My Antagonist Life Reancarnation

My Antagonist Life Reancarnation
History : Kainigose Clan


__ADS_3

Klan Kainigose.


Klan yang sudah berdiri selama lebih dari seabad ini, merupakan klan dengan pemimpin yang lahir dari keturunan antara malaikat dan setengah malaikat. Yang memicu sebuah konspirasi sepihak.


Alkisah, sepasang malaikat yang saling mencintai, menikah dan memiliki keturunan. Terlebih, sang wanita memiliki darah setengah manusia.


Tentu hal itu membuat mereka menjadi terkucilkan. Ah! Ralat! Maksudnya sang istri dan anak-anak saja.


Sang suami merupakan panglima perang terkenal, sehingga tidak ada yang mau menjadikan seseorang yang kuat sepertinya menghilang begitu saja, 'hanya' karena mengucilkan seseorang yang berhubungan dengan 'manusia'.


Seorang malaikat yang memiliki hubungan dengan manusia seperti sang istri tentu akan dipandang rendah.


Mau sebagaimana pun sifat yang berlawan dari sifat manusia sesungguhnya, manusia tetaplah manusia. Ras penuh nafsu yang bahkan tidak segan untuk melampaui batas mereka sendiri. Mengorbankan, menyakiti, menelantarkan, mengkhianati apa yang seharusnya mereka jaga, terlebih secara sengaja.


Itulah pandangan setiap ras terhadap manusia itu sendiri. Bahkan bagi mereka sendiri, Iblis setidaknya masih 'baik-baik' saja.


Tentu mereka akan menyangkal tentang 'setiap manusia tidak akan selalu seperti itu'. Meski itu hanya setengah dari si istri.


(Kalau anak-anaknya gimana? Seperempat mungkin :v)


Kehidupan setiap ras di tempatnya tidak banyak perbedaan. Seperti halnya hierarki suatu kemonarkian, ada si Bangsawan dan si Rakyat jelata.


Sistem republik? Masih belum jamannya. Hierarki dari sebuah kesatuan monarki yang memuncak dan menjaman ke seluruh dunia.


Meski kedudukan sang istri berdiri di kedudukan bangsawan kelas atas, Duke, mengingat sang suami seorang panglima perang terkenal karena latar belakangnya juga.


Meski begitu, apakah bisa suatu tingkatan sosial merubah pemandangan antara setiap orang akan setengah manusia dan setengah malaikatnya? Jawabannya hanya satu kata, 'Tidak'.


Tak segan bahkan sampai ke para pelayan sekalipun meremehkan. Sang suami tentu tidak tahu menahu akan hal ini. Yang Dia tahu hanya istri tercintanya itu adalah wanita cantik, pintar, baik hati, menawan dan hal baik lainnya, yang meski memiliki sistem setengah-setengah.


Hingga, sebuah hal yang selalu di sebut-sebut lebih mengerikan dari pembunuhan terjadi. Sang istri dan anak-anaknya di fitnah.


Mereka di tuduh habis-habisan dan tidak di percayai. Bagaimana mau percaya, jika hal itu selalu mereka tidak sukai terlebih sebuah rumor yang di antar-antar bahkan sampai di lebih-lebihkan. Sistem berita antar mulut sungguh mengerikan, bukan?


Tentu sang suami termasuk, awalnya Dia mencoba untuk tidak mempercayai hal itu. Namun, berapa kali pun Dia mendengarnya sulit untuk dirinya tetap percaya itu hanyalah fitnah. Terlebih kejadian yang terjadi tepat langsung di depan mata para petinggi dan sekitarnya.


Meracuni seseorang dari anggota yang penting? Bukan. Tentu ini bukan sistem hierarki cinta dari sebuah cerita novel romantis zaman monarki karena berusaha membunuh si protagonis.


Tapi, karena telah di tuduh berhubungan dengan manusia lain. Anak-anaknya ikut karena mereka juga termasuk.


Mengapa berhubungan dengan 'manusia lain'?


Tentu jawabannya, yang seperti umumnya, adalah, karena tiba-tiba sekelompok manusia melewati batas mereka dan pergi menuju ke dunia para ras malaikat.


Yang sudah berhubungan dengan manusia cuma satu. Sang istri.


Untuk anak-anaknya, itu karena mereka di anggap juga. Mereka dekat, dan sasaran manis.


Terlebih para manusia yang datang menuduh ibu dan kedua anak itu. Secara tepat dan dengan wajah tersenyum licik seolah sebuah kemenangan.

__ADS_1


Yah.. meski pada akhirnya para manusia itu kebanyakan gugur dan sebagian lainnya yang menyerah di tahan sebagai tahanan perang.


Ibu dan kedua anak itu tentu sudah berada di dalam penjara dingin nan keras.


Hingga, hari penentuan hukuman tertentukan.


Eksekusi mati, pancung, bagi sang Istri.


Siapa yang tidak histeris dan khawatir ketika mendengar dirinya akan mendapat sebuah kematian yang di karenakan sebuah alasan 'konyol'.


Merasa dirinya sudah cukup untuk hal ini, Dia memberi sebuah kristal sihir kepada anak-anaknya itu.


Dia tahu bahwa bisa saja dirinya ikut untuk melarikan diri. Tapi yang namanya pengejaran tidak dapat dipungkiri. Bermain kejar-kejaran saja melelahkan, apalagi kejar-kejaran yang sesungguhnya. Kekehnya pada anak satu-satunya itu.


Dia menyuruh anaknya itu menggunakan kristal sihir itu saat pengasingannya di dunia para ras berada.


"Pindahlah ke tempat yang sering Kita kunjungi di sana. Ibunda tahu Kalian anak-anak yang cerdas, jadi lakukanlah ketika Kalian harus melakukannya. Kalian tidak akan menyia-nyiakan pengorbanan Ibunda, kan?"


"Ibunda! Aku tidak sebodoh itu! Kami salah satu jenius dari anak seumuran Kami! Ibunda sendiri yang mengatakannya! Tidak apa berkejar-kejaran asal Kita bisa bersama!"


"Benar Bunda! Tidak mengapa begitu saja!"


Namun, sang Ibunda hanya tersenyum. Meski tubuh dan wajahnya sudah tidak mulus dengan warna putih seputih salju saja, ada kelembutan dan ketenangan di sana. Membuat kedua anak berumur sekitar 13-14 itu tertegun.


Dirinya kemudian berbalik ke arah terali dengan lapisan setelahnya sebuah pintu, yang sudah siap Dia ketuk agar penjaga membukanya. Kedua anaknya hanya menatap kecewa akan keputusan tetap sang Ibunda yang sulit untuk mereka paksakan.


Perlahan punggung sang Ibunda berganti dengan beberapa sosok baru yang masuk untuk membawa mereka melihat pengeksekusian sang Ibunda.


Benar.


Sangking cepatnya, mereka tidak sadar bahwa apa yang ada di hadapan mereka salah dan tidak sesuai. Termakan emosi dan kalimat murni yang tepat sasaran.


Hukuman pancung sebentar lagi. Seperti penyebutannya, 'eksekusi', hukuman ini dilakukan pada ruang terbuka di sebuah tempat dekat dengan patung besar.


Patung yang selalu mereka banggakan sebagai pahlawan bagi mereka.


Teriakan ricuh dan kebencian terdengar begitu jelas. Kedua anak itu sudah siap membuka mata mereka agar melihat aksi sang Ibunda akan kata-kata terakhirnya.


"Tuduh menuduh adalah hal biasa, Aku paham itu.."


"Karena itu, tidak perlu menunjukkan secara sembunyi-sembunyi sifat aslimu itu, Yang Mulia Raja."


"Anda memiliki kepuncakan dari segala makhluk yang berhubungan dengan ras malaikat, angel, sebagian dewa, atau apapun itu."


"Tapi satu hal yang perlu Anda ingat. Dulu, seorang wanita yang pernah menjadi rumah bagi Saya, seharusnya memiliki sebuah hasil dari pertanggung jawabanmu!"


"Akan kupastikan! Akan kupastikan bahwa semua kebusukanmu akan terbongkar!"


"Aku sudah mencatatnya dengan semua bukti yang kukumpulkan! Semua akan— tidak! Semua sudah terbaca!"

__ADS_1


"Rasakan rasa dari hal yang kurasakan besok! Terkhianati!"


Ucapan itu terucap dengan perasaan yang amat mendalam. Sakit hati, sedih, takut, senang, akhirnya.. entahlah, itu semua bercampur-campur.


'Sakit hati' akan rasa dari pengkhianatan sang Ibunda dan 'Ayah' yang tidak terakunya.


'Sedih' karena semua berakhir tidak sesuai keinginan.


'Takut' semuanya akan berakhir tanpa sebuah pembalasan dan hanya tersisa kesia-siaan.


'Senang' karena 'Ayah' yang tidak terakunya akan segera memiliki pengakhiran yang sama sepertinya.


Dan, 'akhirnya' dirinya bisa terbebas dari sebuah beban yang selalu ingin Dia ungkapkan.


"Kau bahkan tidak pantas disebut seorang ayah ketika secara frontal mengkhianati kata-kata manis yang Kau ucapkan ke Ibuku!"


"Menjijikkan! Bahkan Kau terasa tidak ada bedanya dengan para manusia yang Kau rumor-rumorkan itu!"


"Ibuku adalah seorang malaikat utuh yang sesungguhnya! Yang dimana dirimu adalah makhluk yang tidak cocok untuk di sebut sebagai seorang 'suami' mau pun 'ayah' ketika seorang pria brengs*k sepertimu itu nyata!"


"Aku sudah muak dengan hanya melihat sosokmu saja! Mulai hukuman pancungnya!"


Dia berucap atau lebih tepatnya berteriak marah dengan sangat tegas. Tatapannya memandang jijik dan amarah mendalam ke arah sesosok 'agung' di atas tahta pada sebuah gedung di depannya.


Secara spontan penjaga yang ditugas sebagai algojo segera menebas leher wanita cantik yang sekarang sudah memiliki lebam di sana sini. Yang kemungkinan efek dari proses interogasi yang dilakukan sebelum pemutusan akhir dari hukuman eksekusi ini.


Penjaga yang bertugas sebagai algojo itu seolah di tarik oleh sihir dan melakukan sebuah kerefleksan itu.


Kedua kakak beradik itu saling berpegangan tangan dan menutup mata. Menahan semua rasa sedih dan lemah dari seseorang saat melihat orang tersayangnya mati mengenaskan di depan mata mereka sendiri.


Pengeksekusian berakhir dengan kericuhan dari beberapa orang yang mengangkat emosi yang lain untuk sadar dari keterkejutan mereka akan maksud 'kata-kata' wanita itu.


Si adik menangis sesegukan namun tidak keras. Dia berusaha menahan diri agar tidak berteriak atas kesedihan seumur hidupnya itu. Sang kakak hanya bisa memeluk dan membantu meredam suara sesegukan adik satu-satunya itu.


Selang hanya beberapa saat dari eksekusi pertama. Raja dari setiap ras malaikat yang ditinggalkan di bawah ini, mentitahkan akan hukuman bagi kedua kakak beradik itu.


Pada panggung yang sama, mereka di paksa naik dan menyiapkan diri untuk memasuki portal yang akan menjadi alternatif mereka untuk di asingkan ke dunia ras lainnya sesegera mungkin.


Beberapa mata sedikit memandang iba. Namun itu hanya beberapa. Yang lainnya seolah di sihir, menatap dengan sangat benci dan jijik, melupakan apa yang menjadi arti dari kata-kata wanita cantik berlandaskan rumor setengah manusia itu.


Saling menyahut dan tak segan melempari batu dan hal-hal lainnya, mereka menatap gigih akan hukuman kedua kakak beradik itu.


"Bersiap atau tidak, Aku harap Kalian segera mendapatkan apa yang akan menjadi penyesalan Kalian. Meski itu singkat." Ucap sang Kakak sebelum melangkah ke portal itu.


"Semoga keimbasan dari Kalian segera terlampirkan dari para Dewa. Kalian yang sesungguhnya berhubungan dengan manusia-manusia itu." Ucap si Adik juga.


Gerbang menuju akhir dari dunia pertama mereka berakhir. Bergantikan sebuah pemandangan akan dunia manusia yang masih pada beberapa abad sebelum kedatangan klan Kainigose.


Sebuah tempat yang akan menjadi tempat berdirinya bangunan dari gedung klan Kainigose, dan kebangkitannya sebuah pemimpin dari satu dataran itu.

__ADS_1


Melaksanakan perintah sang Ibunda, dan berjalan di atas benang takdir seperti air mengalir.


__ADS_2