedang terluka yang sedang di khawatirkannya. Tapi hanya Aku yang-


Apakah yang di maksudnya adalah Aku? Annie mengkhawatirkan ku? Berarti hanya diri ku yang..


"Annie. Dengarkan Aku. Tidak apa-apa, tidak ada yang tersakiti. Jadi...uugh...tenang lah."


Terasa aura yang sangat menekan itu berangsur-angsur menghilang. Aku sudah dapat melihat sekeliling. Namun tiba-tiba


Brugh


"Annie?!" Sungguh mengejutkan. Dia jatuh pingsan, ia kembali ke bentuk normal, dan untung lah Aku berhasil menangkapnya tepat waktu.


"Sepertinya Kita akhiri untuk hari ini. Kalau begitu, sampai jumpa kembali."


Dia kabur. Tapi itu tidak penting sekarang, Annie-lah yang harus ku prioritaskan. Dengan sigap Aku mengangkatnya dan melakukan teleport dengan bantuan alat sihir. Sebelum itu Aku meminta sisanya untuk kembali bersama yang tersisa.


"Annie. Kumohon bertahan lah. Ibu berada di samping mu saat ini. Semua pasti akan baik-baik saja."

__ADS_1


[Furai POV End]


__ADS_2